Monthly Archives: November 2014

Era Kreatif Produktif

Era Kreatif Produktif
Catatan pendek Wawan Setiawan

Solo, 1 Desember 2014 06.30 WIB
——

Ilmuwan Jepang pernah menyebut abad 21 ini sebagai “Age of Creativity”, saya pribadi setuju, dan memang era kedepan adalah ekonomi yang akan sangat mengandalkan SDM. Russia yang menjadi negara paling kaya sumber daya alam-pun sebenarnya sudah sadar bahwa ekonomi mereka yang raw material kekayaan alam harus segera didiversifikasi, namun implementasinya terlambat, karena masih terlenakan dengan ekonomi oil dan gas, tak pelak ketika harga oil dan gas turun drastis, mereka tekor budget.

Di luar masalah politik tekornya budget negara OPEC dan sosialis raw material kekayaan alam yang menimpa hampir seluruh negara pengekspor minyak, termasuk negara negara Islam, baik Iran, Arab Saudi, Qatar, Dubai, dlsb…..saya mengenal dan menyukai DJ Tiesto Verwest sudah sekitar tahun 2003. Bahkan saya pernah membeli tiketnya konser di Yogya tahun 2004, namun konser tersebut dibubarkan oleh FPI. Sebenarnya DJ Tiesto Verwest dari Breda Belanda akan konser di tepi pantai selatan, sehingga mungkin dikhawatirkan akan membuat berisik seluruh setan dan jin yang berada di pantai selatan Jawa.

Setelah munculnya DJ Tiesto yang menjadi icon music Trance, maka muncul juga Armin van Buuren, lulusan fakultas Hukum Leiden Belanda, tapi saya sebagai pendengar dan penggemar, memahami perbedaan signifikan DJ Tiesto dan Armin, Tiesto unggul di teknik, seni musikalitas, dan kedalaman permainan effect, sedangkan DJ Armin lebih ngepop dan easy listening, sehingga lebih mudah menarik penggemar.

Keduanya, saya akui DJ hebat, majalah DJ Mag, juga selalu menobatkan kedua DJ ini di top 1-2 DJ. 2 DJ ini juga sangat kreatif dan produktif. Armin tanpir di Radio dengan judul ‘State of Trance’ setiap minggu dengan durasi 60 menit, DJ Tiesto juga sama, membuat acara ‘Tiesto’s Club Life’ setiap minggu dengan durasi 60 menit

Jadi setiap minggu mereka melakukan kompilasi dan remix lagu 60 menit, dan ini sangat menarik bagi saya, karena meski kompilasi ulang, tapi selalu membawa trend baru. Misal DJ Tiesto berkarya dengan judul ‘Lethal Industry’ itu sudah saya dengarkan sekitar tahun 2004, dan saya jadikan ring tone, namun di Podcast 398 akhir tahun 2014 ini diremix ulang dan sangat menarik sekali hasilnya

Ini sebuah kreativity dan produktivity, setiap minggu membuat kompilasi 60 menit dan ini sudah hampir 10 tahun mereka (Armin dan Tiesto) lakukan

Dan tidak lupa, seperti mendiang Steve Jobs katakan, bahwa Creativity adalah Connecting Things, tidak heran saya selalu mencatat ide ide saya di Asana.com, mungkin saat ini menjadi ide mentah, namun suatu saat bisa connecting dengan ide baru saya lainnya,

Tidak heran juga Google melakukan venture capital ke 5000-an start-up, dan paling yang menjadi besar tidak lebih dari 1-5 start-up. Apakah Google membuang uang dengan menjaring ide ide kreatif orang orang di dunia dan yang jadi tidak lebih dari 10?

saya kira tidak, Google akan menyimpannya, dan suatu saat sebuah ide yang lama, bisa hidup dengan jauh lebih menarik ketika bertemu atau sinthesis dengan ide baru.

nggak percaya? dengarkan saja di Souncloud Tiesto’s Club Life’s Podcast 398, di-awali dari Lethal Industry yang diremix ulang oleh DJ Tiesto dengan sangat kreative dan apik

—–
wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Advertisements

Mengapa di Indonesia kita lebih baik banyak berdoa?

Mengapa di Indonesia kita lebih baik banyak berdoa?
Catatan Wawan Setiawan
Jumat, 28 November 2014 06.35 WIB
—–
Kemaren saya menyampaikan keinginan saya kepada teman saya untuk mendaftar BPJS. Teman saya menyarankan mendaftarkan online, meski saya sudah punya formulir kertas yang sudah saya isi. Alasan teman saya adalah kalau mendaftar online prosesnya akan lebih cepat dan dia sendiri sudah membuktikannya, pagi mengisi online di situs bpjs-kesehatan.go.id, lalu ke kantor BPJS dan langsung cepat diproses.

Saya sendiri mengikuti sarannya pagi ini, tapi pagi ini servernya sedang error, sehingga saya menunggu lagi

Di Indonesia ini memang negeri yang latah, nggak lepas itu Presiden Joko Widodo, saya menghargai niat baiknya membangun infrastruktur, namun kalau SDM-nya belum siap ya bakalan berantakan, seperti kasus saya ingin mengisi formulir online BPJS, memang kelihatannya sudah online, komputerisasi, canggih, tapi probabilitas error-nya juga tinggi, kadang bisa kadang tidak, ketidakpastian-nya cukup tinggi, padahal dengan komputerisasi itu tujuannya memudahkan, memastikan.

Di sisi lain saya akan sedikit cerita apa itu BPJS, istri saya yang pernah bekerja di asuransi menggambarkan bahwa BPJS tak lain adalah insurance dalam bentuk massal, sehingga karena pesertanya banyak maka iurannya murah.

Sekali lagi ini beda dengan negeri Russia, yang mencantumkan di konstitusi dasar bahwa healthcare diselenggarakan oleh negara dengan gratis, sehingga pelayanan kesehatan gratis diambilkan dari anggaran APBN, bukan semacam iuran asuransi massal BPJS

Kembali ke kasus saya tadi, sekali lagi saya menghargai niat sangat baik Presiden yang Terhormat Joko Widodo, mantan walikota solo, walikota dari kota yang saya tinggali, namun saya dari tahun 1994 terlibat di industry teknologi IT, dan tahu betul karakter masyarakat Indonesia, jadi operator dan pemakai teknologi aja nggak siap, gagap, dan service-nya berantakan, apalagi mau jadi produsen teknologi

Jadi selama SDM Indonesia itu tidak dibenahi, pemerintah mau bikin e apapun, e-government, e-ktp, e-kesehatan, eee, …ya tetap saja, itu tidak banyak membantu memudahkan birokrasi, selain e e e itu hanya gaya gayaan saja, agar pemerintah tampak keren, sudah mengaplikasikan teknologi baru.

Kembali ke masalah utama, kawan saya sukses mengisi form online BPJS, sedangkan hari ini saya mengalami error server, sehingga sebelum ke Jakarta minggu depan, saya harus menghabiskan waktu hari ini untuk mendaftar secara manual di kantor BPJS.

Sambil berdoa, semoga antriannya tidak panjang, dan ketika antri, server online BPJS sudah di-restart adminnya, sehingga saya bisa mengisi online, untuk mengambil probability terbaik, antara mengisi online dan mendaftar manual.

Tuhan memang senang bermain dadu di Indonesia, meski banyak hal sudah komputerized, tapi tetap saja probability sukses dan tidaknya di tangan Tuhan.

——
wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Uang, uang, dan uang

Uang, uang, dan uang
Catatan Wawan Setiawan
Solo, Kamis 27 November 2014 06.44 WIB
—–
Berita yang membuat saya tertarik, tertawa, sekaligus prihatin ketika di Surabaya ketika akan Live Teknovasi, adalah tentang perusahaan milik Bakrie yang di Singapore, menerbitkan obligasi dalam mata uang USD dengan bunga sebesar sekitar 9-10%

Ini sudah sangat irrasionalistik, obligasi mata uang USD dengan bunga begitu besar dijual di Singapore, padahal interest bank di Singapore sekitar 2-3%. Tentu saja dengan demikian orang kredit di bank Singapore lalu membeli obligasi milik Bakrie, spread keuntungan bisa 7-8%

Apple Inc sendiri, sebagai perusahaan dengan kapitalisasi terbesar dunia menerbitkan obligasi dengan bunga hanya 1%. Tentu saja obligasi milik Bakrie akhirnya macet, karena itu investasi irrasional dengan menawarkan bunga sangat tinggi, sudah seperti perusahan gali lubang tutup lubang, hingga akhirnya menawarkan bunga pinjaman tinggi

Amerika memang bangkrut, tapi disana masih ada yang bisa dinilai atau dikapitalisasi, yaitu etos kerja, human capital, dan research development. Tapi perusahaan milik Bakrie dengan motor grup Bumi-nya, utamanya bergerak di bidang raw material. Meski saya juga pernah menjadi tamu VIP di Bumi Hotel dan Buztel, Bakrie Uzbekistan Telecommunication, sekitar tahun 2004 saya memang sempat menjadi tamu VIP ketika turun di bandara Tashkent, tidak melewati metal detektor, dan di pesawat sudah diumumkan bahwa nama saya di minta untuk lewat VIP bandara Tashkent Internasional, dan disana dijemput orang orang dari BUMI Hotel dan Malaysian Telecommunication.

Sebelum membuat perusahaan telecommunication di Indonesia dengan brand Esia, Bakrie pernah punya perusahaan telecommunication di Uzbekistan dengan brand Buztel, Bakrie Uzbekistan Telecommunication. Namun kendala invest di negara Russia dan CIS adalah pengawasan ketat capital outflow, sehingga keuntungan harus diputar disana dulu sebelum bisa ditarik di Indonesia. Buztel akhirnya dibeli oleh Alfa Grup milik Russia.
Kembali ke bisnis Bakrie, setelah mengunjungi perusahaan telekomunikasi Malaysia yang menggunakan infrastruktur DVB-T (Terestrial) berbasis frekuensi UHF, saya terbang ke Tashkent. Disana saya masih melihat kejayaan grup BUMI, yang memiliki Hotel Bumi, salah satu hotel terbaik di Tashkent yang sekarang sudah berganti nama menjadi Le Grande, dan juga Buztel, Bakrie Uzbekistan Telecom

Namun yang namanya Bisnis memang penuh resiko, selain skandal Lapindo, dan kemudian kalah di pengadilan Inggris dengan Nathan Rothschild, Bakrie membuat skandal baru di Singapore, yaitu mengajukan moratorium atau penundaan pembayaran hutang.

Di luar masalah hal ini semakin mempermalukan image pengusaha Indonesia yang sering gagal bayar hutang atau meminta penundaan pembayaran hutang, saya kira orang Singapore dan Internasional juga sinting, mau saja membeli obligasi mata uang USD dengan bunga 9-10%. Investor tipe ini jelas investor tipe tamak ingin untung besar tapi tidak berpikir keamanan investasi.

Jadi penjual investasi “bodong” dengan penawaran imbal tinggi, itu sebenarnya tidak mengenal kelas, dari arisan pasar, sampai mode canggih di Singapore yang dilakukan grup Bakrie.
———
wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Teknovasi, Future @ Your Cloud, Reuni 20 tahun

Teknovasi, Future @ Your Cloud
Reuni 20 tahun
Catatan Wawan Setiawan

Rabu, 26 November 2014 07.00 WIB
——

Teknovasi selasa kemaren, berjudul ‘Future @ Your Cloud’, dengan narasumber tamu Dondy Bappedyanto dari Cloudkilat Infinys atau http://www.isi.co.id

Saya mengenal Dondy, sudah sejak 20 tahun lalu, tepatnya sekitar tahun 1994, kami sama sama peng-hobby teknologi baru IT, dan sama sama bekerja di Internet Service Provider yang masih menggunakan dial-up 28 Kbps, perusahaan temoat saya bekerja menggunakan produk modem Hayes, sedangkan Dondy menggunakan modem Robotics

Tepatnya kami sebenarnya bersaing, Dondy bekerja di Bumi.Net, sedangkan saya di Meganet, namun karena IT kala itu adalah teknologi baru di Indonesia, maka kami biasa bertemu dan ngobrol ngopi ngopi sambil membicarakan kehebatan www (world wide web) atau ketika itu dibahasa Indonesiakan sebagai Jejaring Jagad Jembar atau JJJ

Dari sini sudah jelas, bahwa saya dan Dondy bekerja karena minat, atau hobby, atau kalau dalam bahasa Zimbabwe disebut sebagai “Passion”, karena teknologi itu seperti mainan kami, hobby kami, yang sekaligus cara kami mencari uang

Sebelum bertemu Dondy kemaren, tentu saja saya cukup penasaran, karena ini pertemuan pertama kali kami sejak sekitar 20 tahun yang lalu, kami janjian di Dunkin Donuts Graha Pena Jawa Pos.

Sebelum masuk studio di lantai 21, saya diskusi dulu, terutama tentang program acara televisi Teknovasi ini, sebuah acara televisi yang membuat saya harus meninggalkan pekerjaan sebagai Business Development di sebuah perusahaan ISP yang sudah established.

Dalam perbincangan kami, saya membahas tentang masyarakat Indonesia, ini masyarakat klenik, masyarakat yang hobby-nya memangsa rakus informasi sampah, jadi kalau mau membuat acara televisi rating tinggi, bikin saja sinetron yang menggambarkan orang kebanyakan dosa matinya jadi ular, dan tayangan tayangan seperti itu, atau dukun klenik ala Tong Fang, itu banyak pemirsanya dan rating tinggi.

Lalu saya menyampaikan ke Dondy agar berkomunikasi dengan pemirsa dengan bahasa yang mudah dimengerti, karena Dondy juga pernah lama di Amerika, dan sedang merintis bisnis yang di Indonesia masih tergolong cukup baru, yaitu bisnis Komputasi Cloud.

Dengan bercanda, kami saling bercerita suka duka bisnis teknologi di Indonesia. Saya tidak heran kalau Dondy juga sering marah melihat gobloknya konsumen Indonesia, sudah menjadi konsumen masih goblok nggak ngerti cara pemakaian teknologi lagi.

Ini adalah kendala bagi semua pebisnis teknologi di Indonesia, meski konsumen, mereka asal komplain, menuntut nggak rasional, dan mudah menyalahkan penyedia layanan tanpa mereka mengerti cara menggunakan layanan secara benar.

Saya sendiri mengeluh, jangankan konsumen kelas masyarakat Indonesia, perusahaan sebesar Jawa Pos ini saja, meski Pak Dahlan Iskan dulu adalah pemilik Meganet, tapi sebenarnya Pak Dahlan ini hanyalah seorang pemilik kapital saja, yang ingin menjadikan bisnis teknologi sebagai money maker-nya. Saya sendiri sampai keluar uang sendiri dulu untuk membeli domain Jawa Pos, atau membiayai portal yang saya bangun bersama Oposisi anak perusahaan grup Jawa Pos.

Ini semua bisa dimengerti, karena teknologi di Indonesia dilihat pengusaha sebagai money maker, bukan seperti kisah Silicon Valley, dimana para Homebrew Silicon Valley berbisnis teknologi karena Hobby dan Passion.

Dalam acara kemaren, kami membahas banyak hal, Dondy menjelaskan secara teknikal tentang Cloud Computing, sedangkan saya sedikit melebarkannya ke kedaulatan data, bahwa Eropa dan Russia sudah mempunyai UU perlindungan data, bahwa Server yang menyimpan data warganegara harus berada di negara setempat.

Di akhir acara, Arthur pembawa acara yang juga graduated dari Binus Jakarta, menanyakan kepada saya tentang trend bisnis teknologi, dan saya menjawabnya bahwa bisnis teknologi adalah bisnis yang paling dinamis, …dari saya bekerja di ISP dial up 28.8 Kbps, membuat website dan Internet Marketing, lalu memperlebar sayap Jalawave dengan wireless ISP di kota Yogya, Surabaya, dan Solo, lalu berbisnis supplier akses Internet melalui Satellite dan Voice over IP internasional, sampai saya mengalami stagnan dan frustasi atas cepatnya revolusi kemajuan zaman dan IT, sampai sekarang membangun ISP lagi yang berbasis kabel optic sampai ke end users.

Di Amerika juga sama, era kejayaan Microsoft mulai memudar, sama juga era Yahoo sebagai mesin pencari pertama dan dulu paling popular, diganti dengan era Facebook, era Google, era Twitter, dan era Whatsapp

satu lagi, saya memberikan poin penting di closing acara, bahwa orang Indonesia belum bisa menghargai intangible capital, orang Indonesia masih di level merkantilisme raw material barang dan jasa, tapi belum bisa menghargai kemampuan dan kecerdasan manusia sebagai asset intangible yang sangat besar, sehingga dengan terus terang saya menyebutkan, bahwa meski Russia adalah negara paling kaya sumber daya alam, hutangnya cuman sekitar 10%, neraca keuangannya sangat sehat, tapi orang tetap memilih ber-investasi di Amerika yang sedang mengalami masalah ekonomi dengan hutang mencapai usd 17T atau 100% GDP (batas ambang adalah 60%), neraca defisit berjalan sekitar 1T, karena Amerika menggenggam masa depan, dengan research and development yang kuat, mereka invest sekarang dan akan memetik buah besarnya di masa depan

Orang di dunia sangat percaya bahwa meski sedang bangkrut, masa depan tetap milik Amerika. karena disana adalah negeri yang sangat menghargai human capital/SDM.

Kalau anda cerdas atau menjadi manusia berkualitas, maka anda akan mudah dan selalu bangkit dari kebangkrutan.

—–
wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world.

Wawan Setiawan adalah Ideator, Co-Produser, Narasumber tetap acara Teknovasi (Teknologi dan Inovasi) di SBOteve, lantai 21 Graha Pena Jawa Pos Surabaya

Martin Luther King Jr, “I have a dream”

Martin Luther King Jr, “I have a dream”
Catatan Wawan Setiawan

Gateway Bandung, Senin 24 November 2014 06.37 WIB
—–
“I have a dream….” ini kalimat Martin Luther King Jr, yang sangat fenomenal, sehingga ketika ilmuwan menemukan cara untuk menyimpan data ke DNA manusia, yang kapasitasnya setara dengan 500.000 DVD saat ini, maka data pertama kali yang dimasukan ke DNA manusia adalah pidato Martin Luther King, Jr …”I have a dream….”

Kira kira awal abad 19, kaum negro memang masih terkena diskriminasi dari kaum kulit putih di Amerika, sehingga Martin Luther berpidato tentang kesetaraan …” i have a dream….” suatu saat nanti kaum kulit hitam dan putih akan mendapatkan kesetaraannya,

dan tahun 2008, untuk pertama kalinya, Barrack Obama, yang keturunan negro dan kulit putih menjadi Presiden Amerika.

Melihat situasi Indonesia yang carut marut seperti saat ini, maka meski banyak dibenci orang, termasuk ada yang pengin mengusir saya ke Russia, namun saya mempunyai mimpi, bahwa suatu saat nanti, Indonesia adalah negeri dimana manusianya sangat maju dalam hal kualitas pendidikan, dan ini diselenggarakan oleh negara secara gratis, dan yang kedua Social Security harus masuk ke Konstitusi Dasar, sebagai payung hukum,

Saya tahu benar bedanya Social Security yang hanya berada di UU dan di Konstitusi Dasar, karena UU sangat mudah dicabut oleh Presiden dan Legislatif, sedangkan mengamandemen konstitusi dasar itu jauh lebih sulit.
Russia pernah bangkrut pada tahun 1991-2000, tapi karena social security adalah amanat UUD/konstitusi dasar, maka itu tetap harus dilaksanakan, karena ketika social security masuk ke konstitusi dasar, itu sudah masuk sebagai hak dasar setiap warganegara.

Social Security yang produk UU, tidak terlepas dari proyek populis, di Amerika disebut ObamaCare, sedangkan di Indonesia atas inisiatif Presiden SBY dengan UU BPJS, dan Presiden Joko Widodo dengan kartu kartu saktinya

namun coba pikirkan kalau social security masuk ke Konstitusi Dasar, kita tidak akan tersandera oleh hutang budi personal, misal Obama, SBY, Joko Widodo, …. tapi itu hak dasar kita sebagai warga negara Indonesia untuk mendapat social security.

I have a dream….
——
wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Komunisme dan Vladimir Ilyich Lenin

Komunisme dan Vladimir Ilyich Lenin
Catatan Wawan Setiawan

Minggu, Gateway Bandungm 23 November 2014, 05.33 WIB

——-
Saya tidak bermaksud menyebarluaskan ideologi Komunisme dan Vladimir Ilyich Lenin, tapi sisi positifnya yang bisa diaplikasikan di Indonesia, ada baiknya untuk dipelajari,

Vladimir Ilyich Ulyanov alias Vladimir Lenin, seorang anak guru Fisika di Russia, ….setahu saya adalah satu dari dua orang yang otaknya diambil untuk dipelajari di Jerman, satunya lagi adalah otak Albert Einstein. Jadi jasad Lenin di Mausoleum itu sebenarnya sudah tidak ada otaknya, karena setelah meninggal, otak Lenin dibawa ke Jerman untuk diteliti, karena Lenin dinyatakan sebagai politikus Jenius.

Sebelum membawa revolusi Bolshewik Oktober, Lenin sudah menulis 55 jilid buku, karena ketika dibuang ke Finland, Inggris, ia memilih hidup di perpustakaan, membaca science dan philosophy abad 19, sehingga tidak heran di tulisannya anda akan menemukan banyak nama Newton, Einstein, dan ilmuwan ilmuwan terkemuka, bahkan di judul tulisannya “Materialisme dan EmpirioCritism” Lenin sudah menggambar bahwa atom, dipecah susunannya lagi menjadi lebih kecil, demikian seterusnta, materi akan di cacah cacah terus sampai sekecil kecilnya, tapi bukan berarti lantas hilang menyalahi hukum kekekalan energi, tapi hanya menjadi unit yang lebih kecil

Sastrawan Indonesia, Taufik Ismail memang mengkritik Lenin dengan perintahnya “Bangun listrik sampai ke pelosok pelosok Russia, agar orang Russia tidak menyembah tuhan lagi”, Lenin juga melakukan order bahwa segera dibangun tempat tempat pendidikan science dan materialisme philosophy di seluruh pelosok Russia, agar tidak ada lagi orang Russia menyembah tuhan.

Awal abad 19, pendidikan hanya untuk kaum bangsawan, tidak mengenal di eropa atau Hindia Belanda, pendidikan adalah untuk kaum bangsawan, makanya kita mengenal Ir. Soekarno, RA Kartini, dlsb, itu bisa sekolah karena keturunan bangsawan.

Hal inilah yang didobrak oleh Komunisme Vladimir Lenin, pendidikan adalah hak seluruh rakyat, untuk itu Vladimir Lenin mengerahkan pasukan Cossack untuk menjadi guru guru di sekolah sekolah pelosok.

Menurut OECD, Komunisme USSR adalah negara teknokrasi pertama yang 99% penduduknya bebas dari buta huruf

Setelah itu disusul meluncurnya satelit pertama Sputnik, dan tahun 1961 Yuri Gagarin menjadi manusia pertama yang mengangkasa, kemudian disusul oleh Valentina Tereshkova sebagai perempuan pertama yang mengangkasa,

Seorang dosen MIT Amerika dari Russia, akhirnya menuliskan publikasi Lenins Laureate, yang isinya adalah banyak scientis Russia mendapat nobel setelah revolusi Bolshewik dan cara pandang mereka tentang alam semesta diganti oleh Vladimir Lenin.

Akhir kata, dari Komunisme Russia, saya mengambil dua saripati
1. Vladimir Lenin, sebagai revolusioner Bolshewik sangat menguasai kemajuan sains dan philosophy di zamannya yaitu abad 19, dan mendoktrinkan science dan materialisme bagi seluruh rakyat Russia secara merata. Lenin sangat sadar pentingnya pendidikan terutama pendidikan fisika bagi seluruh rakyat, dan mendobrak pendidikan elitis yang ketika itu hanya untuk kaum bangsawan.

2. Masalah social security, ketika Komunisme Russia berdiri, ini menjadi Konstitusi dasar, dan ketika Komunisme USSR ambruk di tahun 1991, Konstitusi dasar baru Russia masih mengadopsinya, bahwa Social Security adalah hak dasar bagi seluruh rakyat Russia

Sementara ini di Indonesia, kualitas pendidikan berkualitas masih sangat mahal dan hanya untuk kaum berduit, dan yang kedua, social security yang lebih jelas adalah BPJS masih dalam skala UU, …bukan di UUD atau Konstitusi dasar

dua hal ini yang harus diperjuangkan, yaitu kesetaraan kualitas pendidikan agar tidak ada lagi orang Indonesia harus mencari kualitas pendidikan ke luar negeri, atau ke yayasan sekolah yang didirikan oleh yayasan agama, ….dan yang kedua adalah social security yang harus masuk ke UUD, mekanismenya memang melalui amandemen UUD 45

—–
wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Telekomunikasi voice, dari masa ke masa

Telekomunikasi voice, dari masa ke masa
Catatan Wawan Setiawan

Gateway Bandung, 21 November 2014 05.45 WIB

—-
Dulu, saya mengenal Internet, pertama kali menggunakan telephone analog, dengan modem digital 28Kbps. Disini artinya menggunakan teknologi digital di converter analog kemudian di convert ke digital lagi.

Namun sekarang semua sudah era digital berbasis IP, sehingga perusahaan monopoli PSTN Telkom-pun sudah menggunakan telephone berbasis ip digital di rumah rumah.

Sementara itu, dari iklan XL Axiata, menyatakan bahwa mereka sudah menggunakan 4G di Jakarta, disusul dengan Indosat. Namun jujur saja, saya yang menggunakan iphone 5 sudah berusaha mencari dimana saya dapatkan signal LTE 4G, saya ke Pacific Place, BEJ, Sudirman, Mampang, Gatot Subroto Jakarta, tetap saja nggak pernah dapat apa itu signal 4G LTE meski iphone sudah saya set ke 4GLTE tetap yg muncul 3G dengan kualitas akses yang buruk.

Membaca berita kemaren, bahwasanya pihak Indosat menyatakan 4G bisa merusak telephone, itu saya pikir statemen paling lucu akibat kekurangan gizi, karena 4G sudah banyak dipake di luar negeri dan tidak masalah, ..namun saya pikir itu akibat ketidakkonsistenan jaringan signal di Indonesia yang kadang bisa menjadi 3G, Edge, atau Gprs, sehigga mobile phone kita sering switching dan seringkali sangat panas jika mendapatkan signal buruk 3G. Untuk itulah saya memilih membeli modem 4G LTE, agar bisa dipake oleh perangkat mobile seperti Ipad dan Iphone dengan wifi, dan yang bekerja ke system radio yang tidak stabil biarlah modemnya saja.

Dari Silicon Valley, dilaporkan bahwa Apple dan LTE sudah mengembangkan teknologi telephone yang lebih maju lagi. Saat ini Iphone sudah diperlengkapi dengan fasilitas Facetime, telephone atau video conference berbasis IP dengan server di Amerika. Namun Facetime tetap akan lebih irit jika kita menelpon teman kita yang berbeda operator, misal dari saya memakai XL dan teman saya memakai Telkomsel, maka akan lebih irit komunikasi data Facetime.

Namun Apple tidak hanya mengembangkan Facetime tersentral authentikasi ke server pusat di Amerika, melalui mode Wifi dan bluetooth, Facetime bisa mengidentifikasi teman kita di jarak 500 meter dan kita bisa melakukan telephone atau video conference secara peer to peer.

Hal ini mengingatkan saya thd teknologi sekitar 10 tahun lalu, saya memakai Nokia 6600 dengan Bluetooth bisa mengidentifikasi teman teman yang berada di jarak sekitar 500 meter. Namun dulu hanya informasi lokasi dan komunikasi berbasis chat, dan saat ini sudah dikembangkan ke komunikasi voice dah video.

Jadi kalau kita menggunakan Facetime untuk janjian dengan teman, ketika jarak kita masih diatas 500 meter, maka Facetime menggunakan mode authentikasi ke Server, namun ketika jarak sudah dibawah 500 meter, Facetime akan otomatis switching dengan mode peer to peer, sehingga tidak perlu saluran data dari operator perusahaan telekomunikasi lagi.

—–
wawan@baliooo.com
creativity, the real power to change the world