Sosialisme, apakah suatu ideologi sempit yang hanya berorientasi terhadap masalah distribusi ekonomi?

Sosialisme, apakah suatu ideologi sempit yang hanya berorientasi terhadap masalah distribusi ekonomi?
Catatan Wawan Setiawan
—-
Selama ini, ideologi sosialisme hampir dimaknai sebagai ideologi anti thesa kapitalisme, dan juga sebagai ideologi distribusi ekonomi yang merata atau kesenjangan sosial yang saat ini methodologi pengukurannya menggunakan methoda gini co-efficient rendah.

Namun, jika mencermati karya karya Vladimir Ilyich Lenin, pendiri Komunisme Russia, …Sosialisme tidak sesempit itu.

Sosialisme yang dicita citakan Lenin memang terkesan utopia, namun ini bisa didekati, meski tidak sempura. Cita cita Sosialisme-nya Lenin, kira kira adalah dimana peradaban adalah peradaban yang ramah psikologi sosial.
Kapitalisme, atau jurang pemisah tajam distribusi ekonomi hanyalah salah satu faktor saja dari suatu terror psikologi sosial. Ini dinyatakan Lenin dalam statemennya, bahwa kejahatan didalam sosial, adalah gejala dari ekses ekses sosial.

Ekses ekses sosial inilah yang tentunya harus dieliminir didalam ideologi Sosialisme modern yang ilmiah, sehingga sosialisme modern ilmiah, tidak hanya masalah pemerataan distribusi ekonomi saja, dan di statistikal dalam methode gini-co, namun juga diukur dari tingkat kejahatan sosial yang terjadi.

Peradaban saat ini, terutama pandangan kita sedang terpusat di Eropa, dimana di Prancis baru saja terjadi kekerasan fisik selama hampir 3 hari berturut turut, lalu disusul di Jerman, terjadi demo massal cukup besar di Dresden dan penembakan di majalah yang mencetak ulang kartun Charlie Hebdo, serta disertai aksi bunuh diri seorang petinggi polisi di Prancis, yang secara formal dinyatakan depresi setelah mengetahui penembakan di Charlie Hebdo, tak pelak ini merupakan abstraksi dari kekerasan psikologi sosial yang akhirnya berbuah menjadi kekerasan fisik.
Tentu saja kita tidak ingin membangun peradaban modern yang penuh depresi sosial yang berujung kepada kekerasan fisik, yang kita bangun tentu saja peradaban yang lebih baik lagi, pembangunan atau modernisasi peradaban yang ramah psikologi sosial, dan tidak meninggalkan nilai nilai moral, etika atau agama yang positive.

Ludwig Feurbach, seorang pemula atheisme modern dari Jerman, dalam karyanya Das Wesen Der Christentum, atau “Esensi Kekristenan” menyatakan bahwa esensi untuk menjadi Kristen adalah esensi menghargai perasaan perasaan manusia lain atau perasaan sosial.

Nilai nilai kekristenan ini tampaknya yang sedang mengalami ke-luntur-an secara sistematis dan massive di barat, sehingga kekerasan sosial muncul beruntun dan meningkat.

Merujuk karya Ludwid Feuerbach, yang menyatakan bahwa esensi menjadi kristen adalah esensi tentang perasaan manusia, maka saya yakin bahwa menghina, mengolok olok keyakinan individu, atau menghina kepercayaan pihak lain, atau secara umum adalah melukai perasaan pihak lain, bukanlah sebuah nilai nilai dari esensi kekristenan,

Namun bisa saja eropa memang sedang meninggalkan nilai nilai kekristenan.

—-
wawan@baliooo.com
Solo, 13 Januari 2015, 08.00 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s