Imagination is more important than Knowledge

Imagination is more important than Knowledge
Catatan Wawan Setiawan
—–

Pagi tadi saya berdiskusi dengan seorang perempuan yang memilih meninggalkan saya karena menganggap saya manusia unreligious.

Kemudian saya diminta membaca tulisan, deskripsi, imajinasi tentang tuhan. Ok, saya bersedia membacanya, dan kemudian saya memberitahunya,

Setiap orang itu berbeda beda, saya telah membaca deskripsi imajinasi tentang tuhan, yang digambarkan via math, logic atau apalah, tapi hanya satu kesimpulan saya, orang tersebut sangat ahli merangkai kata, indah dalam berbahasa dan imajinasi, tapi hanya satu kelemahannya, bahwa imajinasinya hanya sebatas layak dan enak untuk dinikmati, dan sama sekali bukan imajinasi yang bersifat “engineerable” atau ‘executable”

Lalu saya di judge sebagai orang yang kering imajinasi, sebagaimana orang teknologi lainnya. Dipikir orang teknologi itu hanya engineer lapangan saja. Lalu saya menjelaskan, saya 20 tahun di Industry IT, pernah kuliah Teknik Informatika 2 tahun saja dengan membawa 2 piala juara karya tulis ilmiah, lalu bekerja di tahun 1994 di ISP Meganet Surabaya, dan tahun 2011 mengambil kuliah online computer science. Masa kecil saya juga menyukai elektronik dan coding, saya mendapat sertifikasi coding Basic dan Pascal di umur 14 tahun,

Lalu saya jelaskan, orang orang teknologi sebenarnya juga penuh imajinasi, dan imajinasi mereka imajinasi materialistis ( bukan masalah uang, tapi secara material memperlihatkan kenyataan ). Saya bekerja dalam industry Internet Service Provider sudah 20 tahun, dari ngurus dial up, ISDN, sampai era saat ini era IP Transit. Sudah sejak 10 tahun yg lalu sebenarnya saya hampir tidak pernah berhadapan langsung dengan server, saya hanya memegang ipad dan iphone, dan mencatat detail setiap data network, dan secara imaginary berusaha memahami network agar ketika terjadi masalah bisa problem solving tanpa harus didepan NOC Server langsung.

Saya belum pernah melihat NOC server saya sendiri yang mulai saya bangun kembali tahun lalu, saya hanya mencatat bendanya apa saja, kabel kabel-nya masuk ke swicth port berapa saja, ip yang dipasang berapa, vlan-nya variable apa saja, dan data data teknis lainnya.

Lalu secara konseptual saya bisa berdikusi untuk problem solving,

Bekerja seperti ini, sudah saya lakukan sejak 10 tahun yang lalu sejak di PT. Media Broadband Asia, yang berbisnis internet satellite dan route internasional voice over ip. Saya hampir tidak pernah berada di depan mesin, tapi sering mendapat telephone dari engineer untuk problem solving, saya meminta data data yang dihadapi, lalu secara imajinari konseptual saya mencoba mencari kesalahannya untuk di solve.

Asyiknya main di dunia IT adalah kekuatan imajinasi kita terukur, executable, engineerable, dan tentu saja obyektif karena bisa dibuktikan kebenarannya secara empiris oleh orang banyak.

Anda tentu sering mendengar kata kata paling dahsyat dari Albert Einstein, yaitu “Imagination is more important than knowledge”, Einstein juga termasuk genius imaginary engineerable, karena imajinasi e=mc^2 proven dan Einstein ditunjuk untuk mengepalai proyek Nuklir Manhattan dimana juga melibatkan fisikawan handal Richard Feynman dan Oppenheimer.

Fisikawan seperti Feynman juga lebih sadis, menyatakan sains yang tidak engineerable bukanlah sains, tapi pseudo,

Akhir kata, saya menyarankan untuk tidak menjudge mana yang lebih baik atau buruk, setiap orang berbeda beda, ada yang hobby berimajinasi dengan math, logic, tanpa bisa dibawa ke ranah engineering material, saya pikir orang orang seperti ini adalah seniman murni, seniman yang merangkai kata, dan imajinasi dengan indah, dan karyanya hanya untuk sekedar dinikmati saja, seperti penulis puisi, pencipta lagu, penulis novel, dlsb. Mungkin orang genius seperti ini seperti Leonardo Da Vinci, Kahlil Gibran, Pablo Picasso,

namun perlu diketahui bahwa para teknolog dan saintis exact juga menggunakan imajinasinya, seperti Albert Einstein, Richard Feynman, Steve Jobs, Mark Zuckerberg, dan imajinasi mereka engineerable dan executable.

Saya juga yakin, bahwa banyak orang seperti saya, bahkan jauh lebih jago daripada saya, mempunyai skill memadai untuk problem solving tanpa harus didepan bendanya, tapi melalui abstraksi imajinasi, lalu mengetahui dimana letak salahnya dan melakukan koreksinya, dan asiknya, itu secara obyektif terbukti,

Sekali lagi, setiap orang punya bakat masing masing, ada yang suka berimajinasi hanya untuk dinikmati, seperti puisi, lukisan, novell, …namun ada juga orang seperti saya, yang menggunakan kekuatan imajinasii dan kreativitas-nya untuk teknologi, dan engineerable serta executable, dan secara empiris obyektif bisa dibuktikan oleh banyak orang

Tapi semua telah terjadi, dengan bakat saya yang lebih sering menggunakan imajinasi untuk teknologi dan problem solving yang real, saya telah menjadi duda untuk ke-empat kali-nya

Namun saya menekankan sekali lagi, bahwa setiap orang mempunyai bakat dan kemampuan berbeda beda, meski itu bakat imajinasi, tapi bisa imajinasi yang berbeda, ada yg menggunakan imajinasinya untuk seni yang hanya asik dan nikmat untuk dinikmati, dan ada yg menggunakan imajinasinya untuk inovasi teknologi dan problem solving. Dan saya masih ingat boss saya di Jalawave Yogya dulu menjuluki saya sebagai seniman teknologi,


wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Bandung, 31 Januari 2015, 17.00 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s