Monthly Archives: February 2015

Apakah Internet adalah sarana equality knowledge?

Apakah Internet adalah sarana equality knowledge?
catatan Wawan Setiawan
—–

MIT Technology Review sedang membahas tentang media Internet, yang bagi American merupakan perwujudan dari visi Thomas Jefferson, bapak pendiri Amerika.

Ketika itu, setelah merdeka dari Inggris, Amerika juga sedang berdebat tentang visi pemerintahan yang sentralistik dari Alexander Hamiltom atau individualis ala Thomas Jefferson yang menganut aliran Epicurusian.

MIT mengungkapkan bahwa Internet merupakan kemenangan visi Thomas Jefferson, yaitu sarana equality knowledge warga negara.

Tapi saya tidak begitu yakin, karena dibalik media Internet ini, siapa saja bisa melakukan propaganda. Jadi, menurut perspektive saya, Internet menjadi sarana equality bila pemerintahnya sentralistik dan menentukan content mana yang positive dan negative disensor, ini seperti halnya pemerintah China, dimana Internet tumbuh sangat pesat di negeri China dan content-nya sangat ketat dengan sensor,

Namun bila Internet dibiarkan demokratik liberal, maka yang terjadi malah akan memperlebar jurang gap knowldge. Dari Internet ini, sejak masih umur 20 tahun, yang saya sukai adalah situs NASA, mailing list apakabar Indonesia-L, milis politik yang dibuat oleh Prof. Harvard John Mc Dougall dan Gerry van Klinklen KITLV Leiden Belanda, update berita baru technology, jadi apa yang saya lakukan sekarang sebenarnya bukan hal baru, karena sejak muda saya juga sudah rajin menulis baik karya tulis ilmiah kampus, atau di majalah komputek atau infokom.

Namun dari Internet ini saya juga tahu bahwa ada yang sangat menyukai situs porno, berjam jam waktunya dihabiskan untuk melahap pornografi, atau kalau zaman sekarang banyak situs kekerasan berbasis agama.

Hal ini akan membuat gap sangat serious, yang maniak knowldge akan selalu mengakses knowledge, yang kecanduan porno akan selalu mengakses porno, yang kecanduan agama akan selalu mengakses situs situs agama yang saat ini saya lihat sangat liar dan sangat provokative.

Jadi, ini semua kembali ke orangnya lagi, Internet hanya suatu wahana atau media, saya menggunakannya untuk bisnis Internet, update knowledge dan berita teknologi, melanjutkan passion saya sejak muda, yaitu menulis, dan komunikasi voice atau email untuk bisnis atau update perkembangan puteri saya di Russia.

Review MIT yang saya baca pagi ini sangat saya ragukan, karena menganggap Internet adalah media equality.

Ini bisa jadi benar, jika pemerintahnya seperti pemerintah China, yaitu melakukan sensor ketat dan menggiring content positive produktive.

Tapi kalau di Indonesia, dengan pemerintah yang ada saat ini, saya justru melihat Internet adalah sarana menjauhnya gap, dari Internet inilah yang unknowledge (stupid) akan semakin massive dan yang cerdas akan semakin cerdas.

Semua terpulang dan kembali kepada masing masing individu, mau menggunakan Internet untuk apa?


wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Bandung, Sabtu 21 Februari 2015, 08.51 WIB

Memex, mesin pencari baru dari Darpa

Memex, mesin pencari baru dari Darpa
Catatan Wawan Setiawan

Berita teknologi IT dikejutkan oleh proyek DARPA, yang bernama Memex, mesin pencari yang diklaim jauh lebih unggul daripada Google.

Memex, seperti halnya Internet sendiri, dilahirkan dari project DARPA, awalnya untuk kepentingan military,

Saya akan sedikit mengulas mengapa Memex diklaim jauh lebih unggul.

Sebenarnya ini semua tergantung dari indexing database dan algoritma yang digunakan, secara algoritma saya tidak yakin Memex lebih baik daripada Google. Tapi pemerintah Amerika, melalui proyek NSA, menyadap semua lalu lintas Internet terutama ke database corporate giant Silicon Valley.

Dalam masalah keamanan, Big Data tetap diperlukan, crowd data hasil penyadapan mungkin 99% tidak berguna, tapi yang 1% bisa menjadi data sangat penting, tapi untuk mendapatkan 1% data penting, maka harus menyediakan 99% crowd data,

Tampaknya dari sinilah keunggulan Memex, karena ini sama sama proyek pemerintah Amerika, mereka bisa melakukan algoritma pencarian terhadap 99% crowd data dari NSA.

Mungkin saja Google jika dikasih wewenang atau authority yang sama, hasilnya bisa lebih baik.

Tidak heran dalam gambar ilustrasi Memex, Google digambarkan sebagai mesin pencari di atas ombak, sedangkan Memex adalah mesin pencari di kedalaman lautan, karena Memex bisa menggunakan crowd data NSA yang tidak mungkin didapatkan oleh Google.

So, proyek PRISM Amerika memang optimal, selain untuk kegiatan intelijen, crowd data yang tidak berguna bisa di komersialkan untuk indexing dan algoritma pencarian Memex

Negeri Amerika selalu begitu, mereka melakukan proyek research terlebih dahulu, awalnya belum kelihatan ini mau digunakan secara optimal untuk apa, baru di saat yang tepat, mereka baru menemukan titik optimalnya. Sejarah mencatat, lahirnya Internet, dan saat ini Memex, tidak lepas dari proyek DARPA yang awalnya tidak terlalu berpikir jauh mau digunakan untuk apa. Yang penting research dan menciptakan proyek inovasi teknologi terlebih dahulu.


wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Solo Balapan, 17 Februari 2015, 06.55 WIB

Wawan Setiawan adalah co-produser dan narasumber tetap acara Teknovasi (teknologi dan inovasi) SBOteve lantai 21 Graha Pena Jawa Pos Surabaya

Cita cita pendiri negara

Cita cita pendiri negara
Catatan Wawan Setiawan
—–

Merdeka-nya negara Indonesia, tidak terlepas dari tokoh tokoh intelektual kelas menengah ningrat yang disekolahkan oleh Belanda dengan istilah politik etis.

Ir. Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, adalah orang orang yang mengenyam pendidikan tinggi ala belanda, dan suasana ketika mereka sekolah adalah dunia sedang ephoria terhadap bolshewik Russia, dan usulan Eduard Bernstein di Jerman yang membawa partai Komunis melalui mekanisme parlementer.

CPN atau Partai Komunis Belanda, mengikuti garis Komintern Moscow, menuntut merdekanya Hindia Belanda. Tan Malaka pernah menjadi anggota CPN

Hindia Belanda, di masa-nya terkenal kaya raya dengan raw material. Ini tidak salah sama sekali, karena terbukti terjadi boom oil di era Soeharto, sebelum Indonesia akhirnya impor energy oil dalam volume sangat besar saat ini.

Selain itu Bumi Resources, sebuah perusahaan tambang milik Bakrie, pernah menjadi yang terbesar di Asia, sehingga dulu BEI, Bursa Efek Indonesia sempat disebut dengan istilah Bakrie Efek Indonesia.

Ini semua mencerminkan Indonesia sangat kaya raw material, namun tidak dikelola dengan baik dan tidak ada visi baru menuju era kreativitas teknologi,

Bumi Resources, tidak hanya pernah menjadi perusahaan tambang terbesar di Asia, namun pada akhirnya lewat anak perusahaan lainnya, malah membawa masalah d Lapindo Sidoarjo yang akhirnya kerugian justru ditalangi oleh pemerintah

Saya yakin, jika Presidennya Vladimir Putin, Bumi Resources akan dinasionalisasi ketika jaya. Tercatat Putin telah menasionalisasi Yukos, Sibneft, dua perusahaan tambang terbesar di Russia di masa Boris Yeltsin.

Saat ini Russia terkena resesi ekonomi akibat jatuhnya harga minyak dan sanksi ekonomi. PM Medvedev sendiri untuk penanggulangan anti krisis adalah memberikan suntikan ke BUMN Russia, hal yang sama dengan pemerintahan Joko Widodo, dengan asumsi BUMN Russia adalah sebagai penopang ekonomi negara Russia, baik operasional negara dan jaminan sosial rakyat,

Melihat pasal pasal UUD 45, tampak jelas pendiri negara ini mindset-nya tidak jauh jauh dari negeri Russia. Menggunakan mekanisme BUMN untuk mengelola kekayaan alam dan digunakan untuk operasional pemerintah dan jaminan sosial,

Namun sampai saat ini, pasal pasal UUD 45 terlihat tumpul, BUMN di Indonesia memonopoli, tapi jaminan sosial masih berupa insurance BPJS.

Ekonomi dunia berkembang, dari raw material, ke teknologi creativity tinggi. Russia tidak kehilangan ruh-nya, tetap menggunakan BUMN untuk memproduksi benda benda teknologi tinggi, seperti RusElectronic, atau membangun project Skolkovo.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Indonesia lewat IPTN, namun akhirnya ditutup karena syarat bail out dari Troika ( istilah Russia untuk menyebut IMF dan EU )

Russia sendiri pernah meminjam uang dari Troika dan memutusnya atau melunasinya di tahun 2006, karena pinjaman dari Troika tidak memberikan independensi atau pinjaman dari Troika selalu bersyarat dan tidak menguntungkan kepentingan nasional,

Ini juga terbukti ketika Alexis Tsipras dari Syiriza mengatakan hal yang sama, dan demo demo di Yunani membawa spanduk “Bangkrut tapi merdeka”, ini mencerminkan rakyat Yunani juga sangat membenci kepada Troika,

Indonesia berdiri dengan penopang fundamental Pancasila dan UUD 45, nilai nilai-nya adalah sosialisme religius. Saya pikir nilai sosialisme-nya sudah benar, namun religius-nya yang perlu diubah ke arah yang ilmiah, karena religius itu bukan untuk dibagi bagi dan disebar luaskan, tapi digunakan untuk kepercayaan individu, disimpan didalam hati individu, sedangkan hal hal ilmiah, memang harus disebar luaskan dan dibagi bagi.

Ketika Lenin memenangkan revolusi Bolshewik, instruksinya jelas, bangun sekolah dan listrik ke seluruh penjuru Russia agar rakyat tidak menyembah hal hal takhyul lagi, mekanisme-nya lewat tentara.

Awal abad 19, sekolah adalah barang mewah dimana mana, termasuk di eropa, Tapi karena sekolah eropa mengajarkan hal hal ilmiah, maka Lenin memberi instruksi agar semua rakyat Russia dipaksa harus sekolah,

Ya memang harus dipaksa, di awal abad 19 orang belum tahu apa gunanya sekolah, dan mengapa mereka harus didoktrin ilmiah,

Mungkin kalau di abad 21 ini, Lenin masih hidup, saya yakin Lenin akan menginstruksikan semua rakyat Russia harus mengakses Internet yang content-nya ilmiah dan ini semua gratis,

Prinsipnya, Lenin ingin mengganti doktrin takhyul abad kegelapan, menjadi doktrin ilmiah bagi seluruh rakyat,

Russia mempunyai sejarah ini, memaksa seluruh rakyat untuk sekolah dengan content ilmiah, tidak heran, menurut laporan OECD, Russia menjadi negeri pertama dengan tingkat baca tulis tertinggi di dunia, dan segera mampu meluncurkan satelit dan kosmonot pertama di dunia.

Sejarah ini juga ditulis oleh mahasiswa MIT, dengan buku berjudul Lenin’s Laureate

Nabi Muhammad, dalam ayatnya yang pertama juga memberikan instruksi iqra, bacalah…instruksi pertamanya bacalah….

Pada dasarnya dua orang ini mempunyai semangat yang sama, berusaha empower dengan memaksa orang lain untuk tujuan tertentu,

hanya saja beda zaman, yang wajib dibaca sebagai knowledge di abad ke 7, abad 19 abadnya Lenin, dan abad 21 itu berbeda

Intinya, di setiap zaman, borjuasi itu mempunyai alat yang memajukan otak dan mindset mereka dimana ini dikartelisasi dan kaum proletar tidak bisa mengaksesnya, dan oleh Lenin sebelum memberikan keadilan ekonomi, maka memberikan hal fundamental yang memajukan otak dan mindset para borjuasi kepada seluruh rakyat terlebih dahulu

Abad 19, borjuasi menguasai pendidikan, abad 21 borjuasi menguasai teknologi, abad 23 akan ada alat borjuasi yang membuat otak dan mindset mereka unggul daripada kaum proletar.

Ini dulu yang diratakan dan diberikan secara gratis ke seluruh rakyat untuk menjadi hak primer rakyat, sebelum diratakan keadilan ekonomi.

keadilan knowledge jauh lebih penting daripada keadilan ekonomi.


wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

16 Februari 2015, 06.43 WIB

Elon Musk, Space-X dan Hendropriyono

Elon Musk, Space-X dan Hendropriyono
Catatan Wawan Setiawan

Dua hari ini, saya rally di Surabaya, selain untuk kegiatan bisnis, juga menjadi narasumber di Teknovasi SBOteve dan SmartFM yang disponsori oleh Datautama.net.id.

Di Teknovasi, selain menjadi narasumber, saya juga biasanya yang menjadi co-produser dan penulis naskah atau mengajukan tema.

Saya mengajukan tema Space-X dan Elon Musk, karena Elon Musk dengan visioner futuristik-nya saat ini banyak disangsikan orang awam. Namun satu hal yang saya sangat hargai, produser di SBOteve dan penyiar di SmartFM, sebelum kami on air, mereka ternyata juga mempelajari tentang Elon Musk dan Space-X

Ada pertanyaan yang mengejutkan dari penyiar SmartFM kepada saya, yaitu tentang, “Apakah Elon Musk menguasai teknologi rocket?”

Saya diam sejenak, lalu saya dengan blak blakan menjawab bahwa orang tipe Elon Musk, Steve Jobs ini entrepereneur visioner inovatif, biasanya entrepreneur itu yang penting visi, “saya mau bikin yang kayak gini” lalu disampaikan ke tim engineering untuk merealisasikan. Lalu saya melanjutkan lagi, dalam industry rocket saat ini negeri Russia masih yang paling jago.

Yang saya kagum, penyiar SmartFM juga tahu bahwa Elon Musk pernah ke Russia untuk mencari engineer Rocket.

Singkatnya, yang pertama, proyek Space-X ini adalah proyek rocket dari entrepreneur swasta Amerika bernama Elon Musk, dan Elon Musk juga tidak menamai proyeknya sebagai proyek rocket angkasa luar nasional.

Yang kedua, Space-X masih akan banyak melakukan impor komponen dan engineer rocket dari Russia

Yang ketiga, Space-X juga juga disupport oleh Presiden Barrack Obama, bahkan Presiden Barrack Obama juga sempat datang ke markas Space-X

Saya pikir ini hampir mirip dengan peristiwa belakangan ini, bahwa Indonesia akan mengimpor industry mobil Proton Malaysia, dan kemudian membangun pabrik sendiri di Indonesia. Proyek ini juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

Kedua proyek ini awalnya akan memakan banyak komponen dan engineer impor untuk transfer teknologi, tapi visi-nya sama, yaitu membangun kemandirian industry.

Elon Musk Space-X ingin membangun Industry rocket di Amerika, sedangkan Hendropriyono ingin membangun industry mobil di Indonesia.

Jadi apakah Hendropriyono adalah Elon Musk-nya Indonesia?

Walahuallam Bissawab

——
wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Surabaya, Kamis 12 Februari 2015, 07.12 WIB

Teknovasi, Space-X

Teknovasi, Space-X
Catatan Wawan Setiawan

Selasa kemaren, saya harus ke Surabaya, selain untuk urusan bisnis, saya juga harus mengisi acara Teknovasi yang kali ini tema-nya agak special karena saya dengan Pak Adhytia Wismu Sasmita dari Datautama.net.id akan membawakan tema yang cukup berat, yaitu tentang Space-x yang digagas oleh Elon Musk dan bekerja sama dengan Facebook, Google, dan Virgin Richard Branson

Mereka semua orang orang visioner yang selalu membangun masa depan yang lebih sophisticated

Saya flight dari Bandung, jam 11.05, dengan AirAsia, cukup deg degan, karena Bandung selalu berawan tebal dan mendung. Meski data statistik dengan kuat memberikan fakta bahwa probabilitas jatuhnya pesawat itu sebenarnya rasio-nya kecil, tapi persepsi akan jauh mengalahkam data dan fakta. Beberapa kali kejadian AirAsia belakangan ini tetap saja lebih dominan mempengaruhi persepsi dan ketakutan saya daripada rasionalitas saya yang seharusnya berbasis data rasio statistik probabilitas dan fakta.

Sampai Surabaya, saya berterima kasih terhadap Pak Adhyt karena bersedia menjemput di bandara Juanda dan kami langsung diskusi tentang masa depan network, inovasi, perkembangan teknologi, dan mencari hole hole jaringan, untuk di optimalkan ke orientasi keperluan bisnis,

Hacker tidak selalu berkonotasi negatif, misal membobol server atau network pihak lain, tapi saya sangat interesting dengan melakukan terobosan kreativitas optimalisasi existing network yang mengarah ke pengembangan bisnis secara legal.

Singkatnya, setelah mendarat di Juanda Surabaya, saya hampir tidak punya waktu untuk istirahat, karena rally meeting, baik skema bisnis dan konsep konsep kreativitas baru yang saya tawarkan untuk optimalisasi network dan impact-nya ke bisnis.

Meeting di Sutos, bahkan saya break, karena waktu sudah menunjukan jam 18.30. sedangkan jam 20.00 saya harus mengisi acara Teknovasi dengan tema membahas Gagasan Elon Musk dan SpaceX

Singkatnya, saya datang di Studio SBOteve, lantai 21 Graha Pena Jawa Pos dalam kondisi sangat kelelahan, tapi show must go on, saya harus full konsentrasi untuk membawakan tema berat Elon Musk dan SpaceX

Dari Teknovasi, 10 Februari 2015 dengan tema SpaceX, yang paling saya ingat, dan asyiknya adalah ini closing acara, Arthur sebagai pembawa acara, di penutup acara menanyakan hal yang sangat fundamental, mengapa di Indonesia belum ada orang orang seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, Sergey Brin, dan lain sebagainya?

apakah ini disebabkan oleh karena tidak ada reward atau penghargaan terhadap para innovator atupun inventor?

saya dengan tangkas menjawab bukan itu masalahnya, orang orang seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, saya yakin bukan seorang yang butuh apresiasi, reward atau apa, tapi itu semua mereka lakukan karena passion mereka yang memang sangat kuat untuk menciptakan masa depan yang lebih sophisticated,

Sekali lagi, ini bukan masalah penghargaan, reward, atau apresiasi, tapi ini semua adalah passion seorang yang sangat kuat visi futuristiknya untuk mengubah dunia dengan membangun teknologi masa depan yang jauh lebih sophisticated

Sore ini di SmartFM Surabaya, saya bersama Pak Adhytia Wisnu Sasmita dari Datautama.net.id akan kembali membawakan Space-X, dan semoga kita berdua bisa mengeksplorasi kelebihan imajinasi visioner visioner Amerika agar menginspirasi pemuda pemudi di Indonesia

Imagination is more important than Knowledge ( Albert Einstein )


wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Surabaya, 11 Februari 2015, 07.35 WIB

Industry Nasional, belajar dari Jepang dan China

Industry Nasional, belajar dari Jepang dan China
Catatan Wawan Setiawan

Baru baru ini, kita dihebohkan oleh berita Industry Mobil Nasional, terutama dari lawatan Presiden Joko Widodo ke Malaysia,
Istilah industry mobil nasional, tidak sekali ini saja, tapi dulu sempat ada juga Timor yang diimport secara CBU oleh Tommy Soeharto,

Sejak awal, mohon maaf, saya sudah cepat sekali kehilangan kepercayaan kepada Presiden Joko Widodo, dan lebih baik aktivitas lain saya, selain tetap berbisnis, kegiatan semi sosial dengan acara televisi Teknovasi, teknologi dan inovasi, serta kegiatan full sosial, saya memilih mengembangkan ideologi sosialisme di Indonesia,

Saya orang yang tidak mau jadi budak, ataupun fans, dari seorang Presiden produk ideologi pragmatis, sehingga saya memilih aktivitas dengan cara saya sendiri, yaitu menulis, dan lainnya,

Mari kita lihat China sebentar, mereka sebelum membuat perakitan teknologi, mereka memilih menjadi outsourcing industry tenaga kerja terlebih dahulu.

Tidak bisa dipungkiri bahwa memang Amerika adalah biangnya inovasi, tapi Jepang dan China memilih menjadi follower terlebih dahulu sebelum kemudian berusaha menyalip di beberapa bidang.
Industry Mobil, awalnya tentu dikuasai oleh Amerika, tapi sekarang ini industry mobil dikuasai oleh Jepang.

Industry rocket awalnya dikuasai oleh Jerman, tapi sekarang dikuasai oleh Russia,

Industry IT, saat ini dikuasai oleh Amerika, tapi bukannya tidak mungkin nanti beralih dikuasai oleh negara lain, misal China.
Dalam hal ini saya pernah bahas di Teknovasi, Amerika memang biang Inovasi, tapi bukannya tidak mungkin inovasi mereka kemudian diambil alih oleh negara lain, Jepang dan China sudah menggunakan strategi ini, …pelajari, tiru, dan salib.

Kembali kepada istilah industry mobil nasional.

Di Russia, ketika krisis Ruble, terjadi anomali, penjualan mobil Ford, KIA, meningkat.

Lho, bukannya jatuhnya nilai mata uang membuat impor semakin mahal?
Ternyata, Ford, KIA, dan Industry mobil merek asing di Russia, mayoritas menggunakan komponen lokal, sehingga jatuhnya nilai Ruble justru menurunkan harga mobil.

Dalam masalah ini, sebenarnya Toyota, Daihatsu dan Industry mobil di Indonesia sudah berkembang cukup bagus, …desain, perakitan, dan bahannya sudah banyak menggunakan komponen lokal, hanya saja brandingnya memang masih Jepang.

Tapi selama mayoritas komponen, termasuk pabrik dan tenaga kerja, menggunakan komponen lokal, maka itu sebenarnya sudah menjadi industry nasional.

Ini yang pertama, tentang industry nasional sebenarnya essensinya bukan kepada orientasi nama-nya lokal atau asing, ….tapi berapa prosen kandungan komponen lokal dan lokalisir kapitalnya, boleh saja, misal Apple membuat pabrik di Indonesia membuat iphone, jika 80% komponennya lokal dari indonesia, biar saja brandingnya tetap iphone, tapi itu saya sebut sebagai industry lokal.

Ini jauh lebih baik daripada nama lokal, misal Esemka, tapi mayoritas komponen justru import.

Yang kedua, saya ajak anda menengok negeri Russia, bahwa industry nasional mereka, selalu dibawah BUMN, tidak sebuah perusahaan swasta hasil bayar hutang budi.

Russia membangun industry besar-nya mayoritas lewat BUMN, bahkan sampai kepada industry handphone merek Yota, itu juga BUMN, bukan perusahaan swasta.

Dua poin inilah yang membuat saya semakin tidak mempercayai kepada Presiden Joko Widodo,

1. Industry mobil di Indonesia meski merek Jepang, sebenarnya sudah banyak menggunakan komponen lokal, jadi sebenarnya dalam industry mobil, tidak perlu belajar lagi ke Proton Malaysia, tapi sebenarnya Indonesia sudah lama bisa memproduksi dan mendesain mobil sendiri dengan merek Jepang.

2. Industry nasional lebih baik mekanisme-nya via BUMN, bukan swasta seperti Timor milik Tommy Soeharto atau milik Hendropriyono
Gabungan dari kedua solusi ini adalah, jika ingin membangun industry nasional, saya pribadi memilih mekanisme via BUMN, dan membajak orang orang Indonesia yang saat ini bekerja di Industry mobil merek Jepang di Indonesia.

Jadi perusahaannya BUMN, dan orang orangnya mengambil orang yang terlatih bekerja di Toyota, atau Daihatsu Indonesia misalnya…

Ini view saya tentang Industry Nasional, terutama di bidang Mobil

wawan@baliooo.com
Bandung, 9 Februari 2015, 05.39 WIB

Amerika, negeri propaganda yang sedang degradasi kekuatan dominasinya

Amerika, negeri propaganda yang sedang degradasi kekuatan dominasinya
Catatan Wawan Setiawan

Meski saat ini, saya sedang sibuk sibuknya thd pekerjaan, tapi tiap hari saya tetap usahakan olahraga dan menulis, karena keduanya adalah latihan sehat otot dan otak, agar seimbang,

Berita yang saya ikuti beberapa terakhir menyebutkan, bahwa jatuhnya ekonomi Russia, atau Russia mengalami turbulence ekonomi, akibat terutama sanksi ekonomi, ini faktor primary, dan yang faktor kedua adalah jatuhnya harga minyak,

Di komen facebook saya ada yg menulis status bahwa jatuhnya ekonomi Russia, itu akibat korupsi di partai dan pemerintahan, serta tidak sama rasa sama rata. Saya pikir ya beginilah mayoritas intelek dan pengetahuan orang Indonesia, tidak analitis, ngawur, dah tidak rajin membaca berita.

Dari kecil, meski Ibu saya tidak menamatkan SMA, tapi beliau punya kebiasaan setiap pagi membaca Kompas dan Jawa Pos, tapi belakangan saya yang memilihkannya untuk membaca Kompas saja.

Bukan berarti saya sebenarnya percaya sama Kompas, oh tidak….itu supaya ibu saya di usia yang saat ini telah menginjak umur 86 tahun, tetap bisa mengikuti berita dengan media terbaik di Indonesia. Untuk teve beliau tetap memilih MetroTeve, sekali lagi bukan karena Metroteve itu terbaik, Metroteve dan kompas bagi saya sama saja, itu berita provakative, tapi buat ibu saya yang sudah 84 tahun dan tetap punya passion untuk berusaha mencari tahu apa yang terjadi di dunia politik Indonesia, saya pikir sudah cukup.

Saya sendiri waktu kuliah, selalu membendel majalah Tempo, sehingga rumah saya dulu ada bendelan majalah tempo dalam jumlah banyak, termasuk buku Di Bawah Bendera Revolusi, Soekarno versi Cindy Adams, buku IT, dlsb, … tapi sekarang kabarnya itu disimpan oelh mantan mertua saya dari mantan istri pertama yang pernah saya nikahi.

Kembali tentang Amerika, saya sudah menduga bahwa negeri ini penuh propaganda, dan sok menjadi polisi dunia, meminta semua negara mengisolasi Russia.

Tapi dari berita yang saya ikuti, Amerika sendiri tetap melakukan transaksi bisnis dengan Russia sesuai yang dibutuhkan Amerika saja, misal peluncuran rocket, senjata, astronot, atau bidang bidang teknologi lainnya. Yang tidak dibutuhkan Amerika maka diberi sanksi, sedang yang dibutuhkan Amerika maka tidak diberi sanksi,

Sanksi ke Russia juga membawa malapetaka bagi Eropa, karena sudah banyak orang Eropa bekerja di Russia dan berdagang dengan Russia, misal Jerman, Belanda, adalah partner bisnis besar Russia.

Eksekutif Rosneft sendiri juga banyak orang Inggris dan Belanda, sehingga sanksi ekonomi ke Russia memperparah krisis ekonomi di Uni Eropa sehingga sampai EU mengalami deflasi, orang Eropa memilih menyimpan uang daripada untuk kegiatan bisnis, sehingga tentu saja ekonomi akan menjadi stagnan, karena perputaran uang justru menurun drastis.

Hari ini, dari Russia Today, dilaporkan bahwa Angela Merkel kanselir Jerman dan pemimpin Uni Eropa bersama Francois Hollande PM Inggris berkunjung ke Moscow tanpa persetujuan Amerika, untuk membicarakan sanksi ekonomi dan solusi terbaik bagi Ukraina.

Ukraina sebenarnya bukanlah negara vital bagi Eropa, tapi gara gara agresi Russia ke Ukraina, maka ekonomi kedua negara, antara Uni Eropa dan Russia ini mengalami masalah besar.

Sebelum kedatangan Angela Merkel dan Francois Hollande ke Moscow, dari Yunani, Alexis Tsipras PM Yunani dari partai kiri Syiriza yang baru saja memenangkan Pemilu Yunani 2015, sudah memberikan banyak pernyataan bahwa sanksi kepada Russia adalah kesalahan, dan sudah declare bahwa Yunani akan bekerja sama dengan Russia, bahkan sampai kepada bail out bank di Yunani akan didanai oleh Russia. Hal ini sudah ditegaskan oleh Sergey Lavrov menteri luar negeri Russia, tapi Presiden Vladimir Putin saya pikir adalah Presiden sangat jeli, meski Partai kiri Syiriza menang di pemilu Yunani 2015, dan Alexis Tsipras banyak membela Russia, Presiden Putin yang ex-KGB menyatakan Russia tetap perlu berhati hati, karena kemenangan Syriza tak lebih dari kemenangan populisme tanpa fundamental yang kuat.

Ini salah satu yg saya kagumi dari Presiden Vladimir Putin, meski dibela dan banyak disanjung oleh pemimpin Yunani dan Syiriza, tapi tetap jeli melihat perkembangan politik di Yunani dan fundamental masalahnya.


wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Bandung, 6 Februari 2015, 07.42 WIB