Monthly Archives: March 2015

Editing Genome, dan hasil survey di Amerika

Editing Genome, dan hasil survey di Amerika
Catatan Wawan Setiawan

MIT Technology Review, beberapa hari lalu menurunkan tulisan tentang editing Genome, dimana hal seperti ini sudah bukan menjadi hal yang mengagetkan saya. Sekitaran tahun 1980, ilmuwan telah berhasil melakukan cloning domba Dolly, dan di era saat ini ilmuwan telah berhasil melakukan editing Genome terhadap binatang kera.

Sampai disini, bila anda sedikit bersedia membaca tentang evolusi modern, dan rekayasa genetika, maka editing genome adalah hal yang biasa biasa saja. Namun yang membuat saya kaget, justru hasil survey-nya di Amerika. Warganegara Amerika, ketika ditanyakan apa yang mereka mau terhadap teknologi editing genome, ketika dihadapkan pada dua hal, yaitu kecerdasan dan kesehatan, jawabannya lebih banyak yang memilih kecerdasan daripada kesehatan

Artinya, warganegara Amerika, memilih cerdas tapi tidak begitu sehat, daripada sehat tapi tidak begitu cerdas,

Dalam teknologi editing genome, seperti kita tahu bahwa penyakit penyakit degeneratif bawaan kita bisa didelete, agar keturunan kita tidak membawa penyakit potensial yang lahir dari genetika kita, misal diabetes, ataupun kanker.

Tapi warganegara Amerika tampaknya tidak terlalu peduli ini, karena jajak pendapatnya menunjukan mereka ingin mempunyai anak yang cerdas daripada anak yang sehat. Tentu saja jika dua opsi bisa dipilih maka memilih opsi cerdas dan sehat,

Tapi justru inilah menariknya, karena editing genome sebenarnya tujuan awal-nya adalah untuk tujuan kemanusiaan, salah satunya menghilangkan penyakit turunan, tapi survey malah menunjukan hal yang berbeda.

Keingingan kuat menjadi cerdas memang ciri kuat masyarakat kapitalistik, karena di masyarakat kapitalistik, tidak cerdas artinya tidak bisa mengikuti sistem brutal persaingan bebas.

Sebenarnya saya penasaran, ingin mengetahui jika survey diadakan di negara kaya minyak, dimana kemakmuran dan eksistensi tidak terkait kuat dengan inovasi teknologi atau kecerdasan berbisnis, misal di Dubai, Brunei, atau Qatar.

Jika teknologi editing Genome ditanyakan ke penduduk Dubai, Brunei, atau Qatar, apakah jawaban mereka sama dengan warganegara Amerika, ingin melahirkan anak yang cerdas daripada anak yang sehat?

—–
wawan@baliooo.com

Wawan Setiawan adalah co-produser dan narasumber tetap Teknovasi ( teknologi dan inovasi )

Selasa dan Rabu, 24 dan 25 Maret 2015 akan membawakan Teknovasi di SBOteve Graha Pena Surabaya dan SmartFM Surabaya dengan tema “Enigma, Alan Turing, dan Artificial Intelligence”

Business Philosophy, Internet, dan cara kapital outflow-nya

Business Philosophy, Internet, dan cara kapital outflow-nya
Catatan Wawan Setiawan
—–
A. Saya terjun ke industri Internet, sudah lebih dari 20 tahun. Dari sini saya banyak belajar, tentang profile Bill Gates, Steve Jobs, sama si keparat Robert Kiyosaki. Tapi sekiranya philosophy Steve Jobs yang paling mempengaruhi saya saat ini. Steve punya philosophy sederhana “ciptakan barang hebat yang membuat dirimu sendiri senang terlebih dahulu, berikan kepada teman teman terdekatmu, setelah itu keajaiban akan datang”. Philosophy marketing seperti ini dalam bahasa Jerman-nya disebut sebagai “Getok tular”. Saya juga orang Jerman (baca: Jawa), jadi filosofi ini nggak asing lagi, dan bagaimanapun keluarga kami besar di Jawa, sehingga nilai nilai kejawen masih kental bercampur dengan ajaran Islam. Persisnya kalau orang tua saya itu Jawa Islam, Islam yang masih memegang kuat nilai nilai jawa. Kalau saya lebih modern, lebih sok nyaintitik.

Kembali ke filosofi marketing Steve Jobs, saya punya keponakan yang entah mengapa ikut mendirikan bisnis ISP. Ini inisiatif-nya sendiri. Awalnya dia mengambil source dari ISP lokal. Sampai disini dia bilang baik baik saja, sampai saya menurunkan saluran untuk support ISP-nya dan memberikan proteksi lisensi ISP. Baru sekarang ini agak rewel ke saya, karena sudah tahu perbedaan kualitas. Di bisnis ini, sebenarnya bisnis yang cocok bagi rasionalis, karena kualitas bisa sangat terukur, delay time, throughput, kecepatan, semua sangat terukur. Keponakan saya tahu cara ngukurnya, dan bukannya saya sok promosi, dia mengatakan dengan source yang sama mengapa produk saya terukur lebih baik? Saya bilang banyak faktor, tapi ini kuncinya ada di topologi dan desain network. Setelah memahami peta jalur Internet di Indonesia, saya lalu membuat topologi dan desain network, untuk membuat produk yang terbaik. Sampai disini, keponakan saya jadi rewel kalau produk saya bermasalah, padahal dulu dia menggunakan produk yang lebih buruk juga tenang tenang saja. Mungkin persis seperti pengguna Apple, fanatis, ketika Apple store dan Cloud mati 12 jam, udah komplain sangat keras.

Orang lain dengan keberuntungannya sendiri, bisa menjual batu akik dengan keuntungan 100%. Yang dijual mungkin keindahannya, dan sangat relatif dan perseptual. Saya nggak akan mengikuti, karena itu bukan bakat saya, bakat saya menjual yang sangat terukur, dan itu kompetitif, serta terbukti lebih baik. Tapi inilah dunia dan manusia, berbeda beda, tapi dunia modern jelas menuju ke arah yang lebih terukur, meski Steve Jobs memadukan teknologi dan seni, tapi kualitas produk Apple juga terukur.

B. MIT Technology Review menurunkan artikel bahwa beberapa negara mempunyai kapasitas bandwidth internasional yang kecil. Negara ini seperti Russia, China, dan Korea Selatan. Indonesia sebenarnya juga telah mengalami penurunan drastis kapasitas bandwidth ke Amerika. Pada awalnya, bisnis Internet yang diciptakan oleh Amerika, membuat kapital outflow dari akses bandwidthnya. Anda membeli kuota 25 ribu rupiah, itu tetep akan ada nilai tukar rupiah yang terconvert ke usd untuk membayar akses bandwidth ke Amerika. Tapi sekarang turun drastis, bukan karena orang Indonesia mencintai dan menggunakan konten lokal seperti warganegara Russia, China, Korea Selatan, tapi karena Google dan Akamai menaruh mesin Content Delivery Network di Indonesia, sehingga pengguna Google, Facebook, Twitter menjadi akses lokal,

Giant Silicon Valley, memilih menaruh mesin ke negara negara pengakses besar content mereka, agar content mereka diakses dengan cepat dan memuaskan, lalu mereka menggenerate iklan. Dari sini orang mulai beriklan di facebook, google, youtube, atau membeli trending topic twitter. Kapital outflow yang Amerika ciptakan sudah berganti, dari kapital outflow membayar bandwidth, sekarang double, membayar bandwidth plus memasang iklan.

Jadi, memang saat ini akses bandwidth Internet Internasional memang menurun, penyebabnya sangat berbeda dengan Russia, China, atau Korea Selatan, Kalau Russia, China atau Korea Selatan karena warga negara mengakses content lokal, sedangkan kalau Indonesia penyebabnya adalah Google dan Akamai menaruh mesin Content Delivery Network, dan mereka menyedot uang-nya dari pemasang iklan di Indonesia.

Solo, Jumat 13 Maret 2015, 06.30 WIB
wawan@baliooo.com

Melawan Malas

Melawan Malas
Catatan Wawan Setiawan

—–

Saya belajar mendisiplinkan diri, tepatnya sekitar tahun 2011, ketika saya bekerja di datautama.net.id

Awalnya saya juga pusing, nih perusahaan IT kok kayak pabrikan, jam 09.00 harus absent sidik jari, dan jam 5 sore absent lagi. Sebelumnya saya membangun bisnis IT dengan penuh fleksibilitas, asal kerjaan beres, maka saya nggak masalah.

Tapi waktu saya mau masuk diterima kerja, telpon telponan ama salah satu owner Datautama, saya bilang, tujuan saya bekerja salah satunya ingin belajar, ingin mendapat lingkungan baru.

Awalnya ya berat, saya susah disiplin. Tapi saya berusaha keras mencobanya, dan mencoba bangun setiap jam 5 atau paling telat jam 6 pagi, lalu ke olahraga di simpanglima, baru jam 9 mulai bekerja. Di kantor pusat Semarang, saya berhasil melakukannya, kemudian saya dikirim ke Jakarta. Lingkungan baru ini sungguh tidak bersahabat, berisik, jam 5 sudah ramai lalu lalang kendaraan, jadi saya nggak bisa bangun pagi, dan ke kantor paling cepet jam 12 siang.

Begitu ditarik pulang ke Semarang lagi, saya bisa disiplin lagi, jadi memang situasi kota itu saya rasa penting, Jakarta terlalu melelahkan dan ribet bagi saya. Saya juga sempat ikut main Futsal di Jakarta, tahu nggak dapat slot jam berapa? Jam 11 malam sampai jam 1 pagi. Jam segini mah menghirup banyak karbondioksida Jakarta.

Nah, dari belajar mendisiplinkan diri di Datautama.net.id tersebut, sampai sekarang masih terbawa. Kalau dulu disiplin karena absent sidik jari, sekarang disiplin karena kesadaran diri.

Kemaren malam saya tidur jam 9-an malam, bangun jam 3 pagi, tidur lagi, dan jam 6 bangun tapi otak mampet. Saya coba paksain olahraga, dan minum kopi sedikit, sekarang membaik, sehingga bisa nulis artikel ini.

Nanti siang ada beberapa urusan penting, yang saya harus fokus dan selalu serius kalau bekerja atau negoisasi.

Untuk itu, disiplin memang perlu, disiplin jam tidur, disiplin olahraga, agar badan kita terjaga untuk selalu fit, fokus, serious, dan cepat menangkap maksud negosiasi rekan bisnis.

Saya sendiri, kalau bangun tidak fit, merasa kehilangan waktu, kehilangan waktu artinya juga kehilangan produktivitas, kehilangan produktivitas artinya juga kehilangan kebahagiaan, gagal mengoptimalisasi hidup, sehingga untuk ini semua memang dasarnya harus disiplin dijaga ketat,

Cuman saja, saya mencoba diet dan pengin mulai vege, belum pernah berhasil.


wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Perkembangan Dunia dan Business Otomatisasi

Perkembangan Dunia dan Business Otomatisasi
Catatan Wawan Setiawan


Saya punya prinsip, bahwa mending saya menulis pengalaman saya sendiri, karena guru terbaik adalah pengalaman hidup kita sendiri, bukan theory orang lain, atau seperti periwayat hadist, menceritakan kisah hidup orang lain lalu untuk dicontoh.

Sekitar 10 tahun yang lalu saya kenal seorang American bernama Matthew Malinowsky. Dia mengoperasikan perusahaan Internet satellite sendirian di Hawaii. Makanya kalau problem, saya harus menunggunya atau membangunkannya via MSN,

Teman saya yang lain, Ryan Hartman, pernah mengatakan kepada saya kalau bisnis Matthew main main, karena semua dikerjakan sendiri.

Tapi akhirnya justru perusahaan Matthew yang lebih survive, perusahaan Ryan bekerja, malah pailit terlebih dahulu, dan Ryan sempat mengirim email ke saya untuk mencantumkan referensi kerjasama yang pernah dilakukan untuk melamar pekerjaan di Amerika, setelah Amerika kolaps tahun 2008

Ryan sempat menelpon saya, dan berkata kira kira “wawan, saya sedang melamar pekerjaan, dan saya mencantumkan perusahaan Anda sebagai referensi, jika ada telp dari Amerika, tolong bantu saya untuk menceritakan bagaimana kita bekerja sama”

saya menjawab, “ya pasti, saya akan membantu semua teman bisnis saya”

Kemudian saya juga bekerja sama dengan Sinosat China. Sinosat dioperasikan oleh dua orang saja, yaitu Jason Xu dan Jason Wang. Tapi jangan meremehkan Sinosat China, ini perusahaan milik Bank of China atau BUMN China.

Mereka bekerja sangat efisien, tapi sangat produktif.

Dunia IT sangat cepat berubah, dari era saya harus compile kernel slackware, menjadi mikrotik yang sangat mudah dioperasikan.

Makanya, kalau belajar computer science, hanya akan dapat memahami konsep komputasi dirancang, termasuk AI, tapi secara teknikal belum tentu bisa operasi mesin mesin Cisco atau Juniper.

Tapi lama lama, produsen membuat GUI interface bagi mesin mesin IT sehingga mudah dioperasikan.

Bisnis IT, lama lama seperti Sinosat China, atau apa yang dikerjakan Matthew Amerika, meski mengoperasikan VSAT, dia sendirian, …saya pernah tanya apa hiburannya jika anda mengoperasikan IT sendirian ini? Matthew menjawab minum Beer saja.

Sekarang, saya harus rerun bisnis IT dengan banyak sekali perubahan yang telah terjadi. Tapi saya ingin meniru Sinosat China dan Matthew Amerika, mengoperasikan hanya dengan kira kira 3 orang saja, nggak akan lebih.

Saya pikir, jadi pebisnis itu syarat utamanya tidak gengsian dan tidak mudah trauma ketipu uang atau terkena bad debt (tagihan nggak cair)

Saya bangun pagi, olahraga, masih menyempatkan cuci piring setiap pagi, lalu bersih bersih, saya hanya meyakini hidup ini perlu keseimbangan, selain otak saya bekerja keras untuk survive dan development, saya harus melakukan pekerjaan pekerjaan fisik agar tubuh fisik saya terjaga sehat.

So, saya sekarang ini berusaha melakukan otomatisasi di banyak bidang, termasuk mencari software otomatis keuangan, dan banyak terbantu menggunakan Google Drive dan Google DOCS. Semua dokumen legal perusahaan ada di Google Drive, dan semua transaksi keuangan saya upload disitu, sehingga kalau ada request dokumen legal, saya bisa mengirimkannya secara cepat, karena semua berbasis cloud. Yang tidak bisa saya hapuskan atau otomatisasi adalah masalah perpajakan. Meski laporan pajak bisa disubmit secara online, konsultan pajak tetap diperlukan daripada salah kirim data, dan dicari cari kesalahan oleh oknum pajak. Di luar negeri, konsultan pajak bukan hanya bekerja untuk perusahaan, tapi juga untuk pribadi yang terkena potongan pajak hingga 30-40%

Dengan adanya IT dan AI, memang segalanya menjadi ter-otomatisasi, menjadi tidak padat karya, tapi ada baiknya juga, karena ini memungkinkan business SME ( Small Medium Enterprise) ber-omset puluhan atau ratusan miliar, bisa hanya dioperasikan oleh 2-3 orang, seperti apa yang dilakukan oleh teman Amerika saya dulu, Matthew Malinowsky dan Sinosat China.

—–
wawan@baliooo.com
Creativity, the real power to change the world

Solo, 5 Maret 2015, 07.35 WIB