Monthly Archives: April 2015

Apa yang bisa kita pelajari dari Vladimir Putin?

Apa yang bisa kita pelajari dari Vladimir Putin?
Catatan Wawan Setiawan
—–

Vladimir Putin, Presiden Russia tahun 2000-2008, kemudian menjadi PM tahun 2008-2012 dan kembali menjadi Presiden Russia lagi tahun 2012 hingga sekarang, baru saja memenangkan poll majalah Time sebagai manusia yang paling berpengaruh di jagad raya ini, setelah sebelumnya juga dinobatkan oleh majalah Forbes mengalahkan Obama di nomor dua, dan Presiden China Xi di nomor 3.

Lalu apa saja prestasi Vladimir Putin?

Vladimir Putin mengawali kariernya sebagai agen KGB yang berdinas di Jerman Timur, tahun 1990 ia kebingungan, karena tidak adanya intruksi sentralisasi dari Moscow untuk mempertahankan Jerman Timur. Putin juga pernah tertangkap kamera CCTV oleh barat ketika sedang memasang alat penyadap di daerah Jerman Timur.

Setelah itu Putin menjadi walikota, dan kemudian dipercaya oleh Boris Yeltsin yang membawa liberalisme Russia yang justru menyengsarakan Russia.

Setelah Yeltsin sakit sakitan, Putin naik menjadi Presiden dab tidak diduga ia memanfaatkan jaringan KGB-nya untuk membabat kroni Yeltsin

Putin penuh kontroversi, Margaret Thatcher pernah mengatakan bahwa matanya adalah mata pembohong.

Periode tahun 2000-2006, Putin giat melakukan nasionalisasi, termasuk perusahaan minyak Yukos milik Mikhail Khodorkovsky dan Sibneft milik Roman Abramovich pemilik Chelsea

Tahun 2006 Putin juga melunasi utang ke Paris Club dan World Bank lebih dini beserta penalti-nya, karena Putin menolak untuk disetir oleh Barat atau dalam istilah Russia disebut Troika

Tahun 2000-2012 Putin sangat concern ke pembenahan internal Russia, dan Russia praktis tidak terlalu mengambil peran internasional, sehingga Amerika dan sekutunya bebas menginvasi Iraq, Suriah, Afghanistan.

Baru di jabatan Presiden ketiganya, tahun 2012, Putin mulai membangun identitas Russia baru, selain revival cultural, Putin juga mulai aktif melakukan aksi diplomasi Internasional, mencegah invasi Amerika ke Suriah, membantu Iran dalam masalah nuklir dan masalah Ukraine termasuk Crimea.

Namun ini ditebus dengan jatuhnya ekonomi Russia lagi, tapi anehnya ternyata resesi ekonomi Russia tidak menjatuhkan popularitas Vladimir Putin, bahkan popularitasnya semakin melambung tinggi di puncak 86%. Mikhail Gorbachev, sang pembaharu USSR dengan glasnots perestroika juga sering membela Vladimir Putin bahwa Putin adalah pemersatu Russia.

Dari sisi ekonomi, Vladimir Putin pernah berhasil menaikan taraf ekonomi Russia tahun 2000-2008, namun juga membawa ke arah resesi

Tapi masalah bernegara tampaknya bukan hanya masalah ekonomi saja, keberhasilan Vladimir Putin membawa Russia menjadi negara superpower kembali, ini faktor penentu yang membuat nama Vladimir Putin melambung tinggi.

Dalam masalah ekonomi, boleh dibilang Putin draw, ada sukses-nya dan ada gagal-nya, namun dalam mengembalikan kepercayaan diri Russia sebagai negara yang berpengaruh kuat di dunia Internasional, Putin berhasil.

“Siapa yang tidak rindu USSR, maka ia tidak punya hati, ….siapa yang ingin kembali ke zaman USSR maka ia tidak punya otak”
( Vladimir Putin )

Semoga pemerintah Indonesia terutama Presiden Joko Widodo bisa belajar dari keberhasilan Vladimir Putin, ekonomi penting, tapi ternyata identitas kuat nasionalisme lebih penting.


Solo, Kamis, 16 April 2015, 07.52 WIB
wawan@baliooo.com

Christian Faith vs Christian Ethic

Christian Faith vs Christian Ethic
Catatan Wawan Setiawan
—-

Saya hanya memberikan opinion pribadi saya, dan semoga bisa membantu kita memahami western civilization, terutama memahami perbedaan faith dan ethic, moral, value.

Setelah renaissance, dan lahirnya mazhab empirisme, western menjadi sekular. Sekular bukan berarti memisahkan agama dari negara. Itu sekular yang salah, karena didalam agama, sebenarnya ada moral story, ethic, dan value.

Yang lebih tepat adalah memisahkan kepercayaan takhyul-nya, dan mengambil saripati essence moral story, faith, dan value-nya

Ludwig Feuerbach, bapak materialisme Jerman mengatakan bahwa essensi kekeristenan adalah essensi dari perasaan manusia “The essence of christianity is the essence of human feeling”.

Richard Feynman, genius fisikawan mengatakan bahwa peradaban barat dibangun oleh Christian Ethic yaitu “brotherhood of all men” dan “love”

Tentu saja kita tahu bahwa Feynman dan Feuerbach adalah atheis, tapi meski mereka atheis, tidak percaya kepada cerita takhyul agama, tapi mereka masih memegang erat moral story dari agama.

Zaman saya kecil, saya masih ingat moral story Islam, bahwa julukan nabi Muhammad adalah Al Amin, artinya sangat jujur. Tentu saja selain moral story Al Amin, masih banyak moral story positive dari Islam lainnya.

Namun tidak salah kiranya kalau Islam di abad 21 ini memang Islam yang cenderung terjebak ke persoalan Shariah, faith atau cerita takhyul-nya, daripada ke essence, ethic, moral, dan value, seperti dicontohkan Nabi Muhammad, yaitu Al Amin atau kejujuran.

Tidak salah kiranya bahwa seorang intelektual dari Mesir, Muhammad Abduh mengatakan “Di eropa saya menemukan Islam tanpa orang Islam, sedangkan di Mesir saya menemukan orang Islam tanpa Islam”

Stetemen ini jelas mengacu bahwa Muhammad Abduh adalah seorang Islam yang essence, yang mengedepankan ethic, value, moral, daripada shariah.

—–
Solo, Kamis, 15 April 2015, 06.09 WIB
wawan@baliooo.com

Demokrasi dan Propaganda

Demokrasi dan Propaganda
Catatan Wawan Setiawan
—–

Di Indonesia saat ini, mungkin pikiran kita dipusingkan dari satu kontroversi ke kontroversi berikutnya, tiada henti, sehingga sangat melelahkan,

Beberapa hari yang lalu, kontroversi tentang BNPT memblokir 18 situs dakwah islam yang dicap radikal, kemudian 12 di normalisasi kembali. Tapi saya melihat propaganda dan provokasinya cukup tajam.

Secara tidak terduga, ketika saya iseng membaca media luar negeri yang tergolong “koran kuning”, sahabat di Jawa Pos dulu menyebut seperti tabloid seperti “The Sun” Inggris yang oplahnya besar tapi isinya banyak kontroversi, ternyata memang banyak isi beritanya sulit dipertanggungjawabkan,

Jadi media ngaco sebenarnya bukan hanya milik Indonesia, karena di demokrasi barat juga sudah duluan, dan contohnya tabloid Inggris beroplah besar seperti “The Sun” yang kemudian juga pernah di contoh oleh Jawa Pos Group dan sekarang hampir semua grup media mengikutinya, lebih mengedepankan kontroversi dan oplah daripada kualitas beritanya,

Secara tidak sengaja, saya membaca berita media dakwah di Turki, yang mengabarkan ketika Presiden Russia Vladimir Putin 10 hari tidak tampil di publik, dinyatakan masuk Islam.

Awalnya saya kaget, karena ini terjadi di Turki, negara Islam dengan konstitusi sekular dan saya anggap paling maju, karena di sekularkan oleh Kemal Attaturk.

Tapi lama lama saya maklum, menganggap ini resiko demokrasi, bebas propaganda, dan kita tidak perlu terlalu peduli terhadap korban. Meski menyesakan dada membaca berita berita propaganda seperti ini, lama lama saya jadi paham cara menyiasati demokrasi. Demokrasi tidak kompatibel dengan sosialisme, karena sosialisme bersifat saling mengingatkan, saling asah asuh, tapi di alam demokrasi ini seperti alam rimba raya individual, bisa menjaga diri sendiri dari propaganda tidak berkualitas sudah sangat baik.

Dan akhirnya saya menjadi ingat, bahwa tabloid gossip dan kuning tidak hanya di negara dengan demokrasi yang sedang berkembang saja atau negara flawed demokrasi, di negara dengan demokrasi maju seperti Amerika dan Inggris-pun banyak sekali media propaganda yang sulit dipertanggungjawabkan beritanya.

—–
Solo, Senin 13 April 2015 05.16 WIB
wawan@baliooo.com

Apakah sanksi ekonomi oleh EU dan Amerika efektif?

Apakah sanksi ekonomi oleh EU dan Amerika efektif?
Catatan Wawan Setiawan
—–

Saya mengambil 2 sample negara, yaitu Iran dan Russia yang dikenakan sanksi ekonomi oleh EU dan Amerika, akibat kasus pengayaan uranium dan mengambil alih kembali Crimea, wilayah Russia yang di zaman Khrushchev diserahkan ke eilayah SSR Ukraine.

Iran di embargo ekonomi sekian lama, dengan gaya kepemimpinan Ahmadinejad yang keras terhadap barat, ternyata tidak efektif, namun dengan gaya kepemimpinan baru Hassan Rouhani yang lunak, pelan tapi pasti, dibantu diplomasi oleh Russia dan China, Amerika dan EU akhirnya menyetujui pengayaan Uranium yang dilakukan oleh Iran.

Russia sendiri, terkena isolir ekonomi sejak tahun 2014 sehingga menyebabkan Rubble jatuh bebas, tapi mulai april 2015 Ruble sudah mulai pulih lumayan cepat, kenaikannya dilaporkan oleh Russia Today berkisar 12%, kenaikan paling kuat dari seluruh mata uang dunia terhadap USD.

Harga oil yang tahun 2014 terjun bebas, juga pelan pelan kembali rebound ke nilai kewajaran. Tahun 2014 adalah tahun tahun politis, dimana Amerika mengalami kekalahan diplomasi terhadap Suriah oleh Presiden Vladimir Putin Russia, dan kemudian kasus tergulingnya Viktor Yanukovich oleh militer Ukraine, sehingga menyebabkan unstabilitas Ukraine, sehingga secara politis barat ingin menjatuhkan Russia. Tapi ongkos politis di luar kewajaran hukum ekonomi liberal, nilainya sangat mahal. Jerman sebagai pemimpin Uni Eropa yang mempunyai transaksi besar dengan Russia dan menjadi sekutu paling dekat Russia juga ikut dirugikan, sehingga tahun 2015 adalah tahun normalisasi, dan semua negara ingin segera pulih dari krisis ekonomi global, sehingga Iran akhirnya diperbolehkan memperkaya Uranium, dan secara internasional, Crimea akhirnya diakui sebagai wilayah Russia,

Tahun 2015 juga diwarnai pelanggaran hukum Internasional oleh Arab Saudi yang mengagresi Yemen, dan di Yemen terjadi proxy war 2 selain di Suriah, antara kaum Sunni dan Syiah yang didukung oleh Iran.

Ini artinya, Amerika, Arab Saudi, dan Israel, bertempur dengan kaum Syiah Iran dan dibackup Russia.

Kembali ke pokok permasalahan, apakah sanksi ekonomi adalah hukuman yang efektif? bisa ya dan tidak, dalam short term memang menggoyangkan ekonomi sebuah negara, tapi long term-nya tidak efektif, terbukti secara sabar Iran mendapatkan haknya untuk pengayaan Uranium, serta Russia hanya memerlukan waktu sekitar 1 tahun untuk mulai pulih ekonomi-nya dari sanksi embargo ekonomi,

Dunia yang sudah saling interconnected ini, akan gampang morat marit ekonomi-nya jika saling melakukan embargo ekonomi


Solo, 12 April 2015, 05.59 WIB
wawan@baliooo.com

Apakah kita harus mengikuti harga komoditas yang volatile?

Apakah kita harus mengikuti harga komoditas yang volatile?
Catatan Wawan Setiawan

Di diskusi group FIS Media FB, ada yang membuka diskusi, bahwa harga komoditas terutama oil dunia memang volatile dalam ekonomi liberal market, sehingga menyimpulkan bahwa naik turunnya harga BBM dalam waktu yang singkat di Indonesia adalah hal yang wajar.

Sekali lagi ini pandangan neoliberal, berbasis supply and demand. Tapi sebenarnya sistem kapitalisme juga selalu menemukan keseimbangannya. Dari volatilitas harga komoditas ini, maka muncullah kesempatan bisnis bagi perusahaan hedge funds. Perusahaan ini yang menjembatani antara supply dan demand agar harganya stabil. Perusahaan hedge funds tentu plus minus, kalau harga rendah maka untung, kalau harga tinggi, maka menanggung kerugian. Tapi jasa finansial hedge fund tentu saja sudah saintifik dan menggunakan methode statistik untuk memprediksi/forecast harga dalam kurun waktu tertentu

Namun dari pencarian saya lewat Google, saya menemukan Pertamina belum menggunakan jasa hedge fund, sehingga wajar jika harga komoditas-nya volatile.

Menggunakan jasa hedge funds untuk menstabilkan harga komoditas, memang akan membuat harga komoditas lebih mahal, tapi lebih stabil, karena hedge fund bersifat seperti perusahaan insurance.

Ini poin pertama yang sebenarnya harga oil dan BBM bisa stabil jika menggunakan jasa hedge funds dalam mekanisme liberal market

Yang kedua adalah silakan mencermati transaksi China ke Russia dalam masalah pembelian gas 1 trillion kubik. Transaksi ini dalam term 30 tahun kedepan, dan dipatok dengan harga usd 400 per 1000 meter kubik.

Transaksi ini artinya juga transaksi stabilisasi China dalam pasokan komoditas energy dalam 30 tahun ke depan, karena harganya sudah dipatok dari awal, yaitu usd 400 per 1000 meter kubik. China hanya perlu melakukan down payment sekitar 30% dari transaksi 1 trillion meter kubik untuk mendapatkan harga usd 400 per 1000 meter kubik dalam 30 tahun kedepan.

Jika 30 tahun kedepan harga gas per 1000 meter kubik adalah usd 1000, maka China akan mendapatkan banyak keuntungan, tapi apabila 30 tahun mendatang harga gas menjadi usd 100 per 1000 meter kubik, maka China akan rugi

Untung rugi dalam bisnis itu biasa, tapi kita mengenal forecast, statistik, dan proyeksi harga dari komoditas yang di liberal market bersifat sangat volatile

Dan yang membutuhkan kestabilan harga, saya kira tidak hanya pelaku bisnis saja, tapi juga konsumen.

referensi:
China deal dengan Russia untuk 1 trillion kubik gas selama 30 tahun
http://www.bbc.com/news/business-27503017


Solo, 9 April 2015, 06.33 WIB
wawan@baliooo.com