Monthly Archives: May 2015

Tua dan Pikun

Tua dan Pikun
Catatan Teknovasi 26 May 2015 Wawan Setiawan

Di acara Teknovasi studio SBOteve Grahapena lantai 21 Jawa Pos Surabaya kemarenf, saya pikir ada beberapa poin menarik yang saya catat

1. Saya senang dengan ide teknik dan produser acara, bahwa background talkshow kami sering di-isi oleh iklan kami, http://www.indomaya.net.id, yang isinya Albert Einstein dengan tulisan “Imagination is more important than knowledge”, Richard Feynman dengan tulisan “The true secret to genius is in creativity” dan ditutup dengan Steve Jobs “Think Different”

Padahal di studio latar belakang kami hanya kain warna hijau, tapi karena
kecanggihan teknik digital dari teknikal studio, pemirsa teve akan melihat background kami sering diisi iklan yang ada pesan Albert Einsten, Richard Feynman, dan Steve Jobs.

Saya sendiri memang memilih membuat iklan yang tidak mau secara direct menjual atau menawarkan produk, saya memilih iklan soft ala rokok Sampurna yang menginspirasi, dengan durasi sependek mungkin tapi pesannya mengena.

2. Ada pertanyaan menarik dari pembawa acara, ketika saya menjelaskan bahwa di tahun 1986 Richard Feynman mampu memecahkan masalah penyebab meledaknya pasawat ulang alik Challenger. Pembawa acara menanyakan apakah berarti Richard Feynman masih hidup?

Feynman meninggal tahun 1988, tepat 2 tahun setelah memecahkan misteri penyebab meledaknya pesawat ulang alik Challenger. Dari sini saya merenung,
Feynman lahir tahun 1918 dan meninggal tahun 1988 atau berumur hampir 70 tahun, ketika memecahkan misteri penyebab meledaknya pasawat ulang alik Challenger, Feynman berumur 68 tahun, usia yang bagi kebanyakan manusia adalah usia yang cukup pikun dan menurunnya kemampuan berpikir.

Tapi mungkin inilah kelebihan akademisi kreative, meski berusia 68 tahun, usia yang secara hukum alam biologis sudah menurun kemampuan fungsi tubuh, Richard P Feynman masih mampu memecahkan misteri penyebab meledaknya Challenger.

Saya pikir dalam masalah hukum alam biologis, ini semua tergantung dari diri kita sendiri, sering melatih kemampuan tubuh untuk memperlambat fungsi penurunan biologis tubuh atau membiarkannya menurun secara cepat dan drastis.

—–
Solo, Kamis 28 May 2015, 06.05 WIB
wawan@baliooo.com

Bangsa keranjingan gelar

Bangsa keranjingan gelar
Catatan Wawan Setiawan

Akhir akhir ini kita dihebohkan oleh adanya berita ijazah palsu. Sebenarnya hal ini tidak mengagetkan saya, karena bangsa kita memang bangsa keranjingan gelar, Baik dari gelar kebangsawanan yang juga diperjualbelikan, gelar pendidikan, sampai gelar kesuksesan.

Sekitar 2-3 bulan lalu saya ditelpon EO dari Jakarta, saya diberitahu bahwa saya memenangkan “Entrepreneur Award”, saya dimintai uang sekian juta, lalu saya akan diberikan award di hotel Novotel dan diliput media massa. Saya menanggapinya dingin dingin saja, karena sejak mahasiswa saya memenangkan lomba karya tulis ilmiah 2x berturut turut di semester 2 dan 4 kuliah teknik informatika memang hasil dari kerja keras.

Kadang kadang kalau saya membaca surat kabar, tentang motivasi pengusaha sukses, ada senangnya, dan ada gelinya. Karena bisa jadi kasusnya seperti saya, ditawari award sebagai “entreprenuer sukses” dan diulas di media tapi bayar.

Keuntungannya kita bisa pamer sebagai orang sukses, dan memperlebar jaringan. Bisa juga dikagumi oleh pembaca dan orang lain. Tapi saya tidak menyukai hal hal imitasi seperti itu.

Pengusaha teknopreneur Amerika saya pikir nggak ada yang memenangkan award award-an. Bill Gates, Steve Jobs, Mark Zuckerberg dikenal karena karya-nya, bukan karena award-nya.

Untuk itulah lebih baik berkarya terus menerus daripada memikirkan segala tetek bengek gelar, baik kebangsawanan, gelar kependidikan, ataupun semacam award entrepreneur. Tapi saya maklum, bangsa kita memang masih terbelakang dan feodal, jadi tidak heran kalau menjadi bangsa haus gelar dan award


Surabaya, Rabu 27 May 2015, 08.51
wawan@baliooo.com

quantum mechanical view of reality

quantum mechanical view of reality
Catatan Wawan Setiawan
—-

1. Menurut Albert Einstein, semua benda, termasuk partikel level quantum adalah energy, sehingga alam semesta adalah energy
2. Energy bersifat kekal, tidak bisa diciptakan dari 0 dan tidak bisa dimusnahkan menjadi 0
3. Energy hanya berevolusi, berubah wujud dari satu ke yang lainnya
4. Heisenberg, Feynman, Hawking dalam menginterprestasikan hukum dasar quantum mechanic adalah stochastic (random)

catatan:
sebuah benda jika dilihat bentuk besarnya lebih tampak faktor deterministik-nya, tapi jika di zoom besar besaran atau semakin dilihat unit kecilnya akan semakin tampak stochastic-nya

5. Benda besar tersusun oleh benda kecil level quantum, sehingga karakter aselinya adalah karakter yang merupakan interprestasi level quantum.

6. Mutasi sebagai dasar evolusi oleh Universitas Berkeley Amerika, didalam situsnya “Understanding Evolution” evolution.berkeley.edu dinyatakan sebagai random.

Catatan:
Hal ini secara intuitif logis karena sejak di level partikel quantum juga dinyatakan stochastic/random

7. Evolusi dasarnya adalah mutasi, mutasi yang terjadi terus menerus dalam rentang waktu yang panjang mengakibatkan evolusi.

8. Setiap benda dari level quantum saling berinteraksi dengan seluruh benda lainnya di jagad raya, ini bisa dilihat dari rumus gravitasi Newton untuk mengukur gaya tarik antara dua benda, artinya bisa juga digunakan untuk mengukur gaya tarik satu benda ke seluruh benda lainnya di jagad raya

9. Pergerakan seluruh benda di jagad raya adalah berinteraksi dan saling mempengaruhi, tidak ada satu benda disebut mempengaruhi benda lainnya, tapi satu benda saling berinteraksi dan saling mempengaruhi seluruh benda di jagad raya lainnya.

Homebrew

Homebrew
Catatan Wawan Setiawan

Saya mengenal istilah Homebrew, tentu saja di bidang IT terutama di wilayah yang saat ini disebut sebagai Silicon Valley. Steve Jobs Apple, Bill Gates Microsoft, tak lain bisnisnya dimulai dari “homebrew” atau otak atik rumahan. Melihat film tentang Steve Jobs, ketika itu di SV juga ada ajang pameran “homebrew” atau produk inovasi rumahan.

Generasi sekarang melihat Apple, Microsoft, Facebook, dlsb mungkin sudah menjadi giant Silicon Valley, tapi mereka sebenarnya dimulai dari industry “Homebrew” terlebih dahulu. Facebook code, ditulis Mark dan Dustin di apartemen.

Beberapa waktu lalu saya membaca di MIT Technology Review, percobaan homebrew ternyata tidak hanya dibidang komputasi saja, tapi sudah merambah neuroscience. Seorang perempuang mencoba menyelidiki brain tikus dengan inovasi homebrew, memasukan fiberoptic ke brain tikus dan memonitor serta mengendalikannya melalui komputer. Brain tikus distimulasi via “light” dan dimonitor reaksinya melalui komputer,

Kita di Indonesia, sering memasalahkan biaya riset dan development, tapi tampaknya industry start up dan homebrew akan merambah di semua lini, tidak hanya start up teknologi digital saja, tapi bisa juga start up neuroscience, bahkan saat ini start up yang paling laku adalah start up bioteknologi terutama di bidang rekayasa genetika.

Segala hambatan terutama dana, tampaknya bisa dikalahkan jika kita mempunyai kreativitas yang tinggi, …knowledge memang terbatas, tapi kreativitas bisa menjadi tanpa batas dan menarik kapital datang.
Selamat datang di era “homebrew” dan start up bidang apa saja, terutama bioteknologi.


wawan@baliooo.com

“Richard Feynman, Nano Technology and Quantum Computing”

Teknovasi, Teknologi dan Inovasi
Selasa prime time jam 20.00-21.00
SBOteve 26 Mei 2015 Graha Pena lantai 21 Jawa Pos Surabaya

“Richard Feynman, Nano Technology and Quantum Computing”

q: Siapa Dr. Richard Feynman?
a. Dr. Richard Feynman adalah keturunan Russia yang dibesarkan di Amerika (eropa mengalami brain drain/perginya orang orang cerdas ke Amerika ketika awal dan pecah PD2), dosen di Caltech, bapak quantum mechanic, bapak nanotechnology. dan salah satu pakar yang dimintai tolong oleh NASA untuk memecahkan misteri meledaknya pesawat ulang alik Challenger

Dr. Richard Feynman adalah salah satu inspirator besar boss Apple, Steve Jobs, sampai sampai Steve Jobs memasang posternya yang legendaris ketika mengajar di Caltech, di kantor Apple. Ini karena Dr Richard Feynman menyatakan bahwa dirinya adalah ilmuwan unconventional thinking, atau menggunakan kreativitasnya untuk memecahkan banyak masalah dalam quantum mechanic atau bidang engineering.

Feynman juga pernah ketemu dengan Prof. Hawking, namun Hawking yang menginginkan pertemuan itu, ketika Hawking ke Amerika dirinya mengaku hanya ingin bertemu dengan Dr. Richard Feynman.

a. Apa yang dimaksud dengan teknologi nano?
b. Dulu mekanika elektronik menggunakan tabung transistor, yang besar, dan setelah era quantum mechanic atau tepatnya atomic, Dr. Richard Feynman dalam open lecture, sambil bercelana pendek memberikan ide, “bagaimana atom atom ini kalau kita engineering?”

dalam perkembangannya saat ini, teknologi smart semakin kecil, dan berbasis silicon, hasil dari ide Dr. Richard Feynman, merekayasa atom untuk digunakan sebagai teknologi smart sampai AI.

a. apa yang dimaksud dengan teknologi quantum komputing?
b. quantum komputing menggunakan konsep Erwin Schrodinger, yaitu superposition, melakukan paralel computing binari 0 dan 1 secara bersamaan. Secara math terlihat mudah, namun realisasinya menggunakan material cukup sulit, D-Wave, Google, dan Baidu sudah mencoba versi masing masing material untuk digunakan sebagai quantum computing, baik melalui silicon atau optic

Kuliah Dr. Richard Feynman ttg Tiny Machines

Dr. Richard Feynman menjelaskan penyebab meledaknya pesawat ulang alik Challenger 1986

Dr. Richard Feynman memberikan kuliah bagaimana alam semesta bekerja versi quantum mechanic (quantum mechanic view)

The Awakening of Asia

The Awakening of Asia
Catatan Wawan Setiawan

Judul ini saya ambilkan dari judul tulisan Vladimir Lenin, yang mengulas perkembangan sosial demokrat anti kapitalisme di China dan di Java, dengan terbentuknya Syarekat Islam.

Namun judul ini akan saya pergunakan untuk memaparkan fakta bahwa menurut laporan OECD, bahwasanya negara negara Asia mulai bangkit di bidang pendidikan, ini seperti negara Jepang, Korea Selatan, China, dan Taiwan. System pendidikan negara negara Asia ini masuk 10 terbaik di dunia.

China juga mengumumkan telah melakukan percobaan rekayasa genetika kepada manusia, dimana barat belum berani mengumumkannya, dan sampai sekarang tidak ada komen dari Vatikan terhadap aksi negara Komunis China yang berani melakukan editing genome terhadap manusia.

MIT Technology Review juga baru saja mengumumkan bahwa Baidu mampu melakukan membuat Supercomputer AI yang lebih unggul dari Google. Arsiteknya ilmuwan ilmuwan China.

dari fakta fakta ini, berpindahnya peradaban sains dan teknologi dari barat ke Asia, menjadi sangat memungkinkan. Asia yang dulu dipandang rendah oleh Adolf Hitler, tampak menjadi negara yang bangkit dari keterpurukan.

Namun kemajuan sains dan teknologi di Asia, sangat berkorelasi kuat dengan system pendidikan. Artinya, system pendidikan berkualitas-lah yang membuat Asia mampu mengejar ketertinggalannya, dan melakukan “follow and innovate”

Follow and Innovate, pernah ditulis oleh founding father kita, Tan Malaka, yang melanglang buana dari Belanda, Jerman, sampai Russia.

Tan, selain beroperasi sebagai agen komintern Asia, termasuk ikut andil dalam pendirian PKC ( Partai Komunis China ), tepatnya menjadi penterjemah antara bahasa China Mandarin dan Russia, juga banyak melakukan gerakan di negerinya sendiri.

Melihat kebangkitan Asia ini, sudah selayaknya Indonesia tidak tertinggal, karena dulu kita punya Tan Malaka, seorang pejuang yang bahkan membantu PKC melaporkan kegiatannya ke Moscow sebagai pusat Komunisme,


Kamis, 14 Mei 2015 09.44 WIB
wawan@baliooo.com

Teknovasi dan Richard Feynman

Teknovasi dan Richard Feynman
Bagaimana dari jarak jauh seorang ayah berkisah tentang sains thd anaknya
Catatan Wawan Setiawan

Saya merintis teknovasi, sudah sejak sekitar tahun 2012, dan ini akan saya jadikan dokumentary terhadap anak saya yang sekolah di Russia, karena saya tidak bisa membacakan buku, atau mendongeng secara langsung, maka saya menggunakan acara Live Teknovasi teknologi dan inovasi SBOteve untuk berkisah tentang sains thd anak saya. Saya bukan saintis, tapi sadar betul arti pentingnya sains buat anak anak masa depan.
2 Minggu lagi, saya akan mengulas sosok Richard Feynman, dengan tema “Richard Feynman, NanoTechnology dan kuantum komputasi”

Saya sengaja memilih topik ini, sebagai hadiah belajar anak saya di Russia yang mendapat point maximum terutama di bidang math, ciri khas pendidikan Russia, yang menguatkan core pendidikan math dibanding bidang lainnya. Gagal di math artinya gagal di logic. Bagaimanapun meski kualitas pendidikannya sedang menurun, tapi menurut data OECD, Russia masih menempati ranking teratas di tahun 2012.

Feynman juga keturunan Russia, yang hijrah ke Amerika, dan banyak terlibat proyek penting disana, misal Manhattan Bom Atom bersama Oppenheimer, dan juga menyelidiki faktor meledaknya pesawat ulang alik Challenger tahun 1986

Feynman juga merupakan bapak nanotechnology, setelah dia riset tentang atom, dia melakukan challenge dalam kuliahnya di Caltech, “seberapa kecil anda bisa membuat mesin elektronik komputasi?”
Dari kuliah ini muncullah gagasan nanotechnology, dan sekarang benda benda smart semakin kecil bentuknya.

Ini semua diawali dari sebuah gagasan di perkuliahan terbuka, sambil mengenakan celana pendek, Doktor Richard Feynman, genius fisikawan setelah era Albert Einstein, melontarkan gagasan di open lecture-nya,…. “Seberapa kecil anda bisa membuat mesin elektronik?”

nantikan di SBOteve, selasa 26 Mei 2015, prime time jam 20.00-21.00 “Richard Feynman, Nanotechnology, dan kuantum komputasi”
—–
Selasa, 12 Mei 2012, 08.28 WIB
wawan@baliooo.com