Monthly Archives: June 2015

Dari Quantum Mechanical ke NeuroScience

Dari Quantum Mechanical ke NeuroScience
Catatan Wawan Setiawan

Beberapa waktu lalu, saya diskusi dengan beberapa teman, dua diantaranya adalah doktoral di bidang neuroscience.

Kami membahas tentang monism, saya lebih banyak memberi argumen dari perspektive quantum mechanic-nya daripada neuroscience-nya
Logika yang saya bangun adalah:

1. Wave/gelombang, energy dan partikel itu satu thing (saya kesulitan mencari istilah tepatnya dalam bahasa Indonesia, mungkin tepatnya benda)

a. Dari penelitian quantum mechanic yang baru, telah dinyatakan bahwa wave/gelombang dan partikel itu dua penampakan dalam satu thing

b. Menurut Albert Einstein, thing atau partikel adalah energy yang dipadatkan

Jadi dari logika ini, energy, partikel, dan gelombang bukanlah entity yang terpisah pisah, tapi ketiganya merupakan satu/monism entiti dengan penampakan atau perwujuan yang berbeda beda.
Meminjam olok olok ala Vladimir Lenin, tentu tidak ada gelombang tanpa partikel dan tidak ada partikel tanpa ada gelombangnya.

2. Otak manusia adalah benda makro, yang tersusun oleh benda mikro level quantum. Sehingga tidak heran bila kepala manusia juga merupakan benda padat, mengandung energy, dan juga memancarkan radiasi gelombang.

Tapi monism neuroscience berbasis quantum mechanic perspektive, jelas menyatakan tidak mungkin memisahkan gelombang otak manusia dengan otaknya itu sendiri, karena dari view quantum mechanic jelas bahwa thing dari level quantum sampai ke level makroskopik dan gelombang adalah dua penampakan dalam satu thing/benda

Saya pikir tentang monism adalah final, dan saat ini neuroscience lebih disibukan dengan riset fungsional hardware, misal mencari dimana letak hardware pengendali emosi, hardware yang paling berperan mengambil keputusan, hardware memory, creativity, dlsb

Selasa, 2 June 2015, 06.47 WIB
wawan@baliooo.com

Advertisements