Monthly Archives: September 2015

Mengapa Indonesia tidak muncul di sidang umum PBB?

Mengapa Indonesia tidak muncul di sidang umum PBB?
Catatan Wawan Setiawan


Sidang umum DK PBB tampaknya menjadi ajang elit internasional untuk berkiprah. Sidang ini legendaris, Ir. Soekarno pendiri negara Indonesia pernah menawarkan konsep Pancasila, di sidang ini Che Guevara juga pernah muncul, atau Nikita Khrushchev melepas sepatu dan memukul mukulkannya di mimbar.

Saat ini headline media luar negeri perhatiannya tersedit di DK PBB. Yang paling ditunggu adalah pidato Presiden Russia Vladimir Putin. Saya kemaren membaca di CNN, banyak analis luar negeri Amerika sedang menyoroti Putin dan Russia yang sedang “mengkudeta” Amerika untuk mengambil alih “global leadership”.

Dari bidang IT tak lupa Mark Zuckerberg ikut berpidato, dan Angela Merkel pemimpin Jerman meminta agar Facebook mengawasi postingan postingan rasis.

Selebriti politik dan teknologi datang di sidang DK PBB, lalu kemanakah Presiden Indonesia Joko Widodo?

Apakah Indonesia tidak cukup berpengaruh sehingga Joko Widodo tidak diundang ke sidang umum PBB?

Diundang atau tidak, saya melihat langkah Presiden Joko Widodo tepat, fokus terhadap pembenahan dalam negeri dulu. Presiden Russia Vladimir Putin juga pernah melakukannya, absen lama di sidang umum DK PBB untuk membenahi internal Russia, setelah cukup solid baru keluar kandang.

Kita mempunyai pelajaran terhadap Ir. Soekarno yang dikenal dimana mana (global) tapi internal ekonomi Indonesia amburadul. Sebenarnya hal ini sama dengan ekonomi Russia saat ini, Putin menjadi selebriti politik global di tengah resesi ekonomi yang terjadi di Russia. Analis CNN bahkan menyebut Putin akan menang dalam permainan catur dengan barat, tapi tebusannya ekonomi Russia yang resesi.


wawan@baliooo.com
Solo, 29 September 2015

Leadership

Leadership
(belajar dari Vladimir Putin)

Catatan Wawan Setiawan

Seorang leader, disertai ciri ciri khusus dan unique, utamanya berani mengambil resiko dan cukup cepat dalam mengambil keputusan. Bak Steve Jobs di bidang teknologi, Vladimir Putin mempunyai banyak inovasi dan mengubah dunia lewat geo-political dan peran Russia di kancah Internasional

Tahun lalu, Putin menjadi sangat tidak popular, dan menjadi musuh utama Barat karena Russia meng-aneksasi Crimea, tapi tahun ini Putin bisa jadi sangat popular karena inovasinya berhasil meyakinkan pemimpin negara negara barat tentang Syiria dan memimpin perlawanan terhadap ISIS. Putin juga menegaskan di pidato pembukaan mesjid agung Moscow, bahwa ISIS penuh propaganda, tipuan, dan justru merugikan citra umat islam di dunia.

Saat ini, Dewan Keamanan PBB sedang bersidang di New York, Putin direncanakab akan hadir dan bertemu Barrack Obama, utamanya membahas Syiria dan ISIS, dan meski malu malu kucing, saya menganalisis US akan join dengan Russia dalam memerangi ISIS. Kandidat Presiden dari Partai Republik, Donald Trump juga sudah menyatakan hal ini, bahwa US akan turut serta bersama Russia memerangi ISIS.

Putin yang semula menjadi musuh utama para republikan, dan para republikan menjadikan Russia musuh nomor satu untuk tema kampanye mereka, menjadi lentur dan kendor ketika memandang ISIS dan krisis pengungsi.

Ciri ciri pemimpin, juga handal dan mampu meyakinkan, dalam hal ini pemimpin negara barat, rata rata sudah menerima argumentasi Vladimir Putin, bahwa Bashar Al Assad diperlukan untuk memerangi ISIS, karena konvensional military Syiria sekarang berada dibawah Bashar Al Assad. Meski Amerika masih agak belagu dalam view saya, karena menanyakan apa langkah selanjutnya setelah memerangi ISIS, maksudnya Amerika memancing opinion Russia apakah mereka mau menumbangkan Bashar Al Assad atau terus menjadikannya presiden Syiria, yang terpenting saat ini negara negara barat join/bergabung dengan Russia terlebih dahulu memerangi ISIS, baru setelah ISIS dilemahkan barat dan Russia berunding tentang masa depan Syiria termasuk masa depan Bashar Al Assad dan pemerintahan transisi.

Majalah Forbes dan Time tahun 2014 menobatkan Vladimir Putin sebagai orang paling berpengaruh, mengalahkan Barrack Obama Presiden Amerika, tentu disertai alasan alasan kuat. Putin di 2 periode awal kepemimpinannya (tahun 2000-2008) banyak concern terhadap masalah internal Russia terutama ekonomi, baru di periode ketiga (2012-2016) kepemimpinannya concern-nya banyak ke internasional.

Dalam masalah ideologi, Putin disebut konservatism, atau mempetahankan nilai lama budaya Russia/slavik, sehingga agama Kristen Orthodox dan Islam yang disebutnya sebagai traditional Russian Religion dihidupkan kembali. Dalam hal ini Putin banyak menggali local wisdom Russia pra Komunisme.


wawan@baliooo.com

Solo, 28 September 2015, 15.28 WIB

Media

Media
Catatan Wawan Setiawan

Saya mengikuti berita pembukaan mesjid besar di Moscow sudah dari kemaren, namun mengikuti media di Indonesia, beritanya sangat normatif, bahkan di kompas.com saya menemukan bahwa Kompas.com hanya melakukan translate berita dari Reuters.com

Di sisi lain, saya justru mencari tahu siapa donaturnya, dan seperti yang saya tebak, Russia adalah negeri sekuler, sehingga donatur-nya semua privat, termasuk billionaire Sulaiman Kerimov yang berasal dari Dagestan yang menyumbang usd 100 million atau mayoritas.

Saya jujur saja kehilangan selera dengan media lokal atau media di Indonesia, yang saat ini cenderung sangat komersial dan beritanya menjadi sangat normatif, dan kurang pendalaman. Misal kasus di Timur Tengah, sudah jarang opini pakar dari Indonesia dilibatkan, padahal setahu saya, Prof. Amien Rais adalah pakar hubungan internasional yang mempunyai spesialisasi Timur Tengah, tapi tampaknya saat ini lebih sibuk berpolitik lokal.

dari sinilah saya terpaksa mengikuti Russia Today, Al Jazeera, Sputniknews, CNN, dan media asing, karena mereka masih melibatkan analisis dan opinion pribadi misal Prof. Noam Chomsky atau mantan Presiden Amerika yang mendapat Nobel perdamaian, Jimmy Carter.

Begitulah kira kira yang saya rasakan, saya kehilangan antusias dengan media lokal karena saat ini media lokal cenderung melakukan translate berita dari media asing, dan ini difasilitasi kecepatan internet dan kurang mumpuninya journalist sehingga journalist sekarang cenderung menjadi journalist praktis pragmatis, sampai sampai saya bisa menemukan artikel sumber yang ditulis kompas.com hari ini ttg mesjid agung moscow berasal dari Reuters tanpa ada pengembangan atau pengayaan berita

Solo, 24 September 2015, 17.14
wawan@baliooo.com

Belajar dari Yunani

Belajar dari Yunani
(Pemimpin yang bermoral)
Catatan Wawan Setiawan

—–

Yunani baru saja menyelenggarakan pemilu setelah PM Alexis Tsipras mengundurkan diri karena Yunani akhirnya menerima bail out dari EU, dimana ketika referendum, mayoritas rakyat Yunani menolak bail out dari Troika,

Tsipras tampaknya pemimpin yang benar benar memegang teguh janji kampanye, ini dibuktikan bahwa dirinya rela mengundurkan diri karena janji kampanyenya bertolak belakang dengan langkahnya yang akhirnya menerima bail-out.

Tsipras juga tampaknya merasa gagal memperbaiki keadaan, sehingga dengan moral yang tinggi, memilih mengundurkan diri.

Tapi tak disangka bahwa dalam pemilu September 2015, Syriza menang lagi, sehingga Tsipras akan menjadi PM kembali dan ini membuktikan bahwa Tsipras dipercaya oleh rakyat Yunani.

Belajar dari Yunani, tampaknya politisi dengan moral obligation seperti Tsipras langka di Indonesia.

Indonesia memang sedang mengalami defisit moral, sehingga pemimpin di Indonesia bisa rileks saja, meski banyak melanggar janji kampanye.

Pemimpin di Indonesia juga banyak yang takut mundur, padahal seperti dibuktikan oleh Alexis Tsipras, meski memilih mundur karena merasa gagal dan mengkhianati janji kampanye, rakyat Yunani memilihnya kembali, artinya rakyat Yunani juga menyetujui Tsipras berunding dengan Troika, karena secara realistis Yunani hampir tidak mempunyai way out lain selain menerima bail-out.

Dari Yunani, Alexis Tsipras, pemimpin partai kiri/leftist Syiriza mengajarkan kepada kita semuanya ttg moral obligation sebagai pemimpin.


Solo, 23 September 2015, 19.52 WIB