Monthly Archives: October 2015

Apakah Russia memerangi Islam atau radikalisasi agama?

Apakah Russia memerangi Islam atau radikalisasi agama?
Catatan Wawan Setiawan

^^^^^^^^
Kiranya saya merasa perlu menulis artikel ini, karena saya melihat di tanah air Indonesia masih banyak yang beranggapan perang Suriah yang melibatkan Russia adalah perang melawan Islam, anggapan yang mirip dengan perang Afghanistan ketika Mujahidin Taliban dan Al Qaeda di back up oleh Amerika memerangi rezin Nadjibullah yang disupport oleh Uni Soviet.

Belakangan dunia memang diramaikan oleh massive-nya gerakan Wahabi Salafi, gerakan yang me-literal-kan Al Quran dan Hadist dan tanpa konstekstual, dan memandang Islam harus seperti era Nabi Muhammad abad 7. Gerakan ini tidak hanya menyebar di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia.

Gerakan ini meluas khususnya setelah policy luar negeri Amerika yang diikuti secara buta oleh Eropa Barat di Timur Tengah boleh dianggap gagal dan menciptakan unstabilitas massive dan berkepanjangan. Mantan PM Inggris Tony Blair sudah meminta maaf atas keterlibatan Inggris di Irak, dan mengakui munculnya organisasi radikal ISIS tak lain merupakan kepanjangan sejarah dari invasi Amerika dan Barat ke Iraq. Capres Amerika Donald Trump bahkan berani menyebut Timur Tengah akan relatif lebih tenang jika Saddam Hussein dan Moammar Qadhafi masih berkuasa,

Tapi segala sesuatunya terjadi, gerakan radikal jihad agama bersifat Internasional telah marak, dari Afghanistan berpindah ke Suriah dan Iraq.

Di Suriah beroperasi secara massive, organisasi ISIS yang merupakan evolusi dari Al Qaeda, selain Al Qaeda sendiri dan Al Nusra, Yang cukup saya sayangkan adalah intelijen Indonesia yang saya rasa kurang sigap, kurang tegas menyebut dan mencegah jumlah WNI yang bergabung. Ini terbukti dari putera Iman Samudra yang baru berusia 19 tahun terbunuh di Suriah karena ikut bergabung dengan ISIS atau mungkin Al Qaeda. Imam Samudra sendiri terdeteksi pernah berjuang di Afghanistan melawan tentara Soviet.

Vladimir Putin, Presiden Russia dengan tegas menyatakan bahwa operasi Russia di Timur Tengah adalah operasi melawan terrorisme dan radikalisme agama, dan tidak memusuhi Islam. Russia sendiri merupakan negara Eropa Asia tengah yang jumlah umat Islamnya paling besar di Eropa, bahkan Russia mempunyai daerah khusus yang mayoritas penduduknya Moslem, yaitu Chechen. Namun Chechen tetap mengikuti konstitusi Russia yang sekuler. Di sisi lain saya tidak bisa menampik kepentingan Russia di Timur Tengah memang kuncinya ada di Suriah. Russia mempunyai pangkalan militer di Suriah.

Namun seperti kita ketahui, bahwa Iraq, Afghanistan, Suriah, Libya, menjadi tidak stabil, selain potensi konflik internal, juga diperparah karena politik luar negeri Amerika dan didukung Barat yang brutal, tercatat Amerika selalu mengadu domba negara negara ketiga, misal di Indonesia ketika tahun 1965 antara NU dan PKI, di Chile dengan jatuhnya Presiden Salvador Allende, di China memanfaatkan Dalai Lama pemimpin Spiritual Buddha untuk melawan pemerintahan Komunisme China, di Eropa Timur dengan pecahnya negara Yugoslavia, Chekoslovakia, dan yang baru baru ini di Timur Tengah.

Amerika bahkan terlibat juga dengan gerakan separatis Chechen ketika Uni Soviet baru saja pecah.

Politik luar negeri Amerika ini patut kita waspadai, karena selalu mendestabilisasi negara negara kaya sumber daya alam. Modus dari Amerika juga memanfaatkan gelombang perlawanan lokal.

Di Indonesia, selain kasus 1965, saya sendiri berkeyakinan jatuhnya Soeharto juga akibat faktor politik luar negeri Amerika yang mendukung demonstrasi anti-Soeharto.


Presiden Putin menyebut, bahwa ada sekitar 5000-7000 warganegara Russia atau CIS (pecahan Soviet) yang terlibat gerakan radikal di Timur Tengah. Russia sendiri terus berbenah untuk menyebarkan dan menciptakan kaum moslem yang mengikuti konstitusi Sekular Russia. Chechen yang pernah bergejolak ingin memisahkan diri dari Russia, dibangun, dan diberi banyak fasilitas. Namun pernah terjadi juga kasus anak yang tidak mau sekolah (gratis) karena dilarang menggunakan Jilbab sampai Presiden Putin turun tangan menyelesaikan masalah ini dengan menegaskan bahwa sekolah di Russia adalah sekolah sekuler.

Russia adalah negeri sekuler, yang utama harus dipatuhi adalah konstitusi negara. Meski bersifat federal, Chechnya tetap mengikuti konstitusi sekular Russia, tidak berdiri sendiri mendirikan konstitusi Syariah Islam seperti di Aceh.

Pendidikan agama di sekolah sekuler Russia tidak ada, namun mulai tahun 2012 Russia mulai ingin menyelenggarakan pendidikan agama, namun lebih bersifat dari point of view budaya dan sejarah ( religious culture ) dan sekuler ethics,

Islam sendiri menjadi agama mayoritas terbesar kedua di Russia dengan pertumbuhan yang cukup pesat, dan sering disebut oleh Presiden Putin sebagai tradisional agama di Russia. Tidak lama yang lalu, tepatnya di lebaran Haji, Presiden Putin juga meresmikan mesjid terbesar di Russia dengan kapasitas sekitar 10.000 jamaah. Jelas Presiden Putin tidak memusuhi Islam, namun Presiden Putin melakukan “crusade” terhadap gerakan radikalisasi agama.

Di tahun 2004, dalam kasus Beslan juga terbukti ketegasan Presiden Putin dalam memerangi terrorisme. Tidak ada satupun Terroris yang menyandera anak anak di Beslan boleh lepas karena ini menggambarkan ketegasan sebuah negara melawan terrorisme. Terroris Beslan ingin bernegosiasi dengan pemerintahan Kremlin, namun Pemerintahan Kremlin menolak dan menganggap tidak layak pemerintah bernegosiasi dengan terrorisme, dan menurunkan Spetsnaz pasukan khusus anti terror Russia untuk menghabisi semua terroris penyandera anak anak. Kasus Beslan adalah pesan khusus Presiden Putin, bahwa terrorisme di Russia berarti menghadapi kematian / tidak diampuni.

Tampaknya Presiden Putin yang berlatar belakang intelijen sudah cukup berpengalaman menangani terrorisme radikal agama baik ketika muncul gerakan separatis Chechen dan juga kasus Beslan, sehingga pada operasi menggempur pemberontak yang mayoritas adalah gerakan radikal agama internasional (salafi/wahabi) di Suriah ini tergolong cukup mudah bagi Russia untuk segera menguasai keadaan.

—-
Bagaimana dengan di Indonesia?

Saya melihat Indonesia yang multi ethnis, kulture, agama, keyakinan, perlu belajar ke negeri sekuler tentang sistem pendidikan terutama agama. Indonesia perlu belajar bagaimana agama diajarkan di negeri sekuler agar multiculture Indonesia tetap awet dan tidak mengarah ke gerakan radikalisasi agama seperti belakangan ini.

Di Russia, misal di Chechen dan kaukasus utara yang mayoritas penduduknya Moslem tidak ada pembakaran dan penutupan gereja, demikian juga di wilayah Russia yang mayoritas penduduknya Kristen Orthodox, tidak ada pembakaran atau penutupan Masjid,

Russia bisa menjadi contoh negara dengan multiculture dan negara sekuler dengan jumlah moslem terbesar di dunia, hampir tidak ada kekerasan agama dengan cara menutup tempat ibadah atau melarang ibadah.

Saat ini di Russia relatif tenang dan kehidupan multiagama berjalan cukup baik, Umat Islam di Russia juga tidak menganggap agresi militer Russia ke Suriah adalah agresi terhadap agama Islam. Kaum radikal agama Salafy Wahabi di Russia tetap ada, namun pemerintah tampaknya terus menekan jumlah kaum radikal yang mayoritas berasal dari Kaukasus Utara dengan cara pendidikan dini etika sekuler.

Tampaknya Russia sebagai negara sekuler ingin membangun identitas unique sendiri, baik identitas budaya kristen Orthodox yang memiliki akar kuat budaya sendiri (Slavik) dan terlepas dari Patriarki Roma, serta membangun Patriarki sendiri, maupun Moslem yang berbeda dan berakar dari tradisi setempat sendiri, Setidaknya saat ini Chechnya dibawah Ramzan Kadyrov mempunyai cita cita membangun manusia Moslem Russia. Manusia manusia beragama moslem yang berjiwa patriotis untuk negeri Russia. Mungkin saja persis seperti cita cita Islam Nusantara yang ingin dibangun oleh NU, membangun peradaban Islam dari akar budaya sendiri plus filsafat, logika, sains, dan seni, Hal ini tidak ahistoris, karena Islam pernah berjaya / golden age, ketika Baghdad menjadi pusat studi Islam dibawah dinasti Abbasiyah dan Harun Al Rasyid, dan era ini ditandai dengan maju-nya Islam di Persia/Baghdad/Middle East,

Islam tidak harus selalu mengekor negara dengan budaya Arab Saudi, tapi sejarah telah membuktikan kejayaan Islam/Golden Age justru karena membangun tradisi yang universal sendiri.

—–
Russia dan Syiria

Dimulainya intervensi Russia, sejak 30 September 2015 adalah atas permintaan Presiden Suriah Bashar Al Assad. Perang saudara di Suriah ini murni kompleksitas perang politik dan sama sekali bukan perang agama, meski kelompok jihad radikal ISIS, Al-Qaeda, dan Al-Nusra ikut berperan menjadi pemberontak. Russia bersama Iran, China, dan Iraq bekerjasama untuk melawan gerakan radikal terrorisme ISIS dan Al-Qaeda yang didukung oleh Qatar, UEA, Arab Saudi, Dubai, Amerika, dan barat.

Intervensi Russia murni untuk mendukung Presiden Bashar Al Assad dan pemerintah, dan melawan organisasi pemberontakan. Informasi terakhir yang saya peroleh adalah Free Syirian Army, oposisi yang moderat telah berunding dengan Russia, namun gerakan radikal jihadist agama Al-Nusra, Al-Qaeda dan ISIS yang semula berdiri sendiri sendiri tampaknya justru malah mulai menyatu.

Sampai saat ini, target penyerangan Russia juga basis basis kelompok garis keras jihadist agama. Russia, negeri yang mayoritas kedua penduduknya beragama moslem jelas sedang memerangi organisasi jihadist radikal agama, dan sama sekali tidak sedang memerangi Islam.

Dari sini, peran pemerintah Indonesia untuk mencegah WNI untuk bergabung dengan kelompok jihad garis keras radikal agama juga sangat dibutuhkan,

—-

Solo, 27 Oktober 2015, 14.32 WIB
wawan@baliooo.com

Advertisements

Syiria dan Afghanistan

Syiria dan Afghanistan
( Sebuah analisis )
Catatan Wawan Setiawan

Belakangan ini, media internasional dipenuhi oleh berita terlibatnya Russia masuk ke Suriah. Polanya hampir sama dengan ketika Uni Soviet masuk ke Afghanistan.
Persamaan pola tersebut diantaranya adalah, masuknya tentara Uni Soviet ke Afghanistan adalah atas undangan resmi pemerintah Afghanistan. Pola yang kedua, awalnya Uni Soviet mengirimkan tentara pelatihan terlebih dahulu, baru mengerahkan tentara organik.
Di Syiria sama, bahkan President Vladimir Putin, menyatakan tentara yang datang tidak atas undangan pemerintah resmi adalah tindakan illegal, sehingga operasi Amerika dan sekutunya adalah illegal karena tidak ada surat permintaan resmi dari pemerintah legal setempat untuk beroperasi di wilayahnya.
Di Syiria, beberapa bulan lalu Russia baru mengerahkan tentara pelatihan bagi tentara Syiria, beberapa bulan kemudian sebelum Kremlin menyatakan secara legal mereka beroperasi di Syiria, Amerika sempat mendeteksi keberadaan pesawat siluman Russia yang mematikan transpondernya. Ini tindakan sangat berbahaya karena bisa kecelakaan dengan pesawat sipil yang tidak bisa mendeteksi pesawat siluman jenis tempur, selain pesawat sipil sudah harus dilarang terbang di atas Syiria karena sudah menjadi daerah konflik, agar peristiwa MH-17 tidak terjadi lagi,
Pertanyaan menarik, apakah Russia akan berhasil atau gagal seperti kasus di Afghanistan?
Pertanyaan ini menarik jika kita kaitkan dengan leadership negara. Uni Soviet menarik tentara mereka ketika Mikhail Gorbachev berkuasa. Gorbachev penerima nobel perdamaian sikapnya sangat lunak dan lemah, dan background-nya intelektual. Dalam theori leadership, Gorbachev juga dijadikan contoh seorang leeadership yang kurang cermat terhadap resiko. Terbukti program pembaruan glasnost perestroika-nya membuat USSR terpecah belah.
Ini lain dengan Vladimir Putin yang berlatar belakang KGB, divisi paling elit ketika USSR masih ada dan seorang yang sangat mencintai kedaulatan Russia sehingga berani mengambil Crimea dengan cermat dan sekarang masuk ke Syiria.
Di Amerika sendiri Foxnews, media Amerika baru saja mengadakan polling, mayoritas menganggap Presiden Barrack Obama adalah seorang yang lemah leadership dan tidak mempunyai visi jelas atas Syiria dan justru menyanjung Vladimir Putin yang lebih jelas dalam visi, tujuan, dan cermat mengambil resiko.
Putin juga mempunyai retorika yang bagus atas istilah pemberontak “moderate” dan “radikal”. Russia menggempur keduanya, baik pemberontak yang”radikal” dan “moderate”. Bagi Putin Russia, tidak ada dikotomi pemberontak bersifat “radikal” atau “moderate”. Pemberontak adalah pemberontak, yang melawan kekuasaan rezim pemerintah yang legal.
Seperti kita tahu, bahwa dulu di Afghanistan pemberontak melawan rezim Nadjibullah adalah Mujahidin, saat ini Mujahidin juga berada di Syiria, dan disebut pihak moderate, sedangkan label pemberontak radikal hanya berada pada ISIS saja. Padahal kita tahu Amerika pernah menggempur Mujahidin atas kasus WTC 9/11. ISIS juga merupakan mutasi dari Al-Qaeda, jadi dikotomi pemberontak moderate dan radikal adalah absurd. Yang saat ini dianggap moderate, di suatu saat bisa menjadi radikal, seperti Mujahidin dan ISIS yang berasal dari pemberontak “moderate”
Saya berani bertaruh, seperti banyak warga negara dunia lain, Russia akan memenangkan pertarungan ini, selain faktor leadership Vladimir Putin yang sangat berbeda dengan Mikhail Gorbachev yang tidak mempunyai wawasan militer dan keamanan serta integritas nasional yang memadai, juga faktor lokal friend. Nadjibullah ketika berkuasa banyak menerima uang dari USSR dan bersifat korup, agak lain dengan Bashar Al Assad yang lebih mementingkan pertempuran sampai mati.
Di sisi lain lemahnya Presiden Barrack Obama menjadi faktor tambahan, kecuali jika John Mc Cain yang menjadi President Amerika. Mc Cain pernah mengusulkan agar pemberontak dipersenjatai rudal darat ke udara, tapi analis melihat usulan Mc Cain ini sangat berbahaya dan bisa memicu konflik yang lebih meluas.
—–
wawan@baliooo.com
Solo, 16 Oktober 2015 11.57 WIB

Indonesia dan Russia

Indonesia dan Russia
Sebuah komparasi

Catatan Wawan Setiawan

Beberapa hari yang lalu, saya via facebook diminta membuat perbandingan Indonesia dan Russia. Tentu saja sebenarnya setiap negara tidak bisa diperbandingkan begitu saja, karena unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun gerakan awal kemerdekaan, Russia via Vladimir Lenin banyak membantu Indonesia, diantaranya mengirimkan tokoh Komintern Henk Snevlieet pendiri ISDV/PKI dan Tan Malaka, mantan ketua umum PKI. Henk dan Tan Malaka juga berperan dalam pendirian Partai Komunis China.

Lenin menuliskan satu artikel tentang Indonesia, judulnya “The awakening of asia”, yang mengulas organisasi Syarikat Islam telah berubah dari organisasi dagang menjadi organisasi perlawanan kolonialisme.

Ini awal hubungan Russia Indonesia, dari meluasnya dan ephoria komunisme Eropa, Lenin mengirim ke negara negara kolonialisme untuk menyusun organisasi dan gerakan perlawanan.

Secara politik saat ini Russia dibawah Vladimir Putin menerapkan ideologi konservatism pra Komunisme, dengan merangkul gerakan agama baik kristen orthodox dan islam. Secara ekonomi Russia sama dengan Indonesia, termasuk negara emerging market dengan ketergantungan raw material yang tinggi. Russia adalah pemilik cadangan gas alam terbesar di dunia dan produksi oil-nya bersaing dengan Arab Saudi, kadang mereka nomor satu kadang mereka nomor dua. Namun Russia juga mandiri dalam industry hulu terutama metallurgi, pembuatan teknologi tinggi seperti nuklir, peralatan tempur, rocket, dan sekarang dibawah PM Medvedev juga masuk ke industry IT Skolkovo.

Demokrasi di Russia boleh dikatakan demokrasi terpimpin, namun Russia juga pernah mengalami demokrasi Liberal dibawah Boris Yeltsin yang korup dan menjadi episode paling buruk dalam sejarah geopolitik dan ekonomi Russia.

Dalam hal kekuatan militer, Russia sangat kuat, diprediksi pemilik hulu ledak nuklir paling banyak adalah Russia, dan Russia pernah mempunyai Tsar Bomba, bom yang terbesar yang pernah diledakan.

Ekonomi Russia saat ini hampir sama dengan negara emerging market lainnya, sedang krisis, karena harga komoditas terutama oil sedang dibawah, selain faktor isolasi ekonomi dari barat.

Namun di tengah krisis ini Russia menunjukan leadship-nya dalam perang melawan terror global, jet jet tempur Russia turun menghabisi ISIS, sekaligus promosi bahwa mereka mampu membuat teknologi tempur terdepan di dunia.

Dalam bidang pendidikan dan kesehatan, jaminan sosial di Russia masih gratis, dan kualitas pendidikannya cukup maju terutama ketika rezim Komunisme berkuasa. Knowledge day atau tanggal 1 september, adalah hari pertama masuk sekolah di Russia, Tradisi ini berasal dari tradisi Komunis. Di hari ini siswa dan orang tua murid datang ke sekolah membawa bunga untuk diberikan ke gurunya sebagai tanda terima kasih telah mengajar anak anak mereka.

Saat ini Putin rasanya mengolah Russia dan mengambil sisi baik era pra Komunisme dan era Komunisme USSR. Mana saja yang baik dilestarikan, dan yang buruk dibuang,

—-
wawan@baliooo.com
Solo, 7 Oktober 2015 12.27 WIB