Monthly Archives: February 2016

Diantara teknologi, hak privasi, dan keamanan nasional

Diantara teknologi, hak privasi, dan keamanan nasional
Oleh Wawan Setiawan

—–

Baru baru ini Apple sebagai pelopor smartphone mengeluarkan statemen yang cukup menarik. Tim Cook, CEO Apple menulis surat terbuka kepada pelanggannya, dan menyarankan pelanggannya unjuk rasa dan protes kepada FBI yang menginginkan bahwa produk Apple diperlengkapi backdoor untuk bisa disadap demi kepentingan nasional. Tim Cook CEO Aple menyatakan simpati yang mendalam atas tewasnya korban terrorisme San Bernadino Prancis, namun Apple menolak permintaan FBI agar membuka kode rahasia atau dikenal dengan istilah enkripsi iphone, brand smartphone milik Apple. Apple menolak membuka data enkripsi produknya meski digunakan untuk kegiatan terrorisme, tepatnya digunakan oleh terroris yang terlibat kasus di San Bernardino Prancis. Bila Apple membuka enkripsi satu iphone, baik milik terroris atau bukan, dan enkripsinya rawan diketahui oleh pihak lain, sama saja dengan membuka kode enkripsi iphone lainnya.

Menolak permintaan FBI sudah sejak lama dilakukan oleh perusahaan teknologi Silicon Valley, California Amerika, dari Google, Facebook, Apple, selalu menolak membuka data pelanggan atau customernya.

Beberapa minggu yang lalu, Whatsapp, aplikasi chatting milik Facebook juga dimatikan selama dua hari atas perintah pengadilan Brazil, karena kantor pusat Whatsapp tidak mau memberikan data rekaman percakapan di Whatsapp yang sering dipakai oleh kartel narkoba di negeri Amerika Selatan itu.

Kembali ke surat Apple, mereka menyatakan membuat aplikasi yang diperlengkapi backdoor yang ditujukan ke tim nasional security artinya backdoor tersebut bisa jatuh ke tangan hacker. Disinilah Apple menolak untuk membuka kode rahasia data yang ada di iphone tersangka terrorisme San Bernardino Prancis, dan juga menolak mematikan feature “delete data” bila 10x dicoba memasukan kode deskripsi salah. Iphone saat ini diperlengkapi dengan teknologi “menghapus diri” jika iphone di enkripsi/diacak dan ada yang mencoba melakukan dekripsi/membukanya, bila 10x gagal maka feature “menghapus diri” bekerja.

Amerika, dimana negeri yang melahirkan raksasa IT dari Google, Yahoo, Facebook, Apple dan lain sebagainya merupakan negeri yang menjunjung tinggi hak privasi individu, namun seringkali hak privasi individu sering bertentangan dengan kepentingan keamanan nasional. NSA dan FBI menginginkan semua kontak telephone dan internet disadap, namun raksasa Internet Google, Yahoo, Facebook, rata rata menolak.

Hal ini berbeda sama sekali dengan negeri Russia atau China yang memiliki UU ITE jauh lebih kuat, bahwa negara mempunyai banyak kewenangan terhadap informasi individu. Russia juga mewajibkan semua content provider yang beroperasi di Russia harus menaruh servernya di Russia dan dalam jangkauan hukum Russia.

Teknologi memang cepat berkembang, baik teknologi keamanan dan lawannya, dan kemajuan teknologi yang cepat ini tak pelak sering membuat kita dilema, antara teknologi keamanan yang berfungsi untuk menyimpan informasi personal sebagai hak privacy individu, dan kepentingan nasional.

Saya pribadi lebih setuju “Internal Security Act” ala Russia, China atau Singapore, dimana negara demi kepentingan nasional diperbolehkan membuka enkripsi data yang merupakan hak privacy individu, apalagi bila kasus-nya terrorisme.

Advertisements

LGBT dan Sains

LGBT dan Sains
oleh Wawan Setiawan

—-
Akhir akhir ini menarik untuk disimak tentang disahkannya perkawinan sesama jenis atau popular kita kenal dengan istilah LGBT ( Lesbian Gay Bi Transgender ) di beberapa negara Eropa dan Amerika. Perkembangan sains memang juga merubah paradigma kita terhadap banyak hal berubah. Contohnya tentang LGBT ini.

Dahulu, di sekitar sampai abad 20, LGBT masuk dalam kelompok tindakan kriminal. Alan Turing, seorang Inggris yang berjasa besar terhadap perkembangan teknologi komputer abad 20 dan juga jago enkripsi dekripsi dan ikut membantu intelijen Inggris melawan Jerman di perang dunia kedua harus meninggal karena bunuh diri.

Alan Turing memang tertangkap melakukan orientasi seks homoseks, namun karena jasa-nya bagi Inggris besar maka pemerintah Inggris memberikan therapi, yaitu menyuntik hormon endrogen agar semakin maskulin. Namun tampaknya tubuhnya tidak bisa beradaptasi dengan suntikan ini sehingga Alan Turing merasa sengsara dan bunuh diri.

Perspektive sains memang menjelaskan bahwa LGBT bisa terbawa genetika atau ada struktur otak yang berbeda. Dalam beberapa hal, memang benar, ada LGBT bawaan gen, struktur otak, namun jangan dilupakan bahwa faktor “nurture”, atau lingkungan juga bisa mempengaruhi. Artinya LGBT bukan akibat tunggal saja, misal genetika atau struktur otak, tapi lingkungan dan habit juga punya peran untuk membentuk LGBT.

Indonesia sendiri, menurut Menkopolhukam Luhut Panjaitan, menyatakan LGBT seperti warga negara Indonesia lainnya dalam kesetaraan, dan dilindungi oleh hukum, namun apabila propaganda atau kampanye, tampaknya masih belom bisa diterima oleh aparat penegak hukum.

Rabu, 17 Februari 2016

Sains, teknologi dan etika

Sains, teknologi dan etika
Oleh Wawan Setiawan

—-

Akhir akhir ini, atau tepatnya abad 21, perkembangan sains dan teknologi amat sangat cepat berubah dan menghadirkan sesuatu yang baru yang lebih canggih untuk menggantikan yang lama. Perkembangan ini, tidak hanya merubah bentuk teknologi-nya saja, tapi juga merubah budaya dan cara manusia untuk hidup. Perkembangan ini juga kerapkali bersinggungan dengan etika.

Misal UU pengesahan pernikahan sesama jenis, atau LGBT ( Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender ) disahkan oleh beberapa negara eropa dan Amerika karena dari perspektive sains, LGBT merupakan akibat dari berbedanya struktur susunan otak/brain. Di Amerika juga diakui oleh Presiden Obama, bahwa setiap bentuk telekomunikasi baik via internet dan telephone tidak lepas dari penyadapan oleh NSA, persis seperti yang dibocorkan oleh mantan agen NSA Edward Snowden. Penyadapan seperti ini sebenarnya telah melanggar konsep negara demokrasi liberal seperti Amerika Serikat, terutama terhadap hak asasi warga negara.

Tapi etika etika seperti ini telah berubah karena kemajuan sains dan teknologi, Di awal tahun 1990-an kita juga dikejutkan dengan teknologi kedokteran yang dikembangkan oleh ilmuwan biologi, yaitu men-cloning domba dolly. Dari sisi etika, gereja tidak mengijinkan cloning, akan tetapi kemajuan teknologi telah melakukannya. Domba dolly berhasil di cloning melalui teknologi rekayasa genetika, tapi umurnya tidak berlangsung lama.

Tahun 2016 ini kita dikejutkan lagi bahwa otoritas agama katolik roma dan negara membolehkan rekayasa genetika dilakukan kepada manusia. Ini artinya kita bisa mencetak manusia bibit unggul seperti yang terjadi pada tanaman padi dan buah buahan, yang tidak hanya dikawinkan silang, tapi genetikanya diedit dengan tujuan bermacam macam, dari tujuan delete penyakit degeneratif/turunan sampai tujuan mencetak bibit unggulan.

Abad 21 ini memang abad dimana etika terus terseok seok ketika dihadapkan kepada kemajuan sains dan teknologi.

—–
Solo, 10 Februari 2016

Mengenal kuantum komputasi, konsep internet masa depan

Mengenal Kuantum Komputasi, konsep Internet masa depan
Oleh: Wawan Setiawan

——

Science mengalami perkembangan pesat di abad 20, setelah era “pencerahan Eropa” atau biasa disebut aufklarung. Era perkembangan science sangat menarik khususnya setelah Albert Einstein salah satu genius yang hidup di era Newtonian Mekanik yang banyak mengulas benda makro/besar ke era quantum mechanic yang mengulas tentang benda mikro atom, meluncurkan karyanya tentang theory relativitas umum dan relativitas khusus. Perkembangan science, tak pelak diiringi perkembangan implementasinya yaitu teknologi rekayasa.

Di era quantum mechanic masih awal untuk di eksplorasi, kita mengenal fisikawan Erwin Schrodinger, yang terkenal dengan formulasi-nya yaitu “Superposition” atau satu benda dalam dua state. Schrodinger membuat tebak tebakan, kucing ditaruh dalam box, dan kemudian diberi racun, lalu kita harus berspekulasi apakah kucing tersebut memakan racun atau tidak? Superposition menyatakan keduanyam kucing itu hidup sekaligus mati.

Ide ini tak pelak menarik diimplementasikan di bidang komputer. Saat ini, komputer konvensional meski telah 64-bit, tapi prosessing data binary-nya masih konvensional, atau bergantian. Sedangkan quantum komputasi mampu memproses dua binary yang berlawanan secara bersamaan. Akibat dari pemrosesan dua binary secara bersamaan/superposition ini, kinerja kuantum komputasi mampu 1000x (atau lebih) lebih cepat dalam pemrosesan dara. Perusahaan komputer D-Wave dan Google telah mencoba menciptakan chip-nya. Kuantum komputasi, bukan hanya suatu konsep superposition dimana data binari diproses secara bersamaan oleh prosessor saja, tapi kuantum komputasi juga menyangkut konsep kuantum Internet masa depan. Saat ini dunia internet dotcom boleh dibilang masih generasi satu atau generasi awal, karena perkembangan teknologi di Silicon Valley telah mampu mengembangkan kuantum komputasi dan Virtual Reality. Kelak kita hanya akan menggunakan kacamata saja sebagai device komputasi (Google glass).

Dengan menggunakan device kacamata seperti Google Glass, kita mampu browsing, mengakses data, dan keperluan komputasi lainnya. Era komputer memang selalu berubah, dari era mainframe IBM, kemudian personal PC yang di visionary-kan oleh pendiri Microsoft, Bill Gates, dimana setiap meja ada komputernya, berubah menjadi smartphone yang divisionary-kan oleh pendiri Apple Steve Job. Kini era smartphone sudah terancam akan tergantikan oleh era komputer kacamata yang bekerja dengan konsep kuantum.

Perkembangan Science memang pesat, demikian juga perkembangan teknologi sebagai terapannya.

—-
Solo, 9 Februari 2016