Monthly Archives: March 2016

Perempuan pertama (Valentina Tereshkova) mengangkasa pernah ke Jakarta

Perempuan pertama (Valentina Tereshkova) mengangkasa pernah ke Jakarta
Oleh Wawan Setiawan

Bila kemaren di url http://www.kompasiana.com/baliooo/tan-malaka-dari-eropa-membawa-filsafat-logika-dan-ilmu-pengetahuan-madilog_56fbccdf8523bd55167ef918, saya membahas Tan Malaka yang membahas filsafat, logika dan ilmu pengetahuan, kali ini saya coba membahas Ir. Soekarno dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Bung Karno sendiri tidak spesifik menulis tentang pentingnya sains bagi kemerdekaan Indonesia,

Namun Bung Karno segera terbang ke Moscow setelah manusia pertama yang bernama Yuri Gagarin mengangkasa. Bung Karno juga menganugerahi bintang kehormatan tertinggi, yaitu bintang adipradana kepada Kosmonot Yuri Gagarin.

Tidak sekedar mengunjungi Moscow dan bertemu Yuri Gagarin, Bung Karno rupanya juga mendatangkan 4 Kosmonot yaitu German Titov, Valentina Tereshkova, perempuan pertama yang mengangkasa, Valeriy Bikovskiy, dan Andrian Nikolayev

Dalam kesempatan ini Bung Karno mengajak Kosmonot Soviet keliling Indonesia dan berpidato. Bung Karno menyatakan belajarlah ilmu pengetahuan agar bisa seperti 4 Kosmonot ini pergi mengarungi ke luar angkasa.

Di era ini, era perang dingin, ilmu pengetahuan mempunyai relasi kuat terhadap teknologi luar angkasa. Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba lomba membuat rocket yang bisa menjangkau luar angkasa, dan satellite pertama bernama Sputnik berhasil diterbangkan pada 4 Oktober 1957. Kemampuan rocket menjangkau luar angkasa artinya juga rocket USSR bisa menjangkau Amerika. Hal ini membuat ketegangan baru di era perang dingin.

Pandangan perlunya ilmu pengetahuan bagi bangsa Indonesia, Bung Karno tidak hanya mendatangkan 4 Kosmonot USSR saja untuk memberi motivasi agar bangsa Indonesia ber-ilmu pengetahuan, tapi bung Karno juga ingin membangun patung Yuri Gagarin sebagai simbol patung ilmu pengetahuan, namun akhirnya patung ini menjadi patung Gatotkaca, karena Gatotkaca mempunyai kearifan dan produk lokal.

Korelasi ilmu pengetahuan dan teknologi luar angkasa ternyata tidak hanya terjadi di era perang dingin saja, namun sampai sekarang ilmu pengetahuan masih erat kaitannya dengan teknologi angkasa luar, sehingga dari China, Taikonot Wang Yaping mengajar fisika dan gravitasi dan dibroadcast melalui televisi ke 60 juta anak di China. Saya pernah menulisnya dan bisa anda baca di url berikut:

http://www.kompasiana.com/baliooo/wang-yaping-mengajar-fisika-dari-luar-angkasa-terhadap-60-juta-anak-di-china_56f8da5ded96737d071f2f23

Ternyata zaman memang belum banyak berubah, baik di Indonesia ataupun di China, untuk memotivasi pentingnya ilmu pengetahuan bagi bangsa maka simbolnya adalah kemampuan teknologi luar angkasa.

Iphone yang digunakan terrorisme akhirnya di crack oleh Israel.

Iphone yang digunakan terrorisme akhirnya di crack oleh Israel.
oleh Wawan Setiawan

Beberapa waktu yang lalu, kita cukup terkejut dengan surat dari Tim Cook CEO Apple yang mengajak para penggunanya untuk menolak permintaan FBI untuk meng-crack iphone yang digunakan oleh terrorisme San Bernardino. Namun masalah melindungi privacy sampai mengorbankan kepentingan keamanan nasional seperti ini bukan hanya monopoli Apple, tapi juga didukung oleh Google, Facebook dan raksasa Silicon Valley lainnya, Whatsapp di Brazil juga pernah dishutdown oleh pemerintah Brazil selama 2 hari karena pengadilan di Brazil meminta log percakapan yang diduga digunakan untuk kriminal, namun ditolak oleh Whatsapp. Kabarnya Whatsapp di Brazil mempunyai market sampai 90% dari pengguna online di Brazil adalah pengguna Whatsapp, dan diduga Whatsapp juga digunakan untuk komunikasi jaringan kriminal dan narkoba di Brazil.

Perusahaan Silicon Valley yang produknya mendunia, memang berusaha membangun privacy yang tinggi terhadap penggunanya, sampai sampai iphone yang telah digunakan oleh terroris San Bernardino, ketika FBI meminta Apple melakukan crack code, Apple menolaknya. Apple mempunyai alasan, satu iphone di crack code security-nya sama saja mengetahui bagaimana melakukan crack code iphone lainnya.

Anehnya, negara via FBI ternyata tidak cukup kuat untuk memaksa Apple membuka crack iphone yang telah digunakan untuk kegiatan terrorisme. FBI akhirnya justru malah minta suatu perusahaan di Israel untuk melakukan crack iphone.

Ini memang ironi negara Amerika Serikat, ironi antara privacy, kebebasan, dan keamanan nasional.

Apakah kemampuan math dan sains berkorelasi kuat terhadap pendidikan disiplin, moral dan karakter?

Apakah kemampuan math dan sains berkorelasi kuat terhadap pendidikan disiplin, moral dan karakter?

oleh : Wawan Setiawan
Senin, 29 Maret 2016
—-
Beberapa hari yang lalu saya membaca salah satu tulisan di kompasiana, yang memperbandingkan lebih penting mana pendidikan moral dan math atau sains.

Sampel kasus di negara Jepang, dimana di Jepang memang budaya tertib atau disiplin antri sangat bagus, apalagi ketika kejadian kebocoran reaktor Fukushima, orang Jepang mampu antri dengan sangat tertib.

Kabarnya di Jepang, pendidikan karakter, disiplin, mengantri atau budi pekerti itu lebih penting daripada math dan sains, sampai idiom-nya orang Jepang lebih khawatir tidak bisa mengantri daripada tidak bisa math, tapi fakta membuktikan bahwa murid murid di Jepang mempunyai skill atau kemampuan math dan sains yang tinggi. Dalam hal mathematika, versi PISA tahun 2015 Jepang berada di posisi 7, sedangkan di bidang Sains, Jepang berada di posisi 4, untuk kemampuan membaca Jepang juga berada di posisi 4.

Penulis yang berusaha menggunakan data obyektif dari PISA (Programme for International Student Assessment), malah menemukan kesimpulan bahwa kualitas pendidikan math dan sains yang bagus, juga diikuti oleh pendidikan moral dan karakter yang bagus. Negara negara yang mempunyai ranking tinggi dalam hal math dan sains yang diranking oleh PISA, hampir semuanya juga merupakan negara yang bagus dalam hal pendidikan moral, budi pekerti, dan disiplin. Atau mungkin karena di negara maju, mempunyai pendidikan moral, budi pekerti dan karakter yang berkualitas, maka hasilnya kualitas juga dalam menguasai pendidikan math dan sains. Negara negara Skandinavia bisa menjadi contoh negara dengan tingkat kriminal sangat rendah, gap ekonomi yang moderate, pendidikan math dan sains–nya juga termasuk pendidikan terbaik.

Menurut yang penulis baca di url berikut
http://www.japantimes.co.jp/community/2014/11/23/issues/teaching-quality-lesson-quantity-may-key-japans-top-math-marks/#.VvprctoaySN

ketika anak di Jepang ditanya apa pelajaran yang paling disukainya? dijawabnya adalah math, artikel di atas juga menjelaskan bahwa pendidikan math dan sains di Jepang adalah prioritas atau menduduki posisi yang sangat penting, selain juga kemampuan problem solving yang diajarkan sejak dini.

Sebagai komparasi lainnya, saya sendiri mempunyai puteri yang saat ini berusia 10 tahun dan menjalani pendidikan dini di Russia, karena puteri saya juga warga negara Russia, mengikuti kewarganegaraan ibu-nya. Di Russia, setiap masuk sekolah adalah tanggal 1 September, atau dikenal dengan “Knowledge Day”. Tradisi ini sudah berlangsung sejak rezim USSR Soviet. Di hari tersebut anak dan orang tua datang ke sekolah membawakan bunga untuk guru-nya yang selama ini telah mengajar pendidikan ke anak anak. Di Russia math dan sains juga dikenalkan sejak dini, dari sini saya kira pendidikan karakter, moral, budi pekerti, disiplin (di Russia belum ada pendidikan agama) bisa berjalan bersama atau justru saling menunjang dengan pendidikan sains dan math sejak dini, keduanya sama sama penting.

Saya kira jika seorang murid mempunyai karakter yang kuat, disiplin, dan bermoral baik, maka untuk menguasai sains dan math juga akan lebih mudah

Pendidikan di Russia juga ketat terhadap kesehatan para murid. Puteri saya pernah mengalami diare, dan dari sekolah di rujuk ke rumah sakit khusus anak, dan harus tinggal selama 10 hari. Selama tinggal di rumah sakit tidak boleh disertai orang tua, jadi malam harus tidur sendiri bersama anak anak yang lain karena ini rumah sakit khusus untuk anak anak, orang tua hanya bisa menemui-nya pas jam besuk saja.

Yang jelas dalam ranking PISA, saya tidak menemukan bahwa negara yang pendidikan sains dan math-nya bagus tidak disertai dengan pendidikan disiplin, moral, karakter dan budi pekerti yang bagus. Sebaliknya saya juga bisa mengambil kesimpulan bahwa di negara dengan kualitas pendidikan math dan sains jelek, kualitas moral, disiplin, dan budi pekerti murid-nya juga ikut jelek.

List atau urutan kualitas pendidikan negara negara di dunia berdasar math, sains, dan reading dari PISA bisa diakses di url berikut : https://en.m.wikipedia.org/wiki/Programme_for_International_Student_Assessment

Referensi pendidikan di Jepang:
http://www.theguardian.com/world/2013/oct/08/why-do-japanese-children-lead-world-numeracy-literacy

Penemuan fundamental Sains dan implementasi di bidang teknologi

Penemuan fundamental Sains dan implementasi di bidang teknologi

Oleh Wawan Setiawan
email: wawan@baliooo.com
Senin, 28 Maret 2016

Penulis adalah pengisi tetap kolom info teknologi di portal Tribrata milik polda jateng dan juga narasumber tetap acara Teknovasi (teknologi dan inovasi) SBOTV Surabaya.

Website kompasiana : http://www.kompasiana.com/baliooo
Blog : https://baliooo.wordpress.com


Baru baru ini kita dikejutkan oleh suatu penemuan yang cukup fundamental, yaitu gravitasional gelombang. Gravitasional gelombang sebenarnya telah di-theory-kan cukup lama kurang lebih 100 tahun oleh Albert Einstein dalam karyanya General Theory of Relativity yang menyatakan gravitasi merupakan produk warping dari space-time yang dibentuk oleh mass atau energy, dan juga sudah banyak diajarkan oleh fisikawan di kampus, misalnya seperti fisikawan quantum mechanic Richard Feynman. Namun bukti validnya baru ditemukan akhir akhir ini tepatnya pada tanggal 14 September 2016 oleh Laser Interferometer Gravitational-wave Observatory atau LIGO. Penemuan ini cukup fundamental bagi ilmu dasar yaitu Fisika, sama fundamentalnya dengan penemuan Higgs Boson pada tanggal 4 July 2014 yang di-theory-kan oleh Peter Higgs sejak tahun 1964-an.

Namun Fisika sebagai ilmu dasar, penemuan penemuan barunya biasanya tidak langsung bisa di-implementasi ke rekayasa teknologi. Penemuan Higgs Boson dan gravitational waves memang membuat kita lebih memahami cara kerja alam. Dengan penemuan ini, maka kita bisa lebih memahami karakter setiap partikel dari yang terkecil, atau level atom atau bahkan lebih kecil lagi, yaitu elementer partikel.

Namun sejarah mencatat, awal abad 20 ketika Fisika masih didominasi oleh theory Newton, Albert Einstein mulai meneliti photon/cahaya dan radiasinya, dan berlanjut oleh Paul Dirac, Niels Bohr, Werner Heisenberg dan fisikawan lainnya untuk meneliti benda benda mikroskopik atau atom. Logika yang dibangun oleh Fisikawan adalah mereka mempercayai bahwa benda benda besar makroskopik tersusun oleh benda benda kecil atom, sehingga sifat atom akan mempengaruhi benda besar makroskopik. Riset untuk mengetahui karakter dan cara kerja benda kecil ini disebut quantum mechanic, dan hasilnya cukup mencengangkan, ternyata watak benda makro dan benda mikro (atom) sangat berbeda, bahkan sampai Fisikawan Bohr menyatakan “If you think you understand quantum mechanics, you don’t understand quantum mechanics” atau Richard Feynman yang menyatakan “I think I can safely say that nobody understands quantum mechanics. Para fisikawan quantum mechanic ini memang merendah, karena di wilayah quantum/mikroskopik dikenal prinsip fundamental “Uncertainty Principle”. Dari dasar ini Richard Feynman menulis “Probability and Uncertainty – the Quantum Mechanical View of Nature” menyatakan bahwa masa depan tidak bisa ditebak/unpredictable, karena dari sifat dasar partikel sudah mempunyai prinsip dan watak ketidakpastian.

Sampai dengan sekitaran tahun 1970, riset atom quantum mechanic masih belum membuahkan hasil, sampai Richard Feynman memberi kuliah tentang ” “There’s Plenty of Room at the Bottom” dimana dalam kuliah tersebut Feynman melempar idea tentang “Tiny Machines” dan memberi challenge “seberapa kecil anda bisa membuat mesin? bagaimana kalau atom atom ini kita manipulasi dan rekayasa?”

Dari sini quantum mechanic baru menemukan implementasinya di bidang teknologi, yaitu nanotechnology. Gadget, ipod, ipad, dan devices pintar yang anda gunakan saat ini adalah hasil riset sains quantum mechanic.

Dalam quantum mechanic, Erwin Schrodinger juga berjasa memperkenalkan konsep “Superposition” atau dua state yang berlawanan bisa bekerja dalam waktu bersamaan. Saat ini konsep superposition digunakan oleh Quantum Komputing, yang bisa memproses dua binary 0 dan 1 secara bersamaan. Dalam teknologi klasik-nya, komputer mengolah binary 0 dan 1 secara bergantian, namun Quantum Komputing atau komputer masa depan memproses binary secara bersamaan dan hasilnya mampu 1000x lebih cepat dari komputer konvensional.

Perkembangan teknologi memang tak lepas dari penemuan sains, meski implementasinya bisa puluhan tahun mendatang, seperti theory gravitational waves-nya Albert Einstein, baru terbukti 100 tahun kemudian dan kita juga belum tahu kapan akan membuahkan hasilnya dalam implementasi teknologi.

Pendidikan, e-learning dan sharing pengalaman mengikuti studi online di MIT

Pendidikan, e-learning dan sharing pengalaman mengikuti studi online di MIT

Oleh Wawan Setiawan
email: wawan@baliooo.com
Sabtu, 26 Maret 2016

Penulis adalah pengisi tetap kolom info teknologi di portal Tribrata milik polda jateng dan juga narasumber tetap acara Teknovasi (teknologi dan inovasi) SBOTV Surabaya.

Website kompasiana : http://www.kompasiana.com/baliooo
Blog : https://baliooo.wordpress.com


Dunia pendidikan memang dunia yang paling fundamental kalau kita ingin maju. Negara negara maju di dunia, pastinya juga disertai kemajuan sistem pendidikannya. Tidak mungkin ada negara maju tanpa disertai pendidikan berkuallitas. Untungnya saat ini ada lembaga yang meranking sistem pendidikan di banyak negara, lembaga tersebut dikenal dengan nama “Programme for International Student Assessment” atau biasa disebut dengan PISA. Pisa meneliti kemampuan umum seperti kemampuan kognisi, membaca, mathematika, dan sains. Sayangnya, kualitas pendidikan di Indonesia sangat buruk, karena diranking oleh PISA nomor dua dari bawah setelah Peru dalam hal math dan sains.

Dunia pendidikan saat ini di Indonesia juga tergolong eksklusive dan terkotak kotak, dulu penulis menjalani sekolah di negeri, dan campur aduk dengan murid lain yang berbeda ras, suku, maupun agama, namun zaman sekarang banyak keponakan penulis disekolahkan orang tuanya di sekolah homogen, yaitu sekolah islam.

Zaman sekarang memang banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya di sekolah eksklusif, yang beragama islam menyekolahkan anaknya ke sekolah islam, yang kristen banyak yang menyekolahkan anaknya di sekolah kristen.

Buruknya kualitas pendidikan di Indonesia memang semestinya menjadi lampu merah dan sudah semestinya menjadi perhatian penting pemerintah. Namun pendidikan sebenarnya tidak hanya masalah sekolah formal saja. Pendidikan bisa kita dapatkan darimana saja, terutama Internet.

Penulis mengenal Internet dan bekerja di perusahaan penyedia akses Internet, Meganet milik Jawa Pos tahun 1995. Dengan bekerja di perusahaan Internet, maka penulis diuntungkan kecepatan Internet yang jauh lebih cepat, karena masa itu Internet hanya menggunakan dial-up modem yang paling canggih 56k dan umumnya 28.8k

Penulis memanfaatkan fasilitas kantor, terutama untuk mengakses informasi semacam NASA dan juga ikut aktif membaca dan menulis di milis apakabar atau Indonesia-L yang dibuat oleh seorang Doktor dari Harvard John Mc Dougall.

Saat ini, kecepatan internet sudah berlipat kali dibanding 20 tahun yang lalu. Anda bisa menggunakan internet untuk hiburan, pekerjaan, pendidikan atau hal lainnya.
Namun penulis memanfaatkan internet untuk kepentingan yang mirip dengan 20 tahun yang lalu, yaitu e-learning. Penulis sempat mengikuti online studi di MIT Amerika, dan mengambil bidang Computer Science dan AI selama sekitar 3 tahun. Modal utamanya adalah internet cepat.

Keuntungan online studi adalah, kita mempunyai waktu yang fleksibel untuk mengakses video para lecture, selain bisa kita ulang/rewind kalau kita belum paham betul.

Namun Penulis tidak hanya mengikuti studi online di MIT saja, tapi dengan adanya Internet, penulis sering mengakses video lecture dari tokoh besar seperti fisikawan jenius Richard Feynman, Lisa Randall dari Harvard, dan tokoh lainnya.

Selama mengikuti pendidikan online di MIT, penulis juga merasakan program yang berbeda dengan pendidikan di Indonesia. Pendidikan di MIT mengutamakan pendidikan mengolah kecerdasan secara umum atau banyak melatih logika, sedangkan computer science menjadi pendidikan khusus-nya. Dalam hal ini banyak sekali melatih kemampuan problem solving.

Dengan adanya Internet yang di Indonesia sudah cukup cepat, maka kita bisa menyusun masa depan kita sendiri, apakah melanjutkan kuliah di dalam negeri, atau ke luar negeri dengan biaya cukup mahal kecuali dengan beasiswa, atau mengikuti online studi dari universitas top dunia melalui Internet.

Kita tidak perlu berkecil hati, meski pendidikan SD sampai SMA, Indonesia diranking nomor dua dari bawah oleh PISA, namun kita tetap bisa mengikuti online course atau belajar apa saja melalui Internet.

Berikut beberapa situs e-learning:
https://www.udacity.com
https://www.coursera.org
https://www.edx.org

Pengalaman penulis tentang e-learning atau studi online bisa diikuti videonya di acara Teknovasi ( teknologi dan inovasi ) SBOTeve milik Jawa Pos

Membangun Artificial Intelligence dengan Machine Learning Googl

Membangun Artificial Intelligence dengan Machine Learning Google
Oleh Wawan Setiawan
email wawan@baliooo.com

Penulis adalah pengisi tetap kolom info teknologi di portal Tribrata milik polda jateng dan juga narasumber tetap acara Teknovasi (teknologi dan inovasi) SBOTV Surabaya.

Website kompasiana : http://www.kompasiana.com/baliooo
Blog : https://baliooo.wordpress.com
—-

Hari ini, saya dikejutkan oleh berita bahwa Google menyediakan API Machine Learning-nya di fasilitas cloud-nya. Selanjutnya Google mengklaim bahwa API Machine Learning ini sama dengan yng digunakan oleh Android untuk speech translation. Dengan demikian, anda bisa membangun dan mengkustom sendiri software Artificial Intelligence, atau membangun perangkat elektronik kemmoun learning-nya setara dengan milik Google.

Melihat realita ini, di satu sisi saya sangat kagum dengan perkembangan dan kemampuan Artificial Intelligence tim Google, di sisi yang lain ada kekhawatiran jika menyimak statemen Prof. Stephen Hawking, Elon Musk, maupun Bill Gates yang pernah menyatakan bahayanya mesin cerdas yang bisa membahayakan eksistensi manusia.

Hal ini sangat beralasan, baru baru ini Alpha Go, mesin AI milik Google yang bisa bermain Go atau di China disebut Weiqi, baru saja mengalahkan master permainan strategi Go. Alpha Go yang dikembangkan oleh Deep Mind, tim riset AI Google berhasil mengalahkan Lee Sedol dengn score 4-1. Master permainan Go, Lee Sedol bukan orang pertama yang dikalahkan oleh mesin AlphaGo, sebelumnya AlphaGo telah memenangkan dengan sangat telak dalam permainan Go terhadap Fan Hui dengan skor 5-0. Lee Sedol sendiri ketika melawan AphaGo sempat menglmi kekalahan di 3 game pertama, dan baru bangkit di game ke empat, namun kalah lagi di game ke 5.

Menariknya, Google meski sangat kuat dan sangat concern di bidang Artificial Intelligence dan Quantum Komputing, Google bersedia berbagi ilmu dengan kita semua. Anda bisa mengikuti kursus online tentang bagaimana DeepMind atau software mesin learning bekerja di Udacity. Jika anda pengembang AI, maka hal ini akan sangat menarik karena mempunyai kesempatan mengetahui DeepMind bekerja dan dikembangkan. Penulis sendiri pernah mengikuti course online yang diselenggarakan oleh MIT tentang Artificial Intelligence.

Hal ini tentu berbeda dengan zaman kejayaan Microsoft dulu yang menutup semua fundamental software operting systemnya dan melakukan monopoli dengan keunggulan software aplikasi yang berjalan di Windows bakal lebih baik dibanding software lain, karena Microsoft tidak membuka kode-nya. Persaingan bisnis IT zaman dulu memang aromanya saling menutupi atau merahasiakan code, namun sekarang era berbagi dan saling mengembangkan/develop.

Kini bagi anda, terutama developer AI bisa berkarya mengembangkan software AI berdasar API Machine Learning Google di cloud milik Google. Tidak hanya anda mendevelop software-nya saja misal speech translation, tapi anda juga bisa membuat robot yang core bekerjanya berdasar API machine learning milik Google.

Selamat mencoba, saya tadi sempat melihat cloud Google, menu atau feature Machine Learning sudah tersedia, so apa ide anda untuk mengembangkan aplikasi atau robot berbasis Machine Learning dari Google?

Kultus Figure Politik

Kultus Figure Politik
Oleh Wawan Setiawan

Penulis adalah pengisi tetap kolom info teknologi di portal Tribrata milik polda jateng dan juga narasumber tetap acara Teknovasi (teknologi dan inovasi) SBOTV Surabaya.

Website kompasiana : http://www.kompasiana.com/baliooo

—-
Kita saat ini akan selalu disibukan dengan informasi baik dari media dan sosial media, terutama menyangkut pilkada di DKI pada tahun 2017 dengan kandidat incumbent Basuki Thahaya Purnama alias Ahok. Ahok rupanya memang kontroversial, sehingga mempunyai pengikut fanatik dan juga para pembencinya atau anti ahok. Sebelum Pilkada 2017 ini, sebelumnya di pilpres kita juga dihadapkan kepada keriuhan yang sama antara kandidat Presiden Joko Widodo melawan kandidat Prabowo Subianto. Hampir mayoritas pemilih karena alasan personal, Presiden Joko Widodo kala itu digambarkan sebagai figur yang rendah hati, sederhana, sabar menghadapi fitnah, sedangkan kandidat Presiden Prabowo Subianto digambarkan sebagai sosok mumpuni karena almamater tentara dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal.

Pilkada 2017 ini, baik para pendukung Ahok maupun pembencinya/haters juga dipisahkan oleh kultus personality Ahok. Bagi pendukungnya, Ahok sukses menyelesaikan masalah banjir di Jakarta dan penggusuran serta anti korupsi. Sedangkan yang anti, menganggap Ahok adalah politisi kasar dan tidak sopan serta sulit bekerjasama dengan DPRD Jakarta.

Rupanya demokrasi Indonesia tidak segera beranjak ke kematangan demokrasi, atau masih flawed demokrasi, dengan memunculkan figur figur tapi tidak cermat menyoroti program yang akan diusung.

Hal ini agak berbeda dengan di Amerika, dimana kandidat Presiden Hillary Clinton dan Bernie Sanders dari Partai Demokrat yang dianggap beraliran kiri menawarkan program diantaranya gratis biaya sekolah sampai university. Hillary menawarkan biaya murah pendidikan sedangkan Bernie Sanders menawarkan pendidikan gratis sampai perguruan tinggi.

Di Amerika Serikat, kita bisa fokus dan mencatat program yang ditawarkan oleh para kandidat, namun di Indonesia faktor like and dislike lebih mendominasi daripada program program yang ditawarkan oleh para kandidat,

Kultus politik seperti ini bukanlah hal baru di Indonesia, sebelumnya mayoritas rakyat Indonesia pernah mengkultuskan Soekarno, Soeharto, Megawati karena puteri Soekarno, dan tokoh lainnya, dan sekarang Presiden Joko Widodo serta Gubernur DKI Basuki Purnama alias Ahok, Hal ini tidak lepas dari budaya indonesia yang feodal dan sampai sekarang masih belum terkikis dengan baik.

Semestinya politisi jujur dan tidak/anti korupsi seperti Ahok serta pro rakyat kecil itu sudah menjadi standar politisi, dan persaingan mereka yang actual sebenarnya adalah program program kreatif yang ditawarkan.

Namun di Indonesia, kejujuran politik, dan bersih anti korupsi sudah menjadi fenomena tersendiri dan dianggap hal yang langka dan berbeda. Pilkada 2017 ini juga seperti mengulang pemilu 1999 dimana Megawati maju menjadi kandidat presiden dan terjadi pro kontra di kalangan islam terutama waktu itu ditentang oleh KISDI, karena sebagian moslem tidak bisa menerima pemimpin perempuan, sedangkan pilkada DKI 2017 kandidat incumbent beragama kristen dan banyak juga penolakan atas hal ini.

Dari pra kemerdekaan, bentrokan antara kaum nasionalis sekuler dan agama memang seperti tidak ada habisnya, namun inilah wajah perpolitikan di Indonesia dari masa ke masa, masalah primordialisme dan agama selalu membayangi wajah perpolitikan di Indonesia.

Wajah perpolitikan di Indonesia, yang sampai saat ini masih primordialistik, misal pendukung berat Presiden Joko Widodo dan yang membencinya, juga hampir tanpa ideological view. Setiap kandidat tidak mempunyai basis akar kuat ideological view apakah mereka sayap kanan konservative, atau sayap kiri reformis. Saat ini Presiden Joko Widodo cukup popular bukan karena ideological view-nya, tapi beliau terlihat bekerja dengan semestinya. Dalam ideological view, hal ini juga diperparah oleh parpol yang tidak mempunyai basis ideological view yang kuat seperti Pemilu 1955 dimana ada partai nasionalis sekuler, partai islam, bahkan partai komunis indonesia.

Hal ini sangat berbeda dengan Eropa dan Amerika yang masih kental basis ideological view, misal di Yunani partai kiri Syiriza dibawah Alexis Tsipras memenangkan pemilu, di Jerman partai Persatuan Demokrat Kristen Jerman dibawah Angela Merkel, di Prancis Presiden Hollande dari partai sosialis, dan di Russia Presiden Putin dari United Russia yang berideologi nasionalis kiri misalnya.

Saya kira sudah saatnya political kultus dan budaya feodal ini dikikis, kita memilih partai dan kandidat berdasarkan program kerja yang ditawarkan, serta basis ideological view, dan tidak lagi memilih orang karena kultus atau persamaan suku, ras, agama.