Pancasila dan Piagam Djakarta

Pancasila dan Piagam Djakarta

Oleh Wawan Setiawan

—-
Pancasila adalah dasar ideologi bangsa Indonesia. Namun dalam perjalanannya, lahirnya Pancasila tidak mulus. Ketika merumuskan ideologi negara, Ir. Soekarno mempunyai rumusan yang berbeda dengan Pancasila sekarang. Pihak Masyumi dan kalangan Islam juga mempunyai rumusan sendiri yang disebut Piagam Djakarta, salah satu perbedaan pasalnya adalah di sila pertama, “Ketoehanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeloek2-nja”. Akhirnya sila pertama adalah “Ketoehanan Yang Maha Esa” saja karena adanya protes dari perwakilan Indonesia timur yang rata rata beragama Nasrani dan Mohammad Hatta yang mendengarkan usul AA Maramis, setelah berkonsultasi dengan Teuku Mohammad Hasan, Kasman Singodimejo dan Ki Bagus Hadikusumo.

Namun Bung Karno seorang yang demokratis. Mengkultuskan Pancasila itu ahistoris, karena pada tahun 1959, Bung Karno sendiri yang membuka kembali wacana ideologi negara. M Natsir dan Isa Anshari ingin kembali ke Piagam Djakarta dengan sila pertama-nya, sedangkan PNI, PKI via DN Aidit berada di kubu yang ingin tetap mempertahankan Pancasila yang seperti saat ini. Akhirnya sidang ini deadlock dan Ir. Soekarno mengeluarkan dekrit Presiden 5 juli 1959 atas dorongan AH. Nasution yang melihat ada ketidakstabilan kondisi negara. Nasution sebagai penanggung jawab stabilitas negara memang bertindak preventive.

Dengan demikian, melihat history-nya, membuka kembali wacana ideologi negara bukanlah hal yang tabu atau pengkhianatan terhadap negara. Namun Pancasila yang sekarang rasanya telah ideal untuk mewakili berbagai golongan dan bermacam agama. Ir. Soekarno sendiri pernah menawarkan Pancasila di sidang umum PBB/United Nations.

Setelah Orde baru berkuasa, terjadi cuci otak dan informasi yang tidak benar bahwasanya PKI ingin merubah Pancasila dan Pancasila sakti. Hal ini tidak berdasar sekali, tidak ada dokumen bahwa PKI ingin merubah Pancasila dengan konsep baru misal butir butir Komunisme. Peristiwa 1965, G30S murni terjadi clash militer antara Tjakrabirawa dan Angkatan Darat karena Dwikora, dimana angkatan darat menolak berpartisipasi secara penuh, sehingga Dwikora mengandalkan Angkatan Udara dan PKI yang dipersenjatai dari China.

Setelah orde baru juga Pancasila mempunyai jargon Pancasila sakti dan seolah olah haram untuk dimodifikasi. Menurut penulis, Pancasila bisa dimodifikasi namun melalui mekanisme referendum, seperti halnya di negara eropa, hal hal yang fundamental bisa dimodifikasi atau dirubah namun melalui referendum yang melibatkan seluruh rakyat.

Menempatkan atau mengkultuskan Pancasila, sama saja dengan anti demokrasi, karena didalam demokrasi mengenal referendum untuk hal hal yang fundamental, misal di Yunani pernah terjadi referendum terhadap bail out dari IMF, atau di Inggris akan referendum apakah Inggris masih akan menjadi anggota Uni Eropa, atau di Skotlandia pernah referendum apakah Skotlandia masih bagian Inggris atau merdeka, yang akhirnya dimenangkan oleh yang pro Skotlandia merupakan bagian Inggris.

Demikianlah sekelumit sejarah Pancasila, dan Statemen Gubernur DKI Basuki Purnama memang benar bahwa Masyumi memang pernah ingin menggantinya dengan Piagam Djakarta, namun di alam demokrasi hal itu biasa saja, bukan sesuatu yang haram jadah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s