Monthly Archives: May 2016

Materialisme abad 19 dan quantum mechanic

Materialisme abad 19 dan quantum mechanic

Oleh Wawan Setiawan
29 Mei 2016

—–

Mengikuti adu filsafat antara philosopher eropa memang menarik. Masing masing berkarya sesuai pengetahuannya saat itu. Immanuel Kant, filsuf dari Konninberg misalnya mempercayai ilmu tanpa proses empiris atau proses inderawi. Sedangkan Rene Descartes masih mempercayai “hantu” yang mengendalikan mesin biologis.

Monism Materialism sendiri mempunyai kepercayaan bahwa benda bermassa adalah yang subtance, dan effect dari benda bermassa, bisa berupa gravitasi, adalah efek turunannya. Namun abad 20 adalah abad mekanika quantum. Dalam mekanika quantum ini, semuanya menjadi kacau, tidak ada yang bisa disebut subtance lagi, karena ternyata antara energi, partikel, wave, gravitasi itu satu, dan masing masing seperti hal yang subtance. Dalam quantum mekanika tidak ada hal yang disebut paling subtance, dualisme gelombang juga memberikan kita pencerahan bahwa antara partikel dan gelombang itu satu thing/benda namun 2 wujud.

Namun bagaimanapun kita patut berterima kasih kepada para philosopher monism materialism, karena membuka jendela pengetahuan berikutnya. Monism Materialism sendiri berbasis Newtonian Mechanic, masih dalam tahap classical mechanic. Newtonian Mechanic ini direvisi oleh sang genius Albert Einstein yang lebih detail menjelaskan tentang gravitasi.

Namun dengan hilangnya definisi subtance dalam monism materialism, bukan berarti monism materialism itu salah, hanya saja pemahaman kita semakin mendalam dan memahami bahwa di level sub-atomic, yang kita sebut subtance sudah berganti.

Monism Materialism dalam hal ini banyak membantu kita atas pemahaman nature dan manusia di abad 19. Di abad 19 kita menjadi tahu bahwa fungsi mind adalah hasil proses interaksi brain, dan tidak ada hantu lain yang berada di otak kita kecuali neuron dan neural berinteraksi yang mengakibatkan mind kita terus muncul dan bekerja.

Hal ini juga dibahas di bukunya Vladimir Lenin, bapak pendiri Komunisme Russia, dalam judulnya “Materialisme dan Empirio-Kritisme” dengan sub judul “Does Man Think With The Help of the Brain” dimana Vladimir Lenin menjelaskan adanya mind karena ada brain, brain sebagai yang subtance.

Namun seperti yang telah kita bahas, bahwa di level quantum sudah hilang batas batas substance dan efeknya, monism materialism menjadi monism fisikalisme

Kapitalisme dan tenaga kerja

Kapitalisme dan tenaga kerja
Oleh Wawan Setiawan
—-
Selama ini kapitalisme dirujuk sebagai ideologi yang bisa memakmurkan bersama karena dengan adanya kapitalisme maka menyerap tenaga kerja potensial yang lain. Namun kini abad 21, abad dimana teknologi berkembang pesat terutama bidang Artificial Intelligence. Baru baru ini, seperti dilaporkan oleh BBC dan SputnikNews, Foxconn perusahaan China yang merakit Iphone dan merek lain dari Apple dan juga Samsung, berinvestasi untuk mengganti 60000 tenaga kerjanya menjadi tenaga robot. Robot dinilai lebih efisien karena upah minimum di China naik usd 15 per jam,
Investasi ini bukan hanya Foxcon saja yang telah melakukannya, namun beberapa perusahaan di China sudah melakukan investasi robotic sebagai tenaga kerja mereka, Investasi robotic ini satu unitnya sekitar usd 35.000 dan jauh lebih produktif dan bebas dari komplain serta tidak perlu UMR/Upah Minimum Regional.
Dengan adanya fakta ini, sudah jelas bahwa kapitalisme hanya bertujuan menumpuk profit saja, dan tidak menciptakan lapangan kerja baru. Kapitalisme hanya akan mencari keuntungan yang lebih besar saja, jauh dari nilai nilai sosialisme yang mendistribusikan profit. Seperti ditulis oleh Albert Einstein dalam “Why Socialism”, memang benar bahwa gaji buruh tidak didasarkan atas profit produksi, tapi dihitung berdasar minimum keperluan hidup di suatu negara. Dengan demikian buruh akan selalu berada di titik marginal saja, dan tenaganya di eksploitasi oleh perusahaan.
Ironisnya, hal ini terjadi di China dimana sistem politik di China dipimpin oleh Partai Komunis, namun sistem ekonominya dengan demikian Kapitalis murni

New World Order – Multipolar Currency

New World Order – Multipolar Currency
Oleh Wawan Setiawan
—-
Ide ini dilempar oleh Presiden Russia Vladimir Putin, yang kecewa karena sistem perdagangan dunia hanya memakai 1 mata uang, yaitu usd Amerika, dengan demikian Amerika telah menjadi parasit bagi seluruh dunia, karena mata uangnya digunakan sebagai alat perdagangan dunia. Putin menginginkan multipolar, atau beragam mata uang untuk transaksi dunia dan reserved currency selain dengan emas

Akhir akhir ini Russia dan China juga memborong emas dunia dalam skala besar, untuk alternative cadangan devisa negara mereka. Ini membuktikan Russia dan China pelan pelan ingin meninggalkan mata uang USD.

Pelan tapi pasti, sistem ekonomi dunia berubah, usd sudah tidak digunakan di EurAsia, atau negara negara pecahan USSR, USD juga tidak digunakan di transaksi bilateral beberapa negara misal Russia dengan China, Russia dengan India, dan dari yang saya baca kemaren termasuk kerjasama bisnis antara Russia dengan Indonesia. USD juga telah ditiadakan di BRIC, Kerjasama Brazil Russia India dan China. Kemungkinan besar kerjasama ASEAN dan Russia kemaren di Sochi, juga membahas kerjasama yang tidak menggunakan mata uang USD Amerika,

Indonesia sendiri sudah cukup lama menggunakan transaksi bilateral menggunakan mata uang yuan/renminbi jika bertransaksi dengan China, atau negara ASEAN, karena Yuan/Renminbi cukup kuat dan stabil, sehingga cukup aman dijadikan mata uang kawasan, bahkan Zimbabwe menggunakan Yuan/Renminbi sebagai mata uangnya.

Dengan demikian, pelan tapi pasti mata uang dunia tidaklah terjerat ke dalam mata uang USD dan Euro saja, tapi multipolar. Sejarah Euro sebenarnya juga merupakan sejarah perlawanan mata uang eropa yg ketika itu melemah terus jika dihadapkan dengan USD, maka dibentuklah Euro agar mata uang negara negara eropa cukup stabil dan kuat jika dikomparasi dengan USD. Dalam sejarahnya 1 Euro pernah mencapai 1.4 USD, ini titik terkuat Euro.

Jika setiap negara atau kawasan ekonomi konsisten melakukan perdagangan dengan mata uang bilateral dan tidak menggunakan USD lagi, pelan tapi pasti nilai USD akan jatuh, namun tampaknya ini bukan jangka pendek, karena China, Russia juga salah satu pemegang surat utang Amerika dalam mata USD Amerika.

Misteri jatuhnya trio dunia, JF Kennedy, Khrushchev, dan Bung Karno

Misteri jatuhnya trio dunia, JF Kennedy, Khrushchev, dan Bung Karno
Oleh Wawan Setiawan

——

Tahun 1960-an memang tahun tahun romantic bagi Indonesia, di tahun inilah Bung Karno melawat ke Amerika Serikat (1961) dan ke Moscow USSR. Bung Karno dikenal secara baik oleh Presiden Amerika Serikat ketika itu John F Kennedy, dan PM USSR Nikita Khrushchev. Hubungan Indonesia Amerika dan Indonesia USSR sedang mesra mesranya. Sayang pada 22 November 1963 JF. Kennedy tewas tertembak, dan kemudian disusul jatuhnya Nikita Khrushchev pada tahun 1964 yang berani melakukan reformasi birokrasi anti Stalinis. Khrushchev pula yang memerintahkan jasad Stalin di Mausoleum dibongkar dan dikubur.

Tak pelak, Presiden Soekarno sudah tidak punya kawan akrab lagi, dan sialnya di Amerika, pengganti JF. Kennedy, Lyndon Johnson tak ramah kepada Bung Karno, bahkan terkesan memusuhi-nya. Semua kebijakan Kennedy kepada Bung Karno seolah dijungkir balikan 180 derajad oleh Lyndon Johnson. JF. Kennedy juga diduga kuat dibunuh karena krisis Kuba, dimana Amerika Serikat akan menyerbu Kuba yang Komunis, namun gagal

Dalam versi lain, disebutkan jika JF. Kennedy masih hidup, maka tidak akan ada PT. Freeport yang beroperasi di Indonesia, tapi ini adalah salah satu theori konspirasi yang berkembang atas meninggalnya JF. Kennedy.

Bung Karno sendiri jatuh pada tahun 1966, ketika keluar SUPERSEMAR, nyaris Bung Karno adalah Presiden lumpuh, karena kewenangan keamanan dan kekuasaan dibawah Jenderal Soeharto.

Apakah jatuhnya trio tokoh dunia ini disengaja atau konspirasi pihak tertentu atau memang mereka jatuh sendiri secara berurutan, saya tidak tahu, dan analisa terhadap jatuhnya 3 tokoh ini banyak sekali membawa theory konspirasi. Silakan masing masing mempercayai theory yang berkembang baik atas neninggalnya John F Kennedy, dipecatnya Nikita Khrushchev, dan Ir. Soekarno.

Hasil kunjungan Presiden Joko Widodo ke Russia

Hasil kunjungan Presiden Joko Widodo ke Russia
Oleh Wawan Setiawan

—-
Baru baru saja, Presiden Joko Widodo yang diikuti oleh sejumlah menteri, diantaranya menteri BUMN Rini Soemarno, dan menteri perikanan Susi Pudjiastuti membawa hasil yang mengejutkan dan signifikan. Rosneft, operator minyak terbesar di Russia yang pernah mengakuisisi Yukos maupun Sibneft, menawarkan kerja sama eksplorasi minyak di Russia timur. Selama ini Russia memang dianggap sebagai negara super power energi bersama Arab Saudi karena Russia mempunyai cadangan minyak terbesar nomor 8 dunia dan cadangan gas terbesar di dunia. Produksi gas dan minyak di Russia juga pernah terbesar mengalahkan Arab Saudi dengan benderanya Saudi Aramco,

Tidak disangka sekarang sudah diputuskan bahwa Oil Storage di Tuban akan dibangun oleh Pertamina bersama Rosneft, dan didalamnya ada term transfer teknologi dari Rosneft ke Pertamina. Russia sebagai negara yang masih mempunyai cadangan oil dan gas yang besar juga mengundang Pertamina untuk beroperasi di wilayahnya. Hal seperti ini seperti kebalikan dari kolonialisme abad 19, dimana negara eropa yang lebih maju menyedot sumber daya alam negara terbelakang.

Saya kira, penawaran dari negara maju untuk eksplorasi oil dan gas di wilayahnya baru di offer Russia ke Indonesia, dan kemungkinan juga China, karena China padat kapital, sedangkan Russia kaya akan mineral.

Tak pelak, kunjungan Presiden Joko Widodo ke Russia kali ini nampak membawa banyak hasil, selain perjanjian meningkatkan volume ekspor ikan dari Indonesia ke Russia dibawah menteri Susi.

Semoga dengan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Russia ini lebih mendekatkan hubungan bilateral kedua negara, baik hubungan bisnis dan politik.

Isu Komunisme dan milis apakabar

Isu Komunisme dan milis apakabar
catatan Wawan Setiawan

—-

Saya mengalami kuliah masih pada era orde baru, dimana di saat awal awal kuliah rezim orde baru baru saja membredel surat kabar tempo, editor, detik. Sebagai mahasiswa kita sulit kritis karena hampir tidak ada media yang menjembatani berpikir kritis. Terima kasih kepada John McDougall, seorang Indonesianis dari Harvard Amerika yang membuka milis apakabar, dimana milis ini pernah mencapai 250.000 users, dan menjadi satu satunya milis yang membahas politik dan ekonomi secara transparan mungkin.

Tahun tahun awal saya kuliah, juga membaca ideologi kiri melalui internet, karena buku dan bacaan ideologi kiri tidak semassive saat ini. Internet di saat saya kuliah masih menjadi barang mewah, saya mempunyai keuntungan bisa mengakses internet sesuka hati saya karena saya bekerja di perusahaan internet provider,

Tidak saya sangka, kini 23 tahun kemudian, sejak dimana saya kuliah dan masih dalam tahap “mencari” sejarah yang benar dan transparan, rezim Presiden Joko Widodo akan menangkapi siapa saja yang memperlihatkan dan mempelajari ideologi kiri. Keputusan Presiden Joko Widodo ini saya kira kemunduran yang amat sangat. Namun kini tidak perlu dibentuk milis khusus karena diskusi ideologi kiri bisa di lapak internet mana saja, tidak seperti dulu ketika saya masih kuliah hanya ada milis apakabar,

Mempelajari sebuah ideologi, semestinya dibebaskan, dan steril dari larangan larangan yang didasari ketakutan dan paranoid, apalagi setelah ideologi kiri diberangus di indonesia, cita cita sosialisme indonesia mati dan diganti rezim neoliberal yang mengalami kejayaan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Neoliberal hanya akan membawa penyakit ketimpangan, ketidakpedulian, dan penyakit teralienasi sosial, dan delusional sebagai penduduk kota. Begitu bangun tidur kita sudah dipacu untuk mencari uang, dan begitu seterusnya, disertai harga harga barang yang selalu naik.

Presiden Joko Widodo yang bukan berlatar belakang aktivis, dan berlatar belakang bisnis, tampaknya tidak terbiasa dengan dunia aktivis kampus, sehingga tampak sekali hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi agak kurang dalam pemerataan ekonomi, dan tampak kurang meresapi dunia aktivitas kampus.

Kiranya dari catatan ini, isu pelarangan Komunisme bisa ditinjau ulang dan dibebaskan untuk dikaji di kampus kampus, atau sosial media, dan biarkan berkembang sesuai takdirnya di Indonesia.

Beberapa negara seperti Russia saat ini masih mempunyai partai Komunis, meski negara berbentuk presidensial parlementer, atau dipimpin oleh seorang Presiden namun disertai Perdana Menteri dan sharing kekuasaan di Duma. Partai Komunis Russia juga menjadi partai terbesar kedua setelah United Russia, dan partai ini tumbuh positive di kalangan muda di Russia.

Demikian catatan saya, yang sungguh menyayangkan keputusan Presiden Joko Widodo, seolah membuat demokrasi negara ini mundur 25 tahun.

Roman Abramovich, Sibneft, dan Sosialisme

Roman Abramovich, Sibneft, dan Sosialisme

Oleh Wawan Setiawan

—–
Seperti kita tahu, bahwa USSR bubar pada tahun 1989, pecahan negara yang paling besar adalah Russia dan Russia yang bertanggung jawab terhadap hak dan kewajiban USSR di dunia internasional. Boris Yeltsin sebagai Presiden pertama Russia membawa ekonomi liberal, persis 180 derajad dengan ekonomi Marxisme Leninisme. Banyak aset produksi yang macet ketika USSR kolapse, namun aset produksi ini dijual sangat murah ke kalangan swasta, yang mendapat pinjaman dari luar negeri terutama Rotshchild untuk membeli perusahaan minyak.

Di zaman Boris Yeltsin, orang terkaya di Russia adalah Mikhail Khodorkovsky, yang sekarang telah pindah ke London, setelah dibebaskan dari penjara karena masalah pajak. Khodorkovsky bersama Roman Abramovich membentuk perusahaan minyak Yukos, yang kemudian dinasionalisasi oleh negara. Roman Abramovich juga pemilik Sibneft, perusahaan oil terbesar ke lima di Russia, yang kemudian pada tahun 2006 dinasionalisasi oleh negara melalui Gazprom. Nasionalisasi Sibneft ini nasionalisasi terbesar di Russia, dan juga Sberbank mengucurkan kredit terbesar dalam sejarah, yaitu sekitar usd 13 billion.

Tapi memang inilah Russia, perusahaan yang telah besar dan potensial, seperti Yukos, Sibneft, dinasionalisasi oleh negara, selain karena ini perusahaan minyak yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan konsep ini saya kira Russia meski menjalankan kapitalisme, atau membolehkan modal privat, tapi kapitalisme-nya masih dikontrol atau di-rule oleh negara.

Hal ini bisa dicontoh di Indonesia misalnya, perusahaan vital yang menyangkut hajat hidup orang banyak diberi opsi untuk dinasionalisasi 50.1% baik lewat saham public ataupun lewat saham privat. Dengan demikian kas negara bisa berasal dari pajak, dan juga berasal dari deviden perusahaan. Konsep BUMN juga tidak memungkinkan memarkirkan kapitalnya ke luar negeri, dan kapital yang dipunyai oleh BUMN bisa digunakan untuk meregulasi makro ekonomi, misalnya floating kurs.

Paham Marxisme Leninisme, memang tidak orthodox atau monoton ditafsirkan sebagai Komunisme saja. Tapi dari pemahaman yang kreatif atas Das Kapital, China, Kuba, Vietnam, Russia, mempunyai cara sendiri sehubungan dengan das kapital. Saat ini saya kira era kapital negara atau state kapital yang menguasai ekonomi dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat. Dari negara Singapore, Dubai, Arab Saudi, Qatar, mereka menggunakan state BUMN untuk menyelenggarakan sosialisme negara. Singapore dengan Temasek-nya misalnya, meregulasi ekonomi negara secara makro, dan membebaskannya secara mikro,

Meski paham Marxisme atau Kapital diterjemahkan secara berbeda beda di beberapa negara, namun ada satu kesamaan bahwa di negara yang menganut Marxisme Leninisme mempunyai Human Development Index yang cukup tinggi, Saya kira pengaruh pengaruh positive tersebut yang wajib untuk kita adopsi,