Monthly Archives: July 2016

Anies Baswedan, hari pertama sekolah dan kualitas pendidikan

Anies Baswedan, hari pertama sekolah dan kualitas pendidikan
Catatan Wawan Setiawan

—–
Menteri pendidikan Anies Baswedan akhir akhir ini membuat terobosan yang positive, yaitu menganjurkan hari pertama anak masuk sekolah diantarkan oleh orang tua. Hal ini positive, selain memberikan support ke anak dan kepedulian terhadap pendidikan anak anak. Di Russia, dari warisan USSR atau zaman komunis, hari pertama masuk sekolah adalah selalu tanggal 1 September, yang dikenal sebagai “Knowledge Day”, anak anak diantar orang tuanya sambil membawa bunga untuk menghargai gurunya yang selama ini telah mendidik mereka dengan gratis atas biaya negara. Warisan tradisi pendidikan USSR ini kemudian dilanjutkan oleh negara pecahannya seperti Russia, Kazakhtan, Ukraina, Uzbekistan dan negara pecahan lainnya.

Kiranya Anies Baswedan memang tepat menjadi menteri pendidikan, terobosan terobasannya positive. Namun di sisi lain, menurut PISA, anak anak Indonesia masih berada di ranking bawah dalam hal membaca, math, dan sains, masih kalah jauh dengan negara Vietnam misalnya. Kualitas pendidikan dan pendidikan yang merata inilah kiranya yang seharusnya menjadi PR besar bagi pendidikan di Indonesia. Kurikulum yang dirancang seharusnya sudah mengadopsi terhadap tantangan global kedepan, dan guru guru yang mengajar sudah seharusnya berkualitas, minimal S2 dan mempunyai keahlian untuk mengajar.

Memang hal ini tidak bisa berlangsung dalam sekejap, namun kiranya sejak dari sekarang hal ini menjadi perhatian bagi pendidikan di Indonesia. Masa depan Indonesia berada di tangan generasi muda dan anak anak yang saat ini sedang menempuh pendidikan dasarnya. Pelajaran budi pekerti dan toleransi sudah selayaknya diterapkan sejak dini, sebagai pelajaran tambahan pelajaran agama.

Kuantitas dan kualitas pelajaran math dan sains juga selayaknya ditambah dan diutamakan, selain diajarkan sejak dini, seperti di negara negara maju. Di Russia sendiri, pelajarannya tidak banyak tapi fokus untuk menghadapi tantangan masa depan, misalnya ada mata pelajaran tentang teknologi, karena saat ini era perkembangan teknologi yang perkembangannya maju pesat.

Akhir kata, memajukan pendidikan di Indonesia adalah keharusan, tidak mudah tapi sudah harus dilakukan semenjak sekarang, dan ini menjadi PR besar bagi menteri pendidikan Anies Baswedan yang sudah melakukan terobosan positive. Indonesia harus dibawa ke level pendidikan sekelas negara negara maju, dan tidak lagi berada di urutan terbawah nomor dua seperti peringkat PISA, setidaknya 20 besar dunia sudah lumayan.

Indonesia, Vladimir Putin dan Recep Tayyip Erdogan

Indonesia, Vladimir Putin dan Recep Tayyip Erdogan
Catatan Wawan Setiawan

—–

Kedua orang ini sama sama dikenal sebagai tokoh kemajuan di negaranya masing masing. Dibawah Vladimir Putin, Russia ekonominya membaik sejak tahun 2000 dan masuk G8 dunia atau negara dengan ekonom terbesar kedelapan dunia. Putin tidak hanya memajukan ekonomi Russia, tapi juga mengembalikan harkat dan martabat Russia di kancah Internasional. Kini Russia menjadi key faktor penyelesaian konflik di Suriah.

Racip Tayyip Erdogan juga seorang tokoh yang membawa kemajuan ekonomi di negaranya Turki. Turki mempunyai pertumbuhan ekonomi sekitar 7% dibawah Erdogan.

Namun keduanya tidak bisa lepas dari kepemimpinan diktaktor, dengan cara menangkapi para oposisi tanpa pengadilan, dan juga KKN, melibatkan keluarganya didalam bisnis negara. Dalam hal ini perbedaan keduanya hanya di level intensitas saja.

Keduanya juga sama, memiliki pendukung yang fanatik dan besar, terutama Vladimir Putin yang popularitasnya di sekitaran 80%. Putin juga sering masuk ke Forbes atau majalah Times sebagai “Man of the Year”.

Kedua pemimpin ini juga dirindukan di Indonesia, terutama Racep Tayyip Erdogan, karena isunya Erdogan akan mengembalikan kejayaan Turki semasa kekaisaran kalifah Islam Ottoman. Hal ini menarik kaum Islam yang merindukan kejayaan Islam dan Ottoman setelah lama terpuruk dengan superioritas Western.

Memang tidak bisa disangkal dibawah Erdogan, Turki mengalami kemajuan pesat, namun seperti kata kata Vladimir Putin “Siapa tidak rindu USSR maka tidak punya hati, namun barang siapa ingin kembali ke USSR maka tidak punya otak”, saya kira hal yang sama “Siapa tidak rindu kejayaan Ottoman maka tidak punya hati, namun barang siapa ingin kembali ke era Ottoman maka tidak punya otak”

Belajar dari hubungan Russia Turki, untuk Indonesia China

Belajar dari hubungan Russia Turki, untuk Indonesia China
Oleh Wawan Setiawan

——
Turki, yang saat ini sedang dalam situasi kudeta, pernah mempunyai hubungan yang sangat mesra dengan Russia. Setelah Russia konflik dengan Ukraina, termasuk adanya gas transit di Ukraine, maka Russia ingin menjadikan Turki sebagai proxy gas Russia ke Eropa, menggantikan Jerman, Turki juga sedang membangun instalasi nuklir yang dikerjakan oleh Russia. Singkat kata Russia sedang mempunyai banyak proyek di Turki.

Namun setelah adanya kasus ditembaknya pesawat SU-24 yang dianggap melanggar perbatasan Suriah Turki, Presiden Vladimir Putin tegas untuk mengusir semua warga negara Turki dari Russia, melarang orang Russia berlibur ke Turki, sampai penundaan proyek proyek strategis Russia Turki. Presiden Vladimir Putin menuntut Presiden Racip Tayyip Erdogan untuk meminta maaf atas insiden penembakan pesawat SU-24.

Tak disangka, setelah PM Turki Ahmet Davutoglu yang memerintahkan pilot pesawat F-16 Turki untuk menembak pesawat SU-24 Russia mengundurkan diri, Presiden Turki Racep Tayyip Erdogan meminta maaf kepada Russia atas insiden tersebut. Disini artinya ketegasan kepemimpinan Russia memang effective dan membawa hasil. Russia tidak segan segan menghentikan sejumlah proyek strategis Turki, apabila Turki tidak meminta maaf. Tidak hanya menghentikan sejumlah proyek saja, tapi Russia juga berani memboikot ekonomi Turki, dan mensterilkan Russia dari tenaga kerja warga negara Turki.

Hubungan seperti ini bisa dicontoh oleh Indonesia China. Saat ini China sedang mempunyai banyak proyek di Indonesia, namun Indonesia China juga berkonflik di laut China Selatan, tepatnya akan keberadaan pulau Natuna. Indonesia semestinya bisa tegas seperti Russia, berani menghentikan semua proyek China dan boikot ekonomi China apabila kedaulatan Indonesia dilanggar oleh China.

Belajar dari Russia tentang penanggulangan radikalisme Agama

Belajar dari Russia tentang penanggulangan radikalisme Agama
Catatan Wawan Setiawan
—–

Russia adalah negeri sekuler dengan umat moslem terbesar di antara negara Eropa.
Moslem Russia juga merupakan agama native atau penduduk aseli, wilayah North Kaukasus, Dagestan, Chechen, Ingush, dan beberapa wilayah lainnya. Pada tahun 1991 ketika Soviet kolapse, wilayah North Caucasus juga ingin menyatakan merdeka, namun semenjak Presiden Vladimir Putin berkuasa, Putin mengirimkan pasukan khusus atau Spetsnaz ke Chechen dimana wilayah ini sering terjadi konflik dan bom bunuh diri. Pelan tapi pasti Chechen dibangun kembali, dengan otonomi khusus namun tetap dibawa wilayah Federal Russia yang sekuler. Sampai tahun 2008, bom bunuh diri atau serangan senjata masih massive di Russia, bahkan bandara utama Demodedovo pernah mengalami serangan terroris, dan tahun 2016 ini satu pesawat Aeroflot Russia dari Mesir jatuh diduga akibat serangan terroris.

Presiden Putin menyatakan tidak ada satupun negara di dunia ini kebal terhadap serangan terroris, namun yang terpenting adalah mereduksinya. Semenjak tahun 2008 ini memang sudah jarang terdengar kasus serangan terroris di North Kaukasus, dan diduga para militan pergi ke Syiria.

Russia tampaknya tegas dalam menangani terroris dan sedikit brutal di kasus Beslan yang sampai menurunkan pasukan khusus atau Spetsnaz untuk menghadapi puluhan terrorisme yang sangat terlatih, tapi tampaknya itu pesan mujarab dari pemerintahan Russia yang tidak mau berkompromi dengan terrorisme.

Kiranya, Indonesia juga bisa meniru ketegasan Russia untuk melindungi seluruh warganya dari serangan terrorisme dengan cara tegas dalam menghadapi terrorisme.

Ditemukannya cadangan minyak terbesar di Amerika

Ditemukannya cadangan minyak terbesar di Amerika

—-
Kabar baru dari luar negeri, menurut laporan dari analis di Norwegia, Rystad Energy yang menyatakan Amerika adalah pemilik cadangan oil terbesar di dunia mengalahkan Russia dan Saudi. Dengan fakta ini, secara geopolitik, sebenarnya Amerika sudah tidak perlu melakukan politik luar negeri destabilisasi timur tengah, karena apa yang mereka cari sudah ada di negeri sendiri,

Kita akan bisa melihat, apakah fakta Amerika mempunyai cadangan oil terbesar di dunia bisa dibuktikan dengan cara melihat politik luar negeri mereka. Dulu mereka mencari sumber minyak di Timur Tengah, sehingga melakukan politik destabilisasi negara negara teluk, untuk mendapatkan konsensi sumur ladang minyak. Jika politik luar negeri Amerika masih melakukan destabilisasi kawasan Timur Tengah, tentunya ada sesuatu yang baru yang hendak mereka kuasai. Namun harapan saya, Amerika lebih konsen ke kekayaan dalam negerinya, dan fokus didalam negeri, daripada politik luar negeri mereka yang penuh terror.

Ramadhan dan bomb

Ramadhan dan bomb
Catatan Wawan Setiawan
—-

Rasanya belum pernah terjadi sebelumnya, ketika Ramadhan, terjadi bom meletus di mana mana, baik di Istanbul Turki, Baghdad Iraq, Dhaka Bangladesh, Medina Arab Saudi, maupun bom di mapolres solo. Terindikasi pelaku utama dari bom ini adalah ISIS atau Daesh. Dari membaca di BBC, kaum yang bergabung dengan ISIS juga bukanlah kaum ekonomi lemah, atau kelas menengah yang baru mualaf dan mengikuti ajaran Islam melalui video di Youtube, bukan mengaji dengan guru guru lokal.

Aksi ini diduga juga karena melemahnya ISIS atau Daesh di Syiria dan Iraq. Di Syiria markas besar mereka di Raqqa telah mulai dimasuki oleh tentara pemerintah yang loyal kepada Bashar Assad, selain juga dibantu oleh militer Russia. Sebelumnya Palmyra juga sudah jatuh ke tangan tentara pemerintah Bashar Al Assad.

Kini dengan kekuasaan yang mengecil, dan pendapatan yang jauh menurun karena penjualan oil oleh Daesh banyak dipotong dan distop oleh pemerintah Bashar al Assad dan Russia, praktis untuk menjaga eksistensi mereka Daesh melakukan serangan serangan yang parsial. Diduga ISIS telah kehilangan sekitar 20% kekuasaannya di Syiria, dan 40% di Iraq.

ISIS atau Daesh bersifat internasional, merekrut para fanatik salafi wahabi dari mana saja, termasuk dari north kaukasus Russia, Presiden Putin sendiri menyebut ada sekitar 5000–7000 jihadist Daesh dari Russia.

Dengan adanya fakta ini, baik bom Istanbul, Baghdad Iraq, Dhaka, membuat semua pihak merasa bahwa terror ISIS atau Daesh layak diperangi secara internasional. Presiden Erdogan yang sempat konflik dengan Presiden Putin akibat ditembak jatuhnya SU-24 Russia juga mulai membuka tangan untuk bersama melawan Daesh. Mungkin Turki pada awalnya juga diuntungkan oleh selundupan minyak mentah dari Daesh, namun sekarang rupanya Turki juga sadar kalau ISIS atau Daesh harus dilawan, tidak bisa dijadikan partner in crime lagi.

Mengecilnya ISIS atau Daesh juga tak lepas dari politik luar negeri Russia, yang menginginkan bahwa Suriah dikuasai secara mayoritas, dan tidak boleh ada kota yang dikuasai oleh pemberontak. Hal ini karena Russia ingin adanya Pemilu di Syiria, dan satu satunya jalan agar pemilu demokratis maka wilayah Syiria sebagaian besar harus dikuasai terlebih dahulu.

Kini, ISIS atau Daesh yang sudah terdesak melakukan strategi berbeda, yaitu melakukan bom bunuh diri secara parsial, karena ini adalah satu satunya jalan untuk menunjukan ISIS atau Daesh masih mempunyai eksistensi