Monthly Archives: August 2016

Negara, Venture Capital dan Start-Up

Negara, Venture Capital dan Start-Up
Catatan Wawan Setiawan
———
Saat ini abad 21, dimana disebut sebagai era informasi, atau “Age of Creativity”. Perusahaan start-up, istilah bagi bisnis yang sedang dibangun dari kecil bermunculan di berbagai sektor teknologi. Start-up banyak sekali bermunculan di Amerika, juga di Eropa dan di Asia terbanyak dari China. Perusahaan start-up ini yang akan menguasai masa depan, karena mereka rata rata adalah perusahaan inovasi terutama di bidang sains dan teknologi. Perusahaan start-up ini juga biasanya dibesarkan oleh venture capital, yang berani invest besar untuk masa depan. Kadangkala terkesan tidak masuk akal ketika venture capital menggelontorkan dana yang sangat besar bagi perusahaan start-up, namun era abad 21 ini ekonomi sudah bukan hanya tangible asset saja, intangible asset kadang nilainya jauh lebih besar dari tangible asset.
Intangible asset ini bisa berupa data, karena era informasi ini adalah era bagi suatu entitas yang menguasai data maka diprediksi akan menguasai masa depan. Di Forbes, 10 besar perusahaan dengan market capitalization terbesar rata rata dikuasai oleh perusahaan teknologi, misal Apple, Microsoft, Google, Facebook, ataupun Oracle. Hal ini juga menjadi bukti bahwa intangible asset nilainya bisa lebih besar dari tangible asset.
Era informasi dan teknologi ini juga mestinya merubah paradigma perusahaan strategis. Indonesia mempunyai pasal 33 UUD 1945, dimana disebut bidang strategis bagi kepentingan rakyat dikuasai oleh negara. Implementasi hal ini terutama bidang energi, oil, gas, batu bara, air, maupun listrik. Namun di abad 21 ini mestinya sudah ada perubahan paradigma, bidang IT mestinya juga sudah menjadi bidang strategis yang menguasai hajat hidup rakyat. Sebutlah mesin pencari, ataupun fasilitas email gratis. Google, mempunyai pengguna ratusan juta dan mungkin miliaran pemakai dari lintas negara. Sementara itu Russia, China, negara dengan latar belakang komunisme nasionalisme, membangun sendiri fasilitas mesin pencari dan email, dengan brand Baidu dan Yandex, serta mail.ru, karena Russia dan China menganggap bahwa informasi sangatlah penting bagi keamanan nasional.
Untuk itulah Indonesia saya kira membutuhkan start-up di bidang vital teknologi yang berkaitan dengan kepentingan nasional, dan disokong dengan venture capital dari negara. Negara bisa menjadi venture kapital bagi start-up strategis, selain menjanjikan prospek ekonomi masa depan yang bagus, ada nilai strategis bagi perusahaan IT yang bergerak di bidang strategis seperti mesin pencari ataupun fasilitas mail gratis. Data di abad 21 ini sudah menjadi hal yang sangat penting dan bidang strategis. Jika Indonesia terlambat akan kesadaran pentingnya data, maka bisa dimanfaatkan oleh perusahaan global multi nasional, dan hal ini saya pikir mengancam keamanan nasional.
Negara menjadi venture capital start-up strategis saya pikir tidaklah salah dan masih selaras dengan semangat pasal 33 UUD 1945 bahwa aset vital dikuasai oleh negara. Abad 21 ini, informasi, data, mesin pencari, email, AI, dan teknologi lainnya adalah aset vital dan sangat penting untuk keamanan nasional.

Islam di tengah tantangan zaman

Islam di tengah tantangan zaman
Catatan Wawan Setiawan


Saat ini abad 21 dimana sains dan teknologi berkembang sangat pesat, setelah didahului oleh Renaissance eropa yang diwarnai argumen adu filsafat idealisme dan materialisme. Abad 21 ini juga diwarnai dengan kemajuan teknologi editing genome hasil dari pengembangan penemuan evolusi Charles Darwin, dan juga kemajuan pesat ilmu Artificial Intelligence yang dikembangkan oleh Google, Facebook, dan pengembang lainnya.

Sementara itu terrorisme juga semakin massive, mewarnai kemunduran dunia Islam yang terjebak pada tekstual atau eksoteris. Padahal sebelum Eropa renaissance, dunia Islam telah maju terlebih dahulu, dengan golden age di era Harun Al Rasyid yang berpusat di Baghdad. Penemuan Al Jabar oleh Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa Al-Khwarizmi menjadi puncak golden age, Al Khwarizmi sangat dihormati di Eropa bahkan gambarnya diabadikan dalam sebuah perangko di negeri USSR yang Komunis dan atheistik.

Abad 21 ini Islam seolah tertinggal dengan dunia barat, jumlah saintisnya sedikit, dan sibuk memikirkan surga dan neraka, padahal seorang sufi bernama Rabiah Al-Adawiyah pernah meneriakan frasa “dengan api ini akan kubakar sorga dan dengan air ini akan kupadamkan api neraka” yang maksudnya adalah seorang muslim beribadah tidak hanya mengejar sorga saja, namun karena lebih mencintai pencipta-Nya. Puncak dari tingkatan sufism saya kira adalah Mahabbah atau cinta baik aspek vertikal atau kepada Allah dan juga horisontal atau kepada mahluk ciptaan-Nya,

Abad 21 ini saya kira banyak muslim yang terjebak kepada aspek tekstual atau eksoteris, menerjemahkan ayat ayat Allah secara literal, padahal di sekitaran abad 8-12 kaya sekali peninggalan karya karya sufistik terutama di Persia. Karya karya ini yang saat ini tidak kita gali dan kembangkan lagi, dan di sinkretiskan dengan sains dan teknologi. Membuang agama di era kemajuan pesat sains dan teknologi saya kira kurang tepat, seperti pepatah di Russia, “membuang bayi di bak mandi beserta airnya”, namun agama bisa kita modernisasi menjadi spirit baru yang mendukung pengembangan sains dan teknologi yang disertai etika.

Meski sudah mengalami renaissance, eropa juga tidak membuang agama, agama katolik dikembangkan menjadi theologi pembebasan di Amerika Selatan, hasil perkawinan antara theologi katolik dan marxism, sehingga spiritnya tetap menjadi agama yang pro terhadap kaum miskin. Hal ini bisa dicontoh oleh Islam, yaitu memodernisasi agama agar mampu menjawab tantangan zaman dan tetap menjadi spirit dari kemajuan sains dan teknologi.

Abad 21 ini juga diwarnai dengan kebangkitan ideologi salafi-wahabi secara massive yang melanda dunia, termasuk di Eropa, sehingga pandangan terhadap Islam menjadi lebih banyak negative, agama yang penuh terror dan barbarisme. Kekayaan pemikiran pemikiran sufistik nampak tenggelam di era abad 21 ini, padahal kaum sufi-lah yang mampu mengartikulasikan Islam esoteris sehingga Islam mampu menjadi spirit perkembangan zaman. Mungkin perlu dicoba untuk mengawinkan Islam esoteris sufistik dengan gairah kemajuan sains dan teknologi untuk menjawab tantangan zaman.

Visi kekuasaan dan reshuffle kabinet jilid 2

Visi kekuasaan dan reshuffle kabinet jilid 2
Oleh Wawan Setiawan
——
Reshuffle kabinet baru saja dilakukan, reshuffle ini cukup mengejutkan terutama masuknya ibu Sri Mulyani ke kabinet kerja. Ibu Sri Mulyani selama ini kita kenal sebagai pakar di bidang keuangan, namun worldview atau visinya neoliberal. Memasukan ibu Sri Mulyani kedalam kabinet kerja saya rasa tidak ada yang salah, Ibu Sri Mulyani seorang yang kapable, namun visi kekuasaan saat ini sudah mudah ditebak aromanya, lebih ber-visi ke neoliberal daripada menjalankan atau mencoba memulai langkah baru sosialisme. Pemerintah saat ini tampaknya juga lebih sibuk mementingkan angka, baik angka pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan dan angka angka lainnya. Mencermati jalannya kekuasaan saat ini, rasanya tidak ada secuil-pun niat pemerintah untuk menuju ke masyarakat sosialis.

Nawacita ataupun revolusi mental menjadi tampak hanyalah sebuah jargon, tanpa konsep yang jelas untuk menuju ke masyarakat Sosialis melalui trisakti-nya Bung Karno. Tampaknya Presiden Joko Widodo hanya bersifat reaksioner daripada revolusioner, reaktif terhadap isu isu yang sedang berkembang saja, tanpa sedikitpun visi menuju ke masyarakat sosialis seperti cita cita Bung Karno. Namun hal ini tidak dapat disalahkan karena sejak pencalonannya, Presiden Joko Widodo juga tidak menyatakan akan membangun masyarakat sosialis di Indonesia.

Membangun masyarakat sosialis di era perdagangan bebas ini tampak seperti utopia, namun sesungguhnya sangat berguna jika kita teliti dan punya tekad kuat untuk merealisasikannya. Masyarakat sosialis dibangun terutama melalui pendidikan, dibangun karakter pendidikan yang kuat, beda jauh dengan kenyataan saat ini dimana kualitas pendidikan di Indonesia sedang terpuruk.

Reshuffle jilid 2 ini juga beraroma bagi bagi kekuasaan semata, orang orang partai mulai masuk ke dalam Kabinet Kerja, sangat berbeda jauh dengan janji kampanye Presiden Joko Widodo yang tidak akan membagi kekuasaan ke partai partai pendukungnya. Sudah hampir 2 tahun kekuasaan Presiden Joko Widodo, namun visi membangun masyarakat sosialis tampaknya hanya tinggal mimpi.