Monthly Archives: October 2016

2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK

2 Tahun Pemerintahan Jokowi-JK
Catatan Wawan Setiawan

——

Pemerintahan baru, Jokowi JK sudah melampaui 2 tahun. Banyak hal yg telah dicapai, namun juga banyak hal yg malah mundur atau masih stagnan. Pencapaian terbaik pemerintahan Jokowi JK mungkin adalah Tax Amnesti yg mencetak rekor. Selain itu peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia juga melonjak 15 tingkat, menjadi tingkat 91 dunia. Pertumbuhan ekonomi juga cukup realistis, membaik menjadi 5.18% di kuartal kedua,

Perbaikan ini diantaranya didorong oleh belanja infrastrukture, dan juga mulai membaiknya harga harga komoditas dunia, dimana ekonomi Indonesia sangat bergantung thd raw material atau komoditas.

Namun angka angka, hanyalah sebagai represenyasi objective dan bisa juga subyektive terhadap masalah perekonomian. Indonesia dibawah Presiden SBY pernah mencetak pertumbuhan ekonomi 7%, namun pertumbuhan tersebut didorong oleh investasi yg masuk ke pasar modal Indonesianyang bersifat short term. Masuknya investasi dari luar negeri yang bersifat short term ke perusahan tambang sebenarnya tak lain merupakan kapitalisme modern, dimana hal ini terjadi ketika ekonomi Amerika sedang mengalami crash dan sedang recovery. Bank Central Amerika The Fed memberikan solusi kredit dengan bunga seringan ringannya agar bisa di kredit dan hasil kreditannya bisa masuk ke bursa bursa Asian yang kala itu pertumbuhannya masih menarik dan tinggi karena harga komoditas memang masih tinggi.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia 7% dikala Presiden SBY hampir tidak menyentuh faktor fundamental ekonomi, yang telah mengalami krisis keuangan. Pada periode ini, ekonomi Indonesia dikuasai oleh asing yang masuk melalui bursa, sehingga pertumbuhan ekonomi 7% tidak dirasakan oleh mayoritas masyarakat ekonomi menengah dan kecil.

Kini, setelah 2 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo, saya berharap agar Presiden tidak hanya mengejar statistik angka ekonomi semata, namun kebijakannya juga harus empower kekuatan ekonomi rakyat kecil dan menengah.

Angka angka statistik memang penting, namun harus dilihat secara holistik, misal pertumbuhan ekonomi direlasikan dengan pertumbuhan investasi riil dan non-riil, serta gini-coefficient yang mengukur tingkat kesenjangan ekonomi.

Didalam 2 tahun kepemimpinan Presiden Joko Widodo, menurut kapitalisme kroni index, Indonesia juga naik 3 peringkat menjadi peringkat ke 7 dari sebelumnya tingkat 10. Ekonomi saat ini juga dilansir bahwa 20% orang kaya di Indonesia menguasai 70% ekonomi Indonesia, sedangkan kelas menengah 40% hanya menguasai 20% ekonomi, sehingga gini ratio Indonesian telah mencapai 0.41 sejak reformasi. Pada tahun 2002 Gini rasio Indonesia masih 0.33, dan setelah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono naik pesat menjadi 0.41

Pemerataan pembangunan, dan keadilan sosial saya kira poin paling essensial dari pemerintahan Joko Widodo saat ini, dan tak lupa ekonomi riil perlu lebih digerakan kembali. Kendala ekonomi saat ini, yaitu hutang yang besar sejak era Orde Lama dan sejak dari konferensi meja bundar di Belanda memang cukup menganggu, tapi langkah pemerintah saat ini sudah tepat bahwasanya hutang untuk membangun infrastruktur dan bukan hutang konsumtif untuk memberikan subsidi minyak misalnya.

Semoga di tahun tahun berikutnya, Presiden Joko Widodo mampu melaksanakan nawacita Bung Karno dan juga membangun ekonomi sosialis ala Indonesia, ekonomi yang peran sentralnya digerakan oleh State Capital atau BUMN, dan diperlengkapi dengan kemampuan entrepreneurship warga negara Indonesia.

Advertisements

Atheisme, dari Materialisme abad 19 ke kuantum mekanika

Atheisme, dari Materialisme abad 19 ke kuantum mekanika
Catatan Wawan Setiawan

—–

Atheisme abad 19 mulai muncul sejak kemajuan ilmu fisika klasik yang dikembangkan oleh Newton, dan juga theori evolusi yang dikonsepkan oleh Charles Darwin dan Wallace. Penemuan penemuan di bidang hard sains ini memicu perkembangan filsafat, terutama materialisme yang dikembangkan oleh Ludwig Feuerbach, Karl Marx sampai Vladimir Lenin. Dalam filsafat materialisme, kita mengenal benda atau materi yang merupakan subtance, dan juga efeknya, atau setiap materi pasti memiliki gelombang. Relasi antara materi dan gelombang adalah keduanya bukan entiti yang terpisah, tapi satu entiti.

Kuantum Mekanika yang berkembang di abad 20, semakin mempertajam pandangan kaum materialisme ini, namun didalam kuantum mekanika kita tidak bisa mengatakan materi adalah yang substance, karena dalam mekanika kuantum ini relasi antara wave atau gelombang dan partikel serta energi adalah trinitias atau 3 kesatuan. Di setiap partikel pasti ada energy-nya sekaligus pasti mempunyai gelombang atau wave. Di skala partikel kuantum, kita tidak bisa lagi mengatakan bahwa partikel yang substance, dan yang lain adalah pelengkapnya saja, seringkali terjadi bahwa interaksi wave yang menjadi primary “contact”

Mekanika kuantum ini juga banyak meninggalkan misteri, misalkan superposition atau suatu partikel bisa berada di beberapa tempat sekaligus. Richard Feynman, salah satu pioneer didalam kuantum mekanika menyatakan bahwa alam semesta atau nature tersusun oleh atom atom yang terus menerus saling berinteraksi. Atheisme Richard Feynman tampaknya dari sini, atheism karena menjadi atomism seperti Demokritus, atau Epicurus di era kejayaan Yunani lama.

Di sisi lain Feynman juga menyatakan bahwa di level fundamental kuantum, maka terjadi uncertainty partikel, sehingga dari uraian ini Feynman mengatakan bahwa alam semesta “unpredictable”.

Tak pelak fisikawan genius lainnya seperti Stephen Hawking menyatakan bahwa manusia adalah seperti komputer, bila rusak hardwarenya maka hanya akan menjadi benda rongsokan tanpa adanya software lagi.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, misal rekayasa genetika dan kemajuan pesat AI setelah mempelajari dari sistem neuron manusia berinteraksi, semakin menyuburkan paham atheisme modern ini.

Kapitalisme Kroni Index

Kapitalisme Kroni Index
Catatan Wawan Setiawan
—-

Indonesia baru saja dinyatakan oleh kapitalism kroni indeks menempati ranking 8 dunia, 2 tingkat lebih buruk setelah pada tahun 2014 yang ditempatkan di nomor 10. Kapitalism kroni index, adalah suatu pengukuran suatu negara terhadap penguasaan ekonomi kapitalisme-nya oleh oligarki atau segelintir orang. Negara negara Asia banyak yang menempati ranking tertinggi seperti Hong Kong, Singapore, Malaysia, dan Indonesia.

Negara dengan kapitalism kroni indeks yang tinggi mencerminkan bagaimana kekuasaan ekonomi-nya dikuasai oleh segelintir elit oligarki. Tahun 2016 ini Russia menempati ranking pertama. Russia memang negara yang kaya sumber daya alam terutama mineral, dan biasanya negara dengan kekayaan SDA yang melimpah melahirkan kapitalisme kroni yang tinggi. Penguasa elit oligarki Russia saat ini tak lepas dari mantan anggota KGB yang berbisnis. Namun meski Russia menempati kapitalism kroni tertinggi di dunia di tahun 2016 ini, Presiden Putin tampaknya mempunyai kontrol yang kuat terhadap kroni kroninya. Hal ini pernah dibuktikan ketika Presiden Putin marah kepada Oleg Deripaska, konglomerat pemilik Rusal untuk membayar tepat waktu karyawannya.

Di Indonesia, saya pikir oligarki kroni yang lebih berkuasa dan sering mengendalikan kekuasaan resmi. Hal ini perlu menjadi perhatian kita semua, bahwa negara ini didirikan oleh founding fathers dengan mazhab ideologi sosialisme, namun kenyataannya saat ini Indonesia naik peringkat dalam hal kroni kapitalism.

Indonesia, negeri dengan demokrasi yang besar, rasanya menjadi makanan empuk bagi kalangan oligarki kroni, selain karena kaya akan raw material, masyarakatnya juga masih primitive, banyak mempercayai takhyul dan hal hal supranatural.

Dengan fakta ini, kita juga bisa melihat bahwa ekonomi Indonesia dikuasai sekelompok golongan elite saja, yang disebut kroni kapitalism. Munculnya kroni kapitalism ini saya kira tidak lepas dari politik orde baru, yang membesarkan ekonomi Indonesia melalui kroni keluarga cendana. Saat ini kroni kapitalism di Indonesia saya pikir tidak lepas dari kroni ketika orde baru berlangsung. Banyak pengusaha papan atas yang mendapat kucuran dana BLBI ketika krisis dan tanpa pertanggung jawaban yang memadai.

Untuk mengubah hal ini saya kira sulit, namun tidak apabila pemerintahan saat ini mempunyai komitmen yang kuat untuk membangun Indonesia dengan ekonomi yang adil, dan tidak menganak emaskan para oligarki kroni kapitalism.

PIlkada DKI 2017

PIlkada DKI 2017
Ahok dan musuh musuhnya

Catatan Wawan Setiawan

——-

Pilkada DKI 2017 ini terasa menarik, panas, dan menguras energy bak pilpres 2014. Hal ini tidak lepas dari kembalinya kaum Islam politik, dimana kaum ini menggunakan ayat ayat suci Al-Quran untuk menentang gubernur yang tidak seiman. Di sisi lain kaum moslem juga ada yang memihak gubernur yang tidak se-iman. Pertikaian dan adu argumentasi di ranah ini sudah ramai sehingga menenggelamkan isu isu krusial yang diwacanakan pihak pihak yang pernah belajar politik kiri atau sosialism. Kaum kiri semestinya bisa melihat bahwa ada kesewenang wenangan gubernur petahana dalam memimpin DKI terutama didalam soal soal penggusuran kaum marginal DKI. Kritik kaum kiri terhadap sewenang wenangan ini bak tenggelam dengan isu SARA yang dibawa oleh kaum agama.

Disinilah pentingnya kaum kiri konsisten untuk tetap mewacanakan kritik kritiknya terhadap gubernur petahana yang tidak memihak kaum kiri marginal. Di sisi lain calon gubernur yang ada sepertinya juga tidak ada yang pro kaum marginal, baik pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno maupun Agus-Sylviana, sehingga kaum kiri seperti tidak ada pilihan dalam mendukung pilkada DKI 2017.

Kaum kiri di Indonesia, seperti ditakdirkan selalu di luar arena dan hanya bisa mengkritik jalannya pemerintahan yang tidak sesuai dengan ideologi mereka. Tapi hal ini harus diterima dan tidak menjadi alasan untuk meninggalkan konsistensi memperjuangankan pendapatnya tentang ideologi kiri. Kiri bukan berarti komunis, tapi juga bisa sosialis demokrat, atau membela kaum Marhaen, istilah yang diciptakan oleh Bung Karno,

Bung Karno dalam mendirikan negara Indonesia telah bercita cita mendirikan negara sosialis, dimana rasanya saat ini semakin jauh dari harapan rejim sekarang yang cenderung neo liberal. Disinilah pentingnya konsistensi kaum kiri untuk selalu mengkritik jalannya pembangunan yang cenderung menafikan kaum Marhaen.

Perlukah kita pindah ke planet lain karena planet bumi kita telah rusak?

Perlukah kita pindah ke planet lain karena planet bumi kita telah rusak?
Catatan Wawan Setiawan


Akhir akhir ini banyak gagasan dan ide terutama dari fisikawan barat bahwa Bumi telah penuh dan mempunyai banyak masalah, sehingga ilmuwan mencari “way out” dengan memindah spesies manusia dan mungkin binatang ke planet Mars misalnya. Argumen ini terkesan tendensius dan ambisius, namun memang kenyataannya perlombaan explorasi angkasa luar oleh ilmuwan menuju ke arah ini,

Bumi sendiri memang akhir akhir diterpa banyak masalah seperti perubahan iklim dan gas ozone yang membuat efek rumah kaca di atmosfir. Namun manusia dan mahluk lainnya adalah hasil evolusi planet Bumi, bisa saja dan sangat mungkin dalam sejarang panjang evolusinya melibatkan material dari planet lain. Dengan demikian sesungguhnya planet Bumi-lah tempat terbaik bagi kehidupan manusia dan species lainnya untuk meneruskan evolusi-nya.

Problema yang saat ini terjadi di planet Bumi juga berkaitan dengan perkembangan sains dan teknologi manusia. Manusia sendirilah yang sebenarnya sedang merusak planet Bumi, sehingga memang manusia pada garis evolusi-nya mempunyai sifat merusak.

Mahatma Gandhi, seorang humanis dari India juga menyatakan, bahwa planet bumi cukup bagi berapa saja populasi manusia yang sederhana, namun planet Bumi tidaklah cukup bagi 1 orang yang rakus.

Mengkoloni planet lain memang sangat memungkinkan, namun ketika paham kapitalis liberal ada di otak kita, maka planet baru yang ditempati manusia juga akan bernasib sama dengan yang ada di planet bumi. Dalam hal saya pikir lebih baik kembali merawat planet Bumi dan mewariskannya ke generasi mendatang dengan baik.