Monthly Archives: January 2017

Sains modern dan Tuhan (perspektife kaum fisikawan dan sufism)

Sains modern dan Tuhan (perspektife kaum fisikawan dan sufism)
Catatan Wawan Setiawan
——

Abad 21 ini, tak pelak adalah abad sains dan teknologi, setelah sebelumnya abad 17-20 merupakan abad filsafat, terutama filsafat empirisme dan monism materialism. Di abad 21 ini, percobaan tikus dilaser neuron-nya bisa menjadi mahluk pembunuh, atau zaman ini juga diwarnai oleh percobaan dua orang berada di tempat yang jauh, yaitu di Amerika dan Brazil dan menggunakan brain computer interface, lalu dihubungkan melalui internet, mereka bisa main game bersama, atau otak mereka bisa saling terhubung. Kemajuan neurosains yang sangat pesat, kemajuan ini hasil pemikiran filsafat monism materialism abad 19, salah satunya seperti tulisan Vladimir Lenin dalam bukunya “Materialism and Empirio-Criticsm”, didalam sub-judul “Does man think with the help of the brain?”.

Filsafat monism materialism, otomatis mengeliminasi adanya ruh atau nyawa. Kepercayaan terhadap ruh atau nyawa, sering disebut sebagai kepercayaan dualism, dan dalam filsafat ini, dipercayai bahwasanya pengetahuan bisa didapat secara transendental, atau tanpa melalui indera. Filsafat dualism mempercayai adanya ruh yang mengisi dan mengendalikan body kita, seperti yang diungkapkan oleh rasionalis Rene Descartes bahwa ada “hantu” yang menghuni mesin body kita. Hal ini sangat bertentangan dengan filsafat empirisme dan monism materialism yang mempercayai bahwa segala pengetahuan kita didapat dari pengalaman atau indera dan yang disebut dengan “ruh” tak lain adalah mind yang bekerjanya atas dasar gerakan neuron otak dan neural system.

Era abad 21 ini juga memunculkan banyak ilmuwan atheis, seperti Prof. Stephen Hawking, Prof. Lisa Randall fisikawan dari Harvard, Richard Dawkins, Sam Harris, Michio Kaku, dan masih banyak lagi, termasuk Peter Higgs, fisikawan nobelis yg men-theory-kan Higgs Boson atau partikel tuhan, partikel fundamental penyusun alam semesta ini, atau partikel yang membuat benda mempunyai massa. Saat ini ilmu fisika atau banyak fisikawan atau ilmuwan yang mempercayai bahwa Big Bang terjadi dengan spontan, tanpa peran dari sang pencipta, dan peran partikel Higgs Boson sangatlah penting dalam terjadinya alam semesta ini.

Dengan kemajuan sains moder tersebut, kepercayaan terhadap Tuhan banyak dipertanyakan oleh ilmuwan dan filsuf modern saat ini, namun saya kira fungsi daripada sains tidak untuk menegasikan tentang tuhan, sains lebih berfungsi untuk menguak misteri alam semesta yang belum terpecahkan.

Tuhan masih akan tetap menjadi misteri, dan tidak terjangkau oleh akal yang dilandasi oleh logika empiris, tuhan hanya bisa dipahami oleh rasionalisme dan intuisi. Secara evolusioner, manusia mempunyai pineal gland, dimana fungsi kelenjar ini salah satunya adalah untuk memproduksi molecule DimethylTryptamine, dimana oleh ahli biologi diantaranya Dr. Rick Strassman dianggap sebagai molecule spiritual. Molecule ini pulalah yang membuat otak kita mempunya experience dengan keberadaan tuhan dan alam astral serta kondisi ecstacy spiritual.

Di abad modern ini, juga banyak fisikawan yang mempercayai konsep philosopher Yahudi Belanda Baruch Spinoza, “Deus Sive Natura” dimana alam semesta adalah Tuhan itu sendiri. Tuhan adalah alam semesta, atau Tuhan adalah hukum hukum fisika yang bekerja pada alam. Kepercayaan ini dipercayai oleh Prof. Stephen Hawking, fisikawan Albert Einstein, maupun fisikawan nobelis fisika kuantum Erwin Schrodinger. Mereka tidak mempercayai sosok tuhan personal, tapi mempercayai bahwa tuhan adalah alam semesta yang terus ber-evolusi.

Di sisi lain fisikawan kuantum Richard Feynman pernah menyatakan bahwa tuhan adalah sebutan untuk menyebut atau menjelaskan misteri alam yang belum terpecahkan oleh manusia. Dalam sejarahnya, ilmu mekanika kuantum, ilmu yang mempelajari benda mikroskopik, hasilnya sangat membingungkan atau didasari oleh uncertainty atau stochastic sehingga fisikawan Albert Einstein mengatakan “tuhan tidak bermain dadu”, namun fisikawan Niels Bohr mengatakan “Einstein, stop telling God what to do”, dan disusul oleh fisikawan Daniel M Greenberger, ““Einstein said that if quantum mechanics were correct then the world would be crazy. Einstein was right – the world is crazy.”

Tuhan memang mempunyai berbagai makna dan arti, fisikawan mempunyai pemahaman sendiri, sedangkan kaum relijius juga mempunyai tafsiran dan pemaknaan sendiri. Kaum sufi juga mempunyai pemaknaan sendiri yang kaya terhadap tuhan. Tuhannya kaum sufi banyak menghasilkan karya yang puitis, yang mengagungkan nama-Nya. Misalnya Abdul Qadir Jaelani, atau Jalaludin Rumi, membuat tarekat yang memandu kita untuk mendekat dengan tuhan dengan jalan yang unique, bahkan sampai ke level marifat. Kaum sufi saya lihat kaya akan methode tarekat, sehingga saat ini banyak sekali tarekat dengan cara praktikal yang berbeda beda namun tujuannya sama, yaitu mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun meski cara dan methode kaum tarekat berbeda beda sesuai ajaran guru mereka masing masing, kaum sufi saya kira sama halnya dalam mencapai tarekat, yaitu melalui Mahabbah, atau cinta kepada Tuhan. Kepercayaan terhadap tuhan tidak lagi karena di-iming imingi oleh sorga dan neraka lagi, dan menjalankan syariatnya bukan karena menjadi kewajiban lagi, tapi karena mahabbah atau kecintaan kita terhadap Tuhan. Singkatnya, kalau kita sudah mampu ber-mahabbah terhadap tuhan, maka kita akan mudah juga ber-mahabbah terhadap manusia lain atau sesama manusia, dan saya kira ini adalah agama yang membawa kesejukan dan kedamaian, agama yang didasari oleh mahabbah atau cinta.

Advertisements

Empirisme dan kemajuan sains

Empirisme dan kemajuan sains
Catatan Wawan Setiawan
——

Empirisme adalah filsafat di era Aufklarung Eropa yang saya kira mendapatkan tempat paling suci didalam sejarah. Empirisme menjadi filsafat yang diadopsi oleh Logika modern, logika sudah ada sejak era Aristoteles, tapi logika Yunani yang dikembangkan belum mengadopsi filsafat empirisme. Didalam filsafat agama, juga dikenal logika, namun logika didalam agama belum mengadopsi filsafat empirisme. Contohnya didalam agama islam adalah ilmu mantique, didalam premisnya tidak mensyarakatkan bahwa premis adalah hal yang empirik.

Empirisme menyatakan bahwa semua informasi masuk ke otak manusia berasal dari panca indera atau pengalaman manusia, dan tidak ada pengetahuan yang bersifat transenden atau fitrah manusia. Tokoh pemikir empirisme Eropa diantaranya adalah Thomas Hobbes, John Locke, David Hume ataupun John Berkeley. Pada perkembangannya, filsafat empirisme ini sangat menginspirasi sains abad 17-19 maupun sains modern. Menurut fisikawan Richard Feynman yang nobelis di bidang fisika, sains tanpa bisa ada pembuktian evidence secara empiris, maka bukanlah sains yang benar, Hal ini pulalah yang membuat fisikawan Stephen Hawking tidak memperoleh Nobel di bidang fisika, karena nobel di bidang fisika mensyaratkan bahwasanya penemuan harus bisa dibuktikan secara empirik, sedangkan prof. Hawking lebih banyak menggunakan mathematika didalam membahas fisika seperti black hole atau lubang hitam.

Filsafat empirik juga membawa kita ke ranah filsafat monism materialism, filsafat dimana segala sesuatunya adalah satu hal, tapi membawa beberapa konsekuensi. Seperti halnya materi dan gravitasi, tidak ada satupun materi yang tidak mempunyai gravitasi dan tidak ada satupun gravitasi yang tidak ada materi-nya. Pada era modern ini, ilmu fisika menjelaskan bahwa segala hal tersusun oleh partikel, dan setiap partikel akan mempunyai gelombang atau radiasi, dan juga energy. Dari kemajuan ilmu fisika ini, sampai ditemukannya Higgs Boson oleh fisikawan nobelis Peter Higgs, maka atheisme menjadi berkembang, karena didalam wacana fisikawan modern, alam semesta ada tanpa peran serta Tuhan.

Secara filsafat bisa dinyatakan bahwa segala sesuatunya tersusun oleh energy, materi atau benda makroskopik menurut Albert Einstein adalah energy yang dipadatkan, dan energy secara empirik tidak bisa diciptakan dan dimusnahkan, sehingga theory kreasionis atau penciptaan alam semesta mulai diragukan kebenarannya,

Lahirnya filsafat empirisme, hanya salah satu buah dari era Aufklarung atau era pencerahan eropa, filsafat empirisme didalam perkembangannya mampu merubah bagaimana cara kita berpikir sampai ke akar akarnya atau secara fundamental sekali terutama didalam perkembangan sains modern.

Russia pasca Vladimir Putin

Russia pasca Vladimir Putin
Catatan Wawan Setiawan

——-

Saat ini media internasional banyak dipenuhi berita tentang Russia terutama di Suriah. Russia memang telah masuk ke Suriah, dan ikut berperang menumpas terrorisme. Keputusan ini diambil oleh Vladimir Putin Presiden Russia tahun 2000-2008 dan tahun 2012-2016. Ketika Putin menjadi Presiden periode 2000-2008, Putin telah menyelamatkan ekonomi Russia dengan nasionalisasi perusahaan perusahaan minyak seperti Yukos dan Sibneft. Harga minyak di periode 2000-2008 juga diatas usd 100 per barrel sehingga ekonomi Russia melesat. Putin menaikan gaji 2x lipat dalam setahun selama periode tahun 2000-2008.

Tahun 2008-2012 Vladimir Putin menjadi Perdana Menteri dan Presiden dijabat oleh Dmitry Medvedev. Medvedev yang sekarang PM Russia adalah penggagas Skolkovo, kawasan IT Russia dan juga penggagas ekonomi alternatif Russia selain gas dan minyak. Medvedev sadar betul bahwa di masa depan, ekonomi Russia tidak kecanduan ekonomi minyak dan gas lagi.

Tahun 2012 Vladimir Putin menjadi Presiden kembali, dan Russia melakukan anexasi terhadap Crimea, akibat rezim di Ukraina tidak stabil, dan banyak penduduk Crimea adalah etnis Russia. Selain menganeksasi Crimea, Russia juga terlibat perang di Ukraina Timur atau DonBass. Oktober 2015 Russia atas undangan rezim Assad Suriah mulai ikut berperang di Suriah melawan pemberontak dan terrorism.

Nama Vladimir Putin disebut oleh Times dan Forbes sebagai person yang paling berpengaruh di tahun 2015 dan 2016 mengalahkan Barrack Obama Presiden Amerika. Russia juga memperlihatkan hegemony militernya sejak Soviet runtuh. Putin memang menunjukan kepiawai-annya terhadap geopolitik internasional. Rating Presiden Putin di dalam negeri juga tinggi.

Namun di balik keberhasilan Russia yang mempertunjukan hegemony militer politik kawasan, dalam negerinya banyak terimbas masalah terutama ekonomi karena sanksi dari barat dan jatuhnya harga minyak.

Presiden Putin mungkin akan mencalonkan lagi menjadi Presiden Russia di tahun 2017-2021. Russia mungkin juga akan masih berkiprah banyak di geopolitik internasional. Namun kira kira bagaimana prospek Russia pasca Presiden Putin?

Kemungkinan besar pengganti Putin adalah PM Dmitry Medvedev. Medvedev punya visi ekonomi yang bagus, yaitu ekonomi hi-tech sebagai pengganti ekonomi oil dan gas. Medvedev kemungkinan besar juga akan lebih bekerja untuk menata dalam negeri daripada menancapkan kuku militer di geopolitik kawasan. Medvedev juga lebih liberal sehingga state owned kemungkinan akan banyak di privatisasi. Russia tidak perlu khawatir pasca Presiden Putin, karena calon pengganti Putin berwawasan barat, liberal, dan lebih open minded.

Semoga Russia ketika dipimpin oleh Dmitry Medvedev nanti, mampu menjadi negara yang kuat, kuat bukan hanya di sisi militer saja, tapi juga kuat di bidang ekonomi.