Monthly Archives: March 2017

Tan Malaka

Tan Malaka
Catatan Wawan Setiawan

——-

Kiranya hampir sekitar 10 tahun lalu, apabila tidak ada sejarawan Indonesia asal Leiden Belanda, yaitu Harry A Poeze, maka kita mungkin tidak akan mengenal Tan Malaka seperti saat ini. Ketika saya mencoba melalukan pertanyaan di dua grup Facebook, pertanyaannya adalah “Siapa tokoh kemerdekaan Indonesia yg paling kalian kagumi?” sebagian besar menjawab Tan Malaka. Tan Malaka dinilai visioner, dan menjadi tokoh penting dalam memerdekakan Indonesia, dalam bukunya “Naar de Republiek Indonesia” yang ditulisnya tahun 1925 mampu menginspirasi Soekarno, Hatta dan tokoh tokoh kemerdekaan Indonesia lainnya.

Tan Malaka memang sosok visioner yg misterius, serta produktif, Tan Menulis banyak buku, diantaranya yg paling visioner adalah “Madilog”, atau “Pandangan Hidup”. Tan menyatakan didepan manusia ia adalah seorang komunis, namun di hadapan Tuhan ia adalah moslem”

Tan Malaka juga menggagas ide Pan Islamisme, meski ini bukan hal baru, tapi gagasan Tan Malaka menarik, karena mencoba mengawinkan ideologi marxisme dan Islam. Masalah penggabungan atau perkawinan Marxisme dan Islam ini juga dilakukan oleh Ir. Soekarno dalam bukunya yang terbit tahun 1926, yaitu “Nasionalisme, Agama, dan Marxisme”

Hindia Belanda atau Indonesia mayoritas penduduknya adalah moslem, sehingga hampir mustahil jika marxisme digunakan untuk menghilangkan agama nenek moyang di nusantara. Marxisme sebaiknya dikawinkan dengan ajaran agama yg progressive revolusioner, membela rakyat tertindas. Zaman pergerakan, hal ini pernah dilakukan oleh Haji Misbach atau Mas Marco Kartodikromo.

Tan Malaka dalam pandangan saya memang visioner, cerdas, dan mempunyai analisis tersendiri terhadap Hindia Belanda, sehingga Tan Malaka sering berkonflik dengan petinggi PKI seperti Musso, Alimin, Darsono. Konflik ini terjadi sudah sejak pemberontakan terhadap kolonialisme tahun 1926, di Banten dan Silungkang. Dalam pemberontakan tersebut Tan Malaka tidak mendukung sehingga membuat marah Musso, Alimin, dan Darsono. Tan Malaka akhirnya juga dipecat dari komintern atau agen komunisme international, dan Tan Malaka mendirikan organisasi baru sendiri yaitu Murba atau Musyawarah Rakyat Banyak. Hal ini kiranya yang disayangkan oleh para tokoh kiri, mengapa Tan Malaka tidak memilih membesarkan PKI saja daripada malah mendirikan organisasi Murba, mengingat Tan Malaka juga pernah menjadi ketua PKI memimpin pemogokan pegawai jawatan kereta api di Hindia Belanda, dan Tan Malaka juga pernah menghadiri komintern 4 di Moscow, salah satu pidatonya adalah tentang Pan Islamisme.

Dari ini semua, saya bersyukur karena perjuangan Tan Malaka mulai banyak dibaca, dibahas, dan menginspirasi generasi muda Indonesia, Tan Malaka tidak lagi menjadi tokoh yg dilupakan, Tan Malaka pernah mengatakan “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi”.

Drone dan perkembangan teknologi-nya

Drone dan perkembangan teknologi-nya
Catatan Wawan Setiawan

——-

Drone, atau pesawat kecil, yang semula adalah pesawat tanpa awak, dan menggunakan remote, berkembang dengan pesat. Tak hanya digunakan sebagai kepentingan militer saja, tapi Drone juga dipergunakan oleh berbagai macam kebutuhan. Misal Facebook yang ingin membangun internet.org atau internet ke penjuru pelosok, akan menggunakan Drone untuk stasiun relay-nya. Selain itu Drone untuk keperluan e-commerce juga bisa digunakan untuk menghantarkan barang yang telah kita pesan secara online.

Di Dubai, UAE drone telah digunakan sebagai taxy. Drone selain fleksibel, juga praktis jika digunakan sebagai alat transportasi baik untuk taxi seperti di Dubai, atau sebagai konsep transportasi bagi e-commerce atau menghantar barang pesanan.

Awalnya Drone adalah pesawat tanpa awak yang didalam penggunaan militer digunakan sebagai pesawat untuk pengintaian wilayah musuh. Namun perkembangan teknologi membuat Drone sekarang multifungsi. Drone saat ini juga masih berbahan bakar hidrogen, belum mampu menggunakan teknologi berbasis solar cell. Penggunaan solar cell terhadap Drone saat ini masih dalam fase pengembangan.

Demikianlah perkembangan Drone saat ini, perkembangan ini saya pikir didalam masa depan akan massive lagi. Masih banyak yang bisa didayagunakan Drone.

Indonesia, kapitalisme dan problematikanya

Indonesia, kapitalisme dan problematikanya
Catatan Wawan Setiawan

——-
Baru baru ini Oxfam, organisasi nirlaba dari Inggris, merilis data bahwa kekayaan 4 orang kaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta rakyat miskin di Indonesia. Selain itu didalam Kroni Kapitalism Index, Indonesia berada di peringkat 7. Gini Coefficient ( methode untuk mengukur kesenjangan sosial ) Indonesia juga tinggi, tahun 2016 ini mencapai 0.41

Dari data data ini, maka bisa disimpulkan bahwa ketimpangan ekonomi di Indonesia sangat tinggi. Pertumbuhan ekonomi 5% sepertinya hanya dinikmati oleh kaum tertentu saja atau kaum kaya. Pendapatan per kapita Indonesia 2015 sekitar usd 3500. Dengan angka angka ini tak pelak kemiskinan atau kesenjangan sosial di Indonesia sudah tergolong sangat berbahaya dan kronis. Selain mengalami ketimpangan sosial yang cukup ekstrem, Indonesia juga bermasalah dalam hal Sumber Daya Manusia atau SDM. Menurut data PISA, kualitas pendidikan Indonesia berada dalam urutan dua terbawah.

Tak pelak negeri ini banyak masalah, Indonesia juga merupakan negara yg terkena kutukan sebagai negara dengan kekayaan alam yang besar. Kekayaan alam Indonesia banyak yang dikelola dan dikuasai oleh asing, baik dalam hal minyak, gas, batubara atau emas yang dieksplorasi oleh PT. Freeport.

Di Indonesia, korupsi juga tergolong massive atau sudah menyebar sampai ke akar akarnya, dari level pegawai rendahan sampai pegawai yang tinggi jabatan melakukan korupsi atau menerima gratifikasi. Sebagai contoh adalah PT. Freeport, yang mengeksplorasi kekayaan emas di Papua, menurut surat kabar New York Times PT. Freeport telah memberikan kucuran dana terhadap militer dan kepolisian Indonesia, dari level jendral sampai ke level kolonel. Selain kasus ini, masih banyak kasus lainnya, contohnya KPK sekarang banyak menangkapi koruptor baik sebagai pihak penyuap dan yang disuap.

Dengan fakta ini, tidak heran kalau kemiskinan di Indonesia cukup besar dan massive, merenggangnya gap kemiskinan terjadi terutama sejak rezim liberal Presiden Yudhoyono. Presiden Yudhoyono yang meliberalkan ekonomi Indonesia, membuat harga harga semakin tinggi atau naik. Menurut Prof. Esther Duflo, akademisi dari MIT yang pernah meneliti kemiskinan di Indonesia menyatakan bahwa kenaikan harga harga pokok yg tidak terkendali di Indonesia adalah sejak tahun 2005. Pertumbuhan ekonomi di masa ekonomi liberal Presiden Yudhoyono pernah sekitar 7%, angka yang cukup tinggi, namun diduga tingginya pertumbuhan ekonomi tersebut karena banyaknya dana asing yang masuk ke bursa saham indonesia. Dana asing ini bukan masuk ke sektor riil, misal membangun industry, tapi hanya bersifat short term di bursa saham.

Kini, pemerintahan Presiden Joko Widodo dituntut untuk lebih fokus terhadap pemerataan ekonomi, selain pertumbuhan ekonomi juga penting. Dengan dibangunnya infrastruktur, diharapkan pemerataan ekonomi dan menurunnya index gini coefficient semakin terealisasi.