Monthly Archives: May 2017

Marxisme Leninisme dan Materialisme Dialektika History

Marxisme Leninisme dan Materialisme Dialektika History
Catatan Wawan Setiawan

——
Marxisme Leninisme merupakan ideologi yg dilarang di Indonesia, tapi tetap saja yg ingin tahu tentang ideologi ini juga banyak. Secara populer, Marxisme Leninisme adalah paham Komunis. Namun dalam mempelajari Marxisme Leninisme, ada filsafat–nya yg khusus, yaitu Materialisme Dialektika History. MDH merupakan alat utama analisa dalam ajaran Marxisme Leninisme. Dengan MDH ini kita membuat analisa sendiri terhadap kondisi sosial masyarakat dan waktu tertentu. Soekarno menggunakan analisa kritis MDH dan membuahkan ajaran yg bernama Marhaenisme atau juga Nasakom. Tan Malaka juga mempunyai pisau analisa sendiri thd kondisi sosial masyarakat di masanya, misalnya realita bahwa mayoritas rakyat terjajah di Hindia Belanda adalah moslem, sehingga Tan Malaka menggagas Pan Islamisme.

Dengan adanya MDH, maka Marxisme Leninisme tidaklah menjadi ajaran yang dogmatis, di China, Mao Tse Tung mempunyai analisa sendiri bahwa kaum proletariat di China adalah Petani, sedangkan dalam uraian Karl Marx dan Lenin, kaum proletariat kebanyakan adalah buruh industri. Ini karena di Eropa sudah melewati masa revolusi industri, sedangkan di China masih tradisional. Indonesia kondisinya sama dengan di China, bahwa kebanyakan kaum proletariat adalah petani, sehingga Indonesia memang mengikuti China.

Di era Nikita Khrushchev, Soviet menganggap bahwa China tidak menjalankan Komunisme, ini saya kira hanya perbedaan kaum proletariat saja, bahwa di eropa didominasi oleh buruh, sedang di China didominasi oleh kaum petani.

Saya pribadi mengakui kecerdasan Mao, karena mempunyai pisau analisa yg berbeda dengan Marxisme Leninisme di Eropa, dan Mao mencoba menggabungkan konfusianisme dengan sosialisme, ini menandakan Mao menjunjung budaya sendiri dan menggabungkannya dengan ajaran dari luar negeri.

Saya kira demikianlah Marxisme Leninisme, utamanya adalah Filsafat MDH yg menjadi pisau bedah analisa sosial masyarakat. Marxisme Leninisme janganlah dogmatis, tapi methode analisanya yg kita pakai untuk menganalisa kondisi sosial masyarakat saat ini.

Russia dan kebebasan berpendapat

Russia dan kebebasan berpendapat
Catatan Wawan Setiawan

——

Belum lama ini, ada berita dari Russia bahwa mereka melarang keberadaan dan aktifitas Saksi Yehovah di Russia. Sepintas, Russia mirip negara yang bertangan besi dan tidak punya demokrasi, namun Russia adalah negara yang mengutamakan stabilitas keamanan diatas perihal lain seperti ekonomi, politik, dlsb. Saksi Yehovah salah satu ajarannya adalah tidak membolehkan transfusi darah jika ada anggotanya yg sakit.

Di sisi lain, kampanye LGBT juga dilarang di Russia. LGBT-nya sendiri tidak menjadi masalah, tapi kampanyenya yang dilarang. Russia memang berbeda dengan negeri eropa barat dimana kebebasan berekspresi dijamin 100%, sehingga eropa barat rata rata memperbolehkan LGBT dan juga adanya sekte Saksi Yehovah.

Russia juga mempunyai UU anti Blasphemy, anda bisa ditangkap di Russia jika melakukan blasphemy atau penistaan agama, berlainan dengan eropa barat yang membolehkan blashpemy atau penistaan terhadap agama. Demokrasi di Russia memang demokrasi yang unik, tidak seliberal negara eropa barat atau Amerika, tapi demokrasi yang mengutamakan keamanan sosial atau social security.

Di bidang IT, Russia juga punya hukum yang membela kepentingan nasionalisme-nya, perusahaan besar Silicon Valley boleh membuka layanan di Russia tapi server servernya yg menyangkut informasi kewarganegaraan Russia harus di taruh di Russia.

Dengan demikian, demokrasi dan kebebasan berekspresi di Russia memang dijamin oleh konstitusi, namun masih banyak produk UU yang anti liberalisme di Russia. Russia mempunya demokrasinya sendiri, tidak secara buta membebek ke eropa barat atau Amerika.