Monthly Archives: June 2017

Mengapa kita mempelajari Marxisme Leninisme?

Mengapa kita mempelajari Marxisme Leninisme?
Catatan Wawan Setiawan

——–

Komunisme, meski telah ditinggalkan di negara negara seperti China dan Russia, namun ruh atau hakekatnya tetap dipegang oleh negara negara tersebut. Mempelajari Marxisme Leninisme atau Komunisme, tidak berarti harus menjadi Komunis, saya sendiri lebih senang menyebut diri sebagai sosialis demokrat. Mempelajari Marxisme Leninisme, sebenarnya adalah mandat sejarah, mengingat hampir semua pendiri negara Indonesia telah membaca tentang Komunisme, termasuk Soekarno, Hatta, Sjahrir, ataupun Tan Malaka. Ir. Soekarno pada tahun 1926 atau tepat di usianya yang 25 tahun telah menulis “Nasionalisme, Agama, dan Marxisme” atau sering disebut pula dengan Nasakom. Komponen orde lama juga terdiri atas kekuatan Nasakom. Selain itu Bung Karno juga sering menyebut bahwa Pancasila itu “kiri” dan kehilangan Partai Komunis Indonesia seperti kehilangan “sanak kadang”

Marxisme Leninisme saya pikir perlu dipelajari, karena unsur utama ajaran ini adalah Materialisme Dialektika History, atau pisau bedah analisis socio kulture masyarakat pada zamannya. Dengan MDH Ir. Soekarno mengenalkan apa yang disebut sebagai “Marhaen”, sebagai ganti istilah Proletariat yg lebih berkorelasi ke buruh industri di Soviet abad 19. Indonesia masih dihuni oleh mayoritas petani, dan buruh tani, sehingga Soekarno menyebut istilah Marhaen, yang diambil dari nama seorang buruh tani di Jawa Barat.

Seperti statemen Presiden Joko Widodo, bahwa Komunisme sekarang sudah banyak ditinggalkan baik di Russia maupun China, tapi Russia modern masih banyak mengadopsi konstitusi Soviet Komunis, diantaranya adalah sektor pendidikan dan kesehatan adalah hak bagi setiap warga negara yang dijamin atau diselenggarakan oleh pemerintah. China dan Russia juga banyak melakukan nasionalisasi, terutama Russia yang sempat sektor vitalnya di peivatisasi di era Boris Yeltsin, dan kemudian oleh Putin di nasionalisasi kembali, dan kebetulan harga minyak tahun 2000-2008 cukup tinggi sehingga Russia boom minyak dan mampu melunasi hutang mereka ke Paris Club pada tahun 2006

Meski saat ini Russia dan China memang menjalankan ekonomi kapitalis, tapi semangat “keadilan sosial” tetap ada dengan dikuasainya sektor vital seperti oil dan gas oleh BUMN Russia.

Marxisme Leninisme bukanlah ajaran dogmatis dan kaku, tapi suatu ajaran yang banyak dikembangkan di banyak tempat, misal di timur tengah menjadi Partai Baath yang beraliran sosialisme. Selain itu dengan adanya ekonomi yg dikuasai dan digerakan oleh BUMN, maka ini adalah mekanisme Marxisme Leninisme modern, dan BUMN secara profesional bisa melakukan privatisasi tapi jangan sampai saham pemerintah dibawah 50.1%.

Tidak ada salahnya mempelajari Marxisme Leninisme, dan siapa saja yang mempelajarinya tidak lantas menjadi Komunis, tapi “ruh” dan “hakekat” Marxisme Leninisme bisa disesuaikan dengan kompleksitas kemajuan zaman. Belajar Marxisme Leninisme setidaknya akan membuat anda kritis terhadap segala fenomena yang terjadi di dunia.

Dari Soekarno ke Tan Malaka

Dari Soekarno ke Tan Malaka
Catatan Wawan Setiawan
——

Saya mempunyai buku “Dibawah bendera revolusi” yang ditulis oleh Ir. Soekarno sudah semenjak kuliah. Buku ini menarik bagi saya, karena ditulis oleh pendiri negara Indonesia. Tidak hanya itu, saya mengupload buku “Di bawah bendera revolusi” di portal Selaras.com yg saya bangun, tujuannya agar siapa saja mudah membaca buku “Di bawah bendera Revolusi”. Saya sangat menggemari tulisan intelektualitas Soekarno, yang berusaha menggabungkan Nasionalisme, Agama dan Marxisme. Soekarno mempunyai jargon “Marhaenisme”, suatu paham yang dianalisa dengan materialisme dialektika history oleh Soekarno terhadap socio culture masyarakat kolonial.

Kekaguman saya terhadap Soekarno, terus berlangsung, sampai Harry A Poeze, sejarawan Leiden Belanda mengenalkan Tan Malaka dan mengulas sepak terjangnya. Tan Malaka banyak menulis, magnum opusnya saya kira “Madilog”, tapi Tan Malaka juga menulis “Dari Penjara ke Penjara”, karena Tan Malaka pernah dipenjara oleh Soekarno tanpa pengadilan. Ini setelah Tan Malaka membentuk Persatuan Perdjoeangan, faksi yang anti diplomasi dalam memerdekakan Indonesia.

Bagi kalangan kiri, Tan Malaka sering dicap sebagai Trotskyem, atau penganut Trotsky yang dianggap mengkhianati revolusi Komunisme Stalin. Perpecahan Stalin dan Trotsky sebenarnya adalah perpecahan politik, Stalin menginginkan komunisme nasionalisme, sedang Trotsky masih memegang amanat Vladimir Lenin bahwa Komunisme adalah internasional. Tan Malaka pernah menjadi ketua Partai Komunis Hindia Belanda dan memimpin pemogokan pegawai kereta api, tapi Tan Malaka juga tidak menyetujui pemberontakan 1926 yang disepakati di Prambanan oleh Muso, Alimin maupun Darsono. Tan Malaka juga kemudian malah mengembangkan partai Murba daripada kembali ke Partai Komunis dan membesarkannya, sehingga tak pelak cap pengkhianat atau Trotskyim disematkan terhadap nama Tan Malaka.

Namun Tan Malaka adalah seorang Marxist Leninis independen, ia berjuang melalui buku buku, ia menuangkan ide dan pemikirannya ke dalam buku buku, senjatanya adalah pena. Dengan strategi demikian nama Tan Malaka mudah untuk dikenang, karena Tan Malaka banyak menulis, dan saat ini tulisannya masih bisa dipelajari dan bersifat visioner. Tan Malaka tampaknya telah berpikir jauh kedepan, dan prinsipnya adalah “Merdeka 100 persen”

Meski Tan Malaka sudah tidak lagi berjuang di partai Komunis, namun cara pandangnya adalah sosialism indonesia, dan bagi Tan Malaka, kelompok islam yang menjadi korban kapitalisme dan kolonialisme layak untuk bersatu membentuk apa yang disebut sebagai “Pan Islamisme”

Mempelajari Tan Malaka memang menarik, dan ironi-nya nama Tan Malaka baru populer setelah sejarawan asing asal Belanda, Harry A Poeze menghabiskan waktu hidupnya khusus untuk meneliti Tan Malaka dan sepak terjangnya.

“Ingatlah, bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi”, ini adalah salah satu quote Tan Malaka yang memang terbukti, setelah beliau wafat, teriakannya menggetarkan dunia dengan ide ide-nya.

Presiden Joko Widodo dan Komunisme

Presiden Joko Widodo dan Komunisme
Catatan Wawan Setiawan

——–
Belakangan ini, Presiden Joko Widodo sering mengatakan bahwa PKI adalah anti pancasila dan layak untuk “digebuk” dan “ditendang”. Statemen dari Presiden Joko Widodo seringkali mirip brainwashed orde baru, yg menyatakan bahwa Komunisme di Indonesia anti pancasila dan PKI akan mengganti idelogi negara Indonesia, Pancasila. Saya maklum Presiden Joko Widodo cukup sibuk menjalani aktivitasnya sebagai Presiden Indonesia, tapi mungkin ada baiknya Presiden Joko Widodo memerintahkan atau membentuk suatu team yang mengkaji tentang Komunisme di Indonesia, agar Presiden Joko Widodo mendapat informasi yang benar dan akurat tentang Komunisme di Indonesia

Dalam sejarah yang saya pelajari, ketua PKI DN Aidit menerima Pancasila, dan bahkan mengatakan sila di Pancasila adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisah pisahkan. Selain itu DN Aidit bersama PNI dan partai Katolik juga membela Pancasila sebagai ideologi negara di sidang Konstituante 1959, dimana ideologi negara ditinjau kembali, dan pihak Islam politik seperti Masyumi menginginkan Piagam Djakarta kembali, namun akhirnya sidang ini ditutup dengan kembali ke Pancasila dan UUD 1945.

Saya menaruh hormat kepada Presiden Joko Widodo, tapi ada baiknya Presiden Joko Widodo seperti almarhum mantan Presiden Gus Dur, yang mempelajari apa itu Komunisme dan juga sejarah komunisme di Indonesia, dan mempunyai gagasan rekonsiliasi bagi korban tahun 1965 serta bisa mencabut Tap MPRS no 25 tentang larangan mempelajari Marxisme Leninisme. Saat ini statemen Presiden Joko Widodo saya pikir penuh dengan nuansa Orde Baru, yang Komunis Phobia, dan tidak melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap sejarah Komunisme di Indonesia. Dengan kajian yang lebih mendalam, kiranya bapak Presiden Joko Widodo akan lebih “aware” terhadap kasus 1965, dan juga lebih memahami bagaimana dinamika Komunisme di Indonesia. Bagaimanapun kaum Komunis juga berjasa dalam gerakan revolusi Indonesia, dan Partai Komunis Indonesia-lah yang menjadi Partai pertama yang memberontak terhadap pemerintah Kolonial Hindia Belanda di tahun 1926.

Bung Karno sendiri menyatakan bahwa Pancasila itu kiri, dan juga satu harmoni dengan Nasakom. Deligitimasi Komunisme saya kira dilakukan oleh rezim orde baru, dan dengan dogmatis, rezim Orde Baru menyatakan bahwa PKI berkhianat dan akan mengganti ideologi negara Pancasila, hal yang sangat kontras jika menyimak bagaimana ketua PKI DN Aidit banyak membela Pancasila.

Hal ini perlu kajian oleh kaum intelektual, dan dengan kajian yang mendalam, saya harapkan Presiden Joko Widodo bisa arif dalam menyikapi Komunisme di Indonesia selama masa pemerintahaannya dan syukur syukur bagi generasi penerusnya.