Dari Soekarno ke Tan Malaka

Dari Soekarno ke Tan Malaka
Catatan Wawan Setiawan
——

Saya mempunyai buku “Dibawah bendera revolusi” yang ditulis oleh Ir. Soekarno sudah semenjak kuliah. Buku ini menarik bagi saya, karena ditulis oleh pendiri negara Indonesia. Tidak hanya itu, saya mengupload buku “Di bawah bendera revolusi” di portal Selaras.com yg saya bangun, tujuannya agar siapa saja mudah membaca buku “Di bawah bendera Revolusi”. Saya sangat menggemari tulisan intelektualitas Soekarno, yang berusaha menggabungkan Nasionalisme, Agama dan Marxisme. Soekarno mempunyai jargon “Marhaenisme”, suatu paham yang dianalisa dengan materialisme dialektika history oleh Soekarno terhadap socio culture masyarakat kolonial.

Kekaguman saya terhadap Soekarno, terus berlangsung, sampai Harry A Poeze, sejarawan Leiden Belanda mengenalkan Tan Malaka dan mengulas sepak terjangnya. Tan Malaka banyak menulis, magnum opusnya saya kira “Madilog”, tapi Tan Malaka juga menulis “Dari Penjara ke Penjara”, karena Tan Malaka pernah dipenjara oleh Soekarno tanpa pengadilan. Ini setelah Tan Malaka membentuk Persatuan Perdjoeangan, faksi yang anti diplomasi dalam memerdekakan Indonesia.

Bagi kalangan kiri, Tan Malaka sering dicap sebagai Trotskyem, atau penganut Trotsky yang dianggap mengkhianati revolusi Komunisme Stalin. Perpecahan Stalin dan Trotsky sebenarnya adalah perpecahan politik, Stalin menginginkan komunisme nasionalisme, sedang Trotsky masih memegang amanat Vladimir Lenin bahwa Komunisme adalah internasional. Tan Malaka pernah menjadi ketua Partai Komunis Hindia Belanda dan memimpin pemogokan pegawai kereta api, tapi Tan Malaka juga tidak menyetujui pemberontakan 1926 yang disepakati di Prambanan oleh Muso, Alimin maupun Darsono. Tan Malaka juga kemudian malah mengembangkan partai Murba daripada kembali ke Partai Komunis dan membesarkannya, sehingga tak pelak cap pengkhianat atau Trotskyim disematkan terhadap nama Tan Malaka.

Namun Tan Malaka adalah seorang Marxist Leninis independen, ia berjuang melalui buku buku, ia menuangkan ide dan pemikirannya ke dalam buku buku, senjatanya adalah pena. Dengan strategi demikian nama Tan Malaka mudah untuk dikenang, karena Tan Malaka banyak menulis, dan saat ini tulisannya masih bisa dipelajari dan bersifat visioner. Tan Malaka tampaknya telah berpikir jauh kedepan, dan prinsipnya adalah “Merdeka 100 persen”

Meski Tan Malaka sudah tidak lagi berjuang di partai Komunis, namun cara pandangnya adalah sosialism indonesia, dan bagi Tan Malaka, kelompok islam yang menjadi korban kapitalisme dan kolonialisme layak untuk bersatu membentuk apa yang disebut sebagai “Pan Islamisme”

Mempelajari Tan Malaka memang menarik, dan ironi-nya nama Tan Malaka baru populer setelah sejarawan asing asal Belanda, Harry A Poeze menghabiskan waktu hidupnya khusus untuk meneliti Tan Malaka dan sepak terjangnya.

“Ingatlah, bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi”, ini adalah salah satu quote Tan Malaka yang memang terbukti, setelah beliau wafat, teriakannya menggetarkan dunia dengan ide ide-nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s