Monthly Archives: July 2017

Intangible Asset dan kapitalisme abad 21

Intangible Asset dan kapitalisme abad 21
Catatan Wawan Setiawan
——-
Mencermati ekonomi Amerika memang menarik, karena selain berbasis intangible, ekonomi Amerika juga unik. Saat ini ekonomi Amerika ditunjang oleh pinjaman dari the Fed atau bank central Amerika. Neraca perdagangan Amerika Serikat sendiri sering minus atau negative, namun mata uang mereka atau USD masih tetap kuat. Ini tak lepas dari dipakainya mata uang usd sebagai mata uang standar internasional menggantikan emas.

Ekonomi Amerika saat ini juga didominasi oleh perusahaan teknologi, biasanya perusahaan teknologi Silicon Valley mempunyai kapitalisasi yang sangat besar. Meski kapitalisasinya berbasis intangible, namun ternyata sistem ini berjalan dengan baik. Sebagai contoh adalah perusahaan Facebook, yang IPO tahun 2012 dengan harga saham sekitar usd 38 dan pernah turun ke level usd 10-15, namun saat ini ditahun 2017 Facebook mencatatkan harga sahamnya sebesar sekitar usd 162. Alibaba yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Yahoo, disebut sebagai pemecah rekor IPO, ketika IPO pada tahun 2014 harga sahamnya usd 58, namun saat ini harga saham Alibaba tercatat sudah menjadi usd 152, atau dalam 3 tahun sudah menjadi 3x lipatnya.

Perusahaan yg tidak mendapatkan profit seperti Whatsapp juga mempunyai nilai kapitalisasi pasar sebesar usd 19 billion, kapitalisasi ini karena Whatsapp digunakan oleh banyak member atau pengguna seperti juga dengan Facebook.

Intangible asset inilah yang menjadi dasar nilai kapitalisasi perusahaan IT sangat tinggi. Saat ini tercatat perusahaan IT Apple yang mempunyai kapitalisasi tertinggi, demikian juga dengan Microsoft, Amazon, IBM dan juga Google. Nilai intangible ini telah mengalahkan nilai tangible perusahaan, semisal Exxon Mobile atau Freeport, kapitalisasinya masih dibawah Apple.

Saat ini di Indonesia saya pikir juga mulai berparadigma dengan nilai intangible ini. Hal ini bisa dilihat dari investor Go Jek, start-up aplikasi transportasi online, asal Indonesia yg disuntik dana hingga trillionan. Go-Jek saya kira akan masuk ke bursa saham Indonesia dan mengkapitalisasi nilai intangible-nya sebagai perusahaan nomor satu dibidang transportasi online di Indonesia. Dalam catatan, valuasi Go-Jek saat ini juga telah menyalip valuasi perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Dengan adanya bursa saham yg menitikberatkan terhadap nilai kapitalisasi atau intangible asset, maka di Amerika maupun Indonesia ada orang kaya yg profesinya sebagai investor atau pemilik saham perusahaan yg melantai di bursa saham. Di Amerika sebagai contoh ada investor Carl Icahn yg merupakan penasehat Presiden Donald Trump, Icahn juga pemilik Freeport maupun saham Apple, serta perusahaan IT lainnya seperti Facebook.

Saat ini, kapitalisme juga sudah berubah wajahnya, dari kapitalisme era abad 18-19 maupun abad 20 yg mengutamakan penguasaan sumber daya alam, ke kapitalisme abad 21, ini diwarnai dengan kapitalisasi perusahaan yg mampu melakukan inovasi teknologi terutama di sektor IT. Di tahun 2017 ini, perusahaan dengan kapitalisasi terbesar adalah Apple, disusul dengan Microsoft, kemudian Alphabet atau Google dan kemudian Amazon. Era kapitalisme abad 21 ini diwarnai dengan penggelembungan super terhadap aset intangible atau inovasi. Perusahaan akan bernilai naik jika mampu melakukan inovasi atau mengakuisisi start-up atau perusahaan inovasi. Dengan demikian kapitalisme abad 21 telah bergeser dari kapitalisme dan penguasaan sumber daya alam ke kapitalisme atau penguasaan inovasi teknologi.

Advertisements

Amerika dan Ironi-nya

Amerika dan Ironi-nya
Catatan Wawan Setiawan
——
Selama ini, kita melihat bahwa negeri Amerika sering memaksakan sistem-nya yg demokratis dan cenderung liberal ke negara lain, terutama Timur Tengah, maupun ke Amerika Selatan dan negara mana saja yg menjalankan diktatorisme. Amerika adalah negeri yang unik, negeri dengan ekonomi liberal dan ekonomi intangible. Amerika juga yang mempelopori adanya “free trade” meski sekarang oleh Presiden Donald Trump, kabarnya “free trade” akan ditinjau kembali, karena Amerika kalah perang dagang dengan China. Ekonomi Amerika boleh dibilang unik, selain hutang per GDP-nya yang sudah mencapai 100%, mereka bisa hutang terhadap ‘The Fed’ atau Bank Central-nya, dan loan tersebut dengan bunga yang super murah, sekitar 0.25-1% saja. Ekonomi Amerika juga ditunjang oleh nilai tukar USD yang menjadi mata uang global bagi sistem ekonomi yg sedang berlaku saat ini.

Ekonomi Amerika juga melandaskan terhadap hal hal yang persepsional, sehingga intangible asset atau nilai kapitalisasi perusahaan bersifat intangible, terutama perusahaan di bidang IT. Saat ini Apple yang dianggap sebagai perusahaan dengan kapitalisasi terbesar di dunia, dengan nilai asset atau intangible assetnya sekitar usd 450 billion. Facebook, yang baru berdiri sekitar 10-15 tahun lalu, tercatat mempunyai intangible asset yang sangat tinggi, pemasukan Facebook dalam quarter pertama tahun 2017 tercatat hanya sekitar usd 3b saja, namun nilai saham Facebook telah mampu mendongkrak Mark Zuckerberg pemilik saham terbesar Facebook menjadi orang terkaya nomor 5 versi majalah Forbes. Facebook mempunyai kapitalisasi yang sangat besar karena Facebook telah menjadi perusahaan “Big Data”, yang mempunyai pelanggan 2 milliar, serta aplikasi WhatsApp yang mayoritas banyak dipakai oleh netter

Ekonomi Amerika jelasnya berjalan secara unik, tidak sama dengan negara negara lainnya, negara lain akan mengalami inflasi dan devaluasi bila Bank Central-nya mencetak uang sendiri seperti yang pernah dilakukan oleh Bank Indonesia di era Soekarno, tapi khusus Amerika, mereka bisa meminjam dana atau mencetak uang dari central bank “The Fed” dengan jumlah yang super, atau tahun ini berkisar usd 16-18 trillion.

Amerika, ketika krisis global juga mempunyai policy untuk membantu rakyatnya untuk mendapat keuntungan, misal “The Fed” yang memberikan kredit sangat murah, dan kemudian hasil dari meminjam dana bisa di-investasikan di negara berkembang atau seperti Indonesia, yang mempunyai Bursa Saham yg cukup menarik, karena banyak sekali perusahaan raw material yg listing di bursa saham Indonesia.

Ketika krisis global, memang banyak sekali aliran dana dari luar negeri di sektor financial, sehingga ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 7%, namun pertumbuhan ini mayoritas dipicu oleh investasi di sektor finansial atau non-riil. Setelah ekonomi Amerika membaik, dana yg masuk ke bursa efek Indonesia juga kemudian ditarik atau pulang, namun tentunya sudah mendapat keuntungan dari bursa saham Indonesia.

Melihat bagaimana sistem ekonomi Amerika berjalan, maka kita tidak bisa melakukan komparasi atau meniru begitu saja, karena beberapa hal yang unik dari sistem ekonomi Amerika.

Dengan demikian, ekonomi liberal yang dipromosikan oleh Amerika layak kita renungkan dan kaji, apakah ekonomi liberal cocok bagi negara seperti Indonesia?

Perkembangan Kapitalisme China

Perkembangan Kapitalisme China
Catatan Wawan Setiawan
—–

China, meski sistem politiknya masih Komunis dan hanya mempunyai partai tunggal, yaitu Partai Komunis China, yang dulu pendiriannya juga dibantu Henk Sneevliet, agen komintern kepercayaan Vladimir Lenin, namun di era Deng Xiaoping, yang mempunyai slogan “tidak peduli kucing berwarna putih atau hitam, yg penting bisa menangkap tikus”, maka China berubah menjadi negara kapitalis. Sebelumnya di era tahun 1980-an kita mengenal China sebagai negara tirai bambu karena tertutup, namun setelah era 1990-an China menjadi terbuka dan siap menghadapi globalisasi dan free trade.

Majalah Forbes, yang berasal dari Amerika, menyatakan bahwa China saat ini menyumbang konglomerat atau orang kaya kedua setelah Amerika. Di dalam daftar 100 orang terkaya di dunia, China adalah negara kedua yang mempunyai konglomerat yang masuk kedalam daftar.

Munculnya konglomerasi China agak berbeda dengan konglomerasi Amerika, apabila Amerika benar benar menjalankan ekonomi liberalisme, maka China masih menjalankan ekonomi yang secara makro masih dikontrol oleh pemerintah China. Misal dalam mata uang Yuan, pemerintah China justru merendahkan nilai-nya agar bisnis di China mampu bersaing didalam ekspor. Selama ini pemerintah China juga sangat menyokong bisnis di China agar kompetitif, misal dalam supply harga listrik yg cukup murah, agar industri di China kompetitif.

Perkembangan kapitalisme China ini di satu sisi sangat membanggakan, karena mampu menjadi negara raksasa ekonomi dunia, dan menjadi negara terbesar ekonomi kedua dunia setelah Amerika, namun di sisi lain jurang kesenjangan ekonomi di China juga semakin tinggi. Gini Co-efficient China diperkirakan sekitar 0.45 atau yg terburuk di dunia. 1% populasi orang kaya di China memegang sepertiga ekonomi di China, dan 25% rakyat miskin di China hanya menguasai sekitar 1% ekonomi.

Tentunya hal ini memprihatinkan, karena sesuai cita cita Presiden China Xi Jin Ping, bahwa China memiliki “China Dream”, yaitu secara kolektif makmur bersama

Mungkin persis di Indonesia juga, bahwa PR pemerintah saat ini adalah meratakan hasil pembangunan dan memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Referensi:
https://www.ft.com/content/3c521faa-baa6-11e5-a7cc-280dfe875e28