Amerika dan Ironi-nya

Amerika dan Ironi-nya
Catatan Wawan Setiawan
——
Selama ini, kita melihat bahwa negeri Amerika sering memaksakan sistem-nya yg demokratis dan cenderung liberal ke negara lain, terutama Timur Tengah, maupun ke Amerika Selatan dan negara mana saja yg menjalankan diktatorisme. Amerika adalah negeri yang unik, negeri dengan ekonomi liberal dan ekonomi intangible. Amerika juga yang mempelopori adanya “free trade” meski sekarang oleh Presiden Donald Trump, kabarnya “free trade” akan ditinjau kembali, karena Amerika kalah perang dagang dengan China. Ekonomi Amerika boleh dibilang unik, selain hutang per GDP-nya yang sudah mencapai 100%, mereka bisa hutang terhadap ‘The Fed’ atau Bank Central-nya, dan loan tersebut dengan bunga yang super murah, sekitar 0.25-1% saja. Ekonomi Amerika juga ditunjang oleh nilai tukar USD yang menjadi mata uang global bagi sistem ekonomi yg sedang berlaku saat ini.

Ekonomi Amerika juga melandaskan terhadap hal hal yang persepsional, sehingga intangible asset atau nilai kapitalisasi perusahaan bersifat intangible, terutama perusahaan di bidang IT. Saat ini Apple yang dianggap sebagai perusahaan dengan kapitalisasi terbesar di dunia, dengan nilai asset atau intangible assetnya sekitar usd 450 billion. Facebook, yang baru berdiri sekitar 10-15 tahun lalu, tercatat mempunyai intangible asset yang sangat tinggi, pemasukan Facebook dalam quarter pertama tahun 2017 tercatat hanya sekitar usd 3b saja, namun nilai saham Facebook telah mampu mendongkrak Mark Zuckerberg pemilik saham terbesar Facebook menjadi orang terkaya nomor 5 versi majalah Forbes. Facebook mempunyai kapitalisasi yang sangat besar karena Facebook telah menjadi perusahaan “Big Data”, yang mempunyai pelanggan 2 milliar, serta aplikasi WhatsApp yang mayoritas banyak dipakai oleh netter

Ekonomi Amerika jelasnya berjalan secara unik, tidak sama dengan negara negara lainnya, negara lain akan mengalami inflasi dan devaluasi bila Bank Central-nya mencetak uang sendiri seperti yang pernah dilakukan oleh Bank Indonesia di era Soekarno, tapi khusus Amerika, mereka bisa meminjam dana atau mencetak uang dari central bank “The Fed” dengan jumlah yang super, atau tahun ini berkisar usd 16-18 trillion.

Amerika, ketika krisis global juga mempunyai policy untuk membantu rakyatnya untuk mendapat keuntungan, misal “The Fed” yang memberikan kredit sangat murah, dan kemudian hasil dari meminjam dana bisa di-investasikan di negara berkembang atau seperti Indonesia, yang mempunyai Bursa Saham yg cukup menarik, karena banyak sekali perusahaan raw material yg listing di bursa saham Indonesia.

Ketika krisis global, memang banyak sekali aliran dana dari luar negeri di sektor financial, sehingga ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 7%, namun pertumbuhan ini mayoritas dipicu oleh investasi di sektor finansial atau non-riil. Setelah ekonomi Amerika membaik, dana yg masuk ke bursa efek Indonesia juga kemudian ditarik atau pulang, namun tentunya sudah mendapat keuntungan dari bursa saham Indonesia.

Melihat bagaimana sistem ekonomi Amerika berjalan, maka kita tidak bisa melakukan komparasi atau meniru begitu saja, karena beberapa hal yang unik dari sistem ekonomi Amerika.

Dengan demikian, ekonomi liberal yang dipromosikan oleh Amerika layak kita renungkan dan kaji, apakah ekonomi liberal cocok bagi negara seperti Indonesia?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s