Intangible Asset dan kapitalisme abad 21

Intangible Asset dan kapitalisme abad 21
Catatan Wawan Setiawan
——-
Mencermati ekonomi Amerika memang menarik, karena selain berbasis intangible, ekonomi Amerika juga unik. Saat ini ekonomi Amerika ditunjang oleh pinjaman dari the Fed atau bank central Amerika. Neraca perdagangan Amerika Serikat sendiri sering minus atau negative, namun mata uang mereka atau USD masih tetap kuat. Ini tak lepas dari dipakainya mata uang usd sebagai mata uang standar internasional menggantikan emas.

Ekonomi Amerika saat ini juga didominasi oleh perusahaan teknologi, biasanya perusahaan teknologi Silicon Valley mempunyai kapitalisasi yang sangat besar. Meski kapitalisasinya berbasis intangible, namun ternyata sistem ini berjalan dengan baik. Sebagai contoh adalah perusahaan Facebook, yang IPO tahun 2012 dengan harga saham sekitar usd 38 dan pernah turun ke level usd 10-15, namun saat ini ditahun 2017 Facebook mencatatkan harga sahamnya sebesar sekitar usd 162. Alibaba yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Yahoo, disebut sebagai pemecah rekor IPO, ketika IPO pada tahun 2014 harga sahamnya usd 58, namun saat ini harga saham Alibaba tercatat sudah menjadi usd 152, atau dalam 3 tahun sudah menjadi 3x lipatnya.

Perusahaan yg tidak mendapatkan profit seperti Whatsapp juga mempunyai nilai kapitalisasi pasar sebesar usd 19 billion, kapitalisasi ini karena Whatsapp digunakan oleh banyak member atau pengguna seperti juga dengan Facebook.

Intangible asset inilah yang menjadi dasar nilai kapitalisasi perusahaan IT sangat tinggi. Saat ini tercatat perusahaan IT Apple yang mempunyai kapitalisasi tertinggi, demikian juga dengan Microsoft, Amazon, IBM dan juga Google. Nilai intangible ini telah mengalahkan nilai tangible perusahaan, semisal Exxon Mobile atau Freeport, kapitalisasinya masih dibawah Apple.

Saat ini di Indonesia saya pikir juga mulai berparadigma dengan nilai intangible ini. Hal ini bisa dilihat dari investor Go Jek, start-up aplikasi transportasi online, asal Indonesia yg disuntik dana hingga trillionan. Go-Jek saya kira akan masuk ke bursa saham Indonesia dan mengkapitalisasi nilai intangible-nya sebagai perusahaan nomor satu dibidang transportasi online di Indonesia. Dalam catatan, valuasi Go-Jek saat ini juga telah menyalip valuasi perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Dengan adanya bursa saham yg menitikberatkan terhadap nilai kapitalisasi atau intangible asset, maka di Amerika maupun Indonesia ada orang kaya yg profesinya sebagai investor atau pemilik saham perusahaan yg melantai di bursa saham. Di Amerika sebagai contoh ada investor Carl Icahn yg merupakan penasehat Presiden Donald Trump, Icahn juga pemilik Freeport maupun saham Apple, serta perusahaan IT lainnya seperti Facebook.

Saat ini, kapitalisme juga sudah berubah wajahnya, dari kapitalisme era abad 18-19 maupun abad 20 yg mengutamakan penguasaan sumber daya alam, ke kapitalisme abad 21, ini diwarnai dengan kapitalisasi perusahaan yg mampu melakukan inovasi teknologi terutama di sektor IT. Di tahun 2017 ini, perusahaan dengan kapitalisasi terbesar adalah Apple, disusul dengan Microsoft, kemudian Alphabet atau Google dan kemudian Amazon. Era kapitalisme abad 21 ini diwarnai dengan penggelembungan super terhadap aset intangible atau inovasi. Perusahaan akan bernilai naik jika mampu melakukan inovasi atau mengakuisisi start-up atau perusahaan inovasi. Dengan demikian kapitalisme abad 21 telah bergeser dari kapitalisme dan penguasaan sumber daya alam ke kapitalisme atau penguasaan inovasi teknologi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s