Monthly Archives: September 2017

Belajar Marxisme Leninisme dan filsafat MDH

Belajar Marxisme Leninisme dan filsafat MDH
Catatan Wawan Setiawan
——

Abad 18-19 di Eropa diramaikan oleh paham yang ditulis oleh Karl Marx, yaitu Communist Manifesto, Karl Marx menulis “ada hantu berkeliaran di eropa, hantu komunisme”. Saya pribadi tertarik membaca tentang serba serbi komunisme sejak mahasiswa, dengan membaca buku dan mengakses via internet. Komunisme dari kaca mata saya tak lain adalah solusi Karl Marx didalam menghadapi revolusi industri di eropa abad 18-19 dimana buruh mayoritas dihisap keringatnya oleh para pemilik modal atau para pemilik industri.

Vladimir Lenin, penulis 55 buku jilid Komunisme, menyatakan didalam 3 pilar Marxisme Leninisme, yang pertama adalah filsafat MDH atau Materialisme Dialektika History. Dengan filsafat ini maka kita bisa menganalisis sejarah sebuah bangsa. Soekarno, dan para founding fathers lainnya, juga tak lepas mempelajari filsafat MDH, sehingga melahirkan ajaran baru yang dinamakan Marhaenisme. Kalau di Eropa kaum tertindas banyak yang berasal dari kaum buruh industri, di China dan Indonesia mayoritas adalah kaum petani. Marhaenisme adalah pengembangan dari tulisan Ir. Soekarno tentang “Nasionalisme, Agama, dan Marxisme”. Marhaenisme diambil dari nama petani miskin di Jawa Barat yang kehilangan sawahnya dan menjadi buruh tani saja.

Dengan filsafat MDH ini, kita menjadi tidak hanya dogmatis meniru Komunisme Soviet atau negara lain, tapi bisa mengembangkan sendiri sesuai corak, budaya dan sejarah sebuah negara dengan segala keunikannya. Dengan MDH ini, di negara seperti Jerman dan eropa barat, mereka lebih mengembangkan paham Marxisme Leninisme ke Sosial Demokrat, atau tepatnya negara memberi jaminan sosial atas pendidikan maupun kesehatan. Dengan demikian mempelajari Marxisme Leninisme tidak harus dogmatis sesuai apa yang ditulis oleh Karl Marx dan Lenin, tapi lebih membuat kita berpikir kritis dan mampu mengembangkan ide ide dari Karl Marx maupun Lenin yang tujuannya adalah keadilan sosial dan menciptakan masyarakat tanpa kelas.

Tan Malaka didalam banyak karyanya, termasuk magnum opusnya yaitu “Madilog”, tampaknya juga sangat dipengaruhi oleh filsafat MDH ini, Tan Malaka dengan cerdasnya mampu mengembangkan sendiri paham komunisme yg cocok dengan indonesia, diantaranya ide menggabungkan Komunisme dan Pan Islamisme, ataupun karya-nya Madilog yg menganalisis bahwa masyarakat Indonesia mayoritas masih percaya dengan kepercayaan takhyul. Tan Malaka juga mampu mendirikan partai kiri yang mandiri, yaitu partai Murba, partai yang tidak terikat dengan komunisme negara lain.

Dengan demikian, jika kita mengambil saripati-nya pemikiran Marx dan Lenin yaitu filsafat MDH, kita akan menemukan bahwa abad 21 ini sudah merupakan abad kemajuan teknologi, dimana robot yg menggantikan peran manusia sebagai tenaga kerja. Analisis dan solusi di abad 21 ini tentunya sudah beda lagi dengan solusi komunisme abad 18-19. Tantangan zamannya sudah berbeda tapi kita mencari solusi yang sama, yaitu keadilan sosial.

Advertisements

Infrastruktur atau SDM

Infrastruktur atau SDM?
Catatan Wawan Setiawan
———

Saya sangat mengapresiasi kinerja bapak Presiden Joko Widodo, dibawah kepemimpinan bapak Joko Widodo, Indonesia mempunyai jargon “Kerja, kerja, dan kerja”. Bapak Presiden Joko Widodo juga aktif membangun infrastruktur, terutama jalan tol. Menurut Bapak Presiden Joko Widodo, pembangunan infrastruktur ini agar membuat ekonomi efisien dan mampu bersaing di kancah global. Hal ini tidak salah sama sekali, dan memang benar infrastruktur itu penting dan berperan sebagai efisiensi ekonomi. Namun infrastruktur menjadikan ekonomi efisien jika produknya adalah produk umum atau disebut komoditas atau komoditi.

Abad 21 ini, kita melihat bahwa dunia dikuasai oleh Amerika, khususnya produk Silicon Valley. Kita mengenal Facebook, Google, Youtube, Microsoft, Whatsapp, Iphone, dan hampir 130 juta rakyat Indonesia terkoneksi dengan Internet yg pertama kali dibuat atau didesain oleh DARPA Amerika. Penguasaan sektor IT tidak hanya membuat Amerika menguasai dunia, tapi mereka para boss perusahaan IT juga menguasai daftar orang kaya di majalah Forbes, nomor satu ditempati oleh Boss Microsoft Bill Gates, dan nomor dua ditempati boss Amazon Jeff Bezos, selain itu ada Mark Zuckerberg boss Facebook di peringkat ke lima. Mereka adalah para Innovator atau pembuat produk baru yg bersifat market driven atau menciptakan market. Didalam buku “Blue Ocean” terbitan Harvard, Inovasi yg bersifat market driven akan menjadi uncompeted produk, atau menjadi produk yg tidak tersaingi, karena mereka membentuk market baru yang sebelumnya belum ada. Didalam dunia inovasi ini kita bisa melihat produk aplikasi semacam Facebook atau Whatsapp yang belum mencetak uang, tapi mempunyai kapitalisasi hingga 22 billion usd. Inovasi inilah yg membuat perusahaan teknologi di Amerika mempunyai kapitalisasi tinggi, dari Apple, Microsoft, Facebook, hingga Google dan perusahaan IT lainnya. Di dalam negeri kita bisa melihat kapitalisasi perusahaan Go-Jek yang dipersepsi lebih mahal daripada perusahaan BUMN Garuda Indonesia maupun taksi Blue Bird yang banyak mempunyai asset.

Baru saja, di hari Knowledge Day atau hari pertama masuk sekolah bagi pelajar di Russia, Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa siapa saja atau negara mana saja yang menguasai bidang Artificial Intelligence atau AI maka akan menguasai dunia. Presiden Putin melanjutkan bahwa di masa mendatang perangkat militer akan banyak diisi oleh Drone, pesawat tanpa awak yang diremote dari darat. Perang modern akan banyak melibatkan Drone yg bertempur. Pernyataan Presiden Putin ini sangat cermat dan visioner, karena apa saja saat ini menggunakan teknologi AI, termasuk kemajuan industri otomotif yang memproduksi mobil otomatis tanpa perlu sopir lagi atau “driverless car”.

Melihat dinamika internasional ini, mungkin Indonesia bisa mengambil pelajaran, bahwa pengembangan SDM itu sangat penting, bahkan lebih penting daripara pembangunan infrastruktur, SDM yang berkualitas akan mampu melakukan industri ekonomi kreatif berbasis inovasi. Inovasi-lah yang berhasil merubah dunia, dan inovasi yang membedakan antara leader dan follower, atau pemimpin dan pengikut. Amerika menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia, tak lepas dari industri dan inovasi yang telah mereka lakukan, diantaranya adalah penemuan internet ini.

Mengurai masalah ekonomi di Indonesia

Mengurai masalah ekonomi di Indonesia
Catatan Wawan Setiawan
————–

Indonesia dimerdekakan oleh Founding Fathers, khususnya Soekarno dan Hatta, dengan mengedepankan jiwa sosialisme. Sosialisme memang suatu ideologi yg lagi trend diabad 18-19, sehingga para founding fathers seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, ataupun HOS Tjokroaminoto semua telah membaca Das Kapital, dan telah sepakat mendirikan negeri Sosialis Indonesia.

Namun dalam perjalanannya, sungguh tidak mulus, banyak sekali terjadi gangguan, misal tragedi separatisme di Indonesia, dan puncaknya Soekarno dipreteli kekuasaannya dan diganti era Orde Baru yg dimotori oleh Soeharto. Di era Soeharto, Indonesia bisa mulus membangun karena selain adanya stabilitas yg diciptakan dengan beking tentara, era Orde Baru juga diwarnai era booming oil dan gas, dan Indonesia telah menjadi salah satu negara anggota OPEC atau pengekspor oil. Ekonomi di era Soeharto berkembang, namun juga diwarnai banyak kebocoran dan oligarki karena Soeharto berkiblat ke barat yg liberal didalam membangun ekonomi.

Setelah Soeharto jatuh, Indonesia rupanya masih terbawa dengan aura Orde Baru, penyakit korupsi masih massive dimana mana. Ini saya pikir adalah salah satu penyakit besar didalam pembangunan ekonomi yg berkeadilan sosial, selain itu di era Soeharto yg telah melahirkan oligarki kapitalisme, banyak sekali taipan raw material atau bahan mentah yg berhasil kaya karena mengeruk kekayaan negara Indonesia. Sayangnya hal ini tidak diikuti dengan kesadaran membayar pajak yang baik, banyak taipan atau oligarki kapitalisme yang menggelapkan pajak, dan juga memarkir kapital atau dana mereka di luar negeri. Untuk itulah pemerintahan Presiden Joko Widodo mengadakan Tax Amnesty agar kapital atau modal dari dalam negeri balik lagi ke Indonesia dan tidak terparkir di luar negeri khususnya di negara tax haven.

Masalah ekonomi lainnya, diantaranya adalah BUMN Indonesia yg cenderung masih menjadi sapi perah dan tempat korupsi yg massive. BUMN belum profesional, mungkin untuk bisa profesional, BUMN harus melakukan privatisasi hingga 49% ke pihak swasta.

Boleh dirangkum, masalah masalah ekonomi di Indonesia, diantaranya adalah
– Kesadaran membayar pajak, dan masih banyak oligarki kapitalis yg menggelapkan pajak. Saat ini menurut Sri Mulyani, atau menteri keuangan, penerimaan negara dari pajak masih jauh dari target.
– Kapital Flight, atau diparkirkannya modal atau kapital para oligarki kapitalis di luar negeri.
– Korupsi yg massive, dari pejabat tinggi sampai ke tingkat desa.
– BUMN yg belum profesional dan masih menjadi ajang korupsi para pejabat.

Indonesia diharapkan bisa kembali ke tujuan para pendirinya, yaitu menjadi negeri welfare state, atau sosialis, dan mampu mengembangkan kemampuan warga negaranya diantaranya dengan subsidi pendidikan atau kesehatan gratis. Pendidikan dan kesehatan gratis saya kira adalah dasar dari negara sosialis atau welfare state.