Belajar Marxisme Leninisme dan filsafat MDH

Belajar Marxisme Leninisme dan filsafat MDH
Catatan Wawan Setiawan
——

Abad 18-19 di Eropa diramaikan oleh paham yang ditulis oleh Karl Marx, yaitu Communist Manifesto, Karl Marx menulis “ada hantu berkeliaran di eropa, hantu komunisme”. Saya pribadi tertarik membaca tentang serba serbi komunisme sejak mahasiswa, dengan membaca buku dan mengakses via internet. Komunisme dari kaca mata saya tak lain adalah solusi Karl Marx didalam menghadapi revolusi industri di eropa abad 18-19 dimana buruh mayoritas dihisap keringatnya oleh para pemilik modal atau para pemilik industri.

Vladimir Lenin, penulis 55 buku jilid Komunisme, menyatakan didalam 3 pilar Marxisme Leninisme, yang pertama adalah filsafat MDH atau Materialisme Dialektika History. Dengan filsafat ini maka kita bisa menganalisis sejarah sebuah bangsa. Soekarno, dan para founding fathers lainnya, juga tak lepas mempelajari filsafat MDH, sehingga melahirkan ajaran baru yang dinamakan Marhaenisme. Kalau di Eropa kaum tertindas banyak yang berasal dari kaum buruh industri, di China dan Indonesia mayoritas adalah kaum petani. Marhaenisme adalah pengembangan dari tulisan Ir. Soekarno tentang “Nasionalisme, Agama, dan Marxisme”. Marhaenisme diambil dari nama petani miskin di Jawa Barat yang kehilangan sawahnya dan menjadi buruh tani saja.

Dengan filsafat MDH ini, kita menjadi tidak hanya dogmatis meniru Komunisme Soviet atau negara lain, tapi bisa mengembangkan sendiri sesuai corak, budaya dan sejarah sebuah negara dengan segala keunikannya. Dengan MDH ini, di negara seperti Jerman dan eropa barat, mereka lebih mengembangkan paham Marxisme Leninisme ke Sosial Demokrat, atau tepatnya negara memberi jaminan sosial atas pendidikan maupun kesehatan. Dengan demikian mempelajari Marxisme Leninisme tidak harus dogmatis sesuai apa yang ditulis oleh Karl Marx dan Lenin, tapi lebih membuat kita berpikir kritis dan mampu mengembangkan ide ide dari Karl Marx maupun Lenin yang tujuannya adalah keadilan sosial dan menciptakan masyarakat tanpa kelas.

Tan Malaka didalam banyak karyanya, termasuk magnum opusnya yaitu “Madilog”, tampaknya juga sangat dipengaruhi oleh filsafat MDH ini, Tan Malaka dengan cerdasnya mampu mengembangkan sendiri paham komunisme yg cocok dengan indonesia, diantaranya ide menggabungkan Komunisme dan Pan Islamisme, ataupun karya-nya Madilog yg menganalisis bahwa masyarakat Indonesia mayoritas masih percaya dengan kepercayaan takhyul. Tan Malaka juga mampu mendirikan partai kiri yang mandiri, yaitu partai Murba, partai yang tidak terikat dengan komunisme negara lain.

Dengan demikian, jika kita mengambil saripati-nya pemikiran Marx dan Lenin yaitu filsafat MDH, kita akan menemukan bahwa abad 21 ini sudah merupakan abad kemajuan teknologi, dimana robot yg menggantikan peran manusia sebagai tenaga kerja. Analisis dan solusi di abad 21 ini tentunya sudah beda lagi dengan solusi komunisme abad 18-19. Tantangan zamannya sudah berbeda tapi kita mencari solusi yang sama, yaitu keadilan sosial.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s