Perkembangan kapitalisme di Russia dan China

Perkembangan kapitalisme di Russia dan China
Catatan Wawan Setiawan

——-
Saat ini, di abad 21, dunia telah banyak berubah. Abad ini juga diwarnai runtuhnya komunisme Soviet Union, dan pecahnya negara di balkan, dan juga di Soviet Union. Setelah Soviet Union kolapse, Boris Yeltsin, Presiden Russia pertama membawa Russia ke dalam demokrasi liberal, dan melakukan privatisasi atas sejumlah asset pemerintah seperti di sektor oil dan gas. Langkah Yeltsin ini melahirkan kroni kapitalisme, diantaranya Mikhail Khodorkovsky yang mendirikan perusahaan oil Yukos dan Roman Abramovich yang mendirikan perusahaan oil Sibneft. Di era ini kemiskinan di Russia menjadi parah dengan kesenjangan ekonomi yang cukup tinggi. Era Yeltsin kemudian digantikan oleh era Vladimir Putin, dibawah Putin, Russia kembali melakukan nasionalisasi atas aset aset vital seperti oil dan gas. Yukos dan Sibneft di nasionalisasi, dan Khodorkovsky dipenjarakan di Siberia atas tuduhan penggelapan pajak. Tahun 2006 Russia berhasil membayar lunas hutang luar negerinya terhadap paris club, dan di era tahun 2000-2008 gaji pegawai hampir naik 2x setiap tahun. Kesejahteraan sosial membaik di era Vladimir Putin, meski jika dibanding negara eropa barat, maka kesejahteraan sosial di Russia boleh dikata ketinggalan sangat jauh.

Abad 21 ini, meski di Russia masih ada partai Komunis, yang menjadi partai terbesar kedua di Russia setelah United Russia, namun ekonomi Russia dikuasai oleh kroni kapitalisme. Russia merupakan negara dengan tingkat kroni kapitalisme tertinggi di dunia.

Abad 21 ini juga menjadi abad yang mencengangkan, China, negara yg secara politik adalah negara Komunis, berhasil menyumbang jumlah billionaire atau orang kaya sedunia nomor dua setelah Amerika. Artinya orang kaya dunia terbanyak nomor dua adalah China. Russia juga menjadi negara keempat didalam menyumbang jumlah billionaire atau orang kaya sedunia, setelah Amerika, China, dan Jerman.

Orang kaya Russia mayoritas menguasai bisnis baja atau steel dan juga oil, seperti Alexey Mordashov, Vladimir Lisin, ataupun Alisher Usmanov.

Sedangkan orang kaya China banyak yang berasal dari bisnis IT seperti halnya di Amerika Serikat, ada Jack Ma, pendiri Alibaba yang menjadi orang terkaya nomor dua di China, ataupun Ma Huateng, ataupun William Ding. Mereka berbisnis online atau dotcom.

Melihat fenomena ini, dimana negara Komunis atau Russia yang pernah menjalankan Komunisme, namun sekarang menjadi negara yang menyumbang jumlah billionaire atau orang terkaya sedunia didalam 5 besar duia, maka boleh dikatakan ekonomi Komunisme sudah tidak menarik lagi atau telah runtuh. Komunisme di China hanya di bidang politik, mereka masih memakai partai tunggal, partai Komunis, dan negara sangat mencampuri didalam urusan ekonomi nasional, misalnya sengaja merendahkan nilai yuan agar produk China semakin kompetitif. Negara China juga melakukan pembatasan terhadap akses internet, misal Facebook, maupun Whatsapp diblokir di China sehingga warga negara China menggunakan produk lokal internet.

Produk smartphone seperti Iphone juga tidak bisa mendominasi di China, karena di China mayoritas memakai smartphone Huawei atau Xiao Mi, sedangkan mesin pencarinya menggunakan Baidu.

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Indonesia, bapak Joko Widodo menyatakan bahwa tidak perlu membuat Google atau Facebook, dan lebih baik membuat start-up yang belum ada, statemen ini di satu sisi ada benarnya, memang inovasi itu didalam istilah buku “Blue Ocean” terbitan Harvard, membuat produk yang uncompete dan market driven, atau menciptakan market baru tersendiri, namun di sisi lain, statemen bapak Joko Widodo ini juga kurang tepat, karena bagaimanapun membuat produk yang sudah ada, jika mempunyai kualitas yang lebih baik, maka produk tersebut bisa menjadi laku. Misalnya produk Google sebagai mesin pencari, lahir di era dominasi kuat Yahoo di mesin pencari dan email gratis serta messenger. Namun Google yang menjadi thesis duo Sergey Brin dan Larry Page mempunyai algoritma yang lebih bagus daripada Yahoo, sehingga pelan tapi pasti, Google menjadi dominasi dan meruntuhkan Yahoo sebagai mesin pencari. Selain masalah kualitas yang lebih baik, membuat aplikasi mesin pencari ataupun sosial media sendiri juga beralasan keamanan. Saat ini karena kita menggunakan Facebook dan Google, maka data kita termonitor oleh perusahaan Silicon Valley ini. Dengan membuat mesin pencari atau social media sendiri, maka data kita setidaknya hanya akan tersimpan oleh start-up lokal.

Di Russia, meski Google dan Facebook tidak dilarang, tapi mayoritas warga negara Russia masih nasionalis, mereka lebih banyak menggunakan Yandex sebagai mesin pencari, Vkontakte sebagai sosial media, dan mail.ru sebagai fasilitas mail gratis daripada gmail.

Langkah Russia dan China yang mempunyai aplikasi mesin pencari, sosial media, mail gratis, dan chat sendiri ini kiranya layak ditiru di Indonesia, setidaknya agar data pribadi rakyat Indonesia tidak terbawa ke luar negeri, atau ke Silicon Valley misalnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s