Monthly Archives: February 2018

Sekilas tentang kemajuan ilmu mekanika kuantum dan cognitive sains.

Sekilas tentang kemajuan ilmu mekanika kuantum dan cognitive sains.
Catatan Wawan Setiawan

Kira kira abad 18-19, dunia khususnya eropa diwarnai debat tentang filsafat idealisme melawan filsafat materialisme. Filsafat idealisme menganggap bahwa segalanya, atau keberadaan alam semesta ada karena hasil dari pikiran atau kesadaran manusia, sedangkan filsafat materialisme adalah filsafat obyektif, yang menganggap alam semesta itu ada tanpa tergantung dari kesadaran manusia.

Debat ini berlanjut di kalangan fisikawan khususnya yang menyelidiki mekanika kuantum. Debat sengit terjadi ketika fisikawan Werner Heisenberg membuat postulat ketidakpastian. Bagi Fisikawan besar seperti Albert Einstein, hal ini tidak masuk akal, karena Einstein percaya terhadap hukum determinasi. Einstein menganggap bahwa “uncertainty” adalah produk kelemahan kognisi manusia didalam pengamatan, tapi fisikawan yg berprinsip dengan filsafat materialisme, menganggap bahwa ketidakpastian itu nyata, bukan tergantung dari pengamatan fisikawan saja, tapi memang terjadi secara obyektif.

Kini, di abad 21, masalah cognitive sains dan mekanika kuantum juga masih dibahas, apakah mekanika kuantum itu menjadi object dari cognitive sains, ataukah mekanika kuantum itu yg justru menyusun konsep cognitive sains. Saya sendiri memilih pendekatan filsafat materialisme, bahwasanya segala ilmu pengetahuan, termasuk kognisi kita, terjerat oleh hukum hukum yg telah dijelaskan di bidang mekanika kuantum.

Advertisements