Monthly Archives: March 2018

Meterialisme dan Empirio-Criticsm

Meterialisme dan Empirio-Criticsm
Catatan Wawan Setiawan
———-

Materialisme dan Empirio-Criticsm adalah salah satu karya dari Vladimir Ilyich Lenih, sang bapak revolusi proletar Russia yg cukup fenomenal diantara 55 karya buku lainnya. Didalam hidupnya, Vladimir Lenin banyak sekali menulis, terutama tentang Marxisme dan Leninisme, bahkan jujur saja, saya lebih banyak membaca karya Vladimir Lenin dibanding karya Karl Marx sendiri. Ini tak lain karena ketertarikan saya terhadap negeri Russia sejak masih kecil, atau tepatnya ketika masih SMP saya banyak bermain Tetris, game puzzle buatan salah seorang programmer Uni Soviet, yang latar belakangnya banyak menampilkan gambar situs situs Russia seperti Geeja Katedral Moscow yang bentuknya mempunyai kubah sehingga menyerupai Mesjid dan dulu saya kira memang itu adalah mesjid.

Vladimir Lenin, tokoh bolshevik revolusioner dari Russia boleh dibilang sebagai tokoh politikus langka, selain berhasil menuliskan 55 karya jilid buku, salah satunya ada yang mengulas tentang gerakan perlawanan kolonialisme di Indonesia, yaitu artikel berjudul “The Awakening of Asia”, Lenin yang mendapat informasi dari agen komintern dari Belanda, yaitu van Ravesteyn, mengulas bahwa di Jawa telah tercipta organisasi perlawanan organisasi melawan Belanda, yaitu Syarekat Islam yang konon ketika mengadakan pertemuan di Surabaya, dihadiri oleh 100.000 anggota, artikel ini selain mengulas tentang kemajuan pergerakan anti kolonialisme di Hindia Belanda, juga menyoroti tentang kemajuan pergerakan di China, India, Turki, dan negara Asia lainnya.

Namun diantara banyak karyanya, yang paling “mencerahkan” saya adalah karya-nya berjudul “Materialism and Empirio-Criticsm”, karya ini berusaha menangkis pengetahuan para fisikawan dunia yang terjebak terhadap pengetahuan takhyul dunia, dan juga mengulas para philosopher yang berpijak terhadap rasionalisme, terutama aliran Kantian, mereka yang masih menganggap bahwa pengetahuan didapatkan melalui proses transenden, sangat bertentangan dengan paham empirisme yang diusung oleh David Hume, John Locke, Thomas Hobbes, dkk yang menganggap bahwa seluruh pengetahuan kita didapatkan melalui panca indera atau secara empirik.

Di sisi lain, Vladimir Lenin yang berusaha meng-counter kemajuan zaman, yaitu ditemukannya partikel penyusun atom, juga menjelaskan bahwa para fisikawan belum mengetahui dialektika yang ditheorykan oleh filsuf Yunani, bahwa didalam dialektika, maka materi atau partikel akan selalu tersusun oleh partikel yang lebih kecil, zaman saat ini partikel penyusun terkecil adalah “quark”, namun didalam theory “String”, gelombang adalah penyusun terlembut atau terkecil dari segala partikel.

Vladimir Lenin, dengan asumsi rumus Newton, F=MA, juga menjelaskan bahwa gerak, atau gerakan hanya mungkin terjadi jika ada materi atau partikelnya, sehingga Vladimir Lenin menulis “tiada materi tanpa gerakan dan tiada gerakan tanpa materi”, fisikawan yang mempercayai ada gerak tanpa materi adalah fisikawan pemburu hantu.

Didalam Buku “Materialism dan Empirio-Criticsm”, banyak sekali Vladimir Lenin memberi pencerahan, khususnya terhadap weltanschauung alam semesta menurut pandangan dari ilmu fisika newtonian mechanic. Saya sendiri, menyarankan kepada Anda untuk menyempatkan diri membaca buku ini, karena bagi saya ini salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Vladimir Lenin sendiri sebagai politikus jenius, yang lulusan ilmu hukum, dan ayahnya adalah seorang guru fisika, otaknya juga diambil dan dibawa ke Jerman, untuk diteliti dan diobservasi, sama halnya dengan otak Albert Einstein.

Sebagai pelengkap buku ini, saya menyarankan untuk membaca buku “Reason in Revolt” karya Ted Grant dan Alan Wood, yang sudah mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya mekanika kuantuk di awal dan tengah abad 21, sehingga weltanschauung atau cara pandang anda terhadap alam menjadi modern dan mungkin buku buku tersebut memberikan wacana terbaru anda terhadap cara pandang alam yang kian modern.

Advertisements

Presiden Vladimir Putin dan lika liku langkah politiknya

Presiden Vladimir Putin dan lika liku langkah politiknya
Catatan Wawan Setiawan
——–

Baru saja, dari Russia dikabarkan bahwa Presiden Vladimir Putin memenangi pilpres Russia tahun 2018, sehingga Presiden Putin akan menjabat sebagai Presiden Russia sampai tahun 2024 karena periode kepemimpinan di Russia adalah per 6 tahun. Presiden Vladimir Putin menang cukup telak, yaitu sekitar 76% suara kemenangan, jauh meninggalkan rivalnya yang didukung oleh Partai Komunis Russia, yaitu Pavel Grudinin, yang juga seorang miliarder atau seorang pengusaha, namun didukung oleh Partai Komunis Russia, karena ide ide reformasinya.

Kemenangan Presiden Putin ini relatif sepi dari hiruk pikuk propaganda demokrasi, mungkin karena di Russia demokrasinya masih tergolong diawasi oleh pemerintahannya secara cukup ketat. Kemenangan Presiden Putin ini saya pikir juga plus minus, di satu sisi Presiden Vladimir Putin pernah sukses membenahi ekonomi Russia, ketika Presiden Vladimir Putin masih menjabat di periode pertama dan kedua, yaitu tahun 2000-2008. Presiden Putin, tanpa diduga oleh oligarki kapitalisme di era Presiden Yeltsin, ternyata Presiden Putin berani melakukan nasionalisasi perusahaan minyak yg semula dikuasai oleh taipan semacam Mikhail Khodorkovsky ataupun Roman Abramovich. Perusahaan milik Taipan Mikhail Khodorkovsky, yaitu Yukos, dinasionalisasi, demikian juga Sibneft milik Roman Abramovich juga tidak lepas dinasionalisasi oleh negara. Dengan demikian Presiden Vladimir Putin berhasil mengurangi kemiskinan yang massive yang diakibatkan liberalisme ekonomi di era Presiden Boris Yeltsin, selain prestasi ini, Presiden Putin juga berhasil membayar hutang negara terhadap kelompok barat “Paris Club” lebih awal dari yang dijadwalkan.

Ketika USSR ambruk, dan pemerintahan dipimpin oleh Presiden Yeltsin, hutang pemerintah Russia, rasio per GDP-nya hampir mencapai 100%, namun saat ini, di era kepemimpinan Presiden Putin, hutang Russia, rasionya hanya berkisar sekitar 20% saja. Selain itu Presiden Putin juga berhasil menaikan taraf hidup atau kualitas hidup rakyat Russia di periode kepemimpinan tahun 2000-2008.

Selain prestasi ekonomi dalam negeri, Presiden Putin didalam politik luar negerinya juga cukup aktif, dan cenderung anti barat, Russia selain mendukung pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al Assad, juga telah melakukan anexsasi di wilayah Crimea, dan juga dianggap mendukung pemberontakan di Ukraina Timur. Dengan demikian, Russia mendapat konsekuensi, yaitu ekonominya diblokade oleh Barat ataupun Amerika, sehingga ekonomi Russia sempat mengalami krisis kembali.

Dengan keberhasilan di Suriah dan Crimea, majalah barat seperti Time dan Forbes pernah mengangkat bahwa Presiden Vladimir Putin adalah manusia paling berpengaruh di dunia. Namun di luar prestasi prestasi tersebut, media barat juga banyak yang mengkritisi kebijakan dan kekayaan Presiden Vladimir Putin, bahkan ada media barat yg menuliskan berita bahwa Vladimir Putin adalah orang terkaya di dunia.

Didalam analisis saya sendiri, selain prestasi Presiden Putin yang cukup bagus, namun masih banyak kelemahan atau hal yg perlu dikritisi di Russia, misal soal korupsi, negeri Russia masih menjadi negeri yang penuh dengan rampan korupsi, selain itu konon terjadi KKN atau kroni kapitalisme yang massive di Russia, terutama bagi mereka yg mantan agen intelijen biasanya menjadi pengusaha yg cukup sukses di Russia. Kesenjangan ekonomi di Russia menurut indeks gini, sangat lebar, bahkan Russia dianggap sebagai negeri yg mempunyai kesenjangan ekonomi paling besar di dunia.

Selamat buat terpilihnya Presiden Vladimir Putin, di jabatan ke empat Presiden, namun kiranya masih banyak yg perlu dibenahi, misal tranparansi pemerintahan, atau mereduksi tingkat korupsi di Russia, dan juga mengatasi kesenjangan sosial yg massive di Russia.

Prof. Stephen Hawking, atheisme dan filsafat materialisme

Prof. Stephen Hawking, atheisme dan filsafat materialisme
Catatan Wawan Setiawan
——–

Rabu, tanggal 14 Maret 2018, dunia dikejutkan oleh meninggalnya fisikawan jenius, Prof. Stephen Hawking. Prof. Stephen Hawking, selama ini dikenal sebagai fisikawan kosmologi, terutama theory-nya tentang Balckhole dan Singularitas atau pendapatnya tentang terciptanya alam semesta. Menurut Prof. Stephen Hawking, alam semesta bisa tercipta sendiri, tanpa ada campur tangan tuhan.

Statemen-statemen Prof. Stephen Hawking memang banyak yang mengindikasikan bahwa dirinya adalah seorang atheis, misal statemennya tentang “Sorga dan Neraka adalah dongeng bagi manusia yg takut akan kegelapan”. Selain itu Prof. Stephen Hawking tidak mempercayai konsep kehidupan yg abadi atau afterlife, Prof. Stephen Hawking menganggap bahwa otak seperti halnya kinerja Komputer, otak akan berhenti bekerja setelah terjadinya kematian atau setelah ada komponennya yg telah rusak, persis komputer yang komponennya telah rusak, sehingga tidak bisa bekerja lagi.

Dalam pandangan saya, Prof. Stephen Hawking banyak terinspirasi atau terpengaruh oleh filsafat materialisme, atau filsafat atomisme, filsafat yang menganggap bahwa alam semesta tersusun oleh atom atom, atau partikel yang jumlahnya super trillion dan antar atom atom tersebut saling berinteraksi antara satu dengan seluruh atom lainnya.

Filsafat materialisme atau atomisme, sebenarnya sudah ada sejak era filsuf Yunani kuno, filsafat ini ditheorykan oleh filsuf Epicurus. Di era pencerahan eropa atau “Age of Enlightenment”, filsuf seperti Ludwig Feuerbach kembali mengulas filsafat ini, dan juga filsuf besar Karl Marx, menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan thesis filsafat atomisme dari Epicurus. Karl Marx lantas menyatukan filsafat Dialektika-nya filsuf Jerman GWF Hegel, dengan Materialisme-nya Ludwig Feuerbach, menjadi filsafat dialektika materialisme.

Saya juga membaca karya Vladimir Lenin tentang Materialisme, terutama bukunya Vladimir Lenin yang berjudul “Materialism and Empirio-Criticsm”. Di dalam buku itu Vladimir Lenin banyak mengkritisi fisikawan yang masih percaya takhyul. Buku karya Lenin tersebut sangat dipengaruhi oleh perkembangan fisika terutama Newtonian Mechanic, didalam rumus Newton dikenal rumus F=MA, sehingga bisa diartikan bahwa yang bisa mempunyai kekuatan atau gerakan adalah materi atau partikel, tiada materi yang tidak punya kekuatan, dan tidak ada kekuatan tanpa materi, begitu kira kira Vladimir Lenin menjelaskan tentang alam semesta dan mistisisme.

Kembali kepada Prof. Stephen Hawking, beliau selain menjadi fisikawan jenius, beliau juga seperti fisikawan jenius lainnya seperti Albert Einstein, maupun Richard Feynman, juga banyak dan peduli dengan kondisi politik dan sosial. Prof. Stephen Hawking juga mengkritisi kapitalisme, terutama inequality atau kesenjangan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi. Selain itu Prof. Hawking juga merupakan aktivis anti perang, beliau menolak perang Vietnam maupun perang Iraq, dan juga anti dengan zionisme yang dilakukan oleh negeri Israel. Selain itu, Prof. Stephen Hawking juga menyoroti kemajuan teknologi, terutama di bidang AI, atau Artificial Intelligence. Bagi Prof. Stephen Hawking, kemajuan teknologi AI bisa membawa bencana terhadap masa depan manusia, karena peran manusia bisa tergantikan oleh AI, atau AI bisa lebih cerdas daripada manusia.

Prof. Stephen Hawking, selama hidupnya memang tidak memperoleh hadiah nobel di bidang fisika, karena theory beliau berbasis mathematika dan belum bisa dibuktikan secara empiris atau experimental, namun karya karya beliau tentang alam semesta maupun tentang Blackhole, sangat menginspirasi dunia, terutama ilmuwan fisika lainnya. Selain karya karyanya yang sangat menginspirasi, yang juga saya kagumi dari Prof. Stephen Hawking adalah semangat hidupnya, ketika dokter memvonis bahwa hidupnya tinggal beberapa tahun lagi, karena mengidap penyakit “motor neuron” atau ALS ( Amyotrophic Lateral Sclerosis ), di tahun 1963, Prof. Stephen Hawking tidak patah arang atau menyerah, meski juga pernah mengalami depresi setelah divonis oleh dokter, namun semangat-nya yang tinggi membuat Prof. Stephen Hawking bangkit dan berkarya meski dalam keadaan penuh keterbatasan akibat penyakitnya. Terbukti, vonis dokter keliru, dan Prof. Stephen Hawking bisa hidup jauh lebih lama daripada vonis dokter, atau bisa menjalani hidup sampai 14 Maret 2018. Pada tahun 1985, Prof. Stephen Hawking juga terkena penyakit pneumonia dan harus dilakukan trakeostomi sehingga ia tidak dapat berbicara sama sekali. Karena tidak bisa berbicara, maka seorang ilmuwan Cambridge membuat alat yang memperbolehkan Hawking menulis apa yang ingin ia katakan pada sebuah komputer, lalu akan dilafalkan melalui sebuah voice synthesizer.

Prof. Stephen Hawking, meski menderita penyakit saraf, namun beliau cukup produktif didalam berkarya dan tetap melanjutkan studinya di Cambridge University, dan sukses menjadi fisikawan jenius setelah era Albert Einstein.

Prof. Stephen Hawking, selain berkarya tentang blackhole, beliau juga memberikan kontribusi penting, misal dukungannya terhadap theory probabilitas atau uncertainty yang digagas oleh Werner Heisenberg, namun disanggah oleh fisikawan Albert Einstein yang mempercayai determinasi didalam ilmu fisika. Salah satu statemen Prof. Stephen Hawking adalah “So Einstein was wrong when he said, “God does not play dice.” Consideration of black holes suggests, not only that God does play dice, but that he sometimes confuses us by throwing them where they can’t be seen.”

Akhir kata, RIP untuk Prof. Stephen Hawking, salah satu fisikawan terbesar abad ini, setelah era Albert Einstein.

Mengenang kejayaan Uni Soviet

Mengenang kejayaan Uni Soviet
Catatan Wawan Setiawan
——–

Saat ini sudah abad 21 dan tahun 2018, 27 tahun setelah negara pusat Komunisme Uni Soviet bangkrut. Namun Presiden Russia saat ini pernah beretorika “Siapa yang tidak rindu Soviet maka tidak punya hati, namun siapa yang ingin balik ke era Soviet maka tidak punya otak”. Didalam sejarahnya, Soviet sempat mendominasi dunia bersama Amerika Serikat dan terjadi perang dingin akibat berebut pengaruh antara kapitalisme liberalisme dan komunisme. Eropa-pun terbelah, Eropa Barat banyak yang pro Amerika, sedangkan Eropa Timur menjadi blok Uni Soviet. Jerman juga terbelah menjadi Jerman Barat yang pro Amerika dan Jerman Timur yang dikendalikan oleh Uni Soviet.

Didalam perjalanannya, Komunisme Soviet pernah mencetak prestasi yang cukup mentereng, terutama di bidang teknologi. Uni Soviet menjadi negara pertama yang berhasil mengirim Satellite bernama Sputnik, hal ini mengkhawatirkan Amerika karena dengan suksesnya mengirim Satellite Sputnik maka rocket Uni Soviet bisa menjangkau daratan Amerika Serikat. Uni Soviet juga berhasil mengirimkan manusia pertama ke luar angkasa yaitu Kosmonot Yuri Gagarin, dan perempuan pertama mengangkasa yaitu Kosmonot Valentina Tereshkova. Selain itu Uni Soviet juga berhasil mengembangkan stasiun angkasa luar pertama, yaitu MIR.

Selain pernah mengalami keberhasilan di bidang kemajuan teknologi, Uni Soviet juga pernah mengalami kemajuan signifikan di bidang ekonomi. Dulu di era Tsar, Russia menjadi negara dengan ekonomi nomor 8 di dunia, namun di era Uni Soviet, mampu menjadi negara dengan ekonomi terbesar kedua setelah Amerika Serikat dan terbesar di eropa. Kurs mata uang Soviet juga satu berbanding satu dengan nilai mata uang usd Amerika. Sudah sejak tahun 1972, ekonomi Uni Soviet mempunyai GDP sebesar usd 1 trillion lebih. Uni Soviet juga banyak memberikan bantuan keuangan ke negara negara Afrika, maupun negara komunis lainnya seperti Kuba, yang akhirnya di hapuskan oleh Russia modern dibawah Presiden Vladimir Putin.

Demikianlah sekilas tentang Uni Soviet, memang hal ini adalah masa lalu, namun sebenarnya banyak pelajaran yang bisa diambil dari adanya negara Uni Soviet. Negara Komunis ini tidak hanya mengandalkan kekayaan alam saja, tapi juga pembangunan SDM dan teknologi tinggi. Hal ini tak lepas dari doktrin Komunisme yang mengadopsi modern science dan kebijakan pemimpin revolusi Vladimir Lenin yang mempunyai visi mencerdaskan rakyatnya dengan pendidikan agar rakyatnya menjauh dari kepercayaan mistis atau takhyul.

Saat ini sudah abad 21, dan Komunisme Uni Soviet telah runtuh dan Uni Soviet telah mengalami disintegrasi, namun ideologi marxisme leninisme layak untuk diperbaharui atau disesuaikan dengan perkembangan zaman, sosialisme bisa di mix dengan kapitalisme, dan sosialisme modern berbentuk state capitalism, atau menggunakan BUMN atau perusahaan negara untuk membiayai sosialisme warga negara. Konsep ini yang saat ini digunakan baik oleh China, Russia, Singapore, bahkan negara negara teluk atau timur tengah, mereka menggunakan BUMN yang ekspansi keluar negeri untuk bisa memakmurkan rakyat didalam negerinya. Russia modern saat ini tidak lepas dari kekuatan ekonomi 3 pilar, yaitu Gazprom, perusahaan pipa gas dan supplier gas alam yang sahamnya 50.1% milik pemerintah, Rosneft perusahaan minyak, dan juga Sberbank.

Komunisme abad 19 memang telah berakhir, namun interprestasi barunya di abad 21 ini eksis dan banyak digunakan oleh banyak negara.

Sejarah dan perkembangan Internet di Indonesia

Sejarah dan perkembangan Internet di Indonesia
Catatan Wawan Setiawan
——-

Berikut saya coba mengulas sejarah internet dan perkembangannya di Indonesia, tentu saja dari kacamata atau perspektif pribadi saya. Saya mengenal Internet kira kira tahun 1994 setelah sebelumnya sempat bermain BBS, atau Bulletin Board System. Ketika saya mengenal Internet, saya tinggal di Yogya, berlangganan Wasantara-net yang layanannya waktu itu masih SLIP, atau Serial Line Internet Protocol, belum ada layanan WWW atau World Wide Web. Ketika itu saya masih menjadi mahasiswa Teknik Informatika dan juga mahasiswa Hubungan Internasional. Ya, saya kuliah di dua tempat. Ketika itu yang banyak saya akses adalah situs NASA dan milis Apakabar yang dibuat oleh John Mc Dougall dari Harvard dan Gerry van Klinken, Indonesianis dari KITLV Leiden Belanda.

Karena menggandrungi internet, sebagai alternatif mencari pengetahuan di luar akademis, maka saya memutuskan untuk bekerja di Internet Service Provider Meganet milik Jawa Pos, dan saya menjadi technical support, network operation center maupun webmaster. Dengan bekerja di Internet Service Provider, saya bisa memuaskan hobby saya mengakses internet kapan saja dengan gratis, dan saya sungguh menikmatinya. Karena saya sungguh maniak dengan perkembangan internet dan komputer, gaji saya meskipun sangat lumayan, tapi banyak saya habiskan untuk riset dan beli CD. Di Meganet Surabaya, saya diberi ruangan khusus tersendiri, di ruangan saya ada komputer Macintosh, server PC yang mengoperasikan operating system Windows NT, dan juga laptop Compaq. Oh ya, Meganet selaku Internet Service Provider ketika itu saya lihat cukup visioner, server serverny banyak memakai Windows NT dan Macinstosh server. Web Server dan Email Server menggunakan Netscape web server dan PostOffice email server, namun ketika itu sering diserang oleh BOD atau “Bluescreen of Death” yang memang menjadi kelemahan OS Windows. Meganet ketika itu sudah tampil berbeda dengan ISP lain, karena di Meganet sudah meluncurkan layanan e-phone, e-page, ataupun fax2fax. E-phone adalah fasilitas yang memungkinkan setiap email yg kita terima menjadi sms di handphone kita, sehingga kita bisa dengan cepat mengetahui ada email masuk dan membacanya di handphone. E-page adalah fasilitas dimana email masuk ke pager kita secara otomatis, sedangkan fax2fax adalah mengirim fax dengan pulsa lokal dan menggunakan saluran internet, sehingga biaya mengirim fax menjadi jauh lebih murah. Teknologi ini mengimpor dari negeri Israel, sehingga cukup sulit mendatangkannya dengan jumlah cukup besar.

Tahun 1990-an, teknologi internet di Indonesia hanya bisa diakses melalui dial-up atau melalui sambungan telephone, sehingga harganya mahal, karena harga pulsa telephone lokal dari telkom kalau nggak salah sekitar 225 rupiah per 2 menit, sedangkan kalau malam menjadi per 3 menit. Biaya internet sendiri berkisar antara rp 1500-2000 per jam, atau kalau unlimited sekitar Rp 200.000 per bulan.

Era ini juga diwarnai oleh dominasi mesin pencari Yahoo.com yang menawarkan fasilitas mesin pencari, free email, maupun messenger. Sedangkan di Indonesia, telah lahir portal berita online seperti Detik.com, yang merupakan “blessing in diguise” karena di era orde baru, tabloid detik, tempo, dan editor dibredel oleh pemerintah karena mengulas pembelian bekas kapal perang dari Jerman Timur yang diotaki oleh bapak mantan Presiden BJ Habibie, sehingga majalah Tempo maupun detik berubah menjadi media online, dan saat itu hampir semua media massa dikontrol oleh pemerintah, sehingga dengan hadirnya detik dan tempo online, menjadi alternatif berita yang cukup kredibel dan kritis. Jumlah pengunjung detik dan tempo online ketika itu cukup banyak, selain mailing list apakabar, yang merupakan mailing list politik terbesar didalam sejarah. Sumbatan aspirasi oleh rezim orde baru, meluap ke mailing list apakabar. Saya sendiri ketika itu bergabung dengan organisasi bawah tanah, PIJAR, Pusat Informasi dan Jaringan Aksi Reformasi dengan tugas sebagai webmaster situs PIJAR dan mengirimkan secara online berita yang diproduksi PIJAR ke milis apakabar.

Bisnis dotcom, di tahun 2000 sebenarnya juga sudah mulai lahir dan tumbuh, saya ingat waktu itu atau tahun 2000, Detik.com sebagai portal berita sudah diinjek atau diberikan investasi senilai 1 milliar, inilah cikal bakal bisnis start-up di Indonesia. Saat ini, detik.com juga telah dibeli oleh grup Trans corp, atau Trans teve dibawah Chairul Tanjung seharga 540 milliar, angka ini cukup fantastis mengingat detik.com adalah portal berita online.

Tahun 2000, era Internet berganti trend, yaitu dengan adanya teknologi wireless broadband, terutama produk Breezecom buatan Israel. Tahun 2000-an banyak warnet tumbuh dan lahir dan menggunakan teknologi wireless broadband dengan frekuensi 2.4 Ghz. Sampai saat ini teknologi ini masih banyak dipakai oleh Corporate dan juga oleh Warnet.

Saya sendiri di tahun itu mendirikan bisnis internet service provider yang berbasis wireless broadband, dan juga menyediakan akses internet langsung dari backbone Amerika Serikat melalui satellite Agilla, ataupun JCsat, serta backbone ke Hongkong melalui satellite Sinosat. Karena saat itu demand lebih banyak daripada supply, maka bisnis saya cukup bagus dan saya sempat keliling dunia, dan mencoba membangun jaringan internet di luar negeri. Tapi saya terkejut ketika mengetahui bahwa di Singapore dan Malaysia, harga internet sudah jauh lebih murah daripada di Indonesia, ketika itu di Indonesia harga bandwidth 1 Mbps mencapai sekitaran usd 8000, sedangkan di Malaysia ataupun Singapore broadband internet hanya sekitaran usd 500 dengan kecepatan yang sangat bagus. Rupanya negeri seperti Singapore ataupun Malaysia pernah melakukan subsidi terhadap biaya internet untuk warganegaranya, karena Internet dianggap sebagai kebutuhan yang cukup vital untuk memperluas pengetahuan warga negara di negeri tersebut. Alhasil memang di Indonesia, kesadaran pemerintah untuk menyelenggarakan internet murah memang masih belum ada, sehingga pihak swasta seperti bisnis saya bisa mengambil “advantage” tersebut.

Tahun 2010-an keatas, era internet di Indonesia sudah dikuasai oleh jaringan kabel optic yang murah, dengan internet broadband. Beberapa operator seperti Telkom, Moratelindo, Biznet, atau yang lainnya menguasai pasar internet broadband yang harganya cukup terjangkau. Harga bandwidth internasional juga sudah cukup murah, hanya sekitar Rp 300.000 per Mbps dedicated, bayangkan dengan harga ketika tahun 1990-2000-an yang mencapai usd 8000 per Mbps dedicated. Selain itu perkembangan internet berbasis GPRS atau 3G dan 4G yang menggunakan billing berbasis kuota juga cukup marak sehingga penestrasi internet di indonesia terbilang cukup massive. Dari data APJII, diperkirakan saat ini ada sekitar 150 juta pengguna internet di Indonesia, dan angka ini akan tumbuh lagi secara massive.

Namun perlu diingat, Internet adalah pedang bermata dua, di Internet anda bisa mengakses informasi positive maupun negative. Pornografi dan judi online konon menjadi bisnis internet yang paling menggiurkan. Meski ada policy Internet Positive oleh Kemenkominfo, situs situs negatif termasuk situs radikal, tidak semuanya bisa disensor. Untuk itulah diperlukan kesadaran pengguna atau netter sendiri didalam memanfaatkan internet. Dulu saya ketika masih kuliah banyak menggunakan internet untuk mengakses informasi di NASA agar mengetahui tentang astronomi dan juga milis apakabar sebagai kegiatan politik saya, sekarang ini saya memanfaatkan sosial media untuk menambah wawasan. Jujur saja, saya tidak menyukai content porno meski saya dengan mudah bisa mengaksesnya. Saya tidak munafik, tapi memang begitulah saya.

Harga akses internet akan semakin murah kedepannya, Google sendiri berkomitmen membangun jaringan internet gratis di Indonesia, tapi yang lebih penting dari itu semua, apakah internet mampu mengakselerasi pengetahuan rakyat indonesia ataupun digunakan secara positif, misalnya untuk mengakselerasi bisnis ataupun e-commerce di level rakyat menengah kebawah. Semoga dengan adanya internet ini, rakyat indonesia tidak hanya terimbas dampak buruknya, misalnya dengan adanya westernisasi saja, tapi juga bisa memanfaatkan Internet sebagai media yang bisa mengupgrade kualitas hidup.

Sosialisme abad 21

Sosialisme abad 21
Catatan Wawan Setiawan
——-

Tahun 1991, setelah Uni Soviet mengalami disintegrasi dan bangkrut, dunia seakan menganggap bahwa ideologi Komunis atau Sosialis sudah bangkrut. Namun apabila kita jeli didalam mempelajari Marxisme-Leninisme, maka intinya adalah membawa kemakmuran yang merata terhadap seluruh rakyat, atau menciptakan negeri welfare-state atau negeri yang bekemakmuran. Kini, di abad 21, negeri China telah sukses menjadi salah satu negara terkuat dan sangat berpengaruh di dunia. Selain ekonomi China yang sangat besar GDP-nya, sehingga diramalkan akan menyalip GDP negara maju seperti Amerika Serikat, China juga cukup sukses menanamkan jiwa entrepreneurship ke rakyatnya. Banyak rakyat China yang memilih jalan entrepreneurship daripada bekerja kepada orang lain. Tahun 2017, negeri China juga tercatat sebaga negeri dengan konglomerat atau billionaire yang cukup banyak dan didalam daftar Forbes, China menjadi negara penyumbang orang kaya Forbesian terbanyak kedua setelah Amerika.

China menggeliat, sistem politiknya memang masih Komunis, tapi ekonominya kapitalis. Namun di abad 21 ini juga diwarnai oleh maraknya “state capitalism”. State Capitalism adalah dimana negara mengembangkan BUMN atau perusahaan milik negara, setidaknya negara memegang saham 50.1% dan sisanya bisa dimiliki oleh swasta melalui penjualan langsung ataupun di bursa saham. Ekonomi dengan membesarkan BUMN atau perusahaan negara ini, rupanya lagi trend di abad 21 ini. Selain China, negeri Russia juga mengembangkan ekonomi ala BUMN, termasuk juga negara negara timur tengah seperti UAE, Qatar, Singapore dengan Temasek-nya, maupun Arab Saudi. Mereka mengandalkan BUMN untuk menggerakan ekonomi, dan dengan BUMN tersebut dibangun untuk membiayai sosialisme pemerintahan.

Saya kira inilah potret sosialisme modern, alat alat produksi mayoritas tetap dikuasai oleh negara, tapi saham lainnya di privatisasi agar perusahaan menjadi transparan.

Di Russia, saya analisis ada 3 pilar ekonomi negara ini, yaitu BUMN Gazprom yang mengekspor gas ke eropa, perusahaan minyak Rosneft, dan SiberBank. BUMN-BUMN ini dinasionalisasi di era Presiden Vladimir Putin, karena sebelumnya banyak industri oil dan gas di Russia dikuasai oleh oligarki Presiden Boris Yeltsin, seperti Mikhail Khodorkovsky maupun Boris Berezovsky.

Dalam pemahaman saya, kira kira begitulah menjalankan sosialisme abad 21, yaitu dengan mengembangkan BUMN yang bersih dan transparan, sehingga sahamnya juga dijual ke pihak swasta agar accountable, dan BUMN ini juga bergerak secara internasional, misal Temasek Singapore yang menguasai saham Telkomsel di Indonesia

Mempelajari Komunisme

Mempelajari Komunisme
Catatan Wawan Setiawan
——–

Saya tertarik terhadap tema Komunisme, sudah semenjak mahasiswa, salah satu alasan yang membuat saya tertarik adalah menyebarluaskan ideologi Komunisme dilarang oleh era Orde Baru melalui Tap MPRS nomor 25 tahun 1966. Namun dengan larangan ini saya justru tertarik untuk mempelajarinya. Melalui internet, ya saya sudah bisa mengakses internet di tahun 1994, karena saya bekerja sebagai technical support dan network operation center di Internet Service Provider Meganet milik Jawa Pos, sehingga saya bisa bebas kapan saja mengakses internet dengan gratis.

Yang paling banyak saya baca adalah karya karya pemimpin revolusioner Vladimir Lenin, Lenin didalam hidupnya telah membuat 55 jilid buku yang isinya tentang perjalanannya didalam menggalang revolusi Bolshevik dan setelah menang revolusi Bolshevik. Mempelajari Komunisme, kita harus berpijak kepada MDH, atau Materialisme Dialektika History, yang menjadi pisau bedah analisa sosial masyarakat didalam mewujudkan revolusi. Soekarno sendiri sebagai intelektual hebat di zamannya, juga mengutamakan MDH didalam mengajarkan sosialisme terhadap rakyat Indonesia. Soekarno mengenalkan paham “Marhaenisme” atau ideologi sosialisme yang sesuai history, kultur dan budaya indonesia, serta juga melihat realita sejarah bahwa di Indonesia kaum proletar adalah para petani. Awalnya petani di Indonesia adalah pemilik sawah, kemudian mereka lantas menjualnya, dan kemudian hanya menjadi buruh tani.

Dalam hemat saya, mempelajari Marxisme-Leninisme tidak bisa dogmatis, atau mengekor begitu saja terhadap ajaran Marx dan Lenin, karena kondisi eropa yang baru saja mengalami revolusi industri berbeda dengan Asia yang mayoritas masih agraris. Di Eropa kaum proletar banyak berasal dari kaum buruh, dan juga tani, sedangkan di Asia lebih didominasi kaum Tani.

Di Indonesia, saya mengagumi tokoh marxist Tan Malaka, karena saya nilai Tan Malaka adalah seorang marxist kreatif, karya karyanya orisinal dan sesuai dengan corak dan karakter bangsa Indonesia, misal Madilog. Didalam Madilog diulas bahwa rakyat Nusantara menyukai paham mistisisme dan kemajuan barat karena memuja pusaka yang bernama Sains.

Namun didalam perkembangannya, mempelajari marxisme-leninisme selalu membuat dua kubu, yaitu kubu yang dogmatis, atau mereka yang terpengaruh dengan Moscow sentris, dan kubu kreatif, mereka yang membuat theory revolusi atau memajukan sosialisme dengan caranya sendiri. Tokoh tokoh yang kreatif ini diantaranya Eduard Bernstein dari Jerman yang menginginkan bahwa partai Komunis berkuasa melalui sistem demokrasi daripada merebut kekuasaan ala Moscow yang penuh dengan jalan kekerasan atau berdarah darah. Saya sendiri pro pemikiran Eduard Bernstein, saya pikir ini lebih elegan daripada merebut kekuasaan lewat jalan perang saudara.

Kira kira demikianlah apa yang saya alami dan pahami setelah mempelajari Marxisme-Leninisme, Marxisme-Leninisme menurut saya tidak bisa diaplikasikan secara dogmatis seperti cara cara Moscow, tapi perlu ide dan pemikiran yang cemerlang yang sesuai dengan zaman, serta budaya serta karakter masyarakat setempat untuk merealisasikan kesejahteraan sosial.