Monthly Archives: April 2018

Masa depan ekonomi China versus Amerika

Masa depan ekonomi China versus Amerika
Catatan Wawan Setiawan
———-

Di abad 21 ini, kita bisa menyaksikan bagaimana China menjadi negara super power ekonomi baru, saat ini di tahun 2018 China sudah menjadi negara dengan GDP terbesar kedua setelah Amerika, dan di tahun 2030, diperkirakan ekonomi China akan menjadi ekonomi dengan GDP terbesar di dunia menyalip Amerika Serikat.

Mengamati perekonomian China, tampaknya China menjadi negara superpower ekonomi yang akan menggantikan Amerika dengan fundamental ekonomi yang sangat kuat, yaitu ekspor barang jadi yang mempunyai nilai added value yg cukup tinggi dan juga teknologi. Nilai mata uang Yuan juga cenderung menguat, dari bulan May 2017 Yuan berada di kisaran 6.85 namun di sekitaran bulan maret 2018 nilai mata uang Yuan sudah berada di sekitaran 6.25. Dilihat dari perkembangannya, nilai mata uang Yuan cenderung menguat, nggak heran China berani melakukan terobosan terobosan seperti PetroYuan sebagai alat transaksi perdagangan komoditas atau energi China.

Didalam perekonomiannya, China juga masih mempunyai policy untuk melakukan devaluasi mata uang Yuan, agar barang barang produksi China semakin kompetitif di era global. Saat ini nilai cadangan devisa China telah mencapai usd 3 Trillion lebih, dan China adalah negara yang memegang surat hutang paling banyak Amerika. Selain itu China juga dibackup emas dengan nilai sekitar usd 76 billion.

Melihat ini semua, maka tak pelak China akan menjadi negara superpower baru dibidang ekonomi dan ekonominya fundamental, didapatkan dari surplus perdagangan yang besar terhadap negara negara lain, terutama Amerika.

Sedangkan ekonomi Amerika sendiri, saya lihat sebenarnya ekonomi sampah, ekonomi mereka bisa survive karena mata uang usd digunakan sebagai mata uang cadangan devisa dan perdagangan internasional, termasuk dengan adanya petrodollar atau transaksi komoditas energi oil dan gas dengan mata uang usd. Selain itu Amerika bisa survive karena “The Fed” mencetak uang usd untuk menopang ekonomi mereka. Ekonomi Amerika Serikat boleh dibilang defisit sejak lama, hanya ketika dipimpin oleh Presiden Bill Clinton saja, ekonomi Amerika bisa surplus perdagangan.

Namun China yang menggantikan Amerika saya rasa tidak mudah, ini karena mata uang usd yang sudah menggurita dipakai sebagai cadangan devisa di banyak negara termasuk di China sendiri, Russia, Jepang, Jerman maupun negara lainnya.

Namun ekonomi China di masa depan, saya pikir sangat menjanjikan dengan fundamental yang benar, yaitu ekonomi yang surplus perdagangan, lain dengan ekonomi Amerika yang sebenarnya “ekonomi sampah”, karena hanya mencetak mata uang usd saja sebagai pilar ekonominya.

Advertisements

Amerika dan Ekonomi Liberal

Amerika dan ekonomi liberal
Catatan Wawan Setiawan
————-

Ekonomi kapitalis, yang ditheorykan oleh Adam Smith, selama ini banyak dipakai oleh negara Amerika untuk menjalankan perekonomiannya. Didalam ekonomi Kapitalis, juga terjadi persaingan, terutama antar entitas bisnis, sehingga produk bisa dipasarkan di market dengan harga kompetitif. Di tahun 1980-1990-an, ekonomi Amerika menggila atau tumbuh pesat, terutama di era Presiden Bill Clinton, sehingga Amerika mulai memprakarsai ekonomi kapitalis liberal, atau kapitalisme yang berkompetisi secara liberal dan menghapus batasan negara, atau negara tidak diperkenankan untuk membuat kebijakan tarif atas import suatu produk agar produk lokalnya kompetitif. Ide ini diterapkan di WTO, atau World Trade Organization yang mengurusi perdagangan global diantara negara negara.

WTO ini menjadi cikal bakal kapitalisme liberal, dimana kebijakan sebuah negara tehadap industri dalam negerinya, misal kebijakan tariff impor dihapuskan, dan WTO memfasilitasi agar negara negara bersaing secara bebas dan brutal didalam ekonominya.

Tapi, kalau kita kritis, sebenarnya kebijakan dagang Amerika tidak menganut kebijakan WTO atau kapitalisme Liberal, tapi juga politikal. Amerika selama ini memberi sanksi embargo bagi negara yang berdagang dengan Iran dan Korea Utara misalnya. Selain itu belakangan, Amerika juga memberikan sanksi embargo terhadap Russia karena kebijakan politiknya, meski embargo terhadap Russia masih belum bisa effektive, karena harga gas Russia ke eropa cukup kompetitif. Di bawah President Donald Trump ini, Amerika juga melakukan kebijakan ekonomi yang anti terhadap poin poin di WTO, misalnya Amerika memberikan kebijakan tariff terhadap industri alumunium dan baja baik dari China maupun dari Russia. Selain itu baru saja Amerika memberikan sanksi ke perushaan teknologi ZTE dan Huawei, dua perusahaan teknologi China, yang mengekspor produk mereka ke Iran dan Korea Utara. ZTE dan Huawei dilarang mengimpor sejumlah chip penting yang diproduksi oleh Amerika.

Dengan demikian, konsep WTO yang mewadahi konsep ekonomi kapitalisme Liberal adalah ilusi belaka, karena pada faktanya Amerika memberlakukan sanksi ekonomi terhadap kebijakan politik suatu negara. Selain itu Amerika juga melanggar sendiri kesepakatan WTO dengan memasang tariff impor terhadap produk China dan Russia. Di sisi lain President Donald Trump, di Twitter-nya aktif mengutuk Russia dan China yang mendevaluasi mata uangnya agar produknya bisa kompetitif di market global.

Setahu saya, selama ini, ekonomi yang cukup ideal adalah China, pemerintahnya banyak mensupport industri ekspor, harga listrik di China dimurahkan, selain itu pemerintah China juga cukup sering mendevaluasi mata uangnya, agar produk produk China semakin membanjiri pasaran Eropa ataupun Amerika. China dalam hal ini, mungkin memberlakukan Keynesian Ekonomi, dimana negara berperan didalam mendukung ekonomi swasta-nya, dan selama ini China berhasil menjadi eksporter barang jadi atau barang dengan value added terbesar di dunia. China juga saat ini telah menyumbang di Forbes, sebagai negara supplier orang kaya terbanyak kedua versi Forbes setelah Amerika. Ekonomi China juga tumbuh pesat, dan selain itu fundamental ekonominya sangat kuat, karena mata uang Yuan atau Renminbi dibackup emas yang jumlahnya sangat besar, sehingga China bisa mengembangkan PetroYuan, atau transaksi perdagangan energy seperti oil dan gas menggunakan mata uang Yuan, China sendiri saat ini sebagai konsumen energi terbesar di dunia, dan supplier terbesarnya adalah Russia. Selain mengembangkan PetroYuan, China juga menawarkan penggunaan mata uangnya, misal ke negara Asia Tenggara untuk transaksi perdagangan. Saat ini USD masih menjadi mata uang utama didalam perdagangan dunia, terutama perdagangan energi, oil ataupun gas, tapi pelan pelan negara seperti BRICS, Brazil, Russia, India, China, maupun South Afrika, maupun Venezuela ataupun Iran mulai berani menggunakan mata uang non USD didalam transaksi perdagangan mereka. Meski volume transaksi perdagangan negara negara non USD ini masih kecil, tapi trend-nya meluas.

Magnum Opus Tan Malaka

Bagi saya, “Magnum Opus” karya Tan Malaka adalah Madilog. Buku ini mengingatkan kita, bahwa bangsa timur terjerumus kedalam kepercayaan takhyul atau mistisisme yg cukup dalam, sedangkan bangsa barat bisa unggul karena mereka mempunyai “pusaka” yg disebut dengan Sains. Dengan ditulisnya buku Madilog, Tan Malaka ingin bangsa timur khususnya Indonesia, juga menguasai ilmu logika dan dialektika didalam penalaran, dan juga menguasai ilmu atau sains modern.

Ini memang searah dengan semangat Komunisme, semangat Komunisme kalau dipelajari di abad 19 dan 20 intinya mengedepankan pendidikan dan sains modern, karena filsafat materialisme, sebagai filsafat dasar Komunisme berasal dari pemahaman akan theory evolusi-nya Darwin dan Wallace, serta theory atomnya Demokritus atau Leucippus, serta pemikiran pemikiran Yunani lainnya seperti pemikiran filsuf Heraclitus.

Di era tahun 1960-an, didalam persaingan membuat teknologi angkasa luar, Soviet sebagai negara Komunis juga unggul, Soviet berhasil mengirimkan satellite pertama di dunia yang dinamai Sputnik, selain itu Soviet juga berhasil mengirimkan manusia pertama mengangkasa, yaitu Yuri Gagarin dan perempuan Valentina Tereshkova, serta Soviet juga menjadi negara pertama yang membangun stasiun angkasa luar, yaitu MIR. Soviet hanya kalah terhadap Amerika yg berhasil mendaratkan astronot pertama di bulan.

Tak heran, kosmonot Soviet diundang oleh Presiden Soekarno, dan mereka diajak keliling kota kota Indonesia, dan memberi semangat, kalau ingin maju maka juga harus maju di bidang sains dan teknologi, seperti para Kosmonot Soviet.

Teknologi angkasa luar, mungkin sudah menjadi brand Soviet atau Russia, saat ini, NASA telah mengistirahatkan pesawat ulang aliknya, sehingga satu satunya jalan menuju ke ISS (International Space Station) dilakukan oleh pesawat Soyuz, pesawat luar angkasa yg didesain tahun 1960-an, tapi sampai sekarang masih dianggap reliable dan efektif termasuk didalam pendanaan, atau murah didalam operasional.

Sekitaran Tahun 2015, Soyuz juga mencatat prestasi khusus, yaitu mencapai ISS dalam waktu 6 jam saja, padahal sebelumnya Soyuz membutuhkan waktu 48 jam untuk menuju ke ISS. Inovasi ini berarti Soyuz mampu melakukan kecepatan ke ISS 8x lebih cepat dari sebelumnya.

Kejayaan Soviet di bidang angkasa luar ini, sepertinya akan diteruskan oleh Russia sebagai tradisi, Skolkovo, pusat inovasi sains dan teknologi Russia mempunyai unit khusus space center, agar kejayaan Russia di bidang angkasa luar masih mendominasi dunia.

Presiden Putin, janji kampanye dan Skolkovo

Presiden Putin, janji kampanye dan Skolkovo
Catatan Wawan Setiawan
———

Saya terus terang tidak menduga, bahwa Presiden Russia Vladimir Putin punya concern yg cukup tinggi terhadap Skolkovo, kampus sains dan teknologi serta pusat kajian riset dan teknologi Russia. Didalam janji kampanyenya untuk menjadi capres Russia 2018-2024 yang telah dimenangkannya sampai 76%, selain janji akan mengentaskan kemiskinan, di Russia kemiskinan masih diderita oleh sekitar 10 juta penduduk, angka yang amat besar kalau melihat penduduk Russia cuman sekitar 160-180 juta saja, ternyata Presiden Putin juga cukup visioner untuk mendiversifikasi ekonomi Russia yang saat ini didominasi oleh ekonomi komoditas, yaitu eksporter gas terbesar di dunia dan juga eksporter serta penghasil minyak ketiga terbesar setelah Amerika dan China.

Skolkovo, adalah rintisan atau project diversifikasi ekonomi yang konon di-idekam oleh PM Dmitry Medvedev. PM Medvedev ketika menjadi Presiden Russia, tahun 2008-2012 sempat mengunjungi dan berdiskusi dengan boss atau CEO Apple, Steve Jobs. Medvedev rupanya sangat tertarik dengan industri IT Silicon Valley, dan berharap agar Russia juga menguasainya.

Russia, saat ini selain mempunyai masalah ekonomi yg masih berbasiskan komoditas, juga mengalami fenomena “brain drain”, banyak orang pintar atau ilmuwan Russia yg memilih “kabur” ke luar negeri, contoh yang paling telak adalah keluarga pendiri Google, Sergey Brin, Sergey Brin mengenyam pendidikan SD-nya di Moscow Russia, dan umur 8 tahun keluarga mereka pindah ke Amerika. Ayah Sergey Brin konon adalah doktoral Mathematika, sedangkan Ibu Sergey Brin adalah doktoral fisika yang bekerja di NASA. 2 mata pelajaran Fisika dan Math, selama rezim Komunisme memang cenderung lebih diutamakan, karena 2 bidang tersebut adalah bidang dasar atau fundamental.

Presiden Putin, dalam kampanyenya di capres Russia tahun 2019 menyatakan akan lebih memperhatikan Skolkovo dan juga mencegah fenomena para ilmuwan Russia pindah ke luar negeri. Saya kira ini langkah yang tepat, karena semenjak Uni Soviet pecah, banyak ilmuwan Russia yg memilih berkarir di luar negeri.

Dengan membangun atau memajukan Skolkovo, maka ekonomi Russia juga terdiversifikasi, dengan ekonomi teknologi yg mempunyai nilai tambah yang tinggi. Di Russia, saat ini sudah punya Yandex sebagai mesin pencari yg digunakan oleh sebagian besar masyarakat Russia dan negara CIS atau negara pecahan Uni Soviet, selain itu Russia juga punya Vkontakte, sosial media ala Russia, dan juga Telegram, aplikasi chat yg mempunyai feature keamanan terbaik di dunia.

Dengan semakin memajukan industri IT di Russia, maka diharapkan ekonomi masa depan Russia lebih berbasis dari industri teknologi daripada komoditas yg harganya bisa anjlok kapan saja. Dan menariknya, memajukan Skolkovo dan mencegah fenomena “brain drain” ilmuwan Russia, adalah janji kampanye Presiden Vladimir Putin di pemilihan presiden Russia tahun 2018 ini.

Hutang

Hutang:

Isu tentang hutang sering diangkat di Indonesia. Konon pemerintah Indonesia membayar hutang lama dengan cara membuka hutang baru, atau gali lobang tutup lobang. Dari yg saya tahu, Indonesia ini sudah punya hutang sejak merdeka, hutang warisan Hindia Belanda sebesar sekitar usd 4 billion usd, kemudian baik era Soekarno, era BJ. Habibie, era Megawati, era SBY, ataupun era Presiden Joko Widodo, Indonesia telah menambah jumlah hutang, hanya di era Presiden Gus Dur saja, hutang Indonesia berkurang.

Era Presiden SBY berhasil membesarkan ekonomi, atau GDP, sehingga hutang ratio to GDP yg pernah mencapai sekitar 60% turun ke level sekitar 30% di era Presiden Jokowi ini. Dari yg saya baca, hutang Indonesia, 60%-nya juga dipegang oleh domestik, sehingga kalau melihat fakta itu maka hutang Indonesia mestinya masih aman.

Di dunia global ini, ada negara yg men-“tabu”-kan hutang, misal Suriah,Iran, atau Korea Utara, termasuk juga negara Russia, yg ketika terjadi perpecahan Uni Soviet, maka hutang Soviet ditanggung oleh Russia, sehingga ratio hutangnya pernah mencapai hampir 100%, tapi kini Russia hanya punya hutang sekitar 10% saja dari GDP rasio.

Pendapatan per kapita di Russia memang masih menengah, sekitar usd 23.000, tapi Russia juga tidak mempunyai hutang yg banyak ke negara lain, sehingga secara fundamental, ekonomi Russia cukup kuat, meski Russia di embargo atau diblokade ekonomi oleh Amerika dan negara eropa barat, tapi itu justru membuat Russia semakin berdikari ekonomi, terutama saat ini sudah mampu mempunyai industri pangan sendiri yg cukup kuat sehingga tidak perlu impor seperti era sebelumnya.

Di Indonesia, semoga hutang pemerintah digunakan terhadap sektor yg positif untuk menopang pertumbuhan ekonomi, misal sektor infrastruktur, atau sektor perbaikan teknologi eksplorasi oil dan gas, agar Indonesia mampu memproduksi oil dan gas dalam output yg tinggi per harinya.

Amerika, WTO, dan President Trump

Amerika, WTO, dan President Trump
——–

Selama ini kita kenal, bahwa Amerika adalah negara yang mensponsori perdagangan bebas, atau free trade, didalam konsep perdagangan bebas ini, setiap negara bersaing dengan brutal agar mampu memproduksi barang dengan murah dan kualitas bagus. Didalam konsep perdagangan bebas ini, juga diharamkan proteksi perdagangan misalnya penentuan tariff impor misalnya, agar industri dalam negeri bisa bersaing.

Namun Trump memang Presiden Amerika yg nyentrik, selain tidak percaya adanya pemanasan Global, Presiden Trump juga ternyata melanggar kesepakatan WTO. Amerika memberlakukan tariff terhadap impor alumunium maupun baja. Jelas langkah ini merugikan eksporter alumunium seperti China maupun RUssia. Baru baru saja, Trump juga mengkritik China dan Russia yang mendevaluasi mata uangnya, agar produk ekspor China dan Russia semakin kompetitif. Sebenarnya strategi mendevaluasi mata uang adalah salah satu strategi ekonomi yang sah sah saja, dan sering dilakukan oleh China.

Dengan demikian saat ini, tidak hanya panas politik di Suriah, dimana Amerika, dan Barat melawan Russia, maupun Iran, tapi di perdagangan internasional juga terjadi perang dagang, khususnya antara Amerika dan China.

Saya melihat China sebagai negara pragmatis, China tidak terlalu mau terlibat di Suriah membantu Russia maupun Iran, tapi China memilih perang dagang, atau memilih mengutamakan kepentingan ekonomi-nya saja.

Konflik di Suriah

Konflik di Suriah
Catatan Wawan Setiawan
————

Saya sedang membaca asal mula konflik di Suriah dan perkembangannya. Di wikipedia, saya membaca konflik dimulai ketika terjadi gelombang Arab Spring, di Tunisia, kemudian dari Tunisia menyebar ke Mesir, Yemen, Libya, Syiria, Bahrain dan negara teluk lainnya. Awalnya rakyat Suriah protes karena menganggap pemerintah korup dan mereka menghendaki diberi kebebasan yg lebih besar, lalu kemudian terjadi demo yg disikapi oleh Assad dengan peluru tajam. Setelah itu terbentuklah golongan pemberontak yg didukung oleh Amerika, dan selanjutnya kondisinya sangat memprihatinkan, karena Suriah mulai didatangi oleh para pejuang jihadis seluruh dunia yg tergabung didalam banyak faksi, misal ISIS, ataupun Jhabat Al-Nusra, maupun yg moderat seperti Free Syirian Army atau FSA. Rumitnya lagi, Suriah telah menjadi negara untuk proxy war atau perang proxy antar negara, misal Iran yg mendukung pemerintahan Assad melawan Saudi Arabia, Turki maupun Israel yg pro pemberontakan. Selain itu negara besar seperti Russia juga turut membantu pemerintahan Assad, karena Russia mempunyai pangkalan armada laut di Suriah.

Sebenarnya cukup sulit juga mencari reason yg jitu mengapa Suriah yg menjadi target dan dijadikan negara proxy war, dilihat dari kekayaan alam, atau oil dan gas, Suriah tidak punya cadangan oil atau gas alam yg besar, peringkat Suriah hanya di sekitar peringkat 31-an didalam daftar negara yg mempunyai kekayaan cadangan minyak dan hanya peringkat ke 41 didalam daftar negara yg mempunyai cadangan gas.

Selain itu, isu pembangunan pipagas dari Qatar ke Eropa yg dianggap merugikan Russia, karena Russia saat ini menjadi supplier terbesar gas ke eropa, tampaknya kurang beralasan, karena kalau jaringan pipa itu dibangun, harga gas end delivery ke eropa, masih akan lebih murah harga gas dari Russia daripada dari Qatar.

Dari ini semua, meski saya agak sulit menemukan alasan yang paling masuk akal thd perang Suriah, tapi saya menggarisbawahi sebab asalnya, yaitu karena terkena efek Arab Spring, dan pemerintahan Assad dianggap korup, serta Assad tega menyerang para demonstran dengan peluru tajam, sehingga demo rakyat semakin membesar dan kemudian lahirlah kaum pemberontak, karena mereka menganggap bahwa pemerintahan Assad hanya bisa dilawan melalui senjata.