Bisnis pipa gas ke eropa

Bisnis pipa gas ke eropa
Catatan Wawan Setiawan
———-

Negeri Russia, selama ini, atau tepatnya di era Presiden Vladimir Putin berkuasa, yaitu di tahun 2000-2008, ekonominya sangat mengandalkan export gas alam, dimana Russia adalah merupakan negara yang mempunyai cadangan gas alam tertinggi di dunia. Russia biasa disebut sebagai negara energi superpower, karena selain cadangan gas alam-nya sangat besar, juga mempunyai cadangan minyak cukup besar atau nomor 8 di dunia, namun Rosneft sebagai BUMN minyak Russia bisa memproduksi minyak terbesar dan kadang nomor dua, bersaing dengan Saudi Aramco perusahaan minyak yang dimiliki oleh pemerintah Arab Saudi.

Saat ini Russia diprediksi telah mensupply 25% kebutuhan gas di eropa, namun kata mantan wakil presiden Amerika, Dick Cheney, Russia telah memainkan peran politiknya terhadap industri gas dan ketergantungan eropa terhadap gas Russia, sehingga Amerika ingin mensupply gas ke eropa. Dalam hal supply mensupply gas ke eropa ini banyak sekali faktor yang menyertainya, misalnya keamanan, reliable atau kestabilan, maupun harga end delivery atau harga jualnya.

Di tahun 2000-2008, Russia beruntung bisa mengekspor gas ke Eropa dalam jumlah besar, terutama ke Jerman, Turki, maupun Belanda, karena Russia mempunyai infrastruktur gas yang bagus ke eropa, termasuk jumlah gas storage atau penyimpanan gas, untuk menjaga kalau ada saluran gas yg terputus. Di era itu Russia membeli gas dari negara bekas Uni Soviet, yaitu Turkmenistan dengan harga sekitar usd 60 per 1000 meter kubik gas, dan kemudian menyalurkannya ke Eropa dengan harga sekitar usd 350-usd 400 per 1000 kubik meter.

Russia sendiri negara yang paling kaya terhadap energi gas alam, namun Russia juga memaksimalkan kekayaan gas negara negara tetangganya seperti Turkmenistan ataupun Azerbaijan. Eropa atau Jerman maupun China, tahu tentang hal, sehingga mereka juga akan berencana membangun pipa gas dari Eropa ke Turkmenistan atau Azerbaijan. Eropa yang keputusannya sering membebek terhadap Amerika, menganggap bahwa ketergantungan gas mereka terhadap Russia harus dikurangi, sehingga cara apapun ditempuh, termasuk rencana membangun pipa gas dari Eropa ke Qatar yang melewati Suriah yang sedang konflik ini. Di sisi lain, Russia juga membangun pipa gas cadangan, atau Nordstream 2 ataupun TurkishStream, untuk membackup dan memperbesar supply gas ke eropa. Proyek TurkishStream atau TurkStream sempat berhenti dan di-hold, karena kasus Turki yg menembak pesawat Russia Su-24, namun saat ini sudah berjalan lagi. TurkStream ini menurut rencana akan menjadi andalan penyaluran gas Russia ke Eropa, karena harganya bisa lebih kompetitif,

Sebenarnya saat ini, banyak negara yang telah melakukan export gas alam ke eropa, termasuk Qatar, namun harga-nya kalah bersaing dengan gas Russia, karena gas alam dari Qatar pengirimannya dengan dikapalkan. Isu konflik Suriah juga diwarnai isu konflik pembangunan pipagas alam dari Qatar ke Eropa, namun tampaknya isu ini tidak terlalu signifikan.

Dengan demikian, dunia semakin multipolar, banyak sekali pilihan produk, termasuk gas alam, namun di bisnis ini juga terjadi persaingan harga, teknologi, dan reliabiliti atau kestabilan supply, dan untuk saat ini Russia yang masih menjadi negara terbesar supplier gas alam ke Eropa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s