Author Archives: baliooo

Pemerintah menjual BUMN apakah langkah yang tepat?

Pemerintah menjual BUMN apakah langkah yang tepat?
Catatan Wawan Setiawan
———

Baru baru ini Presiden Joko Widodo menyatakan atau menyarankan agar BUMN milik pemerintah dijual ke swasta. Di satu sisi, bagi pandangan kaum sosialis, BUMN adalah pilar ekonomi negara, namun di sisi lain BUMN Indonesia banyak yang merugi dan menjadi sarang korupsi kolusi dan nepotisme. Presiden Joko Widodo juga menyatakan bahwa BUMN di Indonesia terlalu banyak, dan mereka mempunyai anak anak perusahaan. Banyaknya BUMN dan anak perusahaannya ini menggerus kesempatan swasta untuk menggarap projek atau bisnis. Bisnis hulu memang sebaiknya dikuasai BUMN, tapi bisnis hilir sebaiknya diserahkan ke swasta.

Privatisasi BUMN ini juga mempunyai tujuan agar BUMN menjadi profesional jika di mix dengan swasta. Di Russia, negeri bekas Komunis, dimana seluruh aset produksi dikuasai oleh negara, ternyata juga melakukan privatisasi BUMN agar profesional. Gazprom, perusahaan gas Russia yang menjadi tulang punggung ekonomi Russia, ternyata hanya 50.1% saham milik negara, sisanya sudah diprivatisasi kepada swasta, begitu juga Rosneft perusahaan minyak terbesar di Russia, hanya sekitar 75% sahamnya milik negara atau pemerintah, sisanya milik swasta yang dijual baik privat (19% milik BP) maupun melalui mekanisme pasar saham.

Dengan privatisasi ini diharapkan BUMN akan lebih transparan didalam kinerjanya. Namun di Indonesia, BUMN memiliki sejumlah kendala, selain sebagai sarang korupsi, BUMN yang semestinya memberikan pemasukan negara baik melalui pendapatan pajak dan dividen, malah di Indonesia BUMN banyak yg memanipulasi pajak, sehingga tujuan membentuk BUMN tidak tercapai dengan baik.

Dengan demikian, saya pribadi pro privatisasi BUMN seperti Pertamina maupun PLN, tapi privatisasinya tidak melebihi angka 50.1% agar kendali perusahaan tetap berada di pemerintah atau negara. BUMN yg telah diprivatisasi, sebaiknya juga menjadi perusahaan yg tertib didalam perpajakan agar pemerintah mendapat pemasukan terutama dari pajak.

Pemasukan dari sektor pajak ini penting sekali, negara eropa barat, skandinavia dan nordic berhasil menjalankan sosialisme, atau memberikan layanan kesehatan gratis, pendidikan gratis,tranportasi massal yang gratis, pension, ataupun kecelakaan, melalui income pajak yg progressive, di Finlandia, Belanda, maupun Jepang, pajak progressive bisa mencapai 50% (https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/1913589/ini-10-negara-dengan-pajak-tertinggi-di-dunia)

Langkah pemerintah Indonesia saat ini saya kira sudah tepat, yaitu mengejar pendapatan dari pajak, karena Indonesia ini kaya akan kekayaan alam dan banyak perusahaan yg mengelola kekayaan alam di Indonesia melakukan manipulasi pajak diantaranya melalui tax haven atau memarkir dana-nya di luar negeri. Dengan adanya tax amnesty, diharapkan para konglomerat oligarki di Indonesia memarkir dananya didalam negeri agar pemerintah bisa mendapatkan pajak dari dana tersebut dan juga bisa memperkuat kurs rupiah daripada diparkir di luar negeri yg hanya memperkuat kurs mata uang asing saja.

Mencontoh keberhasilan welfare state negara Skandinavia, maka yang terpenting adalah pembenahan pendapatan dari pajak dengan mengenakan pajak progressive, dan juga mengoptimalkan BUMN yg profesional dan bergerak di sektor penting atau hulu dan menguasai hajat hidup orang banyak

Advertisements

Perkembangan kapitalisme di Russia dan China

Perkembangan kapitalisme di Russia dan China
Catatan Wawan Setiawan

——-
Saat ini, di abad 21, dunia telah banyak berubah. Abad ini juga diwarnai runtuhnya komunisme Soviet Union, dan pecahnya negara di balkan, dan juga di Soviet Union. Setelah Soviet Union kolapse, Boris Yeltsin, Presiden Russia pertama membawa Russia ke dalam demokrasi liberal, dan melakukan privatisasi atas sejumlah asset pemerintah seperti di sektor oil dan gas. Langkah Yeltsin ini melahirkan kroni kapitalisme, diantaranya Mikhail Khodorkovsky yang mendirikan perusahaan oil Yukos dan Roman Abramovich yang mendirikan perusahaan oil Sibneft. Di era ini kemiskinan di Russia menjadi parah dengan kesenjangan ekonomi yang cukup tinggi. Era Yeltsin kemudian digantikan oleh era Vladimir Putin, dibawah Putin, Russia kembali melakukan nasionalisasi atas aset aset vital seperti oil dan gas. Yukos dan Sibneft di nasionalisasi, dan Khodorkovsky dipenjarakan di Siberia atas tuduhan penggelapan pajak. Tahun 2006 Russia berhasil membayar lunas hutang luar negerinya terhadap paris club, dan di era tahun 2000-2008 gaji pegawai hampir naik 2x setiap tahun. Kesejahteraan sosial membaik di era Vladimir Putin, meski jika dibanding negara eropa barat, maka kesejahteraan sosial di Russia boleh dikata ketinggalan sangat jauh.

Abad 21 ini, meski di Russia masih ada partai Komunis, yang menjadi partai terbesar kedua di Russia setelah United Russia, namun ekonomi Russia dikuasai oleh kroni kapitalisme. Russia merupakan negara dengan tingkat kroni kapitalisme tertinggi di dunia.

Abad 21 ini juga menjadi abad yang mencengangkan, China, negara yg secara politik adalah negara Komunis, berhasil menyumbang jumlah billionaire atau orang kaya sedunia nomor dua setelah Amerika. Artinya orang kaya dunia terbanyak nomor dua adalah China. Russia juga menjadi negara keempat didalam menyumbang jumlah billionaire atau orang kaya sedunia, setelah Amerika, China, dan Jerman.

Orang kaya Russia mayoritas menguasai bisnis baja atau steel dan juga oil, seperti Alexey Mordashov, Vladimir Lisin, ataupun Alisher Usmanov.

Sedangkan orang kaya China banyak yang berasal dari bisnis IT seperti halnya di Amerika Serikat, ada Jack Ma, pendiri Alibaba yang menjadi orang terkaya nomor dua di China, ataupun Ma Huateng, ataupun William Ding. Mereka berbisnis online atau dotcom.

Melihat fenomena ini, dimana negara Komunis atau Russia yang pernah menjalankan Komunisme, namun sekarang menjadi negara yang menyumbang jumlah billionaire atau orang terkaya sedunia didalam 5 besar duia, maka boleh dikatakan ekonomi Komunisme sudah tidak menarik lagi atau telah runtuh. Komunisme di China hanya di bidang politik, mereka masih memakai partai tunggal, partai Komunis, dan negara sangat mencampuri didalam urusan ekonomi nasional, misalnya sengaja merendahkan nilai yuan agar produk China semakin kompetitif. Negara China juga melakukan pembatasan terhadap akses internet, misal Facebook, maupun Whatsapp diblokir di China sehingga warga negara China menggunakan produk lokal internet.

Produk smartphone seperti Iphone juga tidak bisa mendominasi di China, karena di China mayoritas memakai smartphone Huawei atau Xiao Mi, sedangkan mesin pencarinya menggunakan Baidu.

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Indonesia, bapak Joko Widodo menyatakan bahwa tidak perlu membuat Google atau Facebook, dan lebih baik membuat start-up yang belum ada, statemen ini di satu sisi ada benarnya, memang inovasi itu didalam istilah buku “Blue Ocean” terbitan Harvard, membuat produk yang uncompete dan market driven, atau menciptakan market baru tersendiri, namun di sisi lain, statemen bapak Joko Widodo ini juga kurang tepat, karena bagaimanapun membuat produk yang sudah ada, jika mempunyai kualitas yang lebih baik, maka produk tersebut bisa menjadi laku. Misalnya produk Google sebagai mesin pencari, lahir di era dominasi kuat Yahoo di mesin pencari dan email gratis serta messenger. Namun Google yang menjadi thesis duo Sergey Brin dan Larry Page mempunyai algoritma yang lebih bagus daripada Yahoo, sehingga pelan tapi pasti, Google menjadi dominasi dan meruntuhkan Yahoo sebagai mesin pencari. Selain masalah kualitas yang lebih baik, membuat aplikasi mesin pencari ataupun sosial media sendiri juga beralasan keamanan. Saat ini karena kita menggunakan Facebook dan Google, maka data kita termonitor oleh perusahaan Silicon Valley ini. Dengan membuat mesin pencari atau social media sendiri, maka data kita setidaknya hanya akan tersimpan oleh start-up lokal.

Di Russia, meski Google dan Facebook tidak dilarang, tapi mayoritas warga negara Russia masih nasionalis, mereka lebih banyak menggunakan Yandex sebagai mesin pencari, Vkontakte sebagai sosial media, dan mail.ru sebagai fasilitas mail gratis daripada gmail.

Langkah Russia dan China yang mempunyai aplikasi mesin pencari, sosial media, mail gratis, dan chat sendiri ini kiranya layak ditiru di Indonesia, setidaknya agar data pribadi rakyat Indonesia tidak terbawa ke luar negeri, atau ke Silicon Valley misalnya.

Belajar Marxisme Leninisme dan filsafat MDH

Belajar Marxisme Leninisme dan filsafat MDH
Catatan Wawan Setiawan
——

Abad 18-19 di Eropa diramaikan oleh paham yang ditulis oleh Karl Marx, yaitu Communist Manifesto, Karl Marx menulis “ada hantu berkeliaran di eropa, hantu komunisme”. Saya pribadi tertarik membaca tentang serba serbi komunisme sejak mahasiswa, dengan membaca buku dan mengakses via internet. Komunisme dari kaca mata saya tak lain adalah solusi Karl Marx didalam menghadapi revolusi industri di eropa abad 18-19 dimana buruh mayoritas dihisap keringatnya oleh para pemilik modal atau para pemilik industri.

Vladimir Lenin, penulis 55 buku jilid Komunisme, menyatakan didalam 3 pilar Marxisme Leninisme, yang pertama adalah filsafat MDH atau Materialisme Dialektika History. Dengan filsafat ini maka kita bisa menganalisis sejarah sebuah bangsa. Soekarno, dan para founding fathers lainnya, juga tak lepas mempelajari filsafat MDH, sehingga melahirkan ajaran baru yang dinamakan Marhaenisme. Kalau di Eropa kaum tertindas banyak yang berasal dari kaum buruh industri, di China dan Indonesia mayoritas adalah kaum petani. Marhaenisme adalah pengembangan dari tulisan Ir. Soekarno tentang “Nasionalisme, Agama, dan Marxisme”. Marhaenisme diambil dari nama petani miskin di Jawa Barat yang kehilangan sawahnya dan menjadi buruh tani saja.

Dengan filsafat MDH ini, kita menjadi tidak hanya dogmatis meniru Komunisme Soviet atau negara lain, tapi bisa mengembangkan sendiri sesuai corak, budaya dan sejarah sebuah negara dengan segala keunikannya. Dengan MDH ini, di negara seperti Jerman dan eropa barat, mereka lebih mengembangkan paham Marxisme Leninisme ke Sosial Demokrat, atau tepatnya negara memberi jaminan sosial atas pendidikan maupun kesehatan. Dengan demikian mempelajari Marxisme Leninisme tidak harus dogmatis sesuai apa yang ditulis oleh Karl Marx dan Lenin, tapi lebih membuat kita berpikir kritis dan mampu mengembangkan ide ide dari Karl Marx maupun Lenin yang tujuannya adalah keadilan sosial dan menciptakan masyarakat tanpa kelas.

Tan Malaka didalam banyak karyanya, termasuk magnum opusnya yaitu “Madilog”, tampaknya juga sangat dipengaruhi oleh filsafat MDH ini, Tan Malaka dengan cerdasnya mampu mengembangkan sendiri paham komunisme yg cocok dengan indonesia, diantaranya ide menggabungkan Komunisme dan Pan Islamisme, ataupun karya-nya Madilog yg menganalisis bahwa masyarakat Indonesia mayoritas masih percaya dengan kepercayaan takhyul. Tan Malaka juga mampu mendirikan partai kiri yang mandiri, yaitu partai Murba, partai yang tidak terikat dengan komunisme negara lain.

Dengan demikian, jika kita mengambil saripati-nya pemikiran Marx dan Lenin yaitu filsafat MDH, kita akan menemukan bahwa abad 21 ini sudah merupakan abad kemajuan teknologi, dimana robot yg menggantikan peran manusia sebagai tenaga kerja. Analisis dan solusi di abad 21 ini tentunya sudah beda lagi dengan solusi komunisme abad 18-19. Tantangan zamannya sudah berbeda tapi kita mencari solusi yang sama, yaitu keadilan sosial.

Infrastruktur atau SDM

Infrastruktur atau SDM?
Catatan Wawan Setiawan
———

Saya sangat mengapresiasi kinerja bapak Presiden Joko Widodo, dibawah kepemimpinan bapak Joko Widodo, Indonesia mempunyai jargon “Kerja, kerja, dan kerja”. Bapak Presiden Joko Widodo juga aktif membangun infrastruktur, terutama jalan tol. Menurut Bapak Presiden Joko Widodo, pembangunan infrastruktur ini agar membuat ekonomi efisien dan mampu bersaing di kancah global. Hal ini tidak salah sama sekali, dan memang benar infrastruktur itu penting dan berperan sebagai efisiensi ekonomi. Namun infrastruktur menjadikan ekonomi efisien jika produknya adalah produk umum atau disebut komoditas atau komoditi.

Abad 21 ini, kita melihat bahwa dunia dikuasai oleh Amerika, khususnya produk Silicon Valley. Kita mengenal Facebook, Google, Youtube, Microsoft, Whatsapp, Iphone, dan hampir 130 juta rakyat Indonesia terkoneksi dengan Internet yg pertama kali dibuat atau didesain oleh DARPA Amerika. Penguasaan sektor IT tidak hanya membuat Amerika menguasai dunia, tapi mereka para boss perusahaan IT juga menguasai daftar orang kaya di majalah Forbes, nomor satu ditempati oleh Boss Microsoft Bill Gates, dan nomor dua ditempati boss Amazon Jeff Bezos, selain itu ada Mark Zuckerberg boss Facebook di peringkat ke lima. Mereka adalah para Innovator atau pembuat produk baru yg bersifat market driven atau menciptakan market. Didalam buku “Blue Ocean” terbitan Harvard, Inovasi yg bersifat market driven akan menjadi uncompeted produk, atau menjadi produk yg tidak tersaingi, karena mereka membentuk market baru yang sebelumnya belum ada. Didalam dunia inovasi ini kita bisa melihat produk aplikasi semacam Facebook atau Whatsapp yang belum mencetak uang, tapi mempunyai kapitalisasi hingga 22 billion usd. Inovasi inilah yg membuat perusahaan teknologi di Amerika mempunyai kapitalisasi tinggi, dari Apple, Microsoft, Facebook, hingga Google dan perusahaan IT lainnya. Di dalam negeri kita bisa melihat kapitalisasi perusahaan Go-Jek yang dipersepsi lebih mahal daripada perusahaan BUMN Garuda Indonesia maupun taksi Blue Bird yang banyak mempunyai asset.

Baru saja, di hari Knowledge Day atau hari pertama masuk sekolah bagi pelajar di Russia, Presiden Vladimir Putin menyatakan bahwa siapa saja atau negara mana saja yang menguasai bidang Artificial Intelligence atau AI maka akan menguasai dunia. Presiden Putin melanjutkan bahwa di masa mendatang perangkat militer akan banyak diisi oleh Drone, pesawat tanpa awak yang diremote dari darat. Perang modern akan banyak melibatkan Drone yg bertempur. Pernyataan Presiden Putin ini sangat cermat dan visioner, karena apa saja saat ini menggunakan teknologi AI, termasuk kemajuan industri otomotif yang memproduksi mobil otomatis tanpa perlu sopir lagi atau “driverless car”.

Melihat dinamika internasional ini, mungkin Indonesia bisa mengambil pelajaran, bahwa pengembangan SDM itu sangat penting, bahkan lebih penting daripara pembangunan infrastruktur, SDM yang berkualitas akan mampu melakukan industri ekonomi kreatif berbasis inovasi. Inovasi-lah yang berhasil merubah dunia, dan inovasi yang membedakan antara leader dan follower, atau pemimpin dan pengikut. Amerika menjadi negara dengan ekonomi terbesar di dunia, tak lepas dari industri dan inovasi yang telah mereka lakukan, diantaranya adalah penemuan internet ini.

Mengurai masalah ekonomi di Indonesia

Mengurai masalah ekonomi di Indonesia
Catatan Wawan Setiawan
————–

Indonesia dimerdekakan oleh Founding Fathers, khususnya Soekarno dan Hatta, dengan mengedepankan jiwa sosialisme. Sosialisme memang suatu ideologi yg lagi trend diabad 18-19, sehingga para founding fathers seperti Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, ataupun HOS Tjokroaminoto semua telah membaca Das Kapital, dan telah sepakat mendirikan negeri Sosialis Indonesia.

Namun dalam perjalanannya, sungguh tidak mulus, banyak sekali terjadi gangguan, misal tragedi separatisme di Indonesia, dan puncaknya Soekarno dipreteli kekuasaannya dan diganti era Orde Baru yg dimotori oleh Soeharto. Di era Soeharto, Indonesia bisa mulus membangun karena selain adanya stabilitas yg diciptakan dengan beking tentara, era Orde Baru juga diwarnai era booming oil dan gas, dan Indonesia telah menjadi salah satu negara anggota OPEC atau pengekspor oil. Ekonomi di era Soeharto berkembang, namun juga diwarnai banyak kebocoran dan oligarki karena Soeharto berkiblat ke barat yg liberal didalam membangun ekonomi.

Setelah Soeharto jatuh, Indonesia rupanya masih terbawa dengan aura Orde Baru, penyakit korupsi masih massive dimana mana. Ini saya pikir adalah salah satu penyakit besar didalam pembangunan ekonomi yg berkeadilan sosial, selain itu di era Soeharto yg telah melahirkan oligarki kapitalisme, banyak sekali taipan raw material atau bahan mentah yg berhasil kaya karena mengeruk kekayaan negara Indonesia. Sayangnya hal ini tidak diikuti dengan kesadaran membayar pajak yang baik, banyak taipan atau oligarki kapitalisme yang menggelapkan pajak, dan juga memarkir kapital atau dana mereka di luar negeri. Untuk itulah pemerintahan Presiden Joko Widodo mengadakan Tax Amnesty agar kapital atau modal dari dalam negeri balik lagi ke Indonesia dan tidak terparkir di luar negeri khususnya di negara tax haven.

Masalah ekonomi lainnya, diantaranya adalah BUMN Indonesia yg cenderung masih menjadi sapi perah dan tempat korupsi yg massive. BUMN belum profesional, mungkin untuk bisa profesional, BUMN harus melakukan privatisasi hingga 49% ke pihak swasta.

Boleh dirangkum, masalah masalah ekonomi di Indonesia, diantaranya adalah
– Kesadaran membayar pajak, dan masih banyak oligarki kapitalis yg menggelapkan pajak. Saat ini menurut Sri Mulyani, atau menteri keuangan, penerimaan negara dari pajak masih jauh dari target.
– Kapital Flight, atau diparkirkannya modal atau kapital para oligarki kapitalis di luar negeri.
– Korupsi yg massive, dari pejabat tinggi sampai ke tingkat desa.
– BUMN yg belum profesional dan masih menjadi ajang korupsi para pejabat.

Indonesia diharapkan bisa kembali ke tujuan para pendirinya, yaitu menjadi negeri welfare state, atau sosialis, dan mampu mengembangkan kemampuan warga negaranya diantaranya dengan subsidi pendidikan atau kesehatan gratis. Pendidikan dan kesehatan gratis saya kira adalah dasar dari negara sosialis atau welfare state.

Intangible Asset dan kapitalisme abad 21

Intangible Asset dan kapitalisme abad 21
Catatan Wawan Setiawan
——-
Mencermati ekonomi Amerika memang menarik, karena selain berbasis intangible, ekonomi Amerika juga unik. Saat ini ekonomi Amerika ditunjang oleh pinjaman dari the Fed atau bank central Amerika. Neraca perdagangan Amerika Serikat sendiri sering minus atau negative, namun mata uang mereka atau USD masih tetap kuat. Ini tak lepas dari dipakainya mata uang usd sebagai mata uang standar internasional menggantikan emas.

Ekonomi Amerika saat ini juga didominasi oleh perusahaan teknologi, biasanya perusahaan teknologi Silicon Valley mempunyai kapitalisasi yang sangat besar. Meski kapitalisasinya berbasis intangible, namun ternyata sistem ini berjalan dengan baik. Sebagai contoh adalah perusahaan Facebook, yang IPO tahun 2012 dengan harga saham sekitar usd 38 dan pernah turun ke level usd 10-15, namun saat ini ditahun 2017 Facebook mencatatkan harga sahamnya sebesar sekitar usd 162. Alibaba yang sebagian sahamnya dimiliki oleh Yahoo, disebut sebagai pemecah rekor IPO, ketika IPO pada tahun 2014 harga sahamnya usd 58, namun saat ini harga saham Alibaba tercatat sudah menjadi usd 152, atau dalam 3 tahun sudah menjadi 3x lipatnya.

Perusahaan yg tidak mendapatkan profit seperti Whatsapp juga mempunyai nilai kapitalisasi pasar sebesar usd 19 billion, kapitalisasi ini karena Whatsapp digunakan oleh banyak member atau pengguna seperti juga dengan Facebook.

Intangible asset inilah yang menjadi dasar nilai kapitalisasi perusahaan IT sangat tinggi. Saat ini tercatat perusahaan IT Apple yang mempunyai kapitalisasi tertinggi, demikian juga dengan Microsoft, Amazon, IBM dan juga Google. Nilai intangible ini telah mengalahkan nilai tangible perusahaan, semisal Exxon Mobile atau Freeport, kapitalisasinya masih dibawah Apple.

Saat ini di Indonesia saya pikir juga mulai berparadigma dengan nilai intangible ini. Hal ini bisa dilihat dari investor Go Jek, start-up aplikasi transportasi online, asal Indonesia yg disuntik dana hingga trillionan. Go-Jek saya kira akan masuk ke bursa saham Indonesia dan mengkapitalisasi nilai intangible-nya sebagai perusahaan nomor satu dibidang transportasi online di Indonesia. Dalam catatan, valuasi Go-Jek saat ini juga telah menyalip valuasi perusahaan penerbangan Garuda Indonesia.

Dengan adanya bursa saham yg menitikberatkan terhadap nilai kapitalisasi atau intangible asset, maka di Amerika maupun Indonesia ada orang kaya yg profesinya sebagai investor atau pemilik saham perusahaan yg melantai di bursa saham. Di Amerika sebagai contoh ada investor Carl Icahn yg merupakan penasehat Presiden Donald Trump, Icahn juga pemilik Freeport maupun saham Apple, serta perusahaan IT lainnya seperti Facebook.

Saat ini, kapitalisme juga sudah berubah wajahnya, dari kapitalisme era abad 18-19 maupun abad 20 yg mengutamakan penguasaan sumber daya alam, ke kapitalisme abad 21, ini diwarnai dengan kapitalisasi perusahaan yg mampu melakukan inovasi teknologi terutama di sektor IT. Di tahun 2017 ini, perusahaan dengan kapitalisasi terbesar adalah Apple, disusul dengan Microsoft, kemudian Alphabet atau Google dan kemudian Amazon. Era kapitalisme abad 21 ini diwarnai dengan penggelembungan super terhadap aset intangible atau inovasi. Perusahaan akan bernilai naik jika mampu melakukan inovasi atau mengakuisisi start-up atau perusahaan inovasi. Dengan demikian kapitalisme abad 21 telah bergeser dari kapitalisme dan penguasaan sumber daya alam ke kapitalisme atau penguasaan inovasi teknologi.

Amerika dan Ironi-nya

Amerika dan Ironi-nya
Catatan Wawan Setiawan
——
Selama ini, kita melihat bahwa negeri Amerika sering memaksakan sistem-nya yg demokratis dan cenderung liberal ke negara lain, terutama Timur Tengah, maupun ke Amerika Selatan dan negara mana saja yg menjalankan diktatorisme. Amerika adalah negeri yang unik, negeri dengan ekonomi liberal dan ekonomi intangible. Amerika juga yang mempelopori adanya “free trade” meski sekarang oleh Presiden Donald Trump, kabarnya “free trade” akan ditinjau kembali, karena Amerika kalah perang dagang dengan China. Ekonomi Amerika boleh dibilang unik, selain hutang per GDP-nya yang sudah mencapai 100%, mereka bisa hutang terhadap ‘The Fed’ atau Bank Central-nya, dan loan tersebut dengan bunga yang super murah, sekitar 0.25-1% saja. Ekonomi Amerika juga ditunjang oleh nilai tukar USD yang menjadi mata uang global bagi sistem ekonomi yg sedang berlaku saat ini.

Ekonomi Amerika juga melandaskan terhadap hal hal yang persepsional, sehingga intangible asset atau nilai kapitalisasi perusahaan bersifat intangible, terutama perusahaan di bidang IT. Saat ini Apple yang dianggap sebagai perusahaan dengan kapitalisasi terbesar di dunia, dengan nilai asset atau intangible assetnya sekitar usd 450 billion. Facebook, yang baru berdiri sekitar 10-15 tahun lalu, tercatat mempunyai intangible asset yang sangat tinggi, pemasukan Facebook dalam quarter pertama tahun 2017 tercatat hanya sekitar usd 3b saja, namun nilai saham Facebook telah mampu mendongkrak Mark Zuckerberg pemilik saham terbesar Facebook menjadi orang terkaya nomor 5 versi majalah Forbes. Facebook mempunyai kapitalisasi yang sangat besar karena Facebook telah menjadi perusahaan “Big Data”, yang mempunyai pelanggan 2 milliar, serta aplikasi WhatsApp yang mayoritas banyak dipakai oleh netter

Ekonomi Amerika jelasnya berjalan secara unik, tidak sama dengan negara negara lainnya, negara lain akan mengalami inflasi dan devaluasi bila Bank Central-nya mencetak uang sendiri seperti yang pernah dilakukan oleh Bank Indonesia di era Soekarno, tapi khusus Amerika, mereka bisa meminjam dana atau mencetak uang dari central bank “The Fed” dengan jumlah yang super, atau tahun ini berkisar usd 16-18 trillion.

Amerika, ketika krisis global juga mempunyai policy untuk membantu rakyatnya untuk mendapat keuntungan, misal “The Fed” yang memberikan kredit sangat murah, dan kemudian hasil dari meminjam dana bisa di-investasikan di negara berkembang atau seperti Indonesia, yang mempunyai Bursa Saham yg cukup menarik, karena banyak sekali perusahaan raw material yg listing di bursa saham Indonesia.

Ketika krisis global, memang banyak sekali aliran dana dari luar negeri di sektor financial, sehingga ekonomi Indonesia mampu tumbuh sebesar 7%, namun pertumbuhan ini mayoritas dipicu oleh investasi di sektor finansial atau non-riil. Setelah ekonomi Amerika membaik, dana yg masuk ke bursa efek Indonesia juga kemudian ditarik atau pulang, namun tentunya sudah mendapat keuntungan dari bursa saham Indonesia.

Melihat bagaimana sistem ekonomi Amerika berjalan, maka kita tidak bisa melakukan komparasi atau meniru begitu saja, karena beberapa hal yang unik dari sistem ekonomi Amerika.

Dengan demikian, ekonomi liberal yang dipromosikan oleh Amerika layak kita renungkan dan kaji, apakah ekonomi liberal cocok bagi negara seperti Indonesia?