Memahami alam semesta dari perpektive ilmu pengetahuan Fisika

Memahami alam semesta dari perpektive ilmu pengetahuan Fisika
Catatan Wawan Setiawan
———

Albert Einstein, tokoh fisikawan yang idenya telah merevolusi fisika Newtonian Mechanic atau fisika makroskopik yang banyak ditheorykan oleh Newton, pernah menyatakan bahwa “There are only two ways to live your life. One is as though nothing is a miracle. The other is as though everything is a miracle”. Pandangan Eisntein ini bisa saya terjemahkan bahwa kita bisa melihat alam semesta dan dinamika-nya baik secara magic atau atas kehendak tuhan, atau kita melihat alam semesta dan dinamika-nya dengan perspektife hukum hukum fisika.

Kalau kita mempelajari konsep konsep fisika yang diajarkan oleh Albert Einstein, maka kita akan mendapat perspektive lain tentang alam semesta ini. Albert Einstein semula pernah mengatakan “Science without religion is lame, religion without science is blind”, statemen ini disampaikan oleh Albert Einstein ketika masih cukup muda, sekitar tahun 1920-1930, namun setelah Einstein cukup tua, di tahun 1954, dia menyatakan “: “The word god is for me nothing more than the expression and product of human weaknesses, the Bible a collection of honourable, but still primitive legends which are nevertheless pretty childish. No interpretation no matter how subtle can (for me) change this.”

Selain itu pada tanggal 24 April 1929, Albert Einstein menyatakan bahwa “I believe in Spinoza’s God, who reveals himself in the harmony of all that exists, not in a God who concerns himself with the fate and the doings of mankind.”

Spinoza atau Baruch Spinoza adalah seorang yahudi belanda yang menjadi filsuf di era Renaissance atau pencerahan Eropa di abad 17. Spinoza beranggapan bahwa alam semesta adalah perwujudan akan tuhan sendiri, Baruch Spinoza menyatakan “Deus Sive Natura” bahwa alam semesta ini natura naturans, yang artinya alam semesta ini sangat dinamik, berkembang, dan terus berubah. Baruch Spinoza juga menjadi tokoh penting bagi pemikir monism materialism, menurut Baruch Spinoza, tuhan atau God adalah matter dan subtance-nya, keduanya tidak bisa dipisahkan karena satu kesatuan.

Filsafat monism materialism ini kemudian berkembang pesat di abad 18 dan 19, terutama dikembangkan oleh Ludwig Feuerbach, tokoh atau bapak Materialism dari Jerman, yang menjungkirbalikan filsafat idealisme dari filsuf Jerman GWF Hegel, serta juga dikembangkan oleh Karl Marx, maupun Lenin. Filsafat ini begitu mendominasi di awal abad 19, dan sangat berjasa diantaranya mengembangkan ilmu pengetahuan terutama neurosains.

Kembali kepada Albert Einstein, Einstein dikenal karena rumus fisikanya e=mc^2, rumus Fisika ini bisa diterjemahkan bahwa segala benda di alam semesta ini adalah berupa energi belaka, atau semua benda di alam semesta merupakan atau tersusun oleh energi yg dipadatkan. Theori String, yang menjadi perkembangan theori mekanika kuantum juga menganggap bahwa segala benda di alam semesta ini adalah gelombang atau wave belaka, dan didalam fisika, relasi atau hubungan antara partikel, gelombang dan energi merupakan satu kesatuan, atau setiap partikel mempunyai energi dan juga mempunyai wave atau gelombang. Hal ini juga diperkuat didalam theory wave-particle duality, bahwa setiap partikel bisa beraksi menjadi gelombang maupun sebaliknya.

Dengan demikian, menurut fisika, bahwa segala benda yang sebenarnya tersusun oleh energi atau gelombang, tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan, karena energi atau gelombang itu kekal. Hal ini yang membedakan dengan pengetahuan agama, yang masih menganggap alam semesta diciptakan oleh Tuhan. Didalam fisika memang mengenal adanya big bang, atau awal mula terciptanya alam semesta, tapi sebelum terjadi big bang, sudah ada energi atau higgs boson, partikel elementer yang dianggap sebagai partikel yg membuat benda menjadi mempunyai massa.

Untuk itulah kalau banyak fisikawan yang atheis, atau setidaknya world view-nya pantheism atau Spinozism, seperti Albert Einstein atau Erwin Schrodinger, sedangkan fisikawan seperti Richard Feynman, Niels Bohr, Louis De Broglie, Peter Higgs penemu Higgs Boson, ataupun fisikawan popular Stephen Hawking, mempunyai world view atheis.

Richard Feynman sendiri, yang dianggap jenius fisika setelah Albert Einstein, menganggap bahwa di alam semesta ini terbentuk oleh atom atom, arau partikel partikel yg jika dicacah terus menerus maka akan menjadi unit yg lebih kecil lagi, dan atom atom ini saling berinteraksi sehingga alam semesta bergerak secara dinamis, dan kalau merunut mekanika kuantum, unit kecil partikel atau atom ini bergerak secara uncertainty. Hal ini memang aneh, karena di fisika makroskopik terkesan deterministik, sedangkan di fisika mekanika kuantum atau fisika yang mempelajari atom dan unit kecilnya, dinyatakan bahwa gerak partikel itu uncertainty.

Dengan demikian, kaum fisikawan mempunyai world view atau cara pandang tersendiri terhadap alam semesta, cara pandang mereka utamanya didasarkan oleh empirisme, atau pembuktian yang bisa di indera.

Advertisements

Peranan Marxisme-Leninisme didalam kemerdekaan bangsa bangsa

Peranan Marxisme-Leninisme didalam kemerdekaan bangsa bangsa
Catatan Wawan Setiawan
——-

Abad 15-19, Eropa sedang bertransformasi dari abad kegelapan ke Renassiance atau abad pencerahan. Banyak sekali gagasan dari pemikir pemikir barat, diantaranya Karl Marx yang menyuarakan “Komunis Manifesto”, dimana didalam konsep komunis, negara jajahan dianggap tidak berperikemanusiaan. Sehingga di organisasi internasional komunis atau komintern, mereka sepakat menghapus penjajahan di mana saja yang dilakukan oleh negara negara Eropa.

Awal abad 19, ideologi komunis, mungkin sedang mengalami masa euphoria, sehingga banyak dibaca oleh tokoh tokoh pergerakan kemerdekaan. Tak luput, Soekarno, Hatta, Sjahrir, sampai Tan Malaka membaca Das Kapital, namun mereka berbeda pendapat dalam hal cara mensejahterakan Indonesia. Sebagian tokoh PKI menganggap PKI harus mengambil kekuakasaan secara revolusioner, hal ini seperti pemikiran Musso, namun ada juga yang berpendapat bahwa PKi harus merebut kekuasaan melalui demokrasi. Hal ini setidaknya merupakan pikiran Ir. Soekarno, yang juga mempunyai paham “Marhaenisme”, yaitu Materialisme Dialektika History yang disesuaikan dengan kebudayaan dan karakter negeri masing masing.

Awal abad 19, yang juga diwarnai politik etis, bahwa kaum yang dijajah boleh bersekolah, tampaknya juga menjadi salah satu peran sentral terhadap kemerdekaan. Perlawanan terhadap penjajah tidak lagi bersifat perang, tapi sudah terorganisasi, ini juga telah menjadi doktrin Marxis Leninis, di artikelnya berjudul “The Awakening of Asia” Lenin mengulas bahwa di India, China, dan di Jawa telah terbentuk organisasi yang menentang kolonialism, Lenin menyebut Syarekat Islam, yang konn ketika itu melakukan pertemuan dengan dihadiri oleh 100 orang pengikut.

Didalam sejarahnya, memang Syarekat Islam terbelah, ada syarekat islam merah yang kemudian menjadi PKI, dan ada Syarekat Islam putih yang merupakan pembersihan dari pimpinan HOS Tjokroaminoto.

Didalam konsep Marxisme Leninisme Internasional, semua organisasi atau Partai Komunis menolak kolonialisme, termasuk CPN Partai Komunis di Belanda. Tokoh seperti Henk Sneevliet dikirim oleh Vladimir Lenin untuk membentuk organisasi pembebasan, yaitu ISDV yang kelak berubah menjadi PKI, dan orang orang seperti Douwes Dekker ataupun Adolf Baar merupakan tokoh tokoh Belanda yang mendukung Marxisme. Didalam sejarahnya, Henk Snevlieet tak hanya mendirikan ISDV atau sosial demokrat di Indonesia saja, tapi juga mendirikan partai Komunis di China. Ketika mendirikan ISDV, Henk Snevlieet juga pernah memimpin pemogokan, sehingga lantas ditangkap dan dibuang ke belanda.

Demikianlah perkembangan zaman tidak bisa ditolak, dari zaman kolonialisme eropa, kemudian terjadi revolusi borjouis Prancis, dan revolusi proletar Russia yang juga anti kolonialisme, sehingga, lahirlah Partai Komunis di banyak negara eropa termasuk Belanda, dan mereka semua sepakat memperjuangkan anti kolonialisme dengan cara membentuk organisasi seperti PKI yg revolusioner.

Mengapa di tahun 1965, Uni Soviet tidak mendukung namun bahkan Amerika mendukung operasi CIA

Mengapa di tahun 1965, Uni Soviet dan bahkan Amerika mendukung operasi CIA
catatan wawan setiawan
———

Persahabatan Soekarno dengan Amerika dan Uni Soviet, tak lepas dari adanya figur John F Kennedy di Amerika, dan Nikita Khrushchev di Uni Soviet. Indonesia sendiri, didalam pembukaan UUD 45, memilih menjadi negara yang bebas aktif, tidak condong ke salah satunya, baik pihak barat ataupun blok timur. Politik bebas aktif ini direalisasikan dengan adanya konferens Asia Afrika di Bandung, yang menginspiras negara negara untuk merdeka dari kolonialisme, karena awal abad 19, terjadi euphoria Marxisme Leninisme yang juga anti kolonialisme, dan juga maraknya politik etis dari pemerintah Kolonal.

Hubungan Soekarno dengan Nikita Khrushchev sendiri pernah sangat baik, selain Soekarno pernah ke Uni Soviet, Nikita Khrushschev juga pernah mengunjungi Soekarno di Indonesia dan juga tahun 1963, Uni Soviet mengirimkan persenjataan tempur terbaik se-asia bagi Indonesia yg akan digunakan oleh operasi Trikora untuk merebut Irian Bara.

Namun semua serasa hancur berantakan setelah John. F Kennedy, Presiden Amerika yg juga sahabat Presiden Soekarno tertembak mati di tahun 1963, dan penggantinya, Lyndon B Johnson lebih cenderung tidak menyukai Soekarno, sehingga perundingan Freeport menjadi buntu. Di tahun 1964, Nikita Khrushchev juga telah mundur dari PM Uni Soviet, sehingga praktis tidak ada kawan baik Soekarno lagi di Uni Soviet tahun 1965. Di tahun 1965 ini juga terjadi pertumpahan darah, karena PKI dan simpatisannya dibunuh oleh Angkatan Darat, dan Soekarno sebagai Presiden sendiri meski masih didukung oleh TNI AL, TNI AU, dan sebagian besar TN AD, justru memilih diam dan tidak berusaha mencegah genocide ini. Saya pikir kita tidak bisa menggantungkan diri ke Russia seperti halnya perang Vietnam yg didukung oleh Uni Soviet, karena Presidennya sendiri juga tidak mengambil sikap tegas melarang Angkatan Darat untuk melakukan pembantaian ke pada PKI dan simpatisannya.

Tsamara Amani dan Vladimir Putin

Tsamara Amani dan Vladimir Putin
Catatan Wawan Setiawan
———-

Baru baru ini, dunia media sosial diramaikan oleh isu yang dilempar oleh anggota DPR RI Fadli Zon, bahwa Indonesia memerlukan pemimpin “seperti Vladimir Putin”. Opini yang dilempar oleh Fadli Zon ini kemudian ditanggapi oleh Tsamara Amani, yang menganggap Putin tidak layak memimpin Indonesia, karena Putin dianggap koru dan indeks korupsi di Russia masih dbawah Indonesia.

Jika kita mengacu kepada media barat, memang seringkali mereka memojokan Russia, maupun Vladimir Putin, namun kalau kita mengikuti kisah Vladimir Putin ini sangat menarik. Vladimir Putin adalah lulusan doktoral di Leningrad, dan juga mantan agen KGB di Dresden Jerman Timur, yang pernah ketahuah oleh media barat sedang memasang alat penyadapan. Vladimir Putin ini fasih dalam bahasa Jerman, begitu juga kedua puterinya disebutnya fasih didalam bahasa Jerman. Vladimir Putin mengundurkan diri dari KGB, setelah runtuhnya Uni Soviet dan KGB tidak memberikan instruksi apapun untuk Jerman ketika Uni Soviet runtuh. Vladimir Putin mengundurkan diri dari KGB dengan pankat Letnan Kolonel, selanjutnya beliau membantu pemerintahan walikota di Leningrad.

Setelah Uni Soviet runtuh, Boris Yeltsin menjadi Presiden Russia yang sangat liberal, baik liberal demokrasi maupun ekonomi. Banyak perusahaan negara, terutama perusahaan tambang, minyak dan gas yang diliberalisasi oleh swasta, misal Yukos dimiliki oleh Mikhail Khodorkovsky yang waktu itu menjadi orang terkaya di Russia, sedangkan Sibneft dimiliki oleh Roman Abramovich. Vladimir Putin ketika Boris Yeltsin berkuasa, dijadikan PM, dan kepada kroni oligarki kapitalisme-nya, Yeltsin menyampaikan kepada para kroni oligarki kapitalisme-nya bahwa Putin akan melindungi bisnis kroni oligarki kapitalisme. Namun setelah Putin terpilih menjadi Presiden Russia untuk pertama kali, rupanya Putin mempunyai agenda sendiri, yaitu bersama kaum “Siloviki” atau rekan KGB-nya, untuk kembali membangun kejayaan Un Soviet. Putin mulai mengganti lagu nasional di tahun 2000, agar jiwa patriotik tertanam di jiwa warga negara Russia. Selain itu tidak disangka Putin mulai mengontrol dan kengendalikan oligarki kapitalisme di masa Yeltsin, Putin berani menasionalisasi perusahaan tambang seperti Yukos milik Mikhail Khodorkovsky dan Sibneft mikik Roman Abramovich. Mikhail Khodorkovsky akhirnya ditahan dengan tuduhan penggelapan pajak dan dipenjarakan di Siberia, namun kini telah bebas dan tinggal di Jerman, sedangkan Roman Abramovich mau bekerjasama dengan Putin didalam nasionalisasi. Oligarki Kapitalisme lain seperti Boris Brezovksy, sekutu Mikhail Khodorkovsky melarikan diri ke London, dan ditemukan telah meninggal dunia di bak mandinya.

Di era kepemimpinan Vladimir Putin, tahun 2000-2008 adalah era keemasan ekonomi Russia, karena saat itu harga komoditas seperti minyak dan gas sedang tingg tingginya, sekitar diatas usd 100 per barrel, dan Russia merupakan eksporter gas terbesar ke Eropa, 25% gas di Eropa di supply oleh Russia, terutama negara Jerman, Turki, maupun Belanda.

Dengan demikian di era masa kepemimpinan Presiden Vladimir Putin, tingkat taraf hidup rakyat Russia naik double atau dua kali tiap tahun, dari usd 80 ke usd 640, dan indeks gini rasio yang pada tahun 1993 adalah 0.48 atau sangat tinggi sekala kesenjangannya, menjadi 0.37 di tahun 2018 ini, atau telah cukup membaik.

Di era kepemimpinan Vladimir Putin, Russia juga mencanangkan kemandirian produksi bahan pangan, karena Russia diembargo oleh Barat atas kasus Crimea dan dukungannya ke gerakan seperatis Ukraine Timur, bahkan di tahun 2018 ini Russa telah siap eksport bahan pangan.

Di era kepemimpinan Presiden Vladimir Putin ini, Russia yg semula mempunyai hutang terhadap Paris Club, dimana negara yang berhutang biasanya disetir dan dimintai syarat, Russia memilih membayar lunas hutang Paris Club in beserta dendanya, karena telah mampu melunasi lebih dini dari jadwal.

Selain itu di tahun 2015-2018, ini Russia kembali ikut berkiprah kedalam geopolitik internasional, terutama dukungannya kepada rezim Suriah Bashar Al Assad. Presiden Putin menganggap bahwa perang melawan Terrorisme, sebaiknya melibatkan tentara pemerintah atau Bashar Al Assad, dan kini terbukti pandangan Presiden Putin benar, Suriah yang dulu separoh wilayahnya dikuasai oleh terroris, termasuk terroris dukungan barat, sekarang, wilayah Suriah 90% telah dikontrol oleh militer pemerintah.

Penghargaan dari luar negeri, ikut memperkuat eksistensi Presiden Vladimir Putin, majalah Forbes tahun 2015 telah menobatkan Presiden Vladimir Putin menjadi orang yang paling berpengaruh didalam 3x berturut turut, dan disusul oleh kanselir Jerman Angela Merkel, sedangkan majalah Time 2017 menobatkan Putin menjadi orang paling berpengaruh.

Seperti yang dikatakan Tsamara, di Russia memang juga seperti Indonesia, negeri yang terkena kutukan kekayaan alam, sehingga rampan korupsi juga massive, namun pemerintah saat ini juga sedang berjuang melawan penyakit korupsi, selain itu HDI atau Human Develompment Index di Russia juga cukup tinggi, sehingga Russia menjadi negeri yg pantas untuk dimasuki investasi. Pendapatan per kapita Russia juga masih jauh lebih tinggi daripada Indonesia, yaitu sekitar usd 16000, sedangkan Indonesia masih hanya sekitar usd 4000, dan yang terpenting, indeks kesenjangan di Russia masih lebih rendah daripada Indonesia, yaitu 0.37 sedangkan Indonesia 0.39

Alhasil, Presiden Vladimir Putin memang kontroversial, dia memerintah seperti diktaktor di Indonesia, namun Russia dibawah Presiden Putin juga membawa kestabilan ekonomi, persatuan negara dan kejayaan negara, kira kira begitulah Mikhail Gorbachev menyanjung Presiden Vladimir Putin.

Kita di Indonesia, memang tidak butuh Presiden Vladimir Putin, tapi kita buth sepak terjangnya yang positif di Indonesia, misalnya memperbaiki ekonomi, mengurangi indeks kesenjangan, memberantas korupsi, dan membawa negara ini menjadi negara yang cukup disegani seperti ketika era Bung Karno.

Meterialisme dan Empirio-Criticsm

Meterialisme dan Empirio-Criticsm
Catatan Wawan Setiawan
———-

Materialisme dan Empirio-Criticsm adalah salah satu karya dari Vladimir Ilyich Lenih, sang bapak revolusi proletar Russia yg cukup fenomenal diantara 55 karya buku lainnya. Didalam hidupnya, Vladimir Lenin banyak sekali menulis, terutama tentang Marxisme dan Leninisme, bahkan jujur saja, saya lebih banyak membaca karya Vladimir Lenin dibanding karya Karl Marx sendiri. Ini tak lain karena ketertarikan saya terhadap negeri Russia sejak masih kecil, atau tepatnya ketika masih SMP saya banyak bermain Tetris, game puzzle buatan salah seorang programmer Uni Soviet, yang latar belakangnya banyak menampilkan gambar situs situs Russia seperti Geeja Katedral Moscow yang bentuknya mempunyai kubah sehingga menyerupai Mesjid dan dulu saya kira memang itu adalah mesjid.

Vladimir Lenin, tokoh bolshevik revolusioner dari Russia boleh dibilang sebagai tokoh politikus langka, selain berhasil menuliskan 55 karya jilid buku, salah satunya ada yang mengulas tentang gerakan perlawanan kolonialisme di Indonesia, yaitu artikel berjudul “The Awakening of Asia”, Lenin yang mendapat informasi dari agen komintern dari Belanda, yaitu van Ravesteyn, mengulas bahwa di Jawa telah tercipta organisasi perlawanan organisasi melawan Belanda, yaitu Syarekat Islam yang konon ketika mengadakan pertemuan di Surabaya, dihadiri oleh 100.000 anggota, artikel ini selain mengulas tentang kemajuan pergerakan anti kolonialisme di Hindia Belanda, juga menyoroti tentang kemajuan pergerakan di China, India, Turki, dan negara Asia lainnya.

Namun diantara banyak karyanya, yang paling “mencerahkan” saya adalah karya-nya berjudul “Materialism and Empirio-Criticsm”, karya ini berusaha menangkis pengetahuan para fisikawan dunia yang terjebak terhadap pengetahuan takhyul dunia, dan juga mengulas para philosopher yang berpijak terhadap rasionalisme, terutama aliran Kantian, mereka yang masih menganggap bahwa pengetahuan didapatkan melalui proses transenden, sangat bertentangan dengan paham empirisme yang diusung oleh David Hume, John Locke, Thomas Hobbes, dkk yang menganggap bahwa seluruh pengetahuan kita didapatkan melalui panca indera atau secara empirik.

Di sisi lain, Vladimir Lenin yang berusaha meng-counter kemajuan zaman, yaitu ditemukannya partikel penyusun atom, juga menjelaskan bahwa para fisikawan belum mengetahui dialektika yang ditheorykan oleh filsuf Yunani, bahwa didalam dialektika, maka materi atau partikel akan selalu tersusun oleh partikel yang lebih kecil, zaman saat ini partikel penyusun terkecil adalah “quark”, namun didalam theory “String”, gelombang adalah penyusun terlembut atau terkecil dari segala partikel.

Vladimir Lenin, dengan asumsi rumus Newton, F=MA, juga menjelaskan bahwa gerak, atau gerakan hanya mungkin terjadi jika ada materi atau partikelnya, sehingga Vladimir Lenin menulis “tiada materi tanpa gerakan dan tiada gerakan tanpa materi”, fisikawan yang mempercayai ada gerak tanpa materi adalah fisikawan pemburu hantu.

Didalam Buku “Materialism dan Empirio-Criticsm”, banyak sekali Vladimir Lenin memberi pencerahan, khususnya terhadap weltanschauung alam semesta menurut pandangan dari ilmu fisika newtonian mechanic. Saya sendiri, menyarankan kepada Anda untuk menyempatkan diri membaca buku ini, karena bagi saya ini salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Vladimir Lenin sendiri sebagai politikus jenius, yang lulusan ilmu hukum, dan ayahnya adalah seorang guru fisika, otaknya juga diambil dan dibawa ke Jerman, untuk diteliti dan diobservasi, sama halnya dengan otak Albert Einstein.

Sebagai pelengkap buku ini, saya menyarankan untuk membaca buku “Reason in Revolt” karya Ted Grant dan Alan Wood, yang sudah mengadopsi kemajuan ilmu pengetahuan, khususnya mekanika kuantuk di awal dan tengah abad 21, sehingga weltanschauung atau cara pandang anda terhadap alam menjadi modern dan mungkin buku buku tersebut memberikan wacana terbaru anda terhadap cara pandang alam yang kian modern.

Presiden Vladimir Putin dan lika liku langkah politiknya

Presiden Vladimir Putin dan lika liku langkah politiknya
Catatan Wawan Setiawan
——–

Baru saja, dari Russia dikabarkan bahwa Presiden Vladimir Putin memenangi pilpres Russia tahun 2018, sehingga Presiden Putin akan menjabat sebagai Presiden Russia sampai tahun 2024 karena periode kepemimpinan di Russia adalah per 6 tahun. Presiden Vladimir Putin menang cukup telak, yaitu sekitar 76% suara kemenangan, jauh meninggalkan rivalnya yang didukung oleh Partai Komunis Russia, yaitu Pavel Grudinin, yang juga seorang miliarder atau seorang pengusaha, namun didukung oleh Partai Komunis Russia, karena ide ide reformasinya.

Kemenangan Presiden Putin ini relatif sepi dari hiruk pikuk propaganda demokrasi, mungkin karena di Russia demokrasinya masih tergolong diawasi oleh pemerintahannya secara cukup ketat. Kemenangan Presiden Putin ini saya pikir juga plus minus, di satu sisi Presiden Vladimir Putin pernah sukses membenahi ekonomi Russia, ketika Presiden Vladimir Putin masih menjabat di periode pertama dan kedua, yaitu tahun 2000-2008. Presiden Putin, tanpa diduga oleh oligarki kapitalisme di era Presiden Yeltsin, ternyata Presiden Putin berani melakukan nasionalisasi perusahaan minyak yg semula dikuasai oleh taipan semacam Mikhail Khodorkovsky ataupun Roman Abramovich. Perusahaan milik Taipan Mikhail Khodorkovsky, yaitu Yukos, dinasionalisasi, demikian juga Sibneft milik Roman Abramovich juga tidak lepas dinasionalisasi oleh negara. Dengan demikian Presiden Vladimir Putin berhasil mengurangi kemiskinan yang massive yang diakibatkan liberalisme ekonomi di era Presiden Boris Yeltsin, selain prestasi ini, Presiden Putin juga berhasil membayar hutang negara terhadap kelompok barat “Paris Club” lebih awal dari yang dijadwalkan.

Ketika USSR ambruk, dan pemerintahan dipimpin oleh Presiden Yeltsin, hutang pemerintah Russia, rasio per GDP-nya hampir mencapai 100%, namun saat ini, di era kepemimpinan Presiden Putin, hutang Russia, rasionya hanya berkisar sekitar 20% saja. Selain itu Presiden Putin juga berhasil menaikan taraf hidup atau kualitas hidup rakyat Russia di periode kepemimpinan tahun 2000-2008.

Selain prestasi ekonomi dalam negeri, Presiden Putin didalam politik luar negerinya juga cukup aktif, dan cenderung anti barat, Russia selain mendukung pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al Assad, juga telah melakukan anexsasi di wilayah Crimea, dan juga dianggap mendukung pemberontakan di Ukraina Timur. Dengan demikian, Russia mendapat konsekuensi, yaitu ekonominya diblokade oleh Barat ataupun Amerika, sehingga ekonomi Russia sempat mengalami krisis kembali.

Dengan keberhasilan di Suriah dan Crimea, majalah barat seperti Time dan Forbes pernah mengangkat bahwa Presiden Vladimir Putin adalah manusia paling berpengaruh di dunia. Namun di luar prestasi prestasi tersebut, media barat juga banyak yang mengkritisi kebijakan dan kekayaan Presiden Vladimir Putin, bahkan ada media barat yg menuliskan berita bahwa Vladimir Putin adalah orang terkaya di dunia.

Didalam analisis saya sendiri, selain prestasi Presiden Putin yang cukup bagus, namun masih banyak kelemahan atau hal yg perlu dikritisi di Russia, misal soal korupsi, negeri Russia masih menjadi negeri yang penuh dengan rampan korupsi, selain itu konon terjadi KKN atau kroni kapitalisme yang massive di Russia, terutama bagi mereka yg mantan agen intelijen biasanya menjadi pengusaha yg cukup sukses di Russia. Kesenjangan ekonomi di Russia menurut indeks gini, sangat lebar, bahkan Russia dianggap sebagai negeri yg mempunyai kesenjangan ekonomi paling besar di dunia.

Selamat buat terpilihnya Presiden Vladimir Putin, di jabatan ke empat Presiden, namun kiranya masih banyak yg perlu dibenahi, misal tranparansi pemerintahan, atau mereduksi tingkat korupsi di Russia, dan juga mengatasi kesenjangan sosial yg massive di Russia.

Prof. Stephen Hawking, atheisme dan filsafat materialisme

Prof. Stephen Hawking, atheisme dan filsafat materialisme
Catatan Wawan Setiawan
——–

Rabu, tanggal 14 Maret 2018, dunia dikejutkan oleh meninggalnya fisikawan jenius, Prof. Stephen Hawking. Prof. Stephen Hawking, selama ini dikenal sebagai fisikawan kosmologi, terutama theory-nya tentang Balckhole dan Singularitas atau pendapatnya tentang terciptanya alam semesta. Menurut Prof. Stephen Hawking, alam semesta bisa tercipta sendiri, tanpa ada campur tangan tuhan.

Statemen-statemen Prof. Stephen Hawking memang banyak yang mengindikasikan bahwa dirinya adalah seorang atheis, misal statemennya tentang “Sorga dan Neraka adalah dongeng bagi manusia yg takut akan kegelapan”. Selain itu Prof. Stephen Hawking tidak mempercayai konsep kehidupan yg abadi atau afterlife, Prof. Stephen Hawking menganggap bahwa otak seperti halnya kinerja Komputer, otak akan berhenti bekerja setelah terjadinya kematian atau setelah ada komponennya yg telah rusak, persis komputer yang komponennya telah rusak, sehingga tidak bisa bekerja lagi.

Dalam pandangan saya, Prof. Stephen Hawking banyak terinspirasi atau terpengaruh oleh filsafat materialisme, atau filsafat atomisme, filsafat yang menganggap bahwa alam semesta tersusun oleh atom atom, atau partikel yang jumlahnya super trillion dan antar atom atom tersebut saling berinteraksi antara satu dengan seluruh atom lainnya.

Filsafat materialisme atau atomisme, sebenarnya sudah ada sejak era filsuf Yunani kuno, filsafat ini ditheorykan oleh filsuf Epicurus. Di era pencerahan eropa atau “Age of Enlightenment”, filsuf seperti Ludwig Feuerbach kembali mengulas filsafat ini, dan juga filsuf besar Karl Marx, menyelesaikan pendidikan doktoralnya dengan thesis filsafat atomisme dari Epicurus. Karl Marx lantas menyatukan filsafat Dialektika-nya filsuf Jerman GWF Hegel, dengan Materialisme-nya Ludwig Feuerbach, menjadi filsafat dialektika materialisme.

Saya juga membaca karya Vladimir Lenin tentang Materialisme, terutama bukunya Vladimir Lenin yang berjudul “Materialism and Empirio-Criticsm”. Di dalam buku itu Vladimir Lenin banyak mengkritisi fisikawan yang masih percaya takhyul. Buku karya Lenin tersebut sangat dipengaruhi oleh perkembangan fisika terutama Newtonian Mechanic, didalam rumus Newton dikenal rumus F=MA, sehingga bisa diartikan bahwa yang bisa mempunyai kekuatan atau gerakan adalah materi atau partikel, tiada materi yang tidak punya kekuatan, dan tidak ada kekuatan tanpa materi, begitu kira kira Vladimir Lenin menjelaskan tentang alam semesta dan mistisisme.

Kembali kepada Prof. Stephen Hawking, beliau selain menjadi fisikawan jenius, beliau juga seperti fisikawan jenius lainnya seperti Albert Einstein, maupun Richard Feynman, juga banyak dan peduli dengan kondisi politik dan sosial. Prof. Stephen Hawking juga mengkritisi kapitalisme, terutama inequality atau kesenjangan yang diakibatkan oleh kemajuan teknologi. Selain itu Prof. Hawking juga merupakan aktivis anti perang, beliau menolak perang Vietnam maupun perang Iraq, dan juga anti dengan zionisme yang dilakukan oleh negeri Israel. Selain itu, Prof. Stephen Hawking juga menyoroti kemajuan teknologi, terutama di bidang AI, atau Artificial Intelligence. Bagi Prof. Stephen Hawking, kemajuan teknologi AI bisa membawa bencana terhadap masa depan manusia, karena peran manusia bisa tergantikan oleh AI, atau AI bisa lebih cerdas daripada manusia.

Prof. Stephen Hawking, selama hidupnya memang tidak memperoleh hadiah nobel di bidang fisika, karena theory beliau berbasis mathematika dan belum bisa dibuktikan secara empiris atau experimental, namun karya karya beliau tentang alam semesta maupun tentang Blackhole, sangat menginspirasi dunia, terutama ilmuwan fisika lainnya. Selain karya karyanya yang sangat menginspirasi, yang juga saya kagumi dari Prof. Stephen Hawking adalah semangat hidupnya, ketika dokter memvonis bahwa hidupnya tinggal beberapa tahun lagi, karena mengidap penyakit “motor neuron” atau ALS ( Amyotrophic Lateral Sclerosis ), di tahun 1963, Prof. Stephen Hawking tidak patah arang atau menyerah, meski juga pernah mengalami depresi setelah divonis oleh dokter, namun semangat-nya yang tinggi membuat Prof. Stephen Hawking bangkit dan berkarya meski dalam keadaan penuh keterbatasan akibat penyakitnya. Terbukti, vonis dokter keliru, dan Prof. Stephen Hawking bisa hidup jauh lebih lama daripada vonis dokter, atau bisa menjalani hidup sampai 14 Maret 2018. Pada tahun 1985, Prof. Stephen Hawking juga terkena penyakit pneumonia dan harus dilakukan trakeostomi sehingga ia tidak dapat berbicara sama sekali. Karena tidak bisa berbicara, maka seorang ilmuwan Cambridge membuat alat yang memperbolehkan Hawking menulis apa yang ingin ia katakan pada sebuah komputer, lalu akan dilafalkan melalui sebuah voice synthesizer.

Prof. Stephen Hawking, meski menderita penyakit saraf, namun beliau cukup produktif didalam berkarya dan tetap melanjutkan studinya di Cambridge University, dan sukses menjadi fisikawan jenius setelah era Albert Einstein.

Prof. Stephen Hawking, selain berkarya tentang blackhole, beliau juga memberikan kontribusi penting, misal dukungannya terhadap theory probabilitas atau uncertainty yang digagas oleh Werner Heisenberg, namun disanggah oleh fisikawan Albert Einstein yang mempercayai determinasi didalam ilmu fisika. Salah satu statemen Prof. Stephen Hawking adalah “So Einstein was wrong when he said, “God does not play dice.” Consideration of black holes suggests, not only that God does play dice, but that he sometimes confuses us by throwing them where they can’t be seen.”

Akhir kata, RIP untuk Prof. Stephen Hawking, salah satu fisikawan terbesar abad ini, setelah era Albert Einstein.