Market Capitalization

Market Capitalization
Catatan Wawan Setiawan

——-

Saat ini di dunia bisnis, forbes melansir bahwa 10 besar orang terkaya adalah mereka sang innovator terutama IT dan berkantor di Silicon Valley. Di deretan 10 besar ada Bill Gates, duo Google Larry Page dan Sergey Brin, Jeff Bezos maupun Mark Zuckerberg. Mereka rata rata mempunyai perusahaan IT, sedangkan IT saat ini maju pesat dengan adanya Artificial Intelligence. Saham saham perusahaan di Silicon Valley juga rata rata sangat diminati dan market capitalization mereka rata rata tinggi.

Umumnya, untuk menilai sebuah perusahaan, kita melihat asset, misal tanah, rumah, mobil, dan perangkat lainnya, tapi di IT sungguh sungguh berbeda. Orang IT menawarkan konsep atau gagasan sudah bisa menarik investor.

Selain itu harga saham perusahaan IT tergolong tinggi dengan market capitalization yang juga tinggi. Seperti Google mempunyai market cap 574 b, sedangkan Microsoft sekitar 504 b, Apple sendiri, sudah sejak tahun 2012 rasanya menjadi perusahaan dng market cap terbesar di dunia, saat ini tercatat 742.19b

Perusahaan perusahaan ini juga sedang berlomba untuk menjadi perusahaan dengan market cap 1 trillion usd. Untuk saat ini Apple yang sepertinya masih leading.

Di luar persaingan untuk menjadi perusahaan dengan market cap 1 trillion, sebenarnya kapitalisasi IBM di tahun 1985 sebesar 209 b. mengalahkan Exxon Mobile yang market capnya hanya 89 b. IBM saat itu menjadi perusahaan dengan market cap terbesar, dan apabila dihitung dengan inflasi dari tahun 1985 sampai tahun 2015, maka market capitalization IBM di tahun 1985 adalah 1.2 Trllion usd, terbesar didalam sejarah.

Kalau dicermati secara teliti, perusahaan IT lebih banyak menjual asset intangiblenya, misalnya masa depan perusahaan atau database. Mahalnya market cap perusahaan IT juga akibat perusahaan IT membawa prospek masa depan yang bagus.

Uniknya karakteristik bisnis IT adalah seperti yg terjadi di Tesla milik Elon Musk. Tesla telah menjadi perusahaan otomotive terbesar di Amerika mengalahkan General Motor. Dalam hal penjualan, profit, asset, General Motor lebih unggul daripada Tesla, namun market cap Tesla yg menjadi nomor satu di Amerika mengalahkan GM karena Tesla dianggap sebagai industry otomotif yang futuristik dan menjanjikan masa depan yang lebih baik lagi.

Materialisme dan kuantum mekanik
Catatan Wawan Setiawan
——

Di era renaissance atau abad pencerahan eropa, beberapa pemikir seperti Ludwig Feuerbach, David Hume, Vladimir Lenin, dan lain sebagainya mengenalkan filsafat materialisme. Filsafat ini berkembang setelah Charles Darwin membuka theory evolusi dan Newton membuat rumus fisika classical mechanic. Didalam filsafat monism materialism, maka materi dianggap yang substances, sedangkan gelombang, atau efek lain seperti gravitasi dianggap yang sekunder, tanpa adanya materi maka tidak akan ada gelombang atau gravitasi.

Hal ini bisa dimaklumi karena filsafat monism materialism berkembang atas dasar Newtonian dan kuantum mekanika belum di riset. Setelah ilmuwan seperti Niels Bohr, Paul Diract, Werner Heisenberg, dan fisikawan top lainnya melakukan riset kuantum mekanika, maka semua pengetahuan yg sudah didapatkan seperti hancur tak berarti, karena di bidang kuantum mekanika ini banyak terjadi keanehan, selain uncertainty, juga tentang superposition yang dikembangkan oleh Erwin Schrodinger, dan juga di ranah kuantum mekanika ini sudah tidak jelas mana yang subtance karena adanya duality wave-particle, wave atau gelombang di saat tertentu berlaku seperti partikel, dan disaat yang lain berlaku sebagai gelombang. Dalam theory String, juga menganggap bahwa segalanya tersusun atas gelombang atau waves. Dengan demikian materi yang dianggap sebagai substances menjadi kabur. Tapi ini tidak begitu saja menjadi kesimpulan bahwa filsafat monism materialism adalah filsafat yang keliru. Filsafat monism materialism masih kompatibel dengan perkembangan ilmu kuantum mekanika, yang membedakannya adalah hal yg menjadi substance saja bergeser dari materi ke materi dan juga gelombang, antara materi dan gelombang itu monism atau satu, namun tidak ada yang menjadi substance. Hubungan antara partikel, massa, energy, dan wave atau gelombang itu menyatu, tidak bisa dipisahkan, misal memisahkan gelombang dari partikel.

Dengan demikian filsafat monism materialism yang menjadi filsafat fisikalisme abad 19 telah terevisi kedalam pengetahuan kuantum mekanika, terutama tentang duality wave dan partikel.

Masalah bagaimana filsafat materialisme terevisi terhadap sains, seperti apa yang ditulis oleh Vladimir Lenin di buku “Materialism and Empirio-Criticsm” bahwa materi terdialektika, atau materi akan bisa dibagi menjadi cacahan cacahan yang lebih kecil lagi. demikian terus menerus, sebuah benda tersusun oleh aton, dan atom juga tersusun oleh sub-atom, demikian terus menerus sampai dicacah lagi menjadi kuark. Kuark-pun pada masanya akan bisa tercacah cacah lagi. Hal ini hanya memerlukan pemahaman yang lebih dalam terhadap filsafat dialektika materialisme dan kemajuan ilmu fisika. dan kita sadar secara essensial filsafat materialisme tidak runtuh, hanya apa yang menjadi substansi telah bergeser saja.

Materialisme dan kuantum mekanik

Materialisme dan kuantum mekanik
Catatan Wawan Setiawan

——

Di era renaissance atau abad pencerahan eropa, beberapa pemikir seperti Ludwig Feuerbach, David Hume, Vladimir Lenin, dan lain sebagainya mengenalkan filsafat materialisme. Filsafat ini berkembang setelah Charles Darwin membuka theory evolusi dan Newton membuat rumus fisika classical mechanic. Didalam filsafat monism materialism, maka materi dianggap yang substances, sedangkan gelombang, atau efek lain seperti gravitasi dianggap yang sekunder, tanpa adanya materi maka tidak akan ada gelombang atau gravitasi.

Hal ini bisa dimaklumi karena filsafat monism materialism berkembang atas dasar Newtonian dan kuantum mekanika belum di riset. Setelah ilmuwan seperti Niel Bohrs, Paul Diract, Werner Heisenberg, dan fisikawan top lainnya melakukan riset kuantum mekanika, maka semua pengetahuan yg sudah didapatkan seperti hancur tak berarti, karena di bidang kuantum mekanika ini banyak terjadi keanehan, selain uncertainty, juga tentang superposition yang dikembangkan oleh Erwin Schrodinger, dan juga di ranah kuantum mekanika ini sudah tidak jelas mana yang subtance karena adanya duality wave-particle, wave atau gelombang di saat tertentu berlaku seperti partikel, dan disaat yang lain berlaku sebagai gelombang. Dalam theory String, juga menganggap bahwa segalanya tersusun atas gelombang atau waves. Dengan demikian materi yang dianggap sebagai substances menjadi kabur. Tapi ini tidak begitu saja menjadi kesimpulan bahwa filsafat monism materialism adalah filsafat yang keliru. Filsafat monism materialism masih kompatibel dengan perkembangan ilmu kuantum mekanika, yang membedakannya adalah hal yg menjadi substance saja bergeser dari materi ke materi dan juga gelombang, antara materi dan gelombang itu monism atau satu, namun tidak ada yang menjadi substance. Hubungan antara partikel, massa, energy, dan wave atau gelombang itu menyatu, tidak bisa dipisahkan, misal memisahkan gelombang dari partikel.

Dengan demikian filsafat monism materialism yang menjadi filsafat fisikalisme abad 19 telah terevisi kedalam pengetahuan kuantum mekanika, terutama tentang duality wave dan partikel.

Masalah bagaimana filsafat materialisme terevisi terhadap sains, seperti apa yang ditulis oleh Vladimir Lenin di buku “Materialism and Empirio-Criticsm” bahwa materi terdialektika, atau materi akan bisa dibagi menjadi cacahan cacahan yang lebih kecil lagi. demikian terus menerus, sebuah benda tersusun oleh aton, dan atom juga tersusun oleh sub-atom, demikian terus menerus sampai dicacah lagi menjadi kuark. Hal ini hanya memerlukan pemahaman yang lebih dalam terhadap filsafat dialektika materialisme dan kemajuan ilmu fisika. dan kita sadar secara essensial filsafat materialisme tidak runtuh, hanya apa yang menjadi substansi telah bergeser saja.

Tan Malaka

Tan Malaka
Catatan Wawan Setiawan

——-

Kiranya hampir sekitar 10 tahun lalu, apabila tidak ada sejarawan Indonesia asal Leiden Belanda, yaitu Harry A Poeze, maka kita mungkin tidak akan mengenal Tan Malaka seperti saat ini. Ketika saya mencoba melalukan pertanyaan di dua grup Facebook, pertanyaannya adalah “Siapa tokoh kemerdekaan Indonesia yg paling kalian kagumi?” sebagian besar menjawab Tan Malaka. Tan Malaka dinilai visioner, dan menjadi tokoh penting dalam memerdekakan Indonesia, dalam bukunya “Naar de Republiek Indonesia” yang ditulisnya tahun 1925 mampu menginspirasi Soekarno, Hatta dan tokoh tokoh kemerdekaan Indonesia lainnya.

Tan Malaka memang sosok visioner yg misterius, serta produktif, Tan Menulis banyak buku, diantaranya yg paling visioner adalah “Madilog”, atau “Pandangan Hidup”. Tan menyatakan didepan manusia ia adalah seorang komunis, namun di hadapan Tuhan ia adalah moslem”

Tan Malaka juga menggagas ide Pan Islamisme, meski ini bukan hal baru, tapi gagasan Tan Malaka menarik, karena mencoba mengawinkan ideologi marxisme dan Islam. Masalah penggabungan atau perkawinan Marxisme dan Islam ini juga dilakukan oleh Ir. Soekarno dalam bukunya yang terbit tahun 1926, yaitu “Nasionalisme, Agama, dan Marxisme”

Hindia Belanda atau Indonesia mayoritas penduduknya adalah moslem, sehingga hampir mustahil jika marxisme digunakan untuk menghilangkan agama nenek moyang di nusantara. Marxisme sebaiknya dikawinkan dengan ajaran agama yg progressive revolusioner, membela rakyat tertindas. Zaman pergerakan, hal ini pernah dilakukan oleh Haji Misbach atau Mas Marco Kartodikromo.

Tan Malaka dalam pandangan saya memang visioner, cerdas, dan mempunyai analisis tersendiri terhadap Hindia Belanda, sehingga Tan Malaka sering berkonflik dengan petinggi PKI seperti Musso, Alimin, Darsono. Konflik ini terjadi sudah sejak pemberontakan terhadap kolonialisme tahun 1926, di Banten dan Silungkang. Dalam pemberontakan tersebut Tan Malaka tidak mendukung sehingga membuat marah Musso, Alimin, dan Darsono. Tan Malaka akhirnya juga dipecat dari komintern atau agen komunisme international, dan Tan Malaka mendirikan organisasi baru sendiri yaitu Murba atau Musyawarah Rakyat Banyak. Hal ini kiranya yang disayangkan oleh para tokoh kiri, mengapa Tan Malaka tidak memilih membesarkan PKI saja daripada malah mendirikan organisasi Murba, mengingat Tan Malaka juga pernah menjadi ketua PKI memimpin pemogokan pegawai jawatan kereta api di Hindia Belanda, dan Tan Malaka juga pernah menghadiri komintern 4 di Moscow, salah satu pidatonya adalah tentang Pan Islamisme.

Dari ini semua, saya bersyukur karena perjuangan Tan Malaka mulai banyak dibaca, dibahas, dan menginspirasi generasi muda Indonesia, Tan Malaka tidak lagi menjadi tokoh yg dilupakan, Tan Malaka pernah mengatakan “Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi”.

Drone dan perkembangan teknologi-nya

Drone dan perkembangan teknologi-nya
Catatan Wawan Setiawan

——-

Drone, atau pesawat kecil, yang semula adalah pesawat tanpa awak, dan menggunakan remote, berkembang dengan pesat. Tak hanya digunakan sebagai kepentingan militer saja, tapi Drone juga dipergunakan oleh berbagai macam kebutuhan. Misal Facebook yang ingin membangun internet.org atau internet ke penjuru pelosok, akan menggunakan Drone untuk stasiun relay-nya. Selain itu Drone untuk keperluan e-commerce juga bisa digunakan untuk menghantarkan barang yang telah kita pesan secara online.

Di Dubai, UAE drone telah digunakan sebagai taxy. Drone selain fleksibel, juga praktis jika digunakan sebagai alat transportasi baik untuk taxi seperti di Dubai, atau sebagai konsep transportasi bagi e-commerce atau menghantar barang pesanan.

Awalnya Drone adalah pesawat tanpa awak yang didalam penggunaan militer digunakan sebagai pesawat untuk pengintaian wilayah musuh. Namun perkembangan teknologi membuat Drone sekarang multifungsi. Drone saat ini juga masih berbahan bakar hidrogen, belum mampu menggunakan teknologi berbasis solar cell. Penggunaan solar cell terhadap Drone saat ini masih dalam fase pengembangan.

Demikianlah perkembangan Drone saat ini, perkembangan ini saya pikir didalam masa depan akan massive lagi. Masih banyak yang bisa didayagunakan Drone.

Indonesia, kapitalisme dan problematikanya

Indonesia, kapitalisme dan problematikanya
Catatan Wawan Setiawan

——-
Baru baru ini Oxfam, organisasi nirlaba dari Inggris, merilis data bahwa kekayaan 4 orang kaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta rakyat miskin di Indonesia. Selain itu didalam Kroni Kapitalism Index, Indonesia berada di peringkat 7. Gini Coefficient ( methode untuk mengukur kesenjangan sosial ) Indonesia juga tinggi, tahun 2016 ini mencapai 0.41

Dari data data ini, maka bisa disimpulkan bahwa ketimpangan ekonomi di Indonesia sangat tinggi. Pertumbuhan ekonomi 5% sepertinya hanya dinikmati oleh kaum tertentu saja atau kaum kaya. Pendapatan per kapita Indonesia 2015 sekitar usd 3500. Dengan angka angka ini tak pelak kemiskinan atau kesenjangan sosial di Indonesia sudah tergolong sangat berbahaya dan kronis. Selain mengalami ketimpangan sosial yang cukup ekstrem, Indonesia juga bermasalah dalam hal Sumber Daya Manusia atau SDM. Menurut data PISA, kualitas pendidikan Indonesia berada dalam urutan dua terbawah.

Tak pelak negeri ini banyak masalah, Indonesia juga merupakan negara yg terkena kutukan sebagai negara dengan kekayaan alam yang besar. Kekayaan alam Indonesia banyak yang dikelola dan dikuasai oleh asing, baik dalam hal minyak, gas, batubara atau emas yang dieksplorasi oleh PT. Freeport.

Di Indonesia, korupsi juga tergolong massive atau sudah menyebar sampai ke akar akarnya, dari level pegawai rendahan sampai pegawai yang tinggi jabatan melakukan korupsi atau menerima gratifikasi. Sebagai contoh adalah PT. Freeport, yang mengeksplorasi kekayaan emas di Papua, menurut surat kabar New York Times PT. Freeport telah memberikan kucuran dana terhadap militer dan kepolisian Indonesia, dari level jendral sampai ke level kolonel. Selain kasus ini, masih banyak kasus lainnya, contohnya KPK sekarang banyak menangkapi koruptor baik sebagai pihak penyuap dan yang disuap.

Dengan fakta ini, tidak heran kalau kemiskinan di Indonesia cukup besar dan massive, merenggangnya gap kemiskinan terjadi terutama sejak rezim liberal Presiden Yudhoyono. Presiden Yudhoyono yang meliberalkan ekonomi Indonesia, membuat harga harga semakin tinggi atau naik. Menurut Prof. Esther Duflo, akademisi dari MIT yang pernah meneliti kemiskinan di Indonesia menyatakan bahwa kenaikan harga harga pokok yg tidak terkendali di Indonesia adalah sejak tahun 2005. Pertumbuhan ekonomi di masa ekonomi liberal Presiden Yudhoyono pernah sekitar 7%, angka yang cukup tinggi, namun diduga tingginya pertumbuhan ekonomi tersebut karena banyaknya dana asing yang masuk ke bursa saham indonesia. Dana asing ini bukan masuk ke sektor riil, misal membangun industry, tapi hanya bersifat short term di bursa saham.

Kini, pemerintahan Presiden Joko Widodo dituntut untuk lebih fokus terhadap pemerataan ekonomi, selain pertumbuhan ekonomi juga penting. Dengan dibangunnya infrastruktur, diharapkan pemerataan ekonomi dan menurunnya index gini coefficient semakin terealisasi.

Russia, Liberalisme dan Vladimir Putin

Russia, Liberalisme dan Vladimir Putin
Catatan Wawan Setiawan

——–

Tahun 1991 adalah tahun dimana Uni Soviet membubarkan diri. Negara SSR atau negara pembentuk Uni Soviet seperti Russia, Ukraina, Kazakhtan, Uzbekistan, Turkmenistan, dan yang lainnya telah memerdekakan atau melepaskan diri. Russia mendirikan negara baru Russia Federation dibawah pimpinan Boris Yeltsin yang liberalis dan berwawasan barat. Yeltsin membawa Russia ke arah liberal, termasuk ekonominya, sehingga banyak perusahaan negara atau BUMN yang diprivatisasi atau diserahkan kepada swasta.

Boris Yeltsin bersama kroninya, Mikhail Khodorkovsky yang mendirikan perusahaan minyak Yukos, Boris Berezovsky, ataupun Roman Abramovich menguasai ekonomi negara Russia. Konon akibat kroni oligarki kapitalis ini, kemiskinan di Russia sangat tinggi, mencapai hampir 50% warga negara. Yang miskin semakin miskin, Yeltsin juga mencabut tunjangan sosial warganegara. Periode ini berlangsung dari tahun 1991 sampai dengan tahun 2000. Periode tahun 2000, Vladimir Putin yang sebelumnya atau tahun 1999-2000 ditunjuk sebagai PM, naik menjadi Presiden. Pada masa jabatan pertama Putin sebagai Presiden ekonomi Russia mulai tumbuh. Hal ini tak lepas juga karena harga minyak internasional sedang cukup tinggi. GDP Russia di masa awal pemerintahan Presiden Putin membesar atau naik hingga 72%. Putin juga melakukan nasionalisasi perusahaan perusahaan minyak seperti Yukos yang sebelumnya dimiliki oleh Mikhail Khodorkovsky dan juga Sibneft yang dimiliki oleh boss Chelsea, Roman Abramovich.

Tahun 2006, di era Presiden Putin, Russia juga melunasi hutangnya ke troika atau Paris Club, sebelumnya hutang Russia atau Soviet hampir 100% GDP, namun saat ini hutang Russia hanya berkisar 25% dari GDP. Tahun 2008 hingga saat ini, Russia terkena krisis kembali, impact dari krisis global dan krisis di Amerika. Russia juga diembargo ekonominya karena kasus anexasi Crimea. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang sudah stabil di sekitaran 3.5% di tahun 2012, turun drastis hanya dibawah sekitar 1% ditahun 2013 dan 2014, dan menjadi minus di tahun 2015 dan 2016 ini.

Russia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, terutama mineral. Saat ini cadangan gas yang diketemukan paling besar di Russia, selain itu Russia juga memproduksi minyak nomor dua terbesar setelah Arab Saudi, dan pernah juga kemampuan produksi minyak Russia menyalib Arab Saudi. Namun kekayaan ini bukannya tidak membawa impact, kutukan negara kaya sumber daya alam atau paradox berkelimpahan, menghinggapi Russia, dari ekonomi-nya yang ketergantungan gas dan minyak atau raw material, sampai masalah korupsi yang juga cukup massive. Russia juga menempati peringkat pertama dalam kroni kapitalisme index, ini menunjukan kesenjangan sosial yang cukup tinggi.

Presiden Vladimir Putin sendiri menurut Telegraph, surat kabar Inggris, dianggap mempunyai kekayaan sekitar 40 billion usd, dan Roman Abramovich diberitakan memberikan Yacht terhadap Presiden Putin dengan nilai sebesar usd 35 million.

Hal ini menunjukan ekonomi Russia masih dikuasai oleh oligarki, dari oligarki semasa Presiden Boris Yeltsin, berganti ke oligarki Presiden Putin. Russia belum bisa seperti negara eropa barat, yang ekonominya liberal namun hukum benar benar ditegakan, serta jaminan sosialnya sangat bagus. Russia masih seperti Venezuela, Arab Saudi, Indonesia, dimana kutukan negara kaya sumber daya alam masih massive menghinggapi pemerintahan.