Perkembangan Kapitalisme China

Perkembangan Kapitalisme China
Catatan Wawan Setiawan
—–

China, meski sistem politiknya masih Komunis dan hanya mempunyai partai tunggal, yaitu Partai Komunis China, yang dulu pendiriannya juga dibantu Henk Sneevliet, agen komintern kepercayaan Vladimir Lenin, namun di era Deng Xiaoping, yang mempunyai slogan “tidak peduli kucing berwarna putih atau hitam, yg penting bisa menangkap tikus”, maka China berubah menjadi negara kapitalis. Sebelumnya di era tahun 1980-an kita mengenal China sebagai negara tirai bambu karena tertutup, namun setelah era 1990-an China menjadi terbuka dan siap menghadapi globalisasi dan free trade.

Majalah Forbes, yang berasal dari Amerika, menyatakan bahwa China saat ini menyumbang konglomerat atau orang kaya kedua setelah Amerika. Di dalam daftar 100 orang terkaya di dunia, China adalah negara kedua yang mempunyai konglomerat yang masuk kedalam daftar.

Munculnya konglomerasi China agak berbeda dengan konglomerasi Amerika, apabila Amerika benar benar menjalankan ekonomi liberalisme, maka China masih menjalankan ekonomi yang secara makro masih dikontrol oleh pemerintah China. Misal dalam mata uang Yuan, pemerintah China justru merendahkan nilai-nya agar bisnis di China mampu bersaing didalam ekspor. Selama ini pemerintah China juga sangat menyokong bisnis di China agar kompetitif, misal dalam supply harga listrik yg cukup murah, agar industri di China kompetitif.

Perkembangan kapitalisme China ini di satu sisi sangat membanggakan, karena mampu menjadi negara raksasa ekonomi dunia, dan menjadi negara terbesar ekonomi kedua dunia setelah Amerika, namun di sisi lain jurang kesenjangan ekonomi di China juga semakin tinggi. Gini Co-efficient China diperkirakan sekitar 0.45 atau yg terburuk di dunia. 1% populasi orang kaya di China memegang sepertiga ekonomi di China, dan 25% rakyat miskin di China hanya menguasai sekitar 1% ekonomi.

Tentunya hal ini memprihatinkan, karena sesuai cita cita Presiden China Xi Jin Ping, bahwa China memiliki “China Dream”, yaitu secara kolektif makmur bersama

Mungkin persis di Indonesia juga, bahwa PR pemerintah saat ini adalah meratakan hasil pembangunan dan memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Referensi:
https://www.ft.com/content/3c521faa-baa6-11e5-a7cc-280dfe875e28

Advertisements

Mengapa kita mempelajari Marxisme Leninisme?

Mengapa kita mempelajari Marxisme Leninisme?
Catatan Wawan Setiawan

——–

Komunisme, meski telah ditinggalkan di negara negara seperti China dan Russia, namun ruh atau hakekatnya tetap dipegang oleh negara negara tersebut. Mempelajari Marxisme Leninisme atau Komunisme, tidak berarti harus menjadi Komunis, saya sendiri lebih senang menyebut diri sebagai sosialis demokrat. Mempelajari Marxisme Leninisme, sebenarnya adalah mandat sejarah, mengingat hampir semua pendiri negara Indonesia telah membaca tentang Komunisme, termasuk Soekarno, Hatta, Sjahrir, ataupun Tan Malaka. Ir. Soekarno pada tahun 1926 atau tepat di usianya yang 25 tahun telah menulis “Nasionalisme, Agama, dan Marxisme” atau sering disebut pula dengan Nasakom. Komponen orde lama juga terdiri atas kekuatan Nasakom. Selain itu Bung Karno juga sering menyebut bahwa Pancasila itu “kiri” dan kehilangan Partai Komunis Indonesia seperti kehilangan “sanak kadang”

Marxisme Leninisme saya pikir perlu dipelajari, karena unsur utama ajaran ini adalah Materialisme Dialektika History, atau pisau bedah analisis socio kulture masyarakat pada zamannya. Dengan MDH Ir. Soekarno mengenalkan apa yang disebut sebagai “Marhaen”, sebagai ganti istilah Proletariat yg lebih berkorelasi ke buruh industri di Soviet abad 19. Indonesia masih dihuni oleh mayoritas petani, dan buruh tani, sehingga Soekarno menyebut istilah Marhaen, yang diambil dari nama seorang buruh tani di Jawa Barat.

Seperti statemen Presiden Joko Widodo, bahwa Komunisme sekarang sudah banyak ditinggalkan baik di Russia maupun China, tapi Russia modern masih banyak mengadopsi konstitusi Soviet Komunis, diantaranya adalah sektor pendidikan dan kesehatan adalah hak bagi setiap warga negara yang dijamin atau diselenggarakan oleh pemerintah. China dan Russia juga banyak melakukan nasionalisasi, terutama Russia yang sempat sektor vitalnya di peivatisasi di era Boris Yeltsin, dan kemudian oleh Putin di nasionalisasi kembali, dan kebetulan harga minyak tahun 2000-2008 cukup tinggi sehingga Russia boom minyak dan mampu melunasi hutang mereka ke Paris Club pada tahun 2006

Meski saat ini Russia dan China memang menjalankan ekonomi kapitalis, tapi semangat “keadilan sosial” tetap ada dengan dikuasainya sektor vital seperti oil dan gas oleh BUMN Russia.

Marxisme Leninisme bukanlah ajaran dogmatis dan kaku, tapi suatu ajaran yang banyak dikembangkan di banyak tempat, misal di timur tengah menjadi Partai Baath yang beraliran sosialisme. Selain itu dengan adanya ekonomi yg dikuasai dan digerakan oleh BUMN, maka ini adalah mekanisme Marxisme Leninisme modern, dan BUMN secara profesional bisa melakukan privatisasi tapi jangan sampai saham pemerintah dibawah 50.1%.

Tidak ada salahnya mempelajari Marxisme Leninisme, dan siapa saja yang mempelajarinya tidak lantas menjadi Komunis, tapi “ruh” dan “hakekat” Marxisme Leninisme bisa disesuaikan dengan kompleksitas kemajuan zaman. Belajar Marxisme Leninisme setidaknya akan membuat anda kritis terhadap segala fenomena yang terjadi di dunia.

Dari Soekarno ke Tan Malaka

Dari Soekarno ke Tan Malaka
Catatan Wawan Setiawan
——

Saya mempunyai buku “Dibawah bendera revolusi” yang ditulis oleh Ir. Soekarno sudah semenjak kuliah. Buku ini menarik bagi saya, karena ditulis oleh pendiri negara Indonesia. Tidak hanya itu, saya mengupload buku “Di bawah bendera revolusi” di portal Selaras.com yg saya bangun, tujuannya agar siapa saja mudah membaca buku “Di bawah bendera Revolusi”. Saya sangat menggemari tulisan intelektualitas Soekarno, yang berusaha menggabungkan Nasionalisme, Agama dan Marxisme. Soekarno mempunyai jargon “Marhaenisme”, suatu paham yang dianalisa dengan materialisme dialektika history oleh Soekarno terhadap socio culture masyarakat kolonial.

Kekaguman saya terhadap Soekarno, terus berlangsung, sampai Harry A Poeze, sejarawan Leiden Belanda mengenalkan Tan Malaka dan mengulas sepak terjangnya. Tan Malaka banyak menulis, magnum opusnya saya kira “Madilog”, tapi Tan Malaka juga menulis “Dari Penjara ke Penjara”, karena Tan Malaka pernah dipenjara oleh Soekarno tanpa pengadilan. Ini setelah Tan Malaka membentuk Persatuan Perdjoeangan, faksi yang anti diplomasi dalam memerdekakan Indonesia.

Bagi kalangan kiri, Tan Malaka sering dicap sebagai Trotskyem, atau penganut Trotsky yang dianggap mengkhianati revolusi Komunisme Stalin. Perpecahan Stalin dan Trotsky sebenarnya adalah perpecahan politik, Stalin menginginkan komunisme nasionalisme, sedang Trotsky masih memegang amanat Vladimir Lenin bahwa Komunisme adalah internasional. Tan Malaka pernah menjadi ketua Partai Komunis Hindia Belanda dan memimpin pemogokan pegawai kereta api, tapi Tan Malaka juga tidak menyetujui pemberontakan 1926 yang disepakati di Prambanan oleh Muso, Alimin maupun Darsono. Tan Malaka juga kemudian malah mengembangkan partai Murba daripada kembali ke Partai Komunis dan membesarkannya, sehingga tak pelak cap pengkhianat atau Trotskyim disematkan terhadap nama Tan Malaka.

Namun Tan Malaka adalah seorang Marxist Leninis independen, ia berjuang melalui buku buku, ia menuangkan ide dan pemikirannya ke dalam buku buku, senjatanya adalah pena. Dengan strategi demikian nama Tan Malaka mudah untuk dikenang, karena Tan Malaka banyak menulis, dan saat ini tulisannya masih bisa dipelajari dan bersifat visioner. Tan Malaka tampaknya telah berpikir jauh kedepan, dan prinsipnya adalah “Merdeka 100 persen”

Meski Tan Malaka sudah tidak lagi berjuang di partai Komunis, namun cara pandangnya adalah sosialism indonesia, dan bagi Tan Malaka, kelompok islam yang menjadi korban kapitalisme dan kolonialisme layak untuk bersatu membentuk apa yang disebut sebagai “Pan Islamisme”

Mempelajari Tan Malaka memang menarik, dan ironi-nya nama Tan Malaka baru populer setelah sejarawan asing asal Belanda, Harry A Poeze menghabiskan waktu hidupnya khusus untuk meneliti Tan Malaka dan sepak terjangnya.

“Ingatlah, bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi”, ini adalah salah satu quote Tan Malaka yang memang terbukti, setelah beliau wafat, teriakannya menggetarkan dunia dengan ide ide-nya.

Presiden Joko Widodo dan Komunisme

Presiden Joko Widodo dan Komunisme
Catatan Wawan Setiawan

——–
Belakangan ini, Presiden Joko Widodo sering mengatakan bahwa PKI adalah anti pancasila dan layak untuk “digebuk” dan “ditendang”. Statemen dari Presiden Joko Widodo seringkali mirip brainwashed orde baru, yg menyatakan bahwa Komunisme di Indonesia anti pancasila dan PKI akan mengganti idelogi negara Indonesia, Pancasila. Saya maklum Presiden Joko Widodo cukup sibuk menjalani aktivitasnya sebagai Presiden Indonesia, tapi mungkin ada baiknya Presiden Joko Widodo memerintahkan atau membentuk suatu team yang mengkaji tentang Komunisme di Indonesia, agar Presiden Joko Widodo mendapat informasi yang benar dan akurat tentang Komunisme di Indonesia

Dalam sejarah yang saya pelajari, ketua PKI DN Aidit menerima Pancasila, dan bahkan mengatakan sila di Pancasila adalah satu kesatuan, tidak bisa dipisah pisahkan. Selain itu DN Aidit bersama PNI dan partai Katolik juga membela Pancasila sebagai ideologi negara di sidang Konstituante 1959, dimana ideologi negara ditinjau kembali, dan pihak Islam politik seperti Masyumi menginginkan Piagam Djakarta kembali, namun akhirnya sidang ini ditutup dengan kembali ke Pancasila dan UUD 1945.

Saya menaruh hormat kepada Presiden Joko Widodo, tapi ada baiknya Presiden Joko Widodo seperti almarhum mantan Presiden Gus Dur, yang mempelajari apa itu Komunisme dan juga sejarah komunisme di Indonesia, dan mempunyai gagasan rekonsiliasi bagi korban tahun 1965 serta bisa mencabut Tap MPRS no 25 tentang larangan mempelajari Marxisme Leninisme. Saat ini statemen Presiden Joko Widodo saya pikir penuh dengan nuansa Orde Baru, yang Komunis Phobia, dan tidak melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap sejarah Komunisme di Indonesia. Dengan kajian yang lebih mendalam, kiranya bapak Presiden Joko Widodo akan lebih “aware” terhadap kasus 1965, dan juga lebih memahami bagaimana dinamika Komunisme di Indonesia. Bagaimanapun kaum Komunis juga berjasa dalam gerakan revolusi Indonesia, dan Partai Komunis Indonesia-lah yang menjadi Partai pertama yang memberontak terhadap pemerintah Kolonial Hindia Belanda di tahun 1926.

Bung Karno sendiri menyatakan bahwa Pancasila itu kiri, dan juga satu harmoni dengan Nasakom. Deligitimasi Komunisme saya kira dilakukan oleh rezim orde baru, dan dengan dogmatis, rezim Orde Baru menyatakan bahwa PKI berkhianat dan akan mengganti ideologi negara Pancasila, hal yang sangat kontras jika menyimak bagaimana ketua PKI DN Aidit banyak membela Pancasila.

Hal ini perlu kajian oleh kaum intelektual, dan dengan kajian yang mendalam, saya harapkan Presiden Joko Widodo bisa arif dalam menyikapi Komunisme di Indonesia selama masa pemerintahaannya dan syukur syukur bagi generasi penerusnya.

Marxisme Leninisme dan Materialisme Dialektika History

Marxisme Leninisme dan Materialisme Dialektika History
Catatan Wawan Setiawan

——
Marxisme Leninisme merupakan ideologi yg dilarang di Indonesia, tapi tetap saja yg ingin tahu tentang ideologi ini juga banyak. Secara populer, Marxisme Leninisme adalah paham Komunis. Namun dalam mempelajari Marxisme Leninisme, ada filsafat–nya yg khusus, yaitu Materialisme Dialektika History. MDH merupakan alat utama analisa dalam ajaran Marxisme Leninisme. Dengan MDH ini kita membuat analisa sendiri terhadap kondisi sosial masyarakat dan waktu tertentu. Soekarno menggunakan analisa kritis MDH dan membuahkan ajaran yg bernama Marhaenisme atau juga Nasakom. Tan Malaka juga mempunyai pisau analisa sendiri thd kondisi sosial masyarakat di masanya, misalnya realita bahwa mayoritas rakyat terjajah di Hindia Belanda adalah moslem, sehingga Tan Malaka menggagas Pan Islamisme.

Dengan adanya MDH, maka Marxisme Leninisme tidaklah menjadi ajaran yang dogmatis, di China, Mao Tse Tung mempunyai analisa sendiri bahwa kaum proletariat di China adalah Petani, sedangkan dalam uraian Karl Marx dan Lenin, kaum proletariat kebanyakan adalah buruh industri. Ini karena di Eropa sudah melewati masa revolusi industri, sedangkan di China masih tradisional. Indonesia kondisinya sama dengan di China, bahwa kebanyakan kaum proletariat adalah petani, sehingga Indonesia memang mengikuti China.

Di era Nikita Khrushchev, Soviet menganggap bahwa China tidak menjalankan Komunisme, ini saya kira hanya perbedaan kaum proletariat saja, bahwa di eropa didominasi oleh buruh, sedang di China didominasi oleh kaum petani.

Saya pribadi mengakui kecerdasan Mao, karena mempunyai pisau analisa yg berbeda dengan Marxisme Leninisme di Eropa, dan Mao mencoba menggabungkan konfusianisme dengan sosialisme, ini menandakan Mao menjunjung budaya sendiri dan menggabungkannya dengan ajaran dari luar negeri.

Saya kira demikianlah Marxisme Leninisme, utamanya adalah Filsafat MDH yg menjadi pisau bedah analisa sosial masyarakat. Marxisme Leninisme janganlah dogmatis, tapi methode analisanya yg kita pakai untuk menganalisa kondisi sosial masyarakat saat ini.

Russia dan kebebasan berpendapat

Russia dan kebebasan berpendapat
Catatan Wawan Setiawan

——

Belum lama ini, ada berita dari Russia bahwa mereka melarang keberadaan dan aktifitas Saksi Yehovah di Russia. Sepintas, Russia mirip negara yang bertangan besi dan tidak punya demokrasi, namun Russia adalah negara yang mengutamakan stabilitas keamanan diatas perihal lain seperti ekonomi, politik, dlsb. Saksi Yehovah salah satu ajarannya adalah tidak membolehkan transfusi darah jika ada anggotanya yg sakit.

Di sisi lain, kampanye LGBT juga dilarang di Russia. LGBT-nya sendiri tidak menjadi masalah, tapi kampanyenya yang dilarang. Russia memang berbeda dengan negeri eropa barat dimana kebebasan berekspresi dijamin 100%, sehingga eropa barat rata rata memperbolehkan LGBT dan juga adanya sekte Saksi Yehovah.

Russia juga mempunyai UU anti Blasphemy, anda bisa ditangkap di Russia jika melakukan blasphemy atau penistaan agama, berlainan dengan eropa barat yang membolehkan blashpemy atau penistaan terhadap agama. Demokrasi di Russia memang demokrasi yang unik, tidak seliberal negara eropa barat atau Amerika, tapi demokrasi yang mengutamakan keamanan sosial atau social security.

Di bidang IT, Russia juga punya hukum yang membela kepentingan nasionalisme-nya, perusahaan besar Silicon Valley boleh membuka layanan di Russia tapi server servernya yg menyangkut informasi kewarganegaraan Russia harus di taruh di Russia.

Dengan demikian, demokrasi dan kebebasan berekspresi di Russia memang dijamin oleh konstitusi, namun masih banyak produk UU yang anti liberalisme di Russia. Russia mempunya demokrasinya sendiri, tidak secara buta membebek ke eropa barat atau Amerika.

Komunisme dan Atheisme

Komunisme dan Atheisme
Catatan Wawan Setiawan

——
Di media sosial, banyak sekali saya dapatkan pertanyaan yang menyangkut tentang Komunisme maupun Atheisme. Di Indonesia ini, saya kira telah tercuci otak oleh rezim orde baru, bahwa Komunis dianggap atheis. Mereka yang menganggap Komunis adalah atheis, mungkin belum pernah membaca bahwa Bung Karno pernah mengajak DN Aidit ke sidang umum PBB, dan Bung Karno berpidato mengenalkan “Pancasila” yang sila pertamanya adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa” juga dianut atau diterima oleh DN Aidit sebagai ketua Partai Komunis Indonesia.

Selain itu, hampir semua pejuang Indonesia yang masuk ke paham Komunisme juga banyak yang muslim, misal Haji Misbach, Mas Marco, atau Tan Malaka yang didalam konggres komintern ke 4 di Moscow membawakan tema “Komunisme dan Pan Islamisme”. Islam dalam pandangan Tan Malaka juga merupakan golongan tertindas atau terkolonialisasi.

Cikal bakal PKI di Indonesia awalnya dari ISDV, yang didirikan oleh Henk Sneevliet, dan kemudian masuk ke Sarekat Islam menjadi Sarekat Islam merah. Pada tahun 1926 terjadi pemberontakan PKI di Banten dan Silungkang, yang berjuang mengangkat senjata melawan kolonialis Belanda tentunya juga para santri dan kiai kiai merah.

Sinkretisme Marxisme dan agama di Indonesia, sebenarnya telah ditulis oleh Ir. Soekarno tahun 1926, berjudul “Nasionalisme, Agama, dan Marxisme”. Bung Karno menginginkan ketiga kekuatan itu bersatu untuk melawan penjajah dan mendirikan negara merdeka. Sinkretisme Islam dan Marxisme juga ada di negara negara Timur Tengah, misal partai Baa’th yang sosialis religius yang berada di Iraq maupun Suriah. Atau partai Komunis Palestina yang salah satu tokohnya adalah George Habash, Partai Komunis juga terdapat di Iraq, Suriah, Iran, Bahrain, Afghanistan, Mesir, dlsb.

Sedangkan di Amerika Selatan, kita mengenal teologi pembebasan, teologi pembebasan tak lain adalah sinkretisme antara paham sosialis dan agama katolik. Negara seperti Paraguay, Peru, Bolivia, Chili, dlsb adalah negara negara penganut marxisme yang mereka kawinkan dengan agama.

Dari fakta fakta tersebut maka Marxisme sebenarnya bukan ideologi anti tuhan atau anti agama, persepsi komunis atau sosialis anti tuhan dan anti agama saya kira karena Karl Marx dan Lenin yang hidup di abad 19-20 di eropa menyaksikan bahwa praktek kekristenan telah menjadi alat penghisap kapitalisme. Marx menyatakan bahwa “agama adalah candu masyarakat”. Vladimir Lenin sendiri dalam tulisannya “Sosialisme dan Agama” menyatakan bahwa anggota partai diperbolehkan beragama namun itu menjadi ranah privacy yang bersangkutan. Di tulisan Vladimir Lenin lainnya, mungkin ini yang membuat persepsi Komunis adalah atheis, Lenin menyebut di tulisannya “3 sumber dan 3 komponen Marxisme”, sumber atau komponen pertama adalah “Materialisme”. Materialisme adalah filsafat yang dikembangkan oleh Filsuf Jerman, Ludwig Feuerbach. Materialisme adalah filsafat atheisme, filsafat ini sama dengan pemikiran Demokritus atau Epicurus tentang atomism, atau apa yang ada di dunia tersusun oleh atom semata.

Dari fakta ini, maka hubungan antara Komunis dan Agama sebenarnya dilihat dulu case per case, selama agama mendukung kaum proletar dan revolusioner, maka agama bisa dikawinkan dengan marxisme, sedangkan bila agama menjadi alat kontra revolusioner, maka memang sebaiknya agama dikritik.