State Capitalism

State Capitalism
Catatan Wawan Setiawan

State Capitalism, merupakan perkembangan dari sistem ekonomi kapitalisme, dimana sistem ekonomi kapitalisme ini sangat memuja terhadap pasar bebas. Kapitalisme Liberal, juga mempercayai jargon bahwa “tangan tangan setan akan menstabilkan pasar secara otomatis”. Namun faktanya kapitalisme liberal pernah bangkrut, ketika sekitaran tahun 1930-an dan terjadi Great Depression 1, serta tahun 2008 di Amerika juga terjadi sistem kapitalisme liberal yg mengakibatkan macetnya hutang atau debt dan kemudian membuat ekonomi Amerika dan merembet ke dunia menjadi krisis.

Biasanya didalam krisis ekonomi, yg digunakan adalah sistem ekonomi Keynesian, yg digagas oleh John Maynard Keynes. Pemerintah menjadi turut campur terhadap ekonomi swasta, misal mengecilkan bunga kredit atau pemerintah melakukan spending money, agar terserap ke sektor swasta.

Di abad 21 ini, kita telah melihat runtuhnya negara dengan ekonomi Komunisme Uni Soviet, dan juga melihat perkembangan ekonomi negara China yang sangat cepat. China, semenjak diperintah oleh Deng Xiaoping menjadi negara yang pragmatis, jargon yang terkenal dari Deng Xiaoping adalah “tidak peduli kucing berwarna hitam atau putih yang penting bisa menangkap tikus”. China telah mengadopsi kapitalisme, namun peran negara masih sangat besar di China. Selain itu ekonomi China juga masih digerakan oleh BUMN mereka yang sangat besar, baik di sektor teknologi maupun banking. China tepatnya menjadi negara dengan konsep “state capitalism”, dan konsep ini tidak hanya digunakan oleh China saja, tapi juga di Russia, maupun negara teluk seperti Uni Emirat Arab atau Arab Saudi, bahkan juga negara tetangga kita Singapore, karena Singapore mempunyai Temasek, BUMN yg mempunyai aset sangat besar dan juga menguasai saham Telkomsel di Indonesia.

State Capitalism ini mungkin merupakan pengembangan dari kapitalisme klasik dan juga sosialisme, karena konsep didalam state capitalism ini negara yg mempunyai modal atau BUMN dan menggerakan ekonominya. Contoh paling nyata adalah negeri Russia ketika dipimpin oleh Presiden Putin. Putin tahun 2000 menjadi Presiden Russia dengan ekonomi yg morat marit serta liberal, bahkan sektor gas dan minyak diliberalisasi, diantaranya dikuasai oleh Mikhail Khodorkovsky yang mempunyai perusahaan minyak Yukos, dan juga Roman Abramovich boss Chelsea yg mempunyai perusahaan minyak Sibneft. Setelah Presiden Putin berkuasa, perusahaan perusahaan tersebut dinasionalisasi, dan di tahun 2000-2008 harga minyak dan gas dunia sedang tinggi sehingga pemerintah Russia mendapat banyak profit dari tingginya harga gas dan minyak dunia.

State Capitalism bukanlah hal yg buruk, terbukti Singapore juga mengandalkan Temasek untuk membiayai APBN mereka, dan juga di Singapore juga menganut sistem kapitalisme, sehingga banyak entrepreneur maupun start-up dari Singapore.

Saya pribadi juga berharap Indonesia bisa meniru kesuksesan negara negara state capitalism, sektor vital yang menguasai orang banyak dinasionalisasi dan juga pemerintah harus transparan dan profesional terhadap BUMN, karena selama ini BUMN bukannya menjadi institusi yg menyumbang profit terhadap negara, tapi malah menjadi sarang korupsi dan menjadi sarang bagi bagi jabatan bagi Presiden terpilih.

Advertisements

Mengapa harga Internet di Indonesia mahal dan pentingnya kedaulatan data

Mengapa harga Internet di Indonesia mahal dan pentingnya kedaulatan data

Saya bersentuhan dengan Internet, tepatnya sekitar tahun 1994. ISP yg saya gunakan adalah Indonet, dimana Indonet ini adalah penyedia jasa akses pertama di Indonesia, dan juga Wasantara milik kantor pos, yang mengonlinekan internet di semua cabangnya. Lalu saya bekerja di ISP Meganet Surabaya, milik Jawa Pos. Ketika saya masih mengenal Internet di tahun 1994-an, harga Internet masih sangat tinggi, harga bandwidth dedicated 1 MB, berkisar usd 10000-12000. Internet Service Provider biasanya juga bandwidthnya sekitar 64K atau 128K saja. Backbone Internet di Indonesia saat itu terhubung dengan backbone Internet Singapore, jadi kalau mau akses Internet, dari Indonesia ke Singapore terlebih dahulu

Tahun 2000-an harga internet sudah mulai turun, sekitar usd 8000 per MB dedicated, namun kemudian salah satunya adalah saya, menjual bandwidth internet langsung dari Hawaii USA dengan harga cukup murah, yaitu usd 2000 per Mb.

Namun sekarang sudah era tahun 2018, banyak sekali operator internet yg mempunyai backbone dengan kabel optic ke Singapore dengan harga sangat murah jika dibandingkan dengan sebelumnya. Harga internet di indonesia, boleh dikata telah murah kalau kita membandingkan dengan harga sebelumnya, tapi di negara negara maju, seperti Singapore ataupun Malaysia, harga Internet di Indonesia mazih tergolong mahal. Dalam hal internet ini, dulu di sekitaran tahun 2000, pemerintah Singapore dan Malaysia pernah melakukan subsidi agar harga internet terjangkau oleh rakyat banyak.

Saat ini harga internet broadband seperti Indihome yg merajai market internet broadband di Indonesia masih sekitar rp 300.000-400.000, dan juga harga paket internet menggunakan 3G atau 4G masih cukup mahal, sekitar 40 ribu untuk kapasitas 6 GB.

Di negara maju, seperti Russia, harga internetnya cukup murah, layanan broadband disana hanya sekitar usd 9

Mahalnya harga internet Indonesia ini saya pikir selain karena masih sangat tergantung dengan backbone internet di Singapore, juga ada faktor regulasi dari Kominfo, misal penyedia layanan internet harus membayar biaya BHP USO.

Solusinya sebenarnya cukup mudah, indonesia membangun jaringan kabel optic sendiri ke Amerika, atau juga para content provider seperti Google, Facebook, dan lain sebagainya menaruh CDN atau Content Delivery Network ke data center yg berada di Indonesia. Saya pernah membaca bahwa Google Cloud akan berinvestasi di Indonesia, ini artinya Google cloud mencari market di Indonesia dan menempatkan servernya di DataCenter di Indonesia, agar latency usernya jadi lebih kecil lagi.

Seingat saya, Menkominfo, pernah mengatakan bahwa DataCenter itu tidak perlu lagi, karena server bisa diletakan dimana saja, tapi menurut saya, ini blunder statemen dari Menkominfo. Dengan adanya Datacenter di Indonesia, maka raksasa Cloud seperti AWS atau Amazon Web Service, Google Cloud, Microsoft Azure, Alibaba Cloud, dan lain sebagainya, bisa menempatkan servernya di DataCenter Indonesia agar customer dari Indonesia bisa diakses lebih cepat dengan latency lebih kecil.

Adanya DataCenter di Indonesia, juga bisa dibarengi dengan UU kedaulatan data. Bagi mereka yg mempunyai customer Indonesia, sebaiknya servernya juga ditaruh di Indonesia. Di Eropa sudah ada UU kedaulatan data, dan setahu saya di Russia juga sudah ada UU kedaulatan data, bagi mereka yg situs atau aplikasinya dipakai di Russia, maka harus menempatkan Servernya juga di Russia.

Dari Materialisme ke Mekanika Kuantum

Dari Materialisme ke Mekanika Kuantum

Materialisme adalah suatu filsafat yg berkembang di abad 19 dan 20. Tokoh tokohnya diantaranya adalah Ludwig Feuerbach, filsuf dari Jerman yg terkenal dengan jargonnya “bahwa bukan tuhan yang menciptakan manusia, tapi manusialah yg menciptakan tuhan”. Selain itu Ludwig Feuerbach pernah mengatakan bahwa essensi dari Kekristenan adalah human feeling. Hal ini ada di bukunya “The essence of christianty”

Selain Feuerbach, juga ada Karl Marx yg doktoralnya tentang atomisme epicurus. Memang pandangan alam semesta yg terdiri dari atom sudah ada sejak yunani.

Namun di era abad pencerahan Eropa, karya karya filsuf Yunani diangkat kembali, misalnya paham atomisme ini, maupun evolusi yg pernah ditheorykan oleh Anaximander.

Materialisme, prinsipnya menyebut bahwa segala sesuatunya terdiri dari materi atau atom, dan mereka berinteraksi, sehingga materialisme menganggap bahwa tuhan tidaklah ada, karena alam semesta ini bisa bekerja dengan sendirinya.

Selain itu, didalam buku “Materialisme dan Empirio-Criticsm”, Vladimir Lenin menyatakan bahwa mind adalah bekerja ats dasar otak, dan Lenin juga mengkritik fisikawan dunia kala itu yg masih percaya bahwa tiada massa namun bisa bergerak. Lenin meminjam hukum Newton menyatakan bahwa F=MA, bahwa segala sesuatunya bisa bergerak karena ada massa.

Namun di awal abad 20, terjadi kemajuan didalam ilmu fisika, yaitu mekanika kuantum. Banyak orang menganggap bahwa “Materialisme” telah mati dengan adanya mekanika kuantum. Namun Lenin telah menjelaskan bahwa pengetahuan akan selalu berdialektika, yang dulunya paling kecil adalah atom, maka di masa depan akan bisa dibagi bagi lagi, begitu seterusnya. Materialisme adalah pandangan tentang alam semesta yang berbasis fisikalisme. Jadi “Materialisme” juga berkembang, seiring perkembangan fisika mekanika kuantum. Dalam buku “Reason in Revolt” yg ditulis oleh Alan Wood, dan Ted Grant, Materialisme sudah banyak disesuaikan dengan perkembangan mekanika kuantum.

Didalam buku “Reason in Revolt” juga dijelaskan bahwa semua benda tersusun oleh partikel, dan partikel ini mempunyai energi dan wave atau gelombang. Sehingga benda makro yg disusun oleh benda mikro, maka akan mempunyai energi dan gelombang, sebagai contoh otak manusia, memiliki energy dan juga gelombang otak.

Madilog Tan Malaka

Tan Malaka, sebagai bapak Republik Indonesia telah menulis magnum opus berjudul Madilog. Madilog ini di Russia kala itu menjadi bahasan yg penting, Madilog tidak terlepas dari perkembangan sains dan filsafat di Russia kala itu. Engels, menulis Dialectica of Nature, yg mirip dengan Madilog, namun Madilog tetap punya isi yg original dan mengkritik terhadap kepercayaan lokal. Madilog, telah membahas bahwa masyarakat Nusantara banyak yg menyukai takhyul dan klenik. Saya sendiri menilai bahwa apa yg dijelaskan oleh Madilog, masih relevan hingga saat ini. Madilog juga setidaknya membuat pembacanya menjadi lebih rasional. Tapi kalau ingin membaca update Madilog karya Tan Malaka, bisa membaca “Reason in Revolt” yg ada di www. marxist.org

Belajar Sosialisme dari Negeri Russia

Belajar Sosialisme dari Negeri Russia.
Catatan Wawan Setiawan

Saat ini, sudah tahun 2018, atau 17 tahun semenjak Uni Soviet runtuh. Ketika Uni Soviet runtuh, Russia memerdekakan diri dan kemudian terpilih Presiden Boris Yeltsin, Presiden yg liberal dan turut andil didalam runtuhnya Uni Soviet. Ekonomi Russia waktu itu diliberalisasi, termasuk di bidang oil dan gas, sehingga kuncullah oligarki Russia semacam Mikhail Khodorkovsky, Boris Berezovich maupun Roman Abramovich. Mikhail Khodorkovsky mempunya perusahaan minyak Yukos, dan Roman Abramovich mempunyai perusahaan minyak Sibneft.

Kondisi keuangan negara sendiri sedang carut marut, karena berhutang ke Paris Club ataupun World Bank. Hutang per GDP ratio hampir mencapai 100%. Kemiskinan di Russia konon mencapai 40% ketika itu. Namun sejak Presiden Putin berkuasa, banyak perusahaan yg dinasionalisasi, termasuk Yukos dan Sibneft. Russia juga membangun BUMN besar di bidang gas, yaitu Gazprom dan juga minyak yaitu Rosneft. BUMN ini menguasai aset strategis, yaitu kekayaan alam Russia, dan ketika tahun 2000-2008 dimana Putin berkuasa, harga minyak dan gas sedang bagus bagusnya, sehingga Russia mampu membayar lunas hutang Paris Club di tahun 2006

Russia adalah negeri yg konstitusinya masih banyak mewarisi konstitusi Uni Soviet atau Komunisme. Layanan pendidikan dan kesehatan gratis, hal ini sudah terjadi sejak rezim Komunis berdiri. Pembiayaan layanan ini, diantaranya dari profit BUMN yg mereka dapat, tidak hanya dari pajak progresive di Russia saja, karena pajak Progresive di Russia tergolong cukup rendah.

Russia ini bisa menjadi role model negara sosialis yg menggratiskan layanan kesehatan dan pendidikan tanpa harus memungut pajak progressive yg tinggi, karena pendapatan negara juga ditopang oleh pendapatan dari keuntungan BUMN.

prospek bisnis start up yg bagus

Prospek bisnis start-up yg bagus
1. Bisnis aplikasi e-payment. Di masa depan, akan banyak transaksi yg cashless, dan perusahaan e-payment akan mendominasi bisnis IT masa depan. Perusahaan e-payment juga menarik, karena bisa juga kolek money terhadap masyarakat.

2. Bisnis aplikasi makanan
Bisnis ini menarik, karena dengan aplikasi, bisa menghubungkan antara konsumen dengan produsen makanan. Nadiem Makarim, bos Go-Jek sendiri mengakui bahwa Go-Food yg paling banyak memberikan keuntungan

3. Aplikasi game online
Masa depan Smartphone akan mempunyai hardware yg terus update dan semakin canggih, misal Iphone produk Apple yg terbaru sudah menggunakan chipset A12 yg berteknologi 7 nano, sehingga menjadi processor tercepat didalam smartphone, sehingga akan semakin bagus untuk menjalankan aplikasi game online. Selama ini, game online membutuhkan resources yg besar dan canggih, sehingga baru bisa dimainkan di PC, namun masa depan Smartphone saya lihat adalah kemampuan menjalankan game online.

4. Cloud
Di masa depan, semua bisnis atau aplikasi akan bersifat cloud, meski bisnis cloud sudah banyak yg terjun, misal Microsoft Azure, AWS atau Amazon Web Service, Google Cloud, IBM Cloud, maupun Alibaba Cloud, tapi bisnis Cloud akan tetap besar marketnya.

Lenin dan Pendidikan

Lenin dan Pendidikan
Catatan Wawan Setiawan

Vladimir Ilyich Lenin, pemimpin revolusioner Russia, yang memimpin revolusi Oktober untuk mendirikan negara Komunis di Russia, tidak hanya seorang leader atau pemimpin atau filsuf saja. Lenin juga mempunyai pengaruh sangat besar di bidang pendidikan. Di awal abad 19, pendidikan adalah milik mereka kaum borjouis saja. Ambil contoh di Indonesia atau Hindia Belanda ini, yg bisa bersekolah adalah anak kaum borjouis, seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan lain sebagainya.

Namun bagi Lenin, pemerintahan Komunis ini wajib mengembangkan sains, di bukunya “Materialism & Empirio-Criticsm”, Lenin menguraikan pentingnya filsafat yg obyektif dan juga sains. Tidak heran ketika revolusi Bolshevik menang, yang pertama dibangun adalah listrik dan pendidikan. Lenin membuat pendidikan bagi seluruh kelas proletariat, sehingga Uni Soviet pernah menjadi negara dengan tingkat buta huruf paling kecil sedunia. OCCD juga pernah memberikan peringkat pendidikan di Russia terbaik di usia 55-65 tahun, sehingga kalau dicermati itu adalah era pendidikan di Uni Soviet.

Lenin terkenal dengan mantra-nya, “learn, learn, and to learn”, semuanya dipelajari, terutama sains dan math. Sehingga tidak heran kalau di Tajikistan, para ulama mengumpulkan uang, untuk kembali membangun patung Lenin. Mereka beranggapan, tanpa Lenin, mayoritas masyarakat di Asia Tengah bakalan buta huruf seperti di Afghanistan, namun karena Asia Tengah pernah menjadi bagian dari Uni Soviet, mereka juga pernah mengaplikasikan pendidikan ala Uni Soviet.

Gas Russia

Gas Russia
Catatan Wawan Setiawan

Selama ini kita mengenal bahwa negeri Russia adalah negeri pemasok gas terbesar di Eropa. Hal ini memang benar, dan Presiden Putin sendiri mengembangkan bisnis ini, sehingga membangun pipa gas baru, baik Nordstream-2 bersama dengan Jerman, maupun Turkish Stream, yang langsung ke Turki.

Russia, di tahun 1990-an, ekonominya boleh dibilang hancur karena liberalisasi yg dilakukan oleh Presiden Yeltsin menyentuh sampai sektor oil dan gas. Tidak heran oligarki kapitalisme seperti Mikhail Khodorkovsky membuat perusahaan minyak Yukos, dan Roman Abramovich pemilik Chelsea membuat perusahaan minyak Sibneft.

Namun di era pemerintahan awal Presiden Putin, yaitu tahun 2000-2008, perusahaan gas dan minyak banyak yg dinasionalisasi, dan untungnya harga komoditas minyak dan gas di era itu lagi tinggi tingginya.

Russia mensuppli kebutuhan hampir 25% gas eropa, namun ketika itu sebenarnya adalah Gazprom yang mempunyai infrastruktur pipa gas dari Turkmenistan sampai ke Eropa yg berbisnis. Gazprom membeli gas dari Turkmenistan seharga usd 60 per 1000 meter kubik, dan menjual ke Eropa sampai usd 400 per 1000 meter kubik.

Setelah tahun 2012 baru Russia menggunakan gas sendiri daripada gas dari Turkmenistan. Russia merupakan negara yg mempunyai cadangan gas terbesar di dunia, utamanya dari Siberia.

Amerika, didalam politik luar negerinya, sebenarnya tidak ingin melihat Eropa mempunyai ketergantungan gas terhadap Russia, Amerika siap mensupply gas ke Eropa, namun mereka menggunakan VLCC delivery sehingga harganya nggak bisa semurah gas dari Russia yg dialirkan melalui pipa gas. Bisnis gas, meski bisnis raw material, tapi ternyata padat teknologi juga, didalam konsep pipa gas Gazprom, juga ada Gas Storage, ini cadangan gas, jika pipa gas mengalami kebocoran atau gangguan. Gas Storage ini penting, karena bisa mengcover kebocoran pipa gas.

Meski seolah olah bisnis gas itu bisnis yg mudah, tapi pada prakteknya sulit, pipa gas milik Gazprom, terbentang dari Turkmenistan, Siberia, Eropa, dan sedang membangun Nordstream-2 bersama Jerman, Turkish Stream, maupun pipa gas ke China. Pada prakteknya memaintenance bisnis pipa gas itu juga sulit dan juga perlu penjagaan ekstra dari ancaman terrorisme.