Umat Islam, Ekonomi, BUMN dan problematika-nya

Umat Islam, Ekonomi, BUMN dan problematika-nya
Catatan Wawan Setiawan
——-
Baru baru ini, saya membaca data, bahwa Indonesia mendapatkan ranking 7 dalam index crony capitalism, dan juga 49% ekonomi Indonesia dikuasai oleh kaum 1%. Sementara itu, mantan menteri Kelautan dan Perikanan yang juga cendekiawan ICMI, Bapak Rokhmin Dahuri menyatakan bahwa umat Islam yang populasinya 87% hanya menguasai ekonomi dengan porsi 12% saja. Sebenarnya saya tidak mau terjebak dalam mengkotak kotakan ekonomi dengan agama, karena dimana saja negara yang menganut kapitalisme, maka pihak mayoritas tidak mengenal apa agamanya akan hanya menguasai ekonomi dengan porsi lebih sedikit daripada kaum oligarki. Kaum mayoritas dalam struktur sistem ekonomi kapitalisme pasti akan tertindas dan menjadi minoritas ekonomi. Sistem kapitalisme hanya akan melahirkan kaum oligarki yang menguasai mayoritas, dan sistem ini tidak mengenal apa agamanya.

Namun pendiri negara ini rata rata mempunyai view ekonomi sosialisme, melalui pasal 33 UUD 1945 bahwa kekayaan alam dikuasai oleh negara untuk sebesar besar kemakmuran rakyat. Dalam implementasinya Presiden Soekarno membuat BUMN dan Nasionalisasi perusahaan belanda. Konsep BUMN sebagai stateowned kapital sebenarnya bisa digunakan tidak hanya untuk menaklukan kroni kapitalisme, tapi sebagai representasi kekuatan ekonomi terbesar rakyat mayoritas. Bila BUMN mampu menjadi tulang punggung ekonomi negara, dan berperan menyumbang mayoritas GDP Indonesia, maka ekonomi nasional dikuasai oleh negara via BUMN dan bukannya oleh oligarki, artinya juga dikuasai oleh rakyat mayoritas di Indonesia atau kaum muslim dan pribumi. Oligarki mungkin bisa dan menguasai sektor swasta, tapi porsinya minoritas dibanding ekonomi BUMN.

Namun kesejahteraan yang dihasilkan oleh BUMN tidak serta merta dibagi bagi buat bancakan, namun untuk menyelenggarakan kesejahteraan sosial, terutama pendidikan berkualitas gratis, kesehatan gratis, dan juga perumahan murah. pertanyaan yang layak diajukan adalah apakah kaum mayoritas moslem dengan populasi 87% ini bisa dan mampu memaksimalkan fasilitas kesejahteraan negara yang berupa pendidikan gratis berkualitas untuk membangun masa depannya sendiri?

Selama ini moslem di Indonesia masih terjebak kedalam isu formal syariat saja, perdebatannya tidak essensial, dan sangat menguras energi dan melupakan isu isu yang lebih essensial, misal isu seperti ekonomi dan sosial misal kesadaran kelas, atau pentingnya membangun ekonomi nasional dengan konsep nawacita, trisakti atau stateowned BUMN. Tidak heran kalau Prof. Rokhmin Dahuri menyatakan bahwa di luar konsep penguasaan ekonomi BUMN, masyarakat moslem Indonesia hanya menguasai 12% sektor ekonomi Indonesia saja.

UU ITE, apakah demokrasi Indonesia sudah mati?

UU ITE, apakah demokrasi Indonesia sudah mati?
Catatan Wawan Setiawan
—–
Baru sekitar 2 hari yang lalu atau Senin, 28 November 2016 UU ITE disahkan. Ada empat perubahan dengan adanya UU ITE yang baru, perubahan itu diantaranya adalah “hak untuk dilupakan”. Dengan mengadopsi pasal untuk “hak untuk dilupakan” maka Indonesia sudah setara dengan UU ITE negara maju seperti Russia misalnya.

Namun UU ITE di Indonesia belum mewajibkan giant corporation Sillicon Valley untuk menaruh server servernya di lokal atau teritori wilayah Indonesia. Dengan demikian pelaksanaan beberapa pasal, misal “hak untuk dilupakan” masih sangat tergantung policy dari pemilik server di Silicon Valley, apakah bersedia menghapus content atau tidak.

UU ITE ini oleh beberapa kalangan dianggap mematikan demokrasi, tapi saya memandangnya tidak begitu, saya bukan seorang yg pro demokrasi liberal, tapi saya pro negara yang meregulasi warganya dengan UU yg mendorong untuk bertindak positive. Orang tidak perlu takut terhadap UU ITE jikalau sudah terbiasa memanfaatkan kebebasan berkespresi dengan baik dan positive. Hanya orang yang sering membully-lah saya rasa yang perlu takut terhadap UU ITE.

Selama ini beberapa negara di dunia memberlakukan UU cukup ketat terhadap Internet, diantaranya Russia, China, dan Turki. UU yang melingkupi Russia dan China juga membuat giant tech Silicon Valley tidak bisa mendominasi negara Russia dan China. Russia mempunyai Yandex untuk mesin pencari, mail.ru untuk server mail gratis, dan VKontakte untuk sosial media. Russia sebagai negeri bekas komunis yang apa saja diproduksi sendiri, tidak hanya mampu memproduksi industri hulu-nya seperti oil dan gas, tapi juga mampu memproduksi industri hilir-nya seperti industri IT ini.

Konsep ekonomi seperti yang dikembangkan oleh Russia dan China yang kiranya menginspirasi bung Karno dengan Nawacita atau Trisakti-nya, yaitu mampu memproduksi sendiri bahan baku di industri hulu dan menjual produk di industri hilir. Dengan menjual produk hilir atau produk jadi atau setengah jadi, maka margin ekonominya lebih besar, dan hal itu juga mengoptimalisasi industri hulu energi.

UU ITE sudah disahkan, dengan adanya UU ITE ini saya harap masyarakat menyambutnya dengan positive dan memanfaatkan sosial media untuk hal hal yang berguna bagi orang banyak dan positive. Dengan demikian Indonesia akan menjadi negara demokrasi yang berkualitas, demokrasi yang tidak hanya bebas untuk memposting apa saja, tapi demokrasi dengan posting posting yang bermanfaat dan positive.

Membangun ekonomi modern Indonesia dengan ekspor industry hilir

Membangun ekonomi modern Indonesia dengan ekspor industry hilir
Catatan Wawan Setiawan
—–
Indonesia merdeka pada tahun 1945, dalam klaim dari Indonesia adalah 17 Agustus 1945, namun dari pengakuan Belanda Indonesia merdeka setelah Konferensi Meja Bundar atau KMB di Belanda bulan Desember 1949. Salah satu syarat Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Indonesia membayar hutang Hindia Belanda yang besarnya sekitar 4 billion usd. Hutang ini baru lunas di era orde baru. Dari fakta ini tak pelak, Indonesia merdeka sudah dibebani hutang yang sangat besar.

Pada era Orde Lama, ekonomi belum berkembang. Indonesia masih mengandalkan eksplorasi oil yang dilakukan oleh Shell. Tahun 1966 Indonesia terjerembab dalam krisis ekonomi yang parah, ketika terjadi sanering, dari 1000 rupiah menjadi 1 rupiah. Setelah tumbangnya era orde lama, Indonesia memasuki Orde Baru dimana kestabilan ekonomi dan politik yang diutamakan, pembangunan diutamakan namun Indonesia masuk dalam era pengekangan kebebasan berpendapat, dan juga terjadi doktrin massal atas rezim yang berkuasa, yaitu rezim orde baru,

Ekonomi orde baru diwarnai dengan boom oil, Indonesia menjadi eksporter minyak, sehingga neraca perdagangannya selalu surplus. Harga BBM didalam negeri juga disubsidi sehingga menjadikan ekonomi produksi yang murah dan konsumerisme.

Namun pelan tapi pasti, kemampuan Indonesia untuk memproduksi oil menurun sehingga Indonesia dari eksporter minyak berubah menjadi importer minyak. Hal ini sebenarnya bisa dicegah jika BUMN Pertamina mampu aktif melakukan eksplorasi di sejumlah sumur oil dan gas.

Ekonomi Indonesia, sejak orde lama sampai kini dikenal dengan istilah ekonomi barang mentah atau raw material. Barang mental material mineral seperti batu bara. minyak, ataupun gas diekspor dalam bentuk mentahan. Bisnis mineral mentahan ini profitnya tipis dan mengandalkan kuantitas.

Namun baru baru ini, diketemukan blok Masela di Maluku. Konon cadangan gas-nya mencapai 10 trillion kubik. Energi dalam step industry adalah yang paling vital atau industry hulu dan menjadi step pertama produksi. Dengan demikian kiranya Indonesia tidak lagi mengekspor atau menjual bahan mentah seperti oil dan gas, tapi mampu meletakan industry oil dan gasnya sebagai supplier bagi industry lainnya yang memproduksi barang siap jadi. Dengan demikian margin keuntungan akan lebih besar, karena yang dijual adalah dari industry barang jadi atau industry hilir, bukan sekedar ekspor oil dan gas lagi yang profitnya semakin menipis,

Indonesia harus secepatnya merubah paradigma ekonomi-nya, dari eksporter barang mentah atau industry hulu menjadi eksporter barang jadi atau hilir, seperti yang dilakukan oleh China dan negara maju lainnya.

Saudi Aramco, state capital/ BUMN kesejahteraan rakyat Arab Saudi

Saudi Aramco, state capital/ BUMN kesejahteraan rakyat Arab Saudi
Catatan Wawan Setiawan
——
Arab Saudi, kita kenal sebagai negara yang makmur, pendapatannya tidak hanya dari income haji saja, tapi terutama minyak. Keluarga raja Abdul Azis sejak 1930-an berusaha mencari perusahaan tambang minyak Amerika Serikat, yaitu Aramco untuk mengeksplorasi minyak di Saudi. Aramco awalnya adalah perusahaan Amerika, namun di tahun 1950-an transfer teknologi dan diakusisi/dinasionalisasi oleh pemerintah Saudi. Kini Saudi Aramco menjadi milik pemerintah Arab Saudi.

Meski sudah menjadi milik pemerintah Arab Saudi 100%, Aramco dikembangkan juga, sehingga saat ini menjadi perusahaan minyak terbesar dengan kapitalisasi sekitar 2 trillion, 4x lipat dari kapitalisasi Apple Amerika. Aramco juga mampu memproduksi minyak 12 juta barel sehari, atau yang terbesar di dunia mengalahkan Rosneft Russia. China yang mengalami pertumbuhan ekonomi 6-7% adalah importer minyak dari Aramco yang terbesar. Tentu ini semua dicapai tidak mudah. Sektor pertambangan membutuhkan padat modal, padat teknologi dan padat resiko, namun Aramco sukses menjadi perusahaan minyak terbesar di dunia.
Minyak dan Aramco bagi Saudi sangat vital, karena hampir 80% ekonomi Saudi bergantung ekspor minyak dari Saudi Aramco. Jatuhnya harga minyak kali ini juga membuat minus APBN Arab Saudi, namun Saudi bertekad terus mengeksplorasi minyak dan mengekspornya agar tidak kehilangan marketnya di Eropa.

Dari ini semua adalah perenungan saya, apabila Saudi Arabia mampu melakukan transformasi dan transfer teknologi industry minyak dari Amerika dan kemudian dinasionalisasi lantas mampu menjadi perusahaan minyak dengan produksi terbesar di dunia, mengapa Freeport, Exxon, dan perusahaan pertambangan Indonesia tetap tidak bisa maju dari nasionalisasi dan transfer teknologi, dan sampai kini sektor pertambangan masih dikuasai oleh asing?

Padahal Indonesia sangat kaya akan produksi emas yag ditambang oleh Freeport dan oil dan gas yang ditambang oleh Exxon, Shell, BP, dan perusahaan pertambangan asing lainnya.

Indonesia-ku di timur yang kaya dan makmur

Indonesia-ku di timur yang kaya dan makmur
Catatan Wawan Setiawan
——-
Indonesia-ku di Timur yang kaya dan makmur adalah buah tulisan salah satu pendiri negara ini, yaitu Ibrahim Tan Malaka, yang ditulis ketika berada di Russia. Tan Malaka seperti hal-nya Ir. Soekarno, melihat bahwa Indonesia kaya akan rempah rempah yang sangat menguntungkan jika di ekspor ke eropa. Faktanya memang Belanda menguasai perdagangan rempah rempah di Hindia Belanda untuk diekspor ke Eropa yang membawa margin keuntungan besar.

Indonesia dikenal kaya akan kekayaan alam. Dulu Indonesia dikenal kaya akan rempah rempah, namun saat ini di Maluku, telah ditemukan gas dengan cadangan sekitar 10 trillion kubik gas dan minyak. Sayangnya Indonesia adalah negara yang tertinggal dalam hal teknologi sehingga Pertamina BUMN gas dan minyak Indonesia kurang bisa berpartisipasi di blok Masela Maluku, Dari 25 blok eksplorasi di Masela saat ini 10-nya telah dikuasai oleh asing, terutama Inpex Jepang

Blok Masela ini tergolong blok gas yang sangat besar, bisa membuat Maluku menjadi sorga kembali (rakyatnya makmur) seperti zaman Hindia Belanda yang menjadi sorga rempah rempah. Namun kendala internal tidak terelakan, misalnya adalah masalah “lack of technology”, belum lagi masalah kapital atau modal. Bisnis pertambangan membutuhkan padat teknologi, padat kapital dan padat resiko. Jadi sangat disayangkan katika di Indonesia dikaruniai gas alan yang sangat besar di blok masela dan pulau Natuna, namun BUMN Pertamina masih belum menguasai teknologi eksplorasinya,

Tan Malaka, bapak Republik Indonesia telah mengatakan pentingnya penguasaan sains dan teknology. Penguasaan sains penting agar kekayaan alam Indonesia mampu diolah sendiri dan tidak diolah oleh asing. Jadi jelas, mengapa Indonesia, negara dengan kekayaan alam yang besar namun menjadi negara miskin? (seperti halnya Nigeria) jelas pangkal masalahnya adalah tidak dikuasainya sains dan teknologi sehingga kekayaan alam seperti gas dan minyak tidak bisa di eksplorasi sendiri

Nawacita, Trisakti dan Presiden Jokowi

Nawacita, Trisakti dan Presiden Jokowi
Catatan Wawan Setiawan
——-
Dalam kacamata saya, Presiden Indonesia ke tujuh, yaitu Joko Widodo, pelan tapi pasti berusaha merealisasikan mandat mantan Presiden pertama Indonesia Bung Karno tentang Nawacita atau Trisaksti terutama di bidang ekonomi. Pelan tapi pasti Presiden Joko Widodo memberdayakan BUMN sebagai pilar ekonomi Indonesia. BUMN di Indonesia pelan pelan di daya fungsikan sebagai pelopor ekonomi. Berita hari ini, Presiden Joko Widodo memberikan perintah agar BUMN Indonesia menanam buah buahan di lahan 50 ribu hektare milik BUMN atau pemerintah, selain itu Presiden juga meminta harga gas yang murah terhadap industri, yaitu usd 5-6 per MMBTU. Sebenarnya harga gas usd 5-6 per MMBTU termasuk mahal, karena Russia via Gazprom sendiri melakukan ekspor gas alam ke negeri Jerman dan Eropa dengan harga 3.5 per MMBTU. Harga 5-6 usd per MMBTU ini sebenarnya sudah harga yang turun, karena sebelumnya Indonesia menggunakan harga sekitar usd 9-10 per MMBTU untuk industry bahkan di daerah tertentu mencapai usd 11-12 per MMBTU

Industry yang kompetitif adalah industry yang bisa menciptakan harga kompetitif di bidang energy, dan harga energy adalah dasar dari produksi semua industry. China sendiri untuk mengamankan harga energy dalam 10 tahun ke depannya telah membeli deal dengan Russia sebesar usd 400 per bcm, dan setiap tahun Russia akan mengalirkan gas alam sebesar 38 bcm. China juga telah melakukan deal dengan Indonesia untuk mendapatkan harga gas murah, usd 2.4 per mmbtu yang kemudian dinaikan ke level usd 3.8 per MMBTU. Harga deal yang sangat murah ini terjadi di era pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri dimana harga minyak internasional saat itu dipatok usd 20 per barrel.

Dengan murahnya industry energy yang menjadi industry hulu dalam negeri, maka industry hilirnya juga akan kompetitif. Produksi banyak hal semestinya akan lebih murah jika harga industry energy nasional juga telah murah.

Melania Trump dan hak untuk dilupakan

Melania Trump dan hak untuk dilupakan
Catatan Wawan Setiawan
—-

Seperti yang kita tahu, bahwa pilpres Amerika telah dimenangkan oleh Donald Trump. Donald Trump mempunyai istri, yaitu Melanie Trump yang pernah berpose di majalah dewasa Playboy. Di linimasa facebook saya kemaren juga ada yang memposting foto bugil Melania Trump dan menimbulkan pro dan kontra. Melihat hal ini saya jadi teringat “Hak untuk dilupakan” yang telah berlaku di Russia sejak 1 Januari 2016. Hak untuk dilupakan adalah hak untuk didelete dari internet, baik foto kita ataupun video. Hak ini melindungi warga negara dari abuse di Internet. Hak ini saya kira baik dan penting, karena kita menggunakan internet terkadang tidak menyadari bahwa di masa depan menjadi hal yang mengusik kita atau malah menyenangkan kita.

Para Facebooker di Indonesia dalam menggunakan sosial media juga mempunyai perilaku untuk memposting foto anaknya yang masih kecil. Belum tentu nanti anak kita ketika dewasa senang dengan apa yang pernah posting. Untuk itulah ada hak untuk dilupakan. Mungkin saja Melanie Trump ingin mengubur masa lalunya, namun sayang, Amerika adalah negeri liberal demokratis, di Amerika tidak punya hak untuk dilupakan.